Dihimpit hutang dan keputusasaan, Agus, seorang pria penuh ambisi yang gagal, meyakinkan istrinya, Endang, untuk melakukan pesugihan Lanang Sewu, meskipun ritualnya menuntut pengorbanan keintiman yang sakral. Untuk mempertahankan kehormatan istrinya, Agus merencanakan penipuan tingkat tinggi: menyewa Sari, seorang wanita yang memiliki kemiripan fisik dengan Endang, dan menyamarkannya secara spiritual menggunakan sihir. Penipuan ini berhasil. Mereka hidup dalam kemewahan sementara waktu, menikmati hadiah dari Raden Titi Kusumo, entitas pesugihan yang karismatik tapi terluka secara emosional. Namun, kecerdasan spiritual Titi Kusumo perlahan mencium kepalsuan itu. Ketika penyamaran terbongkar, semua kekayaan lenyap, dan Titi Kusumo memulai pembalasan keji, menargetkan tidak hanya nyawa Agus dan Endang, tetapi juga orang-orang tak bersalah di sekitar mereka, memaksa pasangan itu menghadapi kebenaran pahit bahwa penebusan sejati tidak dapat dibeli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ritual Penyamaran Sukma
Sari, yang kini berbicara dengan suara Endang, terhuyung mundur, memegang dadanya seolah jiwanya baru saja dicuri dan diganti.
“Titi Kusumo sudah di sini, di sekitar sini,” Mbah Jari berbisik, memandang ke arah pintu anyaman bambu. “Dia merasakan adanya manipulasi energi. Topeng Sukma Ganda yang baru saja kutananamkan padanya hanya lapisan tipis. Kau harus segera menyempurnakannya, Agus.”
Agus panik, melangkah maju. “Apa yang harus kulakukan, Mbah? Saya sudah bayar seratus juta! Katanya ini sihir yang sempurna!”
“Sempurna, ya,” dengus Mbah Jari, menggesekkan tangannya yang keriput. “Tapi kesempurnaan butuh proses. Aku baru saja menyematkan salinan aura Endang ke dalam cangkang Sari. Tetapi, agar Pangeran tidak curiga, aura itu harus menyatu dengan cangkangnya, harus benar-benar terasa seperti ‘Endang yang baru’ yang siap menjadi tumbal.”
“Lalu?” tuntut Agus, mencengkeram lengan Sari.
“Aku harus melakukan Pelet Punggung,” jawab Mbah Jari, matanya yang hitam berkilat. “Ini adalah ilmu graft spiritual. Aku akan menggunakan energi dari punggung Sari, tempat pusat energi vitalitasnya, untuk memaksa penerimaan aura Endang. Ini akan menyakitkan, sangat menyakitkan. Tapi ini satu-satunya cara untuk menipu entitas yang haus koneksi tulus.”
Sari, yang kini terlihat seperti Endang tetapi dengan ekspresi ketakutan yang mendalam, menatap Agus.
“Kau dengar, Gus? Dia bilang sakit,” suaranya adalah suara Endang, memohon. “Aku tidak bisa menahan rasa sakit spiritual lagi. Aku merasa seperti terbagi dua.”
Agus merasakan sedikit rasa bersalah, tetapi ia segera menepisnya. Seratus juta sudah terbayar. Semua ini demi kelangsungan hidupnya.
“Kau harus tahan, Sari. Kau harus tahan demi keluargamu,” desak Agus, menahan Sari agar tidak melarikan diri. “Mbah Jari, lakukan sekarang. Secepatnya!”
“Baik,” kata Mbah Jari. Ia menunjuk ke lantai yang dialasi tikar pandan usang. “Baringkan dia di sana. Wajahnya menghadap ke bawah. Aku butuh akses ke punggungnya.”
Agus mendorong Sari, yang melawan dengan lemah, ke lantai. Sari mengeluarkan erangan tertahan.
“Jangan sentuh aku!” teriak Sari, dalam suara Endang. “Aku benci kau, Agus! Kau menjualku dua kali!”
“Diam!” bentak Agus. Ia menahan bahu Sari dengan lututnya, menahan Sari agar tetap tengkurap.
Mbah Jari mengambil sebilah keris kecil dengan ukiran yang sangat tua, keris yang terlihat seperti terbuat dari tulang. Ia melumuri ujung keris itu dengan minyak wangi yang berbau menyengat.
“Aku akan menempelkan keris ini di tiga titik simpul energi di punggungmu,” Mbah Jari menjelaskan pada Sari dengan nada datar. “Setiap sentuhan akan menyalurkan energi Endang ke pusat jiwamu. Jangan melawan. Jika kau melawan, auranya akan pecah, dan kita semua akan terbakar oleh amarah Pangeran.”
Sari mulai menangis, air mata Endang membasahi tikar. “Aku tidak mau! Aku tidak mau menjadi dia! Aku hanya ingin uangku!”
“Terlambat, Nak,” Mbah Jari membungkuk.
Mbah Jari mulai merapalkan mantra Jawa Kuno, kali ini lebih cepat dan lebih intens. Asap dupa di ruangan itu berputar liar, seolah mengikuti irama suara Mbah Jari.
Agus merasakan hawa dingin yang menusuk tulang. Ia melihat Mbah Jari mengangkat keris itu, dan dengan hati-hati, menempelkannya di punggung bagian atas Sari, tepat di bawah leher.
Sreeek!
Sentuhan itu tidak melukai kulit, tetapi Sari menjerit dengan suara yang merobek pendengaran. Itu adalah jeritan spiritual, suara keputusasaan murni yang dilepaskan ketika dua jiwa dipaksa menyatu.
“Aku terbakar!” teriak Sari, berjuang keras di bawah lutut Agus.
“Tahan! Tahan sebentar lagi!” Agus mendesis, menekan lebih kuat. Ia harus memastikan Sari diam.
Mbah Jari mengabaikan mereka. Ia fokus pada mantranya, matanya terpejam. Ia memindahkan keris itu ke titik kedua, di tengah punggung, tepat di antara tulang belikat.
Sreeeeek!
Jeritan Sari berubah menjadi lolongan yang menyayat. Tubuhnya menegang, otot-ototnya kejang.
“Dia sudah datang, Mbah! Aku merasakan dia datang!” Sari berteriak, suaranya kini kembali bercampur dengan suara aslinya yang lelah.
Mbah Jari membuka mata, keringat membasahi dahinya. “Dia semakin dekat. Aku harus cepat!”
Mbah Jari menempelkan keris di titik terakhir, di punggung bawah.
Sreeeeeeek!
Jeritan Sari kini memuncak, suara yang begitu tinggi hingga terasa seperti kaca yang pecah di telinga. Agus harus menutup telinganya. Ia melihat darah segar merembes keluar dari hidung Sari.
“Sempurna!” teriak Mbah Jari, menarik kerisnya. Ia menjatuhkan keris itu dan segera mengambil minyak wangi lain, mengoleskannya di punggung Sari untuk menyegel energi.
Sari ambruk, terengah-engah, tetapi tubuhnya kini terasa tenang. Ia tidak lagi kejang. Ia berbalik perlahan, menatap Agus.
Wajahnya masih Sari, tetapi matanya benar-benar Endang. Aura di sekelilingnya kini terasa hangat, familiar, dan tulus—aura seorang istri yang penuh cinta, meskipun kini diliputi ketakutan.
“Bagaimana, Mbah?” tanya Agus, melepaskan Sari.
“Sempurna. Pelet Punggung sudah bekerja. Dia sekarang memiliki aura Endang yang meyakinkan,” kata Mbah Jari, terengah-engah. “Tapi aku peringatkan kau, Agus. Entitas itu sudah di luar. Dia mencium energi ini, energi yang baru dan tulus. Dia akan datang dengan penuh semangat.”
Tiba-tiba, lampu minyak di tengah ruangan padam, meninggalkan mereka dalam kegelapan total.
“Mbah?” Agus berbisik, panik.
Suara Mbah Jari terdengar sangat dekat, hampir di telinga Agus. “Dia tidak sabar, Agus. Dan dia marah karena kau menunda-nunda. Cepat, ambil Sari. Kau harus segera membawanya kembali ke rumah. Ritual pertama harus dilakukan malam ini juga.”
Dari luar pondok, terdengar suara langkah kaki yang berat, langkah kaki yang seharusnya tidak dimiliki oleh manusia biasa. Langkah itu berhenti tepat di depan pintu bambu.
Lalu, sebuah suara yang dalam dan merdu, namun dipenuhi dinginnya es, terdengar dari luar.
“Istriku, Endang. Aku mencium ketulusanmu yang baru. Kenapa kau bersembunyi di tempat kotor ini?” tanya Raden Titi Kusumo. Suaranya terdengar sangat dekat, seolah ia hanya berjarak satu inci dari wajah mereka. “Keluarlah, Sayang. Malam ini, aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku.”
Keheningan yang mencekam menggantung di udara, lebih berat daripada gelapnya pondok tanpa lampu. Jantung Agus berdebar begitu keras hingga ia yakin Raden Titi Kusumo, yang berada di luar pintu, pasti bisa mendengarnya.
“Dia tahu!” bisik Agus kepada Mbah Jari, suaranya tercekat. “Dia tahu kita ada di sini!”
“Diam!” bentak Mbah Jari, suaranya tajam dan bergetar karena kelelahan. “Jangan bicara. Entitas ini mencium ketakutan, Agus. Dan ketakutanmu akan merusak aura Endang yang baru saja kutananamkan pada Sari.”
Sari, yang masih terhuyung-huyung dan kini benar-benar terlihat seperti Endang, menatap Mbah Jari dengan mata Endang yang basah.
“Aku tidak bisa, Mbah,” bisik Sari, suaranya Endang, tetapi penuh keputusasaan Sari. “Aku merasakan kehadirannya menusuk ke dalam. Aura palsu ini seperti kertas tipis.”
Mbah Jari bergerak cepat, meraih bahu Sari. Cengkeramannya yang keriput terasa seperti cakar.
“Dengarkan aku baik-baik, Nak,” kata Mbah Jari, mencondongkan tubuhnya agar suaranya tidak terdengar keluar. “Pelet Punggung sudah bekerja, tetapi topeng ini butuh daya. Daya itu adalah keyakinanmu. Kau harus yakin bahwa kau adalah Endang. Kau harus memancarkan ketulusan yang dicari oleh Pangeran itu.”
Agus melangkah maju, tangannya gemetar. “Ketulusan? Dia itu PSK, Mbah! Bagaimana dia bisa memancarkan ketulusan?”
***