"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.
Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.
Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.
"Hey!"
"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.
"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imen Firewood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 24
Anya tertegun kaget, membuka sedikit mulutnya ketika melihat gelas kaca mahal itu telah berserakan di bawah. Suasana menjadi hening seketika disaat, semua sorot mata memandang kejadian cepat itu.
Termasuk Adiwijaya. Ia melihat dan menebak suara keributan yang terjadi itu pasti berada di sekitar Bianca. Adiwijaya melihatnya dan menghembuskan nafas pelan sebelum meletakan gelas dari genggaman tangan, menuju ke tempat Bianca berada.
"Ada apa ini?" Kata Adiwijaya. Suara dingin itu berhasil memecahkan keheningan di sekitar Bianca. Merubah suasana yang tadi sunyi menjadi tegang. Tangan gemetar Anya masih memegang nampan, berusaha mencari pegangan untuk mengumpulkan niat mencoba menjelaskan.
Walaupun sebenarnya Anya tahu bahwa ini ulah Bianca, namun ia tidak berani bicara fakta. Dengan harapan, masih tetap bekerja sebagai pembantu di dalam keluarga Adiwijaya.
"Maaf pak ... Ini salah saya. Saya, tidak sengaja menjatuhkan dan memecahkan gelas ..." ujar Anya. Kalimatnya seperti tertahan di dalam dada, begitu sulit bagi Anya yang mencoba menjelaskan. Adi menatap Anya, lalu berganti ke arah Bianca sebelum akhirnya membuang nafas pendeknya.
"Saya minta ma—"
"Alaah, bohong!!!" ucap Bianca dengan cepat memotong kalimat Anya yang sedang menjelaskan. "Bilang aja, lo mau rusak acara pesta papih gue kan?!" sambung Bianca, membentak Anya di depan banyak orang. Mendengar kalimat pedas dari Bianca, Anya hanya bisa membela diri dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mata Anya sedikit berbinar menahan air yang mulai menggenang. Melihat usahanya saat berusaha menutupi kesalahan Bianca, malah mendapat perlakuan seperti ini. Anya menatap mata Bianca tidak percaya. Di dalam sorot pandang Bianca, ia menemukan kebencian yang amat mendalam. Entah apa penyebab dari Bianca yang selalu merasa kesal terhadap Anya. Ia tidak paham selain menggeleng tidak percaya.
Tidak lama setelah itu, suara langkah kaki yang berjalan dengan sedikit cepat menghampiri mereka. Langkah kaki dari seorang wanita yang terlihat buru-buru akhirnya tiba tepat berdiri di samping Adiwijaya, yaitu Laras. Pandangan Adi menoleh ke arah Laras yang baru saja tiba.
"Mamih? Kenapa lama sekali, acaranya akan segera di mulai," kata Adi mencoba bersikap tenang, yang melihat Laras seperti kebingungan dan merasa cemas. Ia tahu, bahwa sekarang para wartawan sudah mulai menyalakan kameranya atas keributan kecil ini sebagai bahan berita mereka.
"Kalung mamih hilang!" jelas Laras, kalimatnya berhenti ketika ia berusaha kembali mengatur deru nafas yang keluar dari mulut tidak beratur. Ekspresi syok Laras berhasil mencuri perhatian orang-orang di sekitarnya.
Termasuk Adiwijaya yang sedikit tertegun kaget, namun berusaha menyembunyikan ekspresinya agar terlihat biasa saja. Berbeda dengan Bianca, seolah baru mengetahui hal ini, ia malah terlihat yang paling kaget melebihi Laras.
"Apa?! Kalung mamih yang mahal pemberian dari papih itu hilang?!" kata Bianca, dengan mulut yang langsung ia segera tutup menggunakan kedua telapak tangannya. Bola mata hitam Bianca membesar karena terlalu kaget mendengar hal ini.
Mendengar kabar ini, sontak malah membuat perhatian dari para wartawan yang berada di dekat mereka mulai mengambil tambar. Suara dari jepretan dan Led kamera mulai menyala, semakin menarik para tamu yang lain sebelum pesta di mulai.
Teman-teman Bianca seperti Novi, Wati dan Restu yang masih duduk bersama di salah satu meja, mulai datang menghampiri melihat apa yang terjadi di sana. "Eh. Eh. Eh..!!! Liat yuk! ... Kayaknya, itu Bianca dan keluarganya deh," ujar Novi antusias melambaikan jemarinya, sebelum beranjak dari kursi bersama yang lain untuk datang melihat.
"Iyaa sayang ... Seharian ini kalung itu memang nggak mamih pake, cuma mamih taro di laci ... Terus, pas malam ini recana mamih mau pake ... Malah hilang ... Huuuu ... Huuu ..." ungkap Laras, dengan nada yang panik dan sedikit terlihat lebay dengan ekspresinya yang merasa sedih atas kehilangan kalung mahal.
Jepret !!! ... Jepreet !!
Suara dari LED kamera Canon para wartawan itu, ikut menghiasi setiap ucapan yang keluar dari istri dan anak Adiwijaya. Dan hal seperti ini yang tidak ingin sebenernya Adi harapkan. Dimana keluarga yang selalu menjadi topik hangat berita, bukan nama baik perusahaannya.
Sebuah kerutan yang ada pada dahi Adiwijaya, tidak terlihat. Karena sekarang tangannya sendiri sedang memegang kening yang merasa sangat pusing. Ia kembali membuang nafas pendek yang sudah ia tidak tahu itu berapa kali keluar dari mulutnya.
Huh ...
Bianca yang satu-satunya orang disana yang mengetahui dimana kalung itu berada, mulai menunjukan senyum smirk jahat. Menatap Anya yang sekarang terlihat sangat bingung tidak tahu harus bagaimana.
"Cih ... Dari semua orang yang ada di sini, satu-satunya manusia yang paling butuh duit ... Kita taulah siapa," kata Bianca berdecih. Menyindir Anya dengan tatapan yang tidak menyenangkan lalu menghempaskan pandangannya memutar bola mata. Tangan halusnya kini bersedekap setinggi tangga.
Entah kenapa, semua sorot pandangan kini menatap Anya yang masih berdiri mematung. Anya menggenggam nampan lebih erat dari sebelumnya, karena merasakan sindiran yang Bianca maksud adalah untuk dirinya.
Di banding pakaian yang lain, Anya saat ini hanya mengenakan kaos putih polos dengan rok rutu panjang renda berwarna pastel. Sangat jomplang terbalik dengan semua tamu hadir berpenampilan elegan dan mewah.
Mendengar ucapan Bianca, Adiwijaya mengerenyit. "Apa maksud kamu Bianca, bicara yang jelas," kata Adiwijaya, menatap kembali Bianca yang sedang menarik nafas setelah sebelumnya melirik sekilas Anya.
"Lo kan, yang udah ngambil kalung mamih gue?!" kata Bianca menunjuk menuduh Anya di depan para tamu undangan. Mata Bianca menatap nyalang, terbuka lebar hampir seperti melotot melihat Anya dengan tajam. Suaranya lebih keras dari sebelumnya, sampai terdengar oleh Bi Inah yang sedang mengintip memperhatikan kerumunan itu dari kejauhan.
Mendengar itu, Anya semakin tertekan. Suaranya tidak bisa keluar karena terlalu takut untuk membela diri. Air mata Anya keluar menetes dengan tiba-tiba. Ketika di sampingnya sudah berdiri Laras yang sama tajam menatap Anya. Bibir Anya mengatup rapat, seraya menggeleng-gelengkan kepalanya karena sudah tidak tahu harus berbuat apa usai mendapat tuduhan yang menyakitkan.
"Benar apa yang di bilang anak saya?! ... Hah?!" bentak Laras, nada bicara yang sama persis dengan Bianca. Ia mencengkram kedua bahu kecil Anya, memegang kuat-kuat lalu mengguncang badan Anya. "Jawab! ... Jangan hanya diam Anya!!!" sambung Laras, yang sudah merasa kesal saat melihat Anya sekarang.
Air mata Anya pecah sepenuhnya, keluar dengan suara yang tidak bisa ia ucapkan karena terlalu merasa takut. Menerima perlakuan yang tidak pernah ia bayangkan seumur hidup, Anya hanya bisa menangis merasakan kesedihannya saat seluruh tubuh Anya mulai merasa lemas akibat guncangan yang Laras berikan.
"Hentikan Laras! Cukup." Suara Adiwijaya berhasil membuat Laras berhenti, namun masih menatap Anya nyalang dengan semua amarah yang ia pendam saat ini. Laras mulai sadar kalau saat ini, berada di tengah kerumunan wartawan. Perlahan Laras melepaskan pegangan eratnya, hingga membuat bekas merah di atas lengan Anya yang tidak terlihat. Hanya tinggal rasa sakit yang Anya sendiri dapat rasakan.
"Maaf, aku berlebihan."
Laras kembali menormalkan ekspresi dan sikapnya, setelah meminta maaf dengan egois tanpa menunggu Anya menjawab. Adiwijaya 'pun kemudian menatap Anya dan berkata pelan dengan lembut. Berjalan perlahan mendekati Anya seraya memegang pundaknya, ia sedikit mencondongkan wajah.
"Anya ... Apakah benar kamu mencuri kalung itu?" tanya Adi, dengan nada suaranya yang terdengar tenang agar dapat membuat Anya bersuara walau sedikit. Adiwijaya masih tidak percaya sepenuhnya, ia berharap apa yang di katakan Bianca semuanya adalah bohong dan tidak benar.
"Hiks ... Ti-tidak tuan ... Hiks ... Saya tidak berani melakukan itu ..." lirih Anya pelan. Bibirnya gemetar ketika berusaha memberanikan diri untuk berkata yang sebenarnya. Air mata yang jatuh dari kelopak mata Anya masih menghiasi pipi dari wanita lugu itu. Kini Anya berusaha menyeka air yang sudah mulai mengering di pipi kirinya.
Tatapan mereka bertemu, bola mata cantik yang melambangkan kejujuran itu juga menatap Adi. Ia sendiri tidak menemukan sebuah kebohongan di dalamnya. "Huh ..." Sebuah nafas pendek lagi-lagi keluar dari Bos utama perusaha Adiwijaya Group itu. Ia kembali mundur membenarkan posisi seperti awal.
Pak Adiwijaya sendiri tidak pernah mempermasalahkan barang-barang keluarganya jika hilang, ia bisa membeli itu dengan mudah karena masih memiliki perusahaan yang sedang berjaya. Namun bukan karena itu ia membela gadis seperti Anya, semua ini demi kepercayaan yang sudah Adiwijaya sendiri berikan untuknya.
"Saya percaya kamu Anya ... Lagi pula, tidak ada yang bisa membuktikan bahwa Anya pelakunya," kata Adiwijaya, sedikit mengeraskan suara berat miliknya agar semua orang yang sedang memperhatikan mereka saat ini mendengar. "Aku tidak bisa menghukum orang yang memang tidak bersalah," sambungnya.
Deg!
Sebuah tower raksasa seperti baru saja menghantam hati Bianca, ketika melihat papihnya sendiri membela anak kampung! Seperti Anya. Amarah Bianca lagi-lagi memuncak, dengan deru nafas yang tidak beraturan. Sedangkan Rangga, sedikit tersenyum ketika mendengar ucapan bijaksana dari orang berwibawa seperti Adiwijaya.
"Tunggu !!!"
Suara Bianca lagi-lagi menghentikan suasana yang tadi sempat mulai kembali normal. Semua pasang mata kini tertuju kepada Bianca, seolah menanti apa yang ingin ia ucapkan lagi. Sebuah senyum jahat terukir di wajah Bianca, pada bagian ujung mulutnya sedikit menggantung. Membuat Anya lagi-lagi kembali merasakan perasaan yang tidak enak.
"Masih ada, satu orang yang dapat membuktikan kalo anak kampung! Ini pelakunya."