Naufal hanyalah seorang sales smartphone miskin yang sering diremehkan karena tidak pernah mencapai target. Ditekan oleh target yang mustahil, dikhianati oleh rekan kerja, dan dianggap remeh oleh pelanggan sombong adalah makanan sehari-harinya.
Namun, segalanya berubah saat sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Analisis Nilai Aktif!]
[Menganalisis Target...]
[Budget: Rp150.000.000 ]
[ Keinginan: memboron 50 unit untuk yayasan pendidikan |
[Tingkat Kepercayaan: 15%]
[Misi Terbuka! Closing produk!]
[Hadiah misi pembukaan RP 10.000.000!]
Dengan bantuan Sistem Analisis Nilai, Naufal tidak hanya bisa melihat isi dompet pelanggan, tapi juga titik lemah kompetitor dan tren pasar masa depan. Dari seorang sales yang hampir dipecat, ia merangkak naik menjadi raja industri teknologi.
Satu per satu wanita hebat mulai masuk ke dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20--COD Dan Keterkejutan Senior Sombong
Pak Hendro tersentak. Ia menoleh, matanya yang semula sayu kini menyipit menatap Naufal. “Iya, kenapa ya mas?” Ia Melihat seragam Naufal bertuliskan OMNI salah brand hp yang mungkin pernah dia dengar.
"Lagi pusing mikirin hadiah buat cucu ya, Pak? Saya lihat dari tadi Bapak sepertinya lagi menimbang-nimbang sesuatu yang awet buat anak muda," ucap Naufal dengan nada santai namun penuh wibawa.
Efek dia menaikan kepintarannya tempo hari, menyesuaikan frekuensi suaranya agar terdengar seperti seorang kawan, bukan pedagang yang haus komisi.
Pak Hendro mengernyit, tangannya yang kasar bekas bekerja keras mengusap dagu.
"Lho, kok kamu tahu? Memang saya lagi bingung. Cucu saya ada tiga, mau masuk SMA semua. Mereka minta HP yang katanya 'nggak lemot buat main gim' tapi saya maunya yang nggak gampang rusak. Jaman sekarang barang ringkih semua."
Naufal tersenyum, ia berjongkok dengan sopan di depan bangku taman, sebuah gestur yang membuat Pak Hendro merasa dihormati.
“Itu Anggap saja insting sales.”
Ia tidak menyodorkan tumpukan brosur, melainkan hanya satu lembar yang paling relevan.
Di samping dan pojok, para sales senior termasuk Rendi yg katanya paling jago cuma tertawa.
“Dasar anak amatir ngapain bapak bapak gembel itu ditawarin. Mending cari yang lain lah!”
Bimo menimpal. “Iya, pantas saja dia gak pernah jualan orang pemula banget.”
Semua terlalu merendahkan mereka gak tahu bahwa bapak bapak itu bisa closing 3 unit hp kalau saja mereka yang gaz tadi.
Naufal masih memantau bapak itu, dia sekali lagi menggunakan kemampuan analisis nilai untuk Melihat analisis kondisi bapak ini.
> [Target: Hendro]
> [Identitas: juragan mos]
> [Budget: Rp 15.000.000
> [Kebutuhan: 3 Unit Smartphone untuk cucu ]
> [Tingkat Kepercayaan pada Sales: 65%]
Budget 15 juta Naufal Langsung kepikiran untuk menawarkan satu buah unit hp flagshipnya.
"Pak, kalau untuk cucu, apalagi cowok yang main gim, Bapak butuh yang baterainya badak dan memorinya lega supaya nggak dikit-dikit minta servis. “
Pak Hendro mendengarkan dengan seksama.
“Kebetulan brand kami punya seri paling baru pak, R-15F. Layarnya sudah amoled pakai pelindung khusus, jadi kalau jatuh nggak langsung ambyar. Kapasitas baterainya bisa awet bisa digunakan 2 hari, Pak. Cocok buat anak sekolah yang jarang ingat ngecas. Sekali ngecas juga cepet pak.”
Pak Hendro mengambil brosur itu, matanya yang mulai kabur mencoba membaca spesifikasi.
"Baterainya kuat? Memorinya besar? Harganya berapa mas? Saya nggak mau yang murahan tapi cepat rusak, tapi kalau kemahalan ya saya pikir-pikir dulu."
Naufal melihat panel sistem di atas kepala Pak Hendro.
[Indikator Kepuasan: 85%]. Sedikit lagi.
Naufal Langsung menyesuaikan dengan budget hendro 15 juta.
"Harganya cuma lima juta per unit, Pak. Memang agak tinggi, tapi anggap saja Bapak investasi buat tiga atau empat tahun ke depan.”
“ Bapak nggak perlu pusing beliin mereka HP baru lagi setiap tahun. Khusus hari ini, kalau Bapak ambil tiga, saya kasih layanan antar jemput servis gratis seumur hidup kalau ada kendala. Bapak tinggal telepon saya, barang saya jemput ke rumah."
Pak Hendro terdiam. Ia menatap Naufal dalam-diam, menilai kejujuran di mata pemuda itu.
Sementara di kejauhan, Bimo masih asyik menertawakan Naufal sambil memotret kegiatannya untuk laporan "pencitraan" di grup kantor.
"Kamu serius bisa antar jemput?" tanya Pak Hendro meyakinkan. Karena dia cukup kerepotan untuk melakukan penjualan di toko, dia malas keluar rumah.
"Nama saya Naufal, Pak. Ini kartu nama saya. Reputasi saya taruhannya," jawab Naufal mantap.
Pak Hendro tertawa kecil, ia merogoh saku kaos partainya yang dekil, mengeluarkan sebuah ponsel jadul yang layarnya sudah menguning hanya untuk menekan sebuah nomor.
"Bawa tiga unit ke alamat di kartu ini. Warna hitam semua. Saya bayar tunai di tempat. Jangan telat, cucu saya pulang sekolah jam satu siang. Saya mau buat kejutan soalnya.”
Pak Hendro menyodorkan sebuah kartu nama berlapis plastik kusam. Di sana tertulis:
Hendro Wijaya - Pengelola Kost jl gambir sawit.
Naufal menerima kartu itu dengan senyum miring.
[Ding!]
[Transaksi Potensial Terkunci!]**
[Total Penjualan: Rp 15.000.000]
[Selamat tuan rumah menyelesaikan misi rahasia: transaksi untuk 3 cucu]
[Hadiah: rp 10.000.000
Kemampuan memahami part komponen ponsel tingkat tinggi ]
Naufal berdiri dan memberikan hormat singkat. "Siap, Pak Hendro. Jam sebelas, unit sudah sampai di depan pagar rumah Bapak."
Saat Naufal berjalan kembali menuju kerumunan sales, Bimo menghampirinya dengan wajah mengejek. "Gimana, Fal? Dapat apa? Dikasih uang parkir sama kakek-kakek itu?"
Naufal hanya mengangkat kartu nama Pak Hendro dan tiga lembar nota pesanan yang sudah ia siapkan secara digital di tabletnya. "Cuma dapet tiga unit seri R-15F kak Bimo Cash. Lo sendiri udah dapet berapa nomor selain foto selfie?"
Bimo melongo. Matanya nyaris keluar melihat angka 15 juta yang tertera di layar tablet Naufal. "Lima juta satu unit? Tiga unit?! Lo bercanda ya?!"
Rendi bahkan tidak bisa tertawa dan membulatkan mata. “Mustahil!”
“Makannya,” potong Naufal. “Jangan pernah remehkan orang dari penampilannya saja.”
***
Naufal memacu Ducati-nya membelah jalanan yang mulai padat. Di dalam tas punggungnya, kartu nama Pak Hendro terasa seperti tiket emas. Sesampainya di toko, suasana tampak sibuk.
Bau pengharum ruangan dan deretan lampu LED yang menyorot deretan HP premium menyambutnya.
Di sana Andre Sedang bersedekap. Begitu melihat Naufal masuk, ia melirik jam tangannya dan langsung melempar sarkasme.
"Wah, sang legenda 'pecah telur' kita sudah datang," Andre tertawa hambar, suaranya sengaja dikeraskan agar sales lain mendengar.
"Gimana *flyering* di lapangan tadi? Pasti cuma dapet keringat doang, kan? Inget ya Fal, keberuntungan itu nggak datang dua kali. Kemarin lo hoki bisa *closing* 50 unit, tapi hari ini realita bakal nampar lo. Jualan itu pake teknik, bukan pake kebetulan."
Naufal tidak menghentikan langkahnya. Ia hanya menoleh sedikit, menatap Andre dengan pandangan datar yang entah kenapa membuat Andre merasa terintimidasi.
"Teknik tanpa hasil itu cuma teori, Mas. Dan keberuntungan? Saya lebih suka menyebutnya persiapan yang bertemu dengan kesempatan."
"Halah, banyak bacot! Sana balik ke barisan, bentar lagi *briefing*!" hardik Andre kesal karena merasa diabaikan.
Namun, bukannya menuju barisan sales, Naufal justru melangkah mantap menuju meja kasir tempat Amel kasir partime sedang merapikan pembukuan.
"amel tolong buatkan tiga nota pesanan untuk unit OMNI R-15F warna hitam," ucap Naufal lantang.
Suasana toko yang tadinya bising mendadak senyap.
"Eh, tunggu dulu! Naufal, lo jangan main-main! R-15F itu stoknya terbatas dan harganya lima juta per unit. Lo jangan coba-coba bikin nota fiktif cuma buat pamer!" Andre membentak, wajahnya merah padam.
Naufal mengeluarkan tabletnya dan menunjukkan detail pesanan digital yang sudah terverifikasi.
"Fiktif? Bapak Hendro Wijaya dari Gambir Sawit sudah menunggu. Saya butuh unitnya sekarang karena saya akan melakukan COD (Cash on Delivery) jam sebelas nanti."
"Tiga unit R-15F? Tunai?" Amel memastikan sekali lagi dengan wajah tidak percaya. "Itu totalnya lima belas juta, kak Nuafal.”
Bukan berarti dia tidak percaya, hanya saja untuk transaksi di angka lima belas juta dia perlu waspada.
"Iya, amel. Ini alamat dan kontak beliau. Tolong siapkan barangnya, saya yang akan antar sendiri pake motor," jawab Naufal tenang.
Andre Masih tidak percaya dan mematung kemarin 50 unit sekarang 3 unit seri r-15F mampus dia kalah saing sekarang, dia bisa diomelin trainer dari brand milik dia.
DAYA KHALYAL MEMBAGINGKAN