NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Cinta

Tiba-tiba Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: nisa_prafour

Aruna Prameswari tidak pernah tahu bagaimana hidupnya berubah menjadi runyam. Semenjak Kedatangan sosok Liam Noah Rajasa, Atlet bola sekaligus Pengusaha ibukota. Hidupnya dibuat kacau balau sejak laki-laki itu selalu merecoki harinya yang gitu-gitu aja. Kerja, lembur, nongkrong, dan pulang.

Laki-laki itu semakin gencar mendekati dirinya ketika tahu kalau dirinya baru saja putus dari pacarnya, padahal Aruna masih belum begitu move on. Namun Liam dengan segala usahanya hingga membuat dirinya menyerah dan cinta itu datang tiba-tiba.

akankah Cinta Aruna yang datang tiba-tiba berakhir dengan indah atau malah sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nisa_prafour, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11

Masih dikediaman Aruna, Malam itu beberapa teman Rehan sudah pulang. Hanya menyisakan Noah dan William yang masih bercengkrama di teras depan rumah. Kedua laki-laki itu masih belum pulang karena tadi berbincang lama dengan ayah Aruna mengenai peternakan ikan. Rupanya kedua pemuda itu tertarik banyak dengan peternakan ikan yang dimiliki oleh ayah Aruna.

Jadi, mereka masih santai mengobrol hingga jam 7 malam setelah tadi ibu Aruna mengajak mereka untuk makan malam bersama. Sedangkan Aruna sendiri sibuk memilah sampah yang ia bawa sebanyak dua kantong kresek untuk dibakar di bak sampah didepan rumahnya. Gadis itu sedikit kesal hari ini akibat itensitas bertemu dengan sang kakak terbilang cukup lama karena teman-temannya yang berkunjung.

"Ada yang aku lewatkan?"

Memutar bola matanya malas, baru saja Aruna membatin perihal kakaknya. Kini laki-laki itu menghampirinya. Ia mencoba mengabaikan suara sang kakak yang kini ternyata sudah berada disampingnya. Aruna lebih memilih fokus dengan percikan api yang mulai membesar didepannya namun tak ayal saat ini moodnya turun seketika.

"....."

"Aruna?"

"....."

"Run aku lagi ngobrol sama kamu loh"

"Setahuku, kita ngga ada urusan kan?"

"Run, aku serius"

"Nggak usah perduli!"

"Jangan mulai pertengkaran run"

"Kamu yang mulai! Udah kubilang jangan usik aku dan kehidupan pribadi ku!"

"Kamu adikku!"

"Kamu pantas ngga disebut kakak?!"

"Aruna!!"

"Apalagi hah?!"

"Aku tahu semuanya apa yang kamu lakukan Run. Bahkan aku Tahu kapan dan dengan siapa kamu pulang hari ini"

"Emang kamu kan bajingan! Kami kira aku bocah ingusan yang harus diawasi?! Sekali lagi kamu lakuin itu aku akan minggat dari rumah! Nggak cukup kamu renggut semua masa depan aku?! Sekarang kamu mau renggut juga kebebasan aku?!!"

"Run aku lakuin itu semua demi kebaikan kamu!"

"Bullshit!! Kamu lakuin ini semua hanya demi kepuasan kamu sendiri?! Iya kan?!!"

"Kamu kenapa sih sekarang jadi pribadi yang susah di atur?"

"Tanya sama diri kamu sendiri!! Kalau sampai kamu masih bayar orang untuk memata-matai aku, aku jamin aku akan minggat dari rumah!"

"Oh ya? Aku jamin juga, kamu nggak akan melakukannya"

"Kamu itu egois!! Semua yang aku lakukan selalu dalam pantauan mu. Aku bukan boneka, Jadi terserah aku mau apa itu urusan aku!"

"Kamu nggak kasihan sama Ayah?!"

"Harusnya aku yang dikasihani, Kenapa ayah?! Ayah sudah dapat keinginannya, Anak-anak yang sukses dan mandiri. Kamu dengan cita-cita kamu begitu pula Arin! Sedangkan aku?! Menikmati hidupku sendiri saja aku sudah muak!"

"Aku tetap akan pantau kamu terus-menerus karena keselamatan kamu adalah tanggung jawab ku!

"Okey kalau gitu kamu memang memaksa aku untuk berbuat ini--"

"ARUNA JANGAN BODOH!!"

"....."

"ARUNA--"

"Hey what's wrong bro-- Oh SHIT!!"

Noah dan William yang datang karena mendengar teriakan serta sedikit kegaduhan itu seketika terkejut. Terutama Noah. Kedua bola matanya membulat seketika, Nafasnya tertahan dan dengan gerak cepat serta refleknya ia menarik tubuh Aruna yang sudah hampir masuk dalam kubangan api. Bukan hampir, karena ia yakin kaki gadis itu sudah masuk separuhnya kedalam kobaran api setengah besar itu.

Hal gila macam apa yang tengah ia lihat saat ini? Percobaan bunuh diri atau memang Aruna tipikal gadis gila yang nekat? Sialan! Ia benar-benar dibuat berfikir berkali lipat ketika gadis itu sudah berada dalam rengkuhannya.

"Hey! What are you doing dude? What's happening?" Suara Liam kembali terdengar. Tak dipungkiri laki-laki seumuran dengan Aruna itu sedikit gemetaran ketika mendapati situasi aneh ini. Padahal para teman-temannya beberapa ada yang tahu termasuk ia dan Noah bahwa Rehan dan adiknya ini memang jarang terlihat akur entah kenapa.

Yang jelas gosip itu sudah beredar dikalangan para atlet lainnya.

"GILA KAMU RUN?!!" Rehan kembali berteriak. Meskipun tak ayal, jantungnya berdegup kencang karena ulah sang adik. Raut terkejut dan khawatir menjadi satu saat ini diwajahnya.

"Kamu yang Gila!! Aku udah bilang kan kalau kamu berbuat seenaknya maka aku juga bisa berbuat gila dan seenaknya!"

Rehan terdiam, Ia menatap Aruna yang berada dalam pelukan Noah saat ini. Kedua bahu adiknya itu tengah dipegangi oleh tangan Noah, Matanya juga melirik kaki Aruna yang terlihat melepuh separuh.

"Ingat ya, aku nggak akan tinggal diam lagi kalau sampai orang-orang suruhan kamu masih tetap ngintilin aku. Aku akan melakukan hal gila lebih dari apa yang kamu Lihat!! Ingat itu!!"

Kalimat ancaman terakhir dari Aruna membawa gadis itu pergi meninggalkan tiga laki-laki yang kini saling terdiam dengan pemikiran masing-masing. Rehan yang misuh-misuh serta Noah dan Liam yang saling berpandangan tidak mengerti.

.

.

.

.

.

"Hei!"

Aruna menoleh. Ia mendapati sosok Noah yang berjalan pelan menuju kearahnya, Aruna sedikit mengerutkan dahinya menatap laki-laki itu . Kenapa laki-laki ini masih belum pulang setelah melihat kejadian gila tadi?

"You?"

"You okay?"

"Bullshit banget kalau aku bilang oke"

"Boleh aku duduk disini?"

"Silahkan"

Noah memposisikan dirinya duduk tepat di samping Aruna, Keduanya saling menatap sebentar sebelum akhirnya melabuhkan pandangannya pada langit malam yang bertaburan bintang diatas sana.

"Sorry ya kamu jadi lihat adegan konyol tadi"

"It's oke. Semua orang punya problem nya masing-masing"

"....."

"Aruna?"

"Hm?"

"Boleh aku tahu apa yang terjadi? Atau mungkin pertanyaan ku terlalu pribadi buat kamu?"

"Panjang kalau untuk diceritakan Noah. Kamu cukup menjadi pengamat untuk yang pertama dan terakhir aja kali ini"

"Okay tapi soal kamu yang membahayakan dirimu seperti tadi, aku harap itu juga hal terakhir yang kamu lakukan. Mungkin kamu akan berfikir jika aku terlalu ikut campur, Tapi kejadian tadi jelas akan banyak merugikan mu"

"I know. Thank you ya Aku tadi emang nggak banyak berfikir "

"Sakit?"

"Ha?"

"Kaki mu?"

Kepala Aruna sontak menoleh, Kedua bola matanya terkejut bukan main. Bukan, bukan karena pertanyaan Noah yang gampang saja ia menjawabnya. Namun, sikap laki-laki itu saat ini benar-benar membuatnya terkejut bukan main. Noah tiba-tiba saja berlutut didepannya dengan secepat kilat.

Tangan besarnya sibuk menyentuh luka bakar yang ia miliki karena insiden tadi, Kulitnya memerah hampir ke biruan. Dan Noah kini sudah terlihat tengah mengoleskan sebuah krim diatasnya.

Laki-laki ini .. kapan ia membawa krim yang berada ditangannya itu? Aruna bahkan tidak menyadari apa saja yang Noah bawa ditangannya. Tau-tau kini kulitnya yang melepuh sudah dibaluri krim tertempel plester khusus luka bakar.

"Ini mungkin akan menimbulkan bekas Run. Mungkin akan hilang dalam jangka waktu yang lama"

"No-noah?"

"Ada klinik terdekat dari rumahmu? Mau ku antar?"

Bajingan ini ... Kenapa Aruna malah berdebar diwaktu yang tidak tepat? Padahal Noah hanya memberi perhatian kecil yang semua orang terdekat Aruna juga pernah memberikan untuknya. Apa mungkin Aruna... Tidak! Jangan bodoh Aruna! Hilangkan pikiran melatur itu dan fokus Run!

"E-enggak"

"Ngga ada?"

"Maksudku ngga perlu ke klinik"

"You sure? Ini jelas sakit banget"

"Ya tapi aku nggak papa"

"....."

Aruna benar-benar terdiam saat ini, Melihat Noah yang begitu telaten mengurusi luka bakarnya. Hingga terjadi keheningan beberapa saat sebelum kalimat Aruna membuat Noah mendongak menatapnya dengan pandangan terkejut.

"Noah, ayo pergi!"

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!