Ashela Safira, seorang gadis yang membanting tulang demi melunasi utang ayahnya, terpaksa merelakan kesucian yang ia jaga selama ini direnggut oleh pria asing.
Merasa harga dirinya telah hancur, ia memilih melarikan diri dan menghilang setelah malam panjang itu. Namun, di tengah pelariannya, Ashela justru mendapati dirinya hamil.
Sementara itu, Elvano Gavian Narendra, seorang dokter berhati dingin, terbangun dan mendapati gadis yang bersamanya telah pergi.
Rasa sesal seketika menghantamnya saat melihat bercak merah di atas ranjang, yaitu sebuah tanda bahwa ia telah menodai seorang gadis asing yang bahkan tidak ia ketahui identitasnya.
Bagaimana kelanjutannya???
YUKKKK GAS BACAAAA!!!
IG @LALA_SYALALA13
YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Kecil
Dua jam kemudian, pintu ruang operasi terbuka sepenuhnya. Elvano melangkah keluar tanpa jas bedah hijaunya, hanya dengan seragam biru dan wajah yang tampak sangat pucat karena kelelahan luar biasa.
Ashela langsung berdiri, berlari mendekat namun berhenti satu meter di depan Elvano. Ia terlalu takut untuk mendengar jawaban, namun matanya memohon untuk sebuah kepastian.
Elvano menatap wanita di depannya. Ia melihat wajah Ashela yang hancur karena kecemasan, mata Ashela yang basah oleh air mata, dan tubuhnya yang gemetar. Untuk pertama kalinya, Elvano memberikan sebuah isyarat yang tulus.
Ia mengangguk kecil, dan sebuah senyum tipis yaitu sangat tipis hingga hampir tak terlihat muncul di bibirnya.
"Operasinya berhasil, Bu Ashela," ucap Elvano dengan suara yang parau.
"Leo adalah pejuang yang hebat. Jantungnya sudah diperbaiki sepenuhnya. Dia akan bisa hidup normal seperti anak-anak lainnya." lanjutnya.
Ashela jatuh terduduk di depan kaki Elvano. Kali ini ia menangis keras, melepaskan seluruh beban yang ia pikul selama tiga tahun terakhir. Ia menangis karena bahagia, karena syukur, dan karena rasa lega yang luar biasa.
"Terima kasih, Dok... Terima kasih..." isaknya di antara sujudnya.
Elvano membungkuk sedikit, memegang bahu Ashela untuk membantunya berdiri. Sentuhan itu membuat Ashela tersentak, namun ia tidak menghindar. Ada sebuah keheningan di antara mereka di koridor rumah sakit yang kini mulai temaram.
Elvano menatap wanita itu, merasa ada sebuah koneksi yang semakin kuat dan tidak masuk akal.
Di sisi lain, Ashela hanya bisa menunduk, menyadari bahwa meskipun jantung anaknya telah sembuh, badai baru antara dirinya dan pria di depannya ini mungkin baru saja akan dimulai.
Namun untuk saat ini, di bawah lampu koridor yang tenang, Ashela hanya ingin merayakan satu hal yaitu Leo, sang anak tetap hidup.
...****************...
Lorong unit perawatan intensif pasca-bedah (ICU) di Narendra Hospital terasa jauh lebih tenang pagi ini.
Setelah badai yang mengamuk di ruang operasi kemarin, keheningan yang menyelimuti area ini terasa seperti sebuah kemenangan kecil yang manis.
Di dalam bilik kaca nomor satu, Leonardo masih terbaring, namun pemandangan di sana sudah jauh berbeda.
Wajah pucat pasinya perlahan mulai dihiasi semu merah muda yang sehat. Bibirnya tak lagi membiru. Meski masih ada beberapa kabel yang menempel di tubuhnya, irama pip... pip... pip... dari monitor jantung kini terdengar jauh lebih kuat, stabil, dan penuh keyakinan.
Ashela duduk di samping ranjang, tangannya terus mengusap kaki Leo yang kini terasa hangat. Sorot matanya yang sayu kini memancarkan binar lega yang tak terbendung. Setiap tarikan napas Leo yang teratur adalah simfoni terindah yang pernah ia dengar seumur hidupnya.
Pintu geser otomatis terbuka dengan desisan halus. Elvano masuk tanpa jubah putih dokternya, hanya mengenakan kemeja biru muda dengan lengan yang digulung hingga siku. Wajahnya masih menunjukkan sisa-sisa kelelahan dari operasi maraton kemarin, namun begitu matanya tertuju pada Leo, ketegangan di wajahnya mencair.
"Bagaimana kondisinya pagi ini?" tanya Elvano dengan suara rendah, hampir berbisik agar tidak mengejutkan ibu dan anak itu.
Ashela segera berdiri, sedikit menunduk. "Sudah lebih baik, Dok. Tadi sempat membuka mata sebentar dan mencari air."
Elvano mendekat, mengambil stetoskop yang tergantung di lehernya dan mulai memeriksa dada Leo. Ia mendengarkan dengan seksama. Senyum kepuasan yang jarang terlihat muncul di wajahnya. Jantung itu berdetak dengan sangat sempurna, seolah-olah ia memang diciptakan untuk menjadi kuat.
"Ritme jantungnya sangat bagus. Jika stabil seperti ini terus, besok kita bisa melepas bantuan oksigennya secara bertahap." ucap Elvano.
Ia kemudian beralih menatap Ashela. Ia memperhatikan wanita itu tampak masih mengenakan pakaian yang sama dengan kemarin. Lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan bahwa ia belum benar-benar tidur.
"Ibu Ashela, Anda sudah beristirahat?" tanya Elvano.
"Sudah sedikit, Dok. Saya tidak bisa tidur lama-lama kalau belum melihat Leo benar-benar sadar," jawab Ashela pelan.
Elvano mengangguk paham. Ada sesuatu pada ketegaran wanita ini yang menyentuh sisi kemanusiaannya yang paling dalam. Ia tidak merasa curiga, tidak pula merasa ada yang aneh.
Baginya, Ashela hanyalah potret seorang ibu yang luar biasa, seorang wanita dari kampung yang rela melakukan apa saja demi anaknya. Empati yang ia rasakan murni karena ia menghormati perjuangan wanita tersebut.
Siang harinya, perhatian kecil Elvano mulai terlihat lebih nyata. Ia tidak hanya datang untuk kunjungan medis formal. Di sela-sela kesibukannya mengurus administrasi rumah sakit, ia menyempatkan diri mampir ke ruangan Leo hanya untuk membawakan sesuatu.
"Ini untuk Leo. Jika nanti dia sudah boleh makan camilan ringan, berikan ini padanya." ucap Elvano sambil meletakkan sebuah boneka beruang kecil dan beberapa biskuit gandum khusus anak di atas meja nakas.
Ashela tertegun. "Dokter... ini terlalu berlebihan. Dokter sudah menyelamatkan nyawa Leo, itu sudah lebih dari cukup."
"Itu hadiah untuk pasien paling berani yang pernah saya tangani." potong Elvano dengan nada tegas namun ramah.
Tak hanya itu, Elvano kemudian memberikan sebuah bungkusan makanan hangat kepada Ashela.
"Dan ini untuk Anda. Saya tahu Anda pasti malas ke kantin lagi. Makanlah di sini sambil menjaga Leo. Ini nasi tim ayam yang lembut, bagus untuk memulihkan stamina Anda." serunya sambil memberikan bungkusan tersebut.
Ashela menerima bungkusan itu dengan tangan gemetar. Ia tidak menyangka pria sedingin Elvano bisa memberikan perhatian sekecil ini.
Di matanya, Elvano tetaplah pria yang sombong dari masa lalu, namun di sisi lain, ia melihat sosok malaikat pelindung bagi anaknya.
"Terima kasih banyak, Dok. Kebaikan Dokter tidak akan pernah saya lupakan," bisik Ashela.
"Saya hanya melakukan apa yang harus dilakukan, Bu. Leo butuh ibunya sehat agar bisa segera pulang ke Sukabumi nanti," sahut Elvano santai. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa kata pulang itu membuat hati Ashela sedikit mencelos.
Masa pemulihan Leo berjalan dengan kecepatan yang menakjubkan. Di hari ketiga, bocah itu sudah bisa duduk bersandar di bantal. Saat Elvano masuk untuk pemeriksaan rutin sore itu, Leo sedang mencoba memainkan boneka beruang pemberian sang dokter.
"Dokter..." panggil Leo dengan suara yang masih agak serak.
Elvano terkesiap, lalu mendekat dengan cepat. "Ya, Leo? Ada yang sakit?"
Leo menggeleng, lalu memberikan senyum lebarnya yang menampakkan lesung pipit kecil di salah satu pipinya.
"Terima kasih... jantung Leo sudah nggak capek lagi." seru bocah itu dengan senang.
Sentakan emosional kembali menghantam dada Elvano. Ia merasa matanya sedikit memanas. Ia berjongkok di samping ranjang agar tingginya sejajar dengan Leo.
"Sama-sama, Jagoan. Sekarang Leo harus rajin makan supaya bisa cepat lari-lari lagi, ya?" Elvano mengusap kepala Leo dengan kasih sayang yang tulus.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
semoga mereka bisa berkumpul bersama...
next...
semangat othor💪💪💪💪
di double up