Menceritakan Jiang Xuan yang kembali kemasa lalu tepatnya saat dia berusia 15 tahu, dengan mata takdir dan teknik kaligrafiya dia membantai musuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Malam semakin larut, tetapi Jiang Xuan tidak memejamkan mata sedikit pun. Di dalam gubuk reyot yang diterangi cahaya rembulan pucat, ia duduk bersila di atas ranjang kayunya. Di tangan kanannya, kuas kaligrafi tua yang ujung bulunya terbelah itu tergenggam erat, senyap layaknya belati di tangan seorang pembunuh bayaran.
"Mari kita lihat seberapa parah kerusakan yang harus kuperbaiki," gumam Jiang Xuan pada ruangan yang kosong. Suaranya serak, diwarnai nada mencemooh yang kejam terhadap dirinya sendiri. "Qi di tingkat Kondensasi Qi tahap kedua. Dantian sekecil kotoran tikus. Jika aku mencoba memanggil Niat Formasi tingkat tinggi, meridian di tangan kananku akan langsung meledak menjadi serpihan daging."
Ia mengangkat kuas retak itu sejajar dengan matanya. Matanya yang gelap, ditemani putaran lambat Roda Langit emas di mata kirinya, menatap ujung kuas seolah-olah itu adalah satu-satunya teman yang ia miliki di dunia yang kejam ini.
"Kau dan aku sama-sama barang rongsokan malam ini, Kawan Tua," kekehnya dingin, suara tawanya kering dan tanpa humor. "Tapi di masa lalu, aku pernah membelah leher seorang Penguasa Sekte hanya dengan sebatang sumpit kayu. Kita tidak butuh alat yang bagus. Kita hanya butuh Niat Membunuh."
Jiang Xuan menarik napas dalam-dalam, menyedot udara malam yang dingin dan apak. Ia memejamkan mata kanannya, memfokuskan seluruh kesadarannya pada ujung kuas.
"Satu goresan. Array Ilusi Pembunuh tingkat dasar. Mari kita uji batas wadah rongsokan ini."
Dengan gerakan yang sangat efisien, tanpa sedikit pun gerakan berlebih, pergelangan tangannya mengayun. Ia tidak mengumpulkan Qi dari alam; tubuhnya terlalu lemah untuk itu. Alih-alih, ia menarik langsung memori absolut dari tiga ratus tahun pembantaian. Niat Membunuh yang pekat, dingin, dan murni mengalir dari kedalaman jiwanya, merambat melalui lengannya, dan berkumpul di ujung kuas yang rusak.
Sret!
Kuas itu membelah udara kosong. Seuntai garis hitam tak kasat mata tertinggal di udara, berdenyut dengan aura kematian yang mengerikan. Udara di dalam gubuk tiba-tiba menjadi sangat berat, seolah-olah gravitasi meningkat sepuluh kali lipat. Suhu anjlok seketika, membekukan embun di dinding kayu.
"Lagi," desis Jiang Xuan. Giginya gemeretak menahan tekanan.
Sret! Sret!
Dua goresan tambahan menyilang di udara. Niat Formasi mulai terbentuk. Garis-garis ilusi itu saling mengait, menciptakan pola geometris yang memancarkan niat membantai yang begitu buas, seakan-akan ada ratusan roh pendendam yang menjerit tertahan di dalam ruang sempit itu.
Namun, detik berikutnya, batas realitas menghantamnya dengan brutal.
"Ukh!"
Jiang Xuan melebarkan matanya. Rasa sakit yang luar biasa tajam meledak dari lengan kanannya. Pembuluh darah di punggung tangannya menonjol, menghitam, dan beberapa di antaranya pecah di bawah kulit, menciptakan memar ungu yang mengerikan.
Brak!
Array di udara hancur seketika, hancur menjadi pusaran angin tajam yang mengoyak dinding gubuk. Jiang Xuan terlempar ke belakang, punggungnya menghantam dinding kayu dengan keras.
"BWAH!"
Seteguk darah hitam bercampur serpihan organ dalam termuntahkan dari mulutnya, memercik ke lantai tanah berdebu. Ia jatuh berlutut, napasnya tersengal hebat seperti ikan yang dilempar ke daratan. Tubuhnya bergetar tak terkendali. Keringat dingin membasahi seluruh pakaiannya.
"Sialan..." umpatnya di sela-sela batuk berdarah, matanya menatap liar pada darah hitam di lantai. "Bahkan belum sepersepuluh dari Array Pembunuh dasar... tubuh ini sudah mau hancur."
Ia mengusap dagunya yang berlumuran darah dengan punggung tangan kiri. Seringai sinis, bukannya erangan kesakitan, justru terbentuk di bibirnya.
"Seperti menuangkan besi cair ke dalam wadah tanah liat murahan," ucapnya keras-keras, suaranya dipenuhi rasionalitas yang kejam. "Jiwa Baru Lahir yang terjebak di tubuh Kondensasi Qi tahap dua. Jika aku terus memaksakan Niat Membunuh, aku tidak akan mati dibunuh musuh, tapi mati meledak oleh auraku sendiri. Tubuh ini butuh pembersihan besar-besaran. Tulang, sumsum, dan meridian ini harus dihancurkan dan dibentuk ulang."
Ia bersandar di dinding, mengatur napasnya yang putus-putus. Roda Langit di mata kirinya berputar pelan, memperlihatkan sisa-sisa benang takdir hitam (kematian) yang masih mengambang lemah di sudut ruangan, efek dari luka dalam yang baru saja ia buat sendiri.
"Pil Pembersih Tuntas? Tidak mungkin. Aku butuh seribu batu roh tingkat menengah untuk itu," Jiang Xuan bermonolog tajam, otaknya berputar dengan kecepatan kilat. "Berendam di Kolam Api Penyucian? Terlalu jauh, dan aku akan mati di jalan."
Pikirannya kembali pada ancaman Zhao Hai beberapa jam lalu.
Lembah Embun Beku.
Bunga Teratai Sumsum Es.
Mata Jiang Xuan menyipit. "Bunga Teratai Sumsum Es. Tumbuh di mata air dingin di kedalaman Lembah Embun Beku. Secara alami menyerap esensi bulan selama tiga ratus tahun. Di kehidupan lalu, Ye Chen 'secara kebetulan' menemukan bunga itu saat menjalankan misi sekte besok pagi. Bunga itu yang mencuci sumsum tulangnya, memperlebar meridiannya, dan menjadikannya jenius Pembentukan Fondasi termuda di sekte."
Ia tertawa pelan, tawa yang terdengar sangat kejam dan tanpa belas kasihan.
"Ye Chen... ah, Kakak Seperguruan Ye yang terhormat," ucap Jiang Xuan sambil menatap langit-langit yang bocor. "Kau selalu membual bahwa bunga itu adalah takdirmu. Hadiah dari langit untuk sang putra surga. Kau menggunakan kekuatan dari bunga itu untuk menginjak-injakku, melumpuhkanku, dan pada akhirnya, ratusan tahun kemudian, kau ikut memburu kepalaku demi hadiah dari Alam Atas."
Ia perlahan bangkit berdiri. Rasa sakit di lengan kanannya sangat menyiksa, tetapi bagi seseorang yang pernah dikuliti hidup-hidup, rasa sakit fisik ini hanyalah gangguan kecil. Ia mengambil kuas kaligrafinya yang terlempar ke lantai.
"Takdirmu? Mulai malam ini, tidak ada lagi yang namanya takdir," bisiknya dingin. Niat Membunuh kembali memancar tipis dari matanya, namun kali ini terkendali dengan perhitungan yang mematikan. "Bunga itu akan menjadi fondasiku. Dan kau, Ye Chen... kau hanya akan menemukan kematian jika berani menghalangiku."
Jiang Xuan berjalan tertatih menuju halaman gubuknya. Di bawah cahaya rembulan, ia mulai mengumpulkan beberapa batu sungai yang bulat dan halus. Karena tubuhnya tidak kuat memancarkan Niat Formasi secara langsung di udara kosong untuk waktu lama, ia harus menggunakan medium fisik.
Ia duduk di tanah basah, menggunakan pisau karatan untuk mengukir guratan-guratan aneh yang penuh Niat Membunuh ke permukaan batu-batu itu. Jarinya berdarah, tetapi ekspresinya sedingin es abadi. Malam ini, ia tidak tidur. Ia mempersiapkan jaring kematian untuk sang jenius sekte.
Thor, kurangi sifat jahat MC nya
Harusnya dia bersyukur, bisa memulai dari awal dan memperbaiki semuanya
Sebenar na, Xuan itu arti na apa ya? 🙏