NovelToon NovelToon
Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:588
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1 - 20 = Prologue Arc ( Arc Pembuka )

Chapter 21 - 30 = Daily Life in Thunder Division ( Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir )

Chapter 30 - ? = Seven Divisi Tournament Arc ( Arc Turnamen Tujuh Divisi )

Di masa lalu yang jauh, dua sahabat—Dongfang dan Yuwen Feng—berdiri di puncak dunia kultivasi sebagai yang terkuat. Namun takdir memisahkan mereka. Dikhianati oleh jalan yang berbeda, Yuwen Feng jatuh ke dalam kegelapan dan bersumpah menghancurkan dunia, sementara Dongfang terpaksa menyegelnya demi menghentikan kehancuran—dengan harapan suatu hari sahabatnya akan bertobat.

Bertahun-tahun kemudian, seorang anak bernama Long Chen terus dihantui mimpi tentang masa lalu yang tidak ia pahami. Hidup damainya di Desa Daun Maple berubah menjadi tragedi ketika desanya dihancurkan oleh sosok misterius dari aliran kegelapan. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan masa kecilnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27 - Berburu di Kedalaman Bambu Ungu

Hutan Bambu Ungu, cahaya pertama matahari menembus kabut tipis yang masih menggantung di antara batang-batang bambu yang menjulang tinggi, menciptakan suasana tenang namun penuh misteri, sementara udara pagi terasa dingin dan tanah di bawah kaki masih lembap oleh embun malam.

Tiga sosok bergerak perlahan menembus kedalaman hutan dengan langkah yang teratur dan waspada, seolah setiap gerakan mereka telah diperhitungkan dengan matang. Long Chen berjalan di tengah, tatapannya fokus ke depan, tidak lagi seperti pemuda yang ragu, melainkan seseorang yang telah memahami tujuan perjalanannya. Di depannya, Mo Fan memimpin langkah dengan sikap tenang namun penuh kewaspadaan, setiap langkahnya ringan namun stabil, seperti seorang yang sudah terbiasa menjelajahi wilayah berbahaya. Sementara itu, Shi Hao berjalan di belakang, sesekali menoleh ke sekitar, memastikan tidak ada sesuatu yang luput dari pengamatannya.

Kabut tipis perlahan terbelah saat mereka melangkah, dan suara dedaunan yang bergesekan pelan menjadi satu-satunya suara yang terdengar di tengah keheningan pagi.

Long Chen akhirnya memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti perjalanan mereka, suaranya terdengar jelas di tengah hutan yang masih diselimuti kabut tipis. “Senior, apakah benar Kerbau Tanduk Guntur itu ada di dalam hutan ini?” tanyanya dengan nada penasaran, matanya menyapu sekitar seolah berharap menemukan petunjuk.

Shi Hao yang berjalan di belakang mendengus pelan, lalu menjawab dengan santai namun sedikit menantang, “Kau harus percaya pada seniormu.”

Di depan, Mo Fan menoleh sedikit, senyum tipis muncul di wajahnya. “Selama delapan tahun ini… kau belum pernah masuk sedalam ini, kan?” ucapnya ringan.

Long Chen menggaruk kepalanya, sedikit canggung. “Iya sih, Senior… tapi kan…” katanya, belum sempat menyelesaikan kalimatnya.

Shi Hao langsung memotong dengan nada tegas namun tetap santai, “Pokoknya kita harus menemukannya.”

Ia lalu tersenyum lebar, semangatnya terlihat jelas. “Supaya nanti malam kita bisa makan besar dan bersenang-senang sebelum Turnamen Tujuh Divisi dimulai besok.”

Ia menambahkan sambil melirik ke arah Long Chen, “Anggap saja ini juga sebagai pemanasan sebelum turnamen dimulai.”

Mereka terus berjalan menembus kedalaman hutan, langkah demi langkah membawa mereka semakin jauh dari wilayah yang biasa mereka lalui, sementara suasana di sekitar berubah menjadi semakin sunyi, tidak lagi sekadar tenang, melainkan terasa menekan, seolah ada sesuatu yang mengawasi dari balik bayangan bambu yang rapat.

Aura di sekitar mereka menjadi lebih berat, membuat napas terasa sedikit tertahan tanpa alasan yang jelas.

Tiba-tiba, Shi Hao menghentikan langkahnya.

Tangannya terangkat sebagai isyarat.

“Berhenti dulu,” ucapnya pelan namun tegas.

Mo Fan dan Long Chen langsung bereaksi, tubuh mereka menegang, mata mereka bergerak cepat mengamati sekitar, naluri mereka sebagai kultivator langsung aktif.

Shi Hao menyipitkan matanya, telinganya menangkap sesuatu yang sangat halus di tengah keheningan.

“Sepertinya… aku mendengar sesuatu di belakang,” katanya pelan.

DUM! Tanah bergetar hebat, suara berat menggema di antara hutan bambu yang semula sunyi, membuat dedaunan bergetar dan kabut tipis tersapu oleh gelombang tekanan yang tiba-tiba muncul. Ketiganya langsung berbalik secara refleks, mata mereka melebar saat sesuatu yang besar muncul dari balik deretan bambu yang bergoyang.

Dari bayangan itu, sosok raksasa perlahan terlihat jelas.

Kerbau Tanduk Guntur.

Tingginya hampir sepuluh meter, tubuhnya besar dan berotot seperti gunung yang bergerak, kulitnya tebal berlapis seperti baja yang ditempa, memantulkan cahaya samar dari petir yang mengalir di sekujur tubuhnya. Di kepalanya, sepasang tanduk besar melengkung ke depan, memancarkan petir yang berderak liar, menciptakan suara retakan energi yang menggetarkan udara di sekitarnya.

“Waspada!” teriak Mo Fan dengan cepat.

Tanpa memberi waktu untuk berpikir, kerbau itu langsung menyerbu dengan kekuatan brutal, setiap langkahnya mengguncang tanah, lalu dalam satu gerakan ia menundukkan kepala dan melesat maju.

BOOM!

Serudukan yang dipenuhi petir meluncur lurus ke arah mereka, membawa gelombang energi yang menghancurkan.

Long Chen, Mo Fan, dan Shi Hao langsung melompat ke arah berbeda secara bersamaan, tubuh mereka bergerak cepat menghindari jalur serangan yang mematikan itu.

Detik berikutnya, serangan itu menghantam tanah, memicu ledakan keras yang mengguncang sekeliling. Permukaan tanah retak, sementara beberapa batang bambu hancur seketika dan terlempar ke udara akibat dahsyatnya kekuatan benturan.

Shi Hao langsung menarik pedangnya dari sarung dengan satu gerakan cepat, dan dalam sekejap petir ungu menyelimuti bilahnya, berderak halus seiring aliran qi yang ia keluarkan. “Aku akan menyerang duluan!” serunya tegas.

Tanpa menunggu respon, tubuhnya melesat maju dengan kecepatan tinggi, langkahnya ringan namun penuh tenaga, langsung mendekati Kerbau Tanduk Guntur yang masih berdiri kokoh di tengah kehancuran bambu.

“Teknik Tingkat Pertama—Kilatan Fajar!”

Pedangnya bergerak dalam satu ayunan horizontal yang cepat dan tajam, meninggalkan jejak cahaya petir yang membelah udara.

Sreet!

Tebasan itu mengenai tubuh kerbau dengan presisi, namun hasilnya tidak seperti yang diharapkan; kulit tebal makhluk itu hanya bergetar sesaat, seolah menerima benturan ringan, tanpa meninggalkan luka berarti sama sekali.

Long Chen terkejut melihat hasil serangan tadi, matanya masih terpaku pada tubuh Kerbau Tanduk Guntur yang tidak menunjukkan luka sedikit pun. “Bahkan serangan Senior Shi Hao tidak bisa melukainya…” ucapnya, nada suaranya penuh keheranan.

Mo Fan tetap tenang, tatapannya tidak lepas dari gerakan makhluk itu. “Wajar saja,” jawabnya santai namun serius. “Teknik tingkat pertama memang tidak akan berpengaruh banyak terhadap makhluk seperti ini, karena kulitnya terlalu keras, hampir seperti lapisan baja alami.”

Ia menambahkan dengan nada tegas, “Satu-satunya cara untuk mengalahkannya adalah menggunakan teknik tingkat yang lebih tinggi dan kekuatan qi yang lebih padat.”

Di saat yang sama, Shi Hao sudah muncul kembali di belakang kerbau dengan kecepatan tinggi, napasnya sedikit berat namun semangatnya tidak berkurang. “Ternyata teknik tingkat pertama tidak cukup, aku tidak menyangka kulitnya sekeras ini…” ucapnya sambil bersiap menyerang lagi.

Namun sebelum ia sempat melanjutkan, kerbau itu tiba-tiba melompat.

Tubuh raksasanya terangkat ke udara, bayangannya menutupi tanah di bawah, menciptakan tekanan yang membuat udara seakan berhenti.

“Menjauh, junior!” teriak Mo Fan dengan cepat.

Tanpa berpikir panjang, mereka semua langsung bergerak menghindar ke arah yang berbeda, tubuh mereka melesat menjauh dari titik jatuh makhluk itu.

Detik berikutnya—

BOOM!

Tubuh besar Kerbau Tanduk Guntur menghantam tanah dengan kekuatan luar biasa, menciptakan retakan besar yang menjalar ke segala arah, sementara gelombang kejut menyapu sekitar dan menghancurkan sisa bambu yang masih berdiri.

Long Chen menggenggam pedangnya lebih erat, tatapannya mengeras saat melihat betapa sulitnya melukai makhluk di hadapannya, namun ia tidak mundur sedikit pun. “Aku akan mencoba menyerangnya juga,” ucapnya tegas.

Tanpa ragu, ia melesat maju, petir ungu langsung menyelimuti bilah pedangnya dengan aliran qi yang kuat dan terfokus. Ia menebas sekali dengan kecepatan tinggi, lalu melanjutkan dengan serangan kedua dan ketiga secara bertubi-tubi, setiap tebasan dipenuhi tenaga dan teknik yang telah ia latih selama bertahun-tahun.

Sreet! Sreet! Sreet!

Namun hasilnya tidak berubah; kulit kerbau itu hanya bergetar ringan, seolah menerima gangguan kecil yang tidak berarti sama sekali. Makhluk itu bahkan tidak bereaksi, seakan serangan Long Chen tidak layak diperhatikan, hingga tiba-tiba—CRACK!

Petir liar keluar dari tanduknya, menyambar dengan kecepatan yang hampir mustahil diikuti mata, langsung mengarah ke Long Chen.

Terlalu cepat, ia bahkan tidak sempat menghindar.

“Junior Long Chen!!” teriak Mo Fan dengan cepat.

Dalam sepersekian detik, Mo Fan bergerak, tubuhnya melesat seperti kilat, lalu menarik Long Chen ke samping dengan paksa tepat sebelum serangan itu mengenai sasaran.

BOOM!

Petir menghantam tanah dengan kekuatan besar, menciptakan ledakan cahaya dan debu yang menyebar ke segala arah, sementara tanah retak dan udara bergetar hebat.

Long Chen masih terengah setelah nyaris terkena serangan tadi, dadanya naik turun dengan cepat sementara sisa-sisa percikan petir masih terasa di udara di sekeliling mereka. Ia menatap Mo Fan dengan rasa terima kasih yang jelas terlihat di wajahnya. “Terima kasih, Senior…” ucapnya, suaranya sedikit berat namun tulus.

Mo Fan menatapnya dengan ekspresi serius, tidak lagi santai seperti sebelumnya, sorot matanya tajam seolah ingin memastikan bahwa kejadian barusan benar-benar dipahami. “Lain kali jangan ceroboh seperti itu lagi,” katanya tegas namun tidak keras. “Kita belum tahu semua kemampuan lawan, dan satu kesalahan kecil saja bisa berakibat fatal.”

Ia menambahkan dengan nada yang lebih dalam, “Ini juga penting untuk persiapan turnamen nanti, karena lawan yang akan kau hadapi di sana tidak akan memberi kesempatan kedua.”

Long Chen mengangguk tanpa ragu, napasnya mulai perlahan stabil kembali. “Baik, Senior… aku mengerti,” jawabnya dengan serius, tangannya kembali menggenggam pedangnya lebih erat.

Kerbau Tanduk Guntur itu mengaum keras, suara gemuruhnya mengguncang seluruh hutan bambu, ROOOAARRR!! gelombang suara yang dihasilkan begitu kuat hingga udara di sekitarnya bergetar dan dedaunan berhamburan, memaksa Long Chen, Mo Fan, dan Shi Hao menutup telinga mereka sejenak untuk menahan tekanan yang menyakitkan itu.

Di tengah tekanan itu, Shi Hao justru menyeringai lebar, matanya bersinar penuh semangat. “Sudah cukup, kita harus segera menghabisinya,” ucapnya dengan nada penuh keyakinan.

Mo Fan mengangguk pelan, ekspresinya tetap tenang namun kini jauh lebih fokus. “Kita serang bersama, jangan lagi bergerak sendiri-sendiri,” katanya tegas, memastikan koordinasi mereka kali ini sempurna.

Tanpa menunggu lebih lama, Long Chen dan Shi Hao langsung bergerak maju bersamaan, langkah mereka selaras, pedang di tangan mereka langsung diselimuti petir ungu yang berdenyut kuat, memancarkan tekanan yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya.

“Teknik Tingkat Kelima—Tebasan Guntur Menggelegar!”

Dua tebasan vertikal dilepaskan secara bersamaan, membelah udara dengan suara guruh yang menggelegar, kilatan petir mengikuti jalur serangan mereka, menciptakan tekanan besar yang langsung menghantam tubuh kerbau raksasa itu.

DUM!

Tubuh Kerbau Tanduk Guntur terguncang hebat, langkahnya goyah untuk pertama kalinya, keseimbangannya mulai terganggu oleh serangan gabungan yang jauh lebih kuat.

Shi Hao langsung berteriak, “Sekarang, Senior Mo Fan!”

Tanpa perlu diingatkan lagi, Mo Fan sudah berada di udara, tubuhnya melayang dengan ringan namun stabil, aura petir di sekelilingnya melonjak tajam, pedangnya berkilau terang seolah menjadi pusat dari seluruh energi di sekitarnya.

“Teknik Tingkat Ketujuh—Garis Biru Pemutus Langit!”

Dalam satu gerakan, ia mengayunkan pedangnya tanpa ledakan besar atau gerakan berlebihan. Hanya satu garis tipis energi petir yang meluncur lurus ke depan dengan kecepatan yang hampir tak bisa diikuti oleh mata biasa ,cepat, tajam, dan mematikan.

SREET!!

Garis itu menembus tubuh Kerbau Tanduk Guntur, menembus lapisan kulit tebalnya yang sebelumnya tidak bisa dilukai, meninggalkan jejak energi yang membelah dagingnya.

Kerbau itu mengaum kesakitan, suara gemuruhnya kini dipenuhi penderitaan, tubuh raksasanya bergetar hebat sebelum akhirnya kehilangan keseimbangan.

Dan dalam satu momen, tubuh besar itu roboh ke tanah, disertai dentuman keras—BOOM!!

Tanah bergetar keras saat tubuhnya menghantam permukaan, debu dan serpihan bambu beterbangan ke udara, sementara gema benturan itu menyebar ke seluruh hutan.

Dan di tengah keheningan yang perlahan kembali, pertarungan itu akhirnya pun berakhir.

End Chapter 27

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!