Amira membawa Lista masuk ke hidupnya sebagai sepupu dan sahabat. Namun, Lista justru keluar sebagai pencuri suaminya.
Diceraikan saat hamil dengan mahar yang menghina, Amira dipaksa pergi dengan tangan hampa. Tapi mereka lupa satu hal: Amira adalah pemilik takhta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: TEROR DI LAYAR PONSEL
TEROR DI LAYAR PONSEL
Goresan pena Amira di atas materai sepuluh ribu itu terdengar tegas, menyayat kesunyian ruang kerja Aris yang beraroma kayu jati mahal. Tanda tangan fisiknya kini terukir sempurna di atas lembar Corporate Guarantee senilai lima miliar rupiah.
Begitu ujung pena itu terangkat, Lista yang sejak tadi berdiri di samping meja dengan napas tertahan langsung menyambar kertas tersebut. Matanya berbinar-binar liar, memeriksa setiap lekukan tinta hitam itu dengan ketelitian seorang kurator seni.
"Terima kasih ya, Mbak Amira. Akhirnya Mbak mau mengerti posisi Mas Aris," ucap Lista dengan nada suara yang kembali dibuat-buat manis, meski matanya tak bisa menyembunyikan kilatan kemenangan yang membuncah.
Amira tidak menjawab. Ia perlahan merapikan khimar hitamnya, menutupi kembali memar keunguan di pipi kanannya yang terasa kaku setiap kali ia menggerakkan rahang. Dengan langkah yang sengaja dibuat gontai dan pasrah, Amira membalikkan badan lalu melangkah keluar dari ruang kerja, meninggalkan Lista sendirian yang langsung sibuk memasukkan berkas itu ke dalam map kulit mewah.
Begitu pintu ruang kerja tertutup rapat, Amira menghentikan langkahnya di lorong yang sepi. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding, meraba perutnya yang terbalut kain gamis longgar. Sebuah senyuman dingin, yang belum pernah diperlihatkannya pada siapa pun di rumah ini, perlahan terbit di sudut bibirnya yang pecah.
"Dana itu akan cair siang ini, Lista. Dan tepat satu jam setelah uang itu masuk, jebakan Pak Sanusi akan mengunci lehermu," bisik Amira di dalam hatinya.
Di dalam ruang kerja, Lista sedang bersenandung kecil sambil mematut diri di depan cermin besar. Ia merapikan blus pastelnya, membayangkan komisi rahasia dan rencana pelarian aset yang sudah ia susun rapi bersama jaringan luar negerinya. Lima miliar rupiah bukan uang yang sedikit; jumlah itu cukup untuk membuat Aris berlutut di bawah kakinya selamanya, sekaligus menyingkirkan Amira ke tempat pembuangan terdalam.
Bzzzt... Bzzzt...
Ponsel pintar milik Lista yang tergeletak di atas meja kerja marmer tiba-tiba bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor asing yang tidak terdaftar di kontaknya.
Lista mengernyitkan dahi. Sambil mengunyah permen karet dengan gaya santai, ia melangkah mendekati meja dan menyambar ponselnya. Jemari lentiknya menggeser layar kunci.
Detik berikutnya, kunyahan permen karet di mulut Lista seketika terhenti. Seluruh persendian di tubuhnya mendadak kaku, dan warna hangat di wajah cantiknya menguap dalam sekejap, digantikan oleh pucat pasi yang mengerikan.
Layar ponselnya menampilkan sebuah gambar beresolusi tinggi. Itu adalah foto hasil cetak ultrasonografi (USG) rahim hitam-putih berlogo resmi Rumah Sakit Medika. Di sudut kanan atas foto tersebut, tertera nama pasien dengan sangat jelas, dicetak tebal oleh mesin rumah sakit: AMIRA SHINTA. Di bagian bawahnya, terdapat grafik denyut jantung janin yang melompat-lompat tegas, lengkap dengan keterangan usia kandungan: 5 Weeks.
Tepat di bawah foto medis tersebut, sebuah pesan teks singkat tertulis dengan huruf kapital yang dingin:
"DUA GARIS MERAH INI YANG AKAN MENGGALI KUBURAN KALIAN. SELAMAT MENIKMATI HARI TERAKHIRMU DI ATAS ANGIN, LISTA."
"Tidak... Tidak mungkin..." bisik Lista, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan. Ponsel di tangannya terasa seperti bara api yang siap membakar kulitnya.
Tubuh Lista bergetar hebat hingga ia harus berpegangan pada tepi meja kerja agar tidak ambruk. Napasnya memburu, memicu rasa panik yang luar biasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Amira hamil? Perempuan mandul itu hamil?! Pikiran Lista berputar liar seperti gasing. Ini adalah bencana terbesar bagi skenarionya. Selama ini, senjata utama Ibu Ratna untuk membenci Amira adalah masalah keturunan. Aris pun perlahan berpaling karena merasa egonya sebagai laki-laki cacat tanpa ahli waris. Jika Aris dan Ibu Ratna tahu bahwa di dalam rahim Amira yang kusam itu sedang tumbuh darah daging Pratama yang sah, maka seluruh posisi Lista di rumah ini akan hancur berantakan dalam semalam! Ibu Ratna pasti akan berbalik memuja Amira demi seorang cucu, dan Aris... Aris tidak akan pernah menceraikan perempuan itu.
"Sialan! Siapa yang mengirimkan ini?!" pekik Lista tertahan, matanya melotot menatap nomor asing tersebut. Ia mencoba menelepon balik nomor itu dengan tangan yang gemetar, namun suara operator datar langsung menjawab bahwa nomor tersebut sudah tidak aktif.
Lista mencengkeram rambutnya sendiri, mondar-mandir di dalam ruangan dengan wajah frustrasi. Matanya beralih menatap map jaminan lima miliar yang baru saja ditandatangani Amira.
“Berarti... Amira sengaja menyembunyikan ini? Dia sengaja berpura-pura lemah tadi pagi?” Keringat dingin mengucur deras di tengkuk Lista. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: Amira yang selama ini ia injak-injak, ternyata sedang memainkan bidak catur yang tidak ia ketahui arahnya.
Pukul dua siang, di sebuah restoran mewah yang terletak di lantai teratas gedung perbankan pusat.
Aris duduk berhadapan dengan kepala divisi kredit swasta asing, seorang pria paruh baya berkacamata tajam bernama Pak Januar. Di sebelah Aris, Lista duduk dengan senyum yang dipaksakan. Riasan wajah tebalnya siang ini sengaja dipakai untuk menutupi lingkaran hitam di bawah matanya akibat kepanikan hebat sejak pagi tadi.
"Selamat, Pak Aris. Berkas fisik Corporate Guarantee yang dibawa Sekretaris Lista siang ini sudah lolos verifikasi manual. Tanda tangan Ibu Amira Shinta dinyatakan sah dan terdaftar," ujar Pak Januar sambil menutup map dokumen tebal itu dengan senyum profesional. "Dana investasi ekspansi senilai lima miliar rupiah sudah resmi kami cairkan ke rekening operasional Snack Pratama sepuluh menit yang lalu."
Mendengar hal itu, Aris langsung mengembuskan napas lega yang panjang. Ia menyunggingkan senyum jemawa, merasa bisnisnya kini sudah selangkah lagi menuju puncak kejayaan mutlak. "Terima kasih banyak, Pak Januar. Kerja sama ini akan membawa produk kami menguasai seluruh pasar Jawa Timur."
Aris menoleh ke arah Lista, menepuk paha wanita itu di bawah meja dengan pandangan penuh rasa bangga dan gairah yang tersisa dari malam tadi. "Ini semua berkat kegigihan Lista, Pak. Dia manajer administrasi terbaik yang saya miliki."
Lista hanya bisa tersenyum kaku, jantungnya berdegup kencang bagai tabuhan genderang perang. Tangannya di bawah meja terus meremas saputangan hingga kusut. Uangnya memang sudah cair, namun teror dua garis merah Amira terus membayangi isi kepalanya. Ia harus segera memindahkan uang ini ke rekening luar negerinya sore ini juga, sebelum sesuatu yang buruk terjadi.
Namun, belum sempat Aris mengangkat cangkir kopinya untuk merayakan kemenangan mereka, ponsel di saku jas Aris tiba-tiba berdering nyaring.
Aris melihat layar ponselnya. Kerutan dalam langsung muncul di dahinya begitu melihat nama sang penelepon. Pak Sanusi (Pengacara Hukum).
Aris berdecit jengkel. "Pengacara tua almarhum mertua saya menelepon, Pak. Maaf, saya angkat sebentar," pamit Aris pada Pak Januar, lalu menggeser tombol hijau. "Halo, Pak Sanusi? Ada apa telepon siang-siang begini? Saya sedang rapat penting."
"Selamat siang, Saudara Aris Pratama," suara Pak Sanusi dari seberang telepon terdengar begitu bariton, tenang, namun memancarkan aura otoritas hukum yang sangat dingin. "Saya tidak butuh waktu lama. Saya hanya ingin menyampaikan satu hal sebagai kuasa hukum mutlak dari istri sah Anda, Amira Shinta."
Aris mendengus sinis, melirik Lista yang kini ikut menegang mendengar nama Amira disebut. "Mau menuntut apa lagi dia? Uang belanja sudah saya naikkan tadi pagi!"
Di seberang sana, Pak Sanusi terdengar terkekeh pendek, sebuah kekehan yang membuat bulu kuduk Aris mendadak meremang.
"Bukan uang belanja, Aris. Tepat lima menit yang lalu, tim hukum kami telah mengirimkan Surat Gugatan Pembekuan Rekening Operasional dan Peninjauan Ulang Aset ke direksi pusat bank tempat Anda duduk rapat saat ini."
Aris seketika membeku di kursinya. "Apa maksud Anda?!"
"Tanda tangan jaminan lima miliar yang baru saja Anda cairkan itu didasarkan pada manipulasi data keuangan oleh sekretaris Anda, Lista. Dan kami memiliki bukti visum kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) fisik yang Anda lakukan pada Amira kemarin siang di ruang arsip. Hukum perbankan melarang pencairan dana di atas jaminan pihak ketiga yang berada dalam kondisi tekanan fisik dan ancaman pidana," jelas Pak Sanusi dengan detail legalitas yang begitu tajam dan mematikan. "Dalam hitungan menit, sistem bank akan mengunci dana lima miliar tersebut sebagai status Sengketa Hukum Pidana. Anda tidak bisa menyentuh sepeser pun uang itu, Aris. Dan satu lagi..."
Suara Pak Sanusi merendah, menembus langsung ke pusat ketakutan Aris. "Selamat menanti surat panggilan dari kepolisian atas pasal penganiayaan istri sah. Amira sudah tidak ada di rumahmu sekarang. Dia berada di bawah perlindungan mutlak saya."
Klik. Sambungan telepon diputus sepihak.
Wajah Aris seketika berubah abu-abu. Ponselnya nyaris terlepas dari genggamannya. Tepat di saat yang sama, pintu ruang restoran mewah itu terbuka, dan dua orang petugas keamanan bank berpakaian rapi bersama staf legalitas melangkah cepat menuju meja mereka dengan wajah serius.
Pak Januar yang duduk di depan Aris tiba-tiba menerima sebuah pesan di komputer tabletnya, wajah ramahnya langsung berubah menjadi sangat dingin dan profesional. Ia menatap Aris dan Lista dengan pandangan mengadili, lalu memberi isyarat kepada petugas keamanan untuk mendekat. Di tempat lain, sebuah mobil sedan hitam mewah melaju tenang membelah jalanan ibu kota. Di kursi belakang, Amira duduk anggun berdampingan dengan Pak Sanusi, tangannya memegang surat visum resmi dan hasil USG bayinya.