Di benua Azure, kekuatan adalah segalanya. Namun, ada satu profesi yang paling dihormati dan ditakuti: Alkemis. Mereka yang bisa menciptakan pil roh, obat mujarab, dan racun mematikan.
Raymond adalah cucu dari Alkemis Legendaris yang pernah menyelamatkan dunia, Dewa Alkemis Zhuo Yi. Namun, sejak kakeknya menghilang secara misterius dan klan keluarga mereka dihancurkan oleh aliansi kekuatan jahat, Raymond hidup sebagai orang buangan yang menderita dan dipandang rendah.
Suatu hari, saat hampir dibunuh oleh musuh bebuyutannya, Raymond menemukan sebuah cincin batu giok peninggalan kakeknya. Di dalamnya tersembunyi jiwa sang Dewa Alkemis dan sebuah kitab suci "Formula Penciptaan Semesta".
Dengan warisan ilahi itu, Raymond bangkit dari lumpur. Ia mulai mencium bau bahan-bahan, meramu pil tingkat dewa, dan menumbuhkan kekuatan yang mengguncang langit. Ia berjanji pada dirinya sendiri: Semua yang pernah menginjak-injak martabatnya, semua yang membunuh keluarganya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: PERSIAPAN MENUJU IBUKOTA DAN WARGA BARU
Hari-hari berikutnya di Akademi Roh Surgawi dipenuhi dengan kegembiraan dan juga ketegangan.
Berita tentang kehancuran pasukan Sekte Pedang Biru dan kematian para pemimpin mereka menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru kekaisaran. Banyak sekte yang awalnya ingin mencari masalah menjadi takut dan tunduk. Mereka sadar bahwa Akademi Roh Surgawi di bawah perlindungan Qing Yun dan dibintangi oleh jenius monster bernama Raymond sedang naik daun dan tidak boleh dirusak.
Di ruang kerja Kepala Sekolah.
"Raymond, karena Sekte Pedang Biru sudah menjadi musuh bebuyutan, aku tidak akan membiarkan mereka bernapas lama. Pasukanku sudah bergerak untuk menghancurkan markas mereka," kata Qing Yun sambil menuangkan teh.
"Terima kasih, Guru. Tapi aku khawatir mereka akan melakukan hal nekat saat Turnamen Jenius nanti," jawab Raymond.
"Tidak perlu khawatir. Di Ibukota Kekaisaran, ada aturan ketat. Siapa pun yang berkelahi di luar arena akan diburu oleh pasukan kekaisaran. Fokuslah pada pertandingan. Tunjukkan pada mereka bahwa muridku adalah yang terhebat."
Qing Yun menyerahkan sebuah kantong kulit dan sebuah jubah.
"Ini adalah Jubah Naga Bayangan. Bisa melindungimu dari serangan energi tingkat rendah dan menyembunyikan auramu. Dan di dalam kantong ini ada 100 butir Pil Roh Tingkat Tinggi dan 50 keping Kristal Emas sebagai bekal perjalanan."
"Terima kasih banyak!" Raymond menerima dengan hormat.
"Tiga hari lagi kalian berangkat. Istirahatlah dan persiapkan dirimu sebaik mungkin."
Kembali ke area Kelas F.
Suasana di sana sangat meriah. Da Wei, Lin Mei, dan teman-teman lainnya sibuk mempersiapkan perlengkapan. Mereka semua terpilih untuk ikut serta dalam rombongan akademi, meskipun mereka hanya akan bertanding di kategori pendukung atau menjadi penonton, tapi ini adalah kesempatan besar untuk melihat dunia luar.
"Kak Raymond! Lihat ini! Pedang baru yang Kakak berikan sangat tajam!" teriak Da Wei sambil memotong sebatang pohon besar dengan mudah.
"Bagus. Tapi ingat, senjata yang tajam tidak berguna kalau penggunanya lemah. Fokus pada teknik dan pertahanan," nasihat Raymond.
Lin Mei mendekat dengan wajah sedikit cemas. "Kak Raymond, aku dengar di Ibukota nanti ada banyak sekali orang kuat dari keluarga kerajaan dan sekte besar. Apakah kita tidak akan dikucilkan atau di-bully lagi?"
Raymond tersenyum dan mengacak rambut Lin Mei.
"Dulu kita lemah, jadi kita diinjak. Sekarang kita kuat, siapa yang berani? Kalau ada yang berani macam-macam... biarkan saja aku yang mengurusnya. Kalian hanya perlu fokus menjadi kuat dan membanggakan nama Kelas F kita."
"Siap!!" jawab mereka semangat.
Tiba-tiba, dari arah gerbang area, terlihat sosok Long Ao berjalan mendekat sendirian. Wajahnya terlihat serius.
Murid-murid lain menjadi waspada, tapi Raymond memberi isyarat tenang.
"Ada apa, Long Ao? Mau minta tanding lagi?" tanya Raymond bercanda.
Long Ao menggeleng, lalu menghela napas panjang. Ia tampak sudah mengubur rasa egonya dalam-dalam.
"Aku datang untuk minta izin bergabung dengan kelompokmu selama di Ibukota nanti."
Semua orang terkejut. "Hah?!"
"Ayahku dan klanku menyuruhku untuk mencari sekutu terkuat. Dan aku tahu, bersamamu adalah pilihan paling aman dan paling tepat," kata Long Ao jujur. "Aku tahu aku dulu sombong dan jahat. Tapi aku ingin berubah. Aku mau belajar cara menjadi kuat yang sesungguhnya darimu."
Raymond menatap mata Long Ao dalam-dalam, mencoba membaca niatnya. Melihat ketulusan dan kerendahan hati di sana, Raymond akhirnya tersenyum dan mengulurkan tangan.
"Selamat datang di tim, Long Ao. Tapi ingat, di sini tidak ada perbedaan kelas. Kita semua bertarung bahu-membahu."
Long Ao tersenyum lega dan menjabat tangan Raymond. "Terima kasih!"
Keberangkatan semakin dekat, dan kekuatan tim mereka semakin solid.