Chapter 1 - 20 = Prologue Arc ( Arc Pembuka )
Chapter 21 - 30 = Daily Life in Thunder Division ( Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir )
Chapter 30 - ? = Seven Divisi Tournament Arc ( Arc Turnamen Tujuh Divisi )
Di masa lalu yang jauh, dua sahabat—Dongfang dan Yuwen Feng—berdiri di puncak dunia kultivasi sebagai yang terkuat. Namun takdir memisahkan mereka. Dikhianati oleh jalan yang berbeda, Yuwen Feng jatuh ke dalam kegelapan dan bersumpah menghancurkan dunia, sementara Dongfang terpaksa menyegelnya demi menghentikan kehancuran—dengan harapan suatu hari sahabatnya akan bertobat.
Bertahun-tahun kemudian, seorang anak bernama Long Chen terus dihantui mimpi tentang masa lalu yang tidak ia pahami. Hidup damainya di Desa Daun Maple berubah menjadi tragedi ketika desanya dihancurkan oleh sosok misterius dari aliran kegelapan. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan masa kecilnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30 - Meninggalkan Hutan Bambu Ungu
Di tempat lain, jauh dari Hutan Bambu Ungu, Puncak Pilar Matahari Abadi berdiri megah di bawah langit pagi yang perlahan memerah yg merupakan markas dari divisi pedang matahari, cahaya matahari menyinari permukaan kristal yang melapisi tanah, memantulkan kilau terang yang menyilaukan mata dan menciptakan pemandangan yang seolah berasal dari dunia lain. Angin bertiup lebih kencang di ketinggian itu, membawa hawa dingin yang menusuk namun juga membangkitkan semangat.
Di tepi tebing yang curam, Xiao Yan berdiri tegak dengan pedang di tangannya, jari-jarinya menggenggam erat gagang pedang itu seolah menyalurkan seluruh tekad yang ia miliki ke dalamnya. Pakaiannya berkibar tertiup angin, namun tubuhnya tetap tidak bergoyang, berdiri kokoh seperti batu yang tak tergoyahkan.
Tatapannya mengarah ke kejauhan, menembus cakrawala yang luas, matanya tajam dan penuh fokus.
“Sudah waktunya… Turnamen Tujuh Divisi akan dimulai,” ucapnya pelan, namun suaranya membawa keyakinan yang kuat.
Ia menarik napas dalam, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih tegas. “Aku akan menunjukkan hasil latihanku selama ini.”
Di Paviliun Hutan Kabut Hitam yang menjadi markas Divisi Pedang Bayangan, suasana terasa jauh lebih sunyi dan dingin dibanding tempat lain, kabut gelap menggantung rendah di antara pepohonan yang menjulang, menutupi sebagian besar cahaya dan menciptakan bayangan yang bergerak perlahan seperti makhluk hidup. Udara di sana terasa berat, seolah setiap tarikan napas membawa tekanan yang tak terlihat.
Di tengah paviliun yang dikelilingi kabut itu, Ye Fan berdiri tegak.
Pedangnya berada di tangannya, dilapisi oleh bayangan hitam yang berdenyut halus, seperti asap pekat yang terus bergerak mengikuti aliran qi di dalam tubuhnya. Aura dingin menyelimuti sekitarnya, membuat suhu di sekelilingnya terasa turun drastis, bahkan dedaunan di dekatnya tampak sedikit membeku oleh tekanan energi yang ia pancarkan.
Tatapannya mengarah lurus ke depan, matanya tenang namun dalam, menyimpan sesuatu yang sulit ditebak.
“Akhirnya… kita akan bertemu lagi,” ucapnya pelan.
Ia menyebut nama-nama itu satu per satu, seolah mengingat masa lalu yang tidak pernah benar-benar ia lupakan.
“Long Chen… Han Li… Xiao Yan…”
Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
Bukan senyum hangat.
Melainkan senyum yang penuh antisipasi.
“Aku tidak sabar menantikan momen ini.”
Di Tebing Karang Penahan Langit yang menjadi markas Divisi Pedang Gunung, hamparan pegunungan terbentang luas sejauh mata memandang, puncak-puncak batu menjulang tinggi menembus awan, sementara angin gunung berhembus kencang membawa aroma tanah dan batu yang khas. Cahaya matahari pagi menyinari tebing-tebing curam, menciptakan bayangan panjang yang mempertegas kesan kokoh dan tak tergoyahkan dari tempat itu.
Di ujung tebing, Han Li berdiri tegap menghadap luasnya dunia di depannya.
Tubuhnya kokoh seperti batu karang di bawah kakinya, dan tangannya mengepal perlahan, seolah menahan semangat yang sudah lama ia pendam. Tatapannya tajam namun penuh energi, berbeda dari ketenangan dingin milik yang lain.
“Akhirnya…” ucapnya pelan, suaranya terbawa angin.
Ia menarik napas dalam, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih hidup. “Aku bisa bertemu kalian lagi.”
Bayangan wajah-wajah lama terlintas di pikirannya.
Long Chen.
Xiao Yan.
Ye Fan.
Senyum muncul di wajahnya, lebar dan penuh semangat.
“Teman-teman… aku tidak sabar bertemu dengan kalian di sana,” katanya, suaranya kini dipenuhi antusiasme yang tidak disembunyikan.
Di dalam aula besar Sekte Pedang Langit, suasana terasa hening dan sakral, pilar-pilar tinggi menjulang menopang langit-langit luas, sementara cahaya matahari yang masuk dari celah-celah atap menerangi ruangan dengan lembut. Di bagian depan aula, berdiri sebuah patung megah yang diukir dengan detail halus, dan pada dasarnya terukir satu nama yang tidak asing bagi siapa pun di sekte itu: Dongfang.
Di hadapan patung tersebut, Ketua Sekte berdiri dengan sikap tegap, tangannya berada di belakang punggung, sorot matanya tenang namun menyimpan banyak hal yang tidak terucap. Di sampingnya, seorang wanita berdiri dengan aura yang dalam dan tenang, Huang Quan.
“Turnamen akan dimulai besok,” ucap Ketua Sekte dengan suara rendah namun jelas. “Aku harap Senior berkenan untuk menontonnya secara langsung.”
Huang Quan tersenyum tipis, senyum yang lembut namun penuh arti. “Tentu saja, aku akan menontonnya,” jawabnya tanpa ragu.
Tatapannya kemudian beralih ke arah patung di depan mereka, matanya memperhatikan ukiran itu dengan penuh kenangan. “Sekte yang didirikan Dongfang… telah berkembang sejauh ini,” lanjutnya pelan.
Matanya sedikit meredup, seolah mengenang masa lalu yang jauh karena dia adalah kekasih dongfang pada saat itu.
“Jika dia masih hidup… dia pasti akan bangga padamu,” katanya dengan suara yang lebih dalam. “Karena murid kesayangannya telah menjadi penerusnya.”
Dongfang.
Nama itu terukir dalam sejarah, bukan sekadar sebagai pendiri Sekte Pedang Langit, melainkan sebagai salah satu sosok yang pernah berdiri di puncak dunia kultivasi pada Era Primordial, lima ratus tahun yang lalu. Pada masa itu, langit dan bumi dipenuhi oleh para kultivator legendaris yang kekuatannya melampaui batas pemahaman generasi sekarang.
Di antara mereka, Dongfang adalah salah satu yang paling bersinar.
Bersama Yuwen Feng dan para tokoh besar lainnya, ia pernah menguasai dunia, menorehkan jejak yang begitu dalam hingga namanya tetap dikenang hingga sekarang. Mereka bukan hanya kuat, tetapi juga menjadi simbol dari era di mana kekuatan sejati menentukan arah dunia, di mana setiap langkah mereka mampu mengguncang langit dan bumi.
Kembali ke Hutan Bambu Ungu, di tepi tebing yang terbuka luas menghadap cakrawala, angin pagi berhembus lebih kencang, menggerakkan pakaian dan rambut mereka seolah menyambut langkah yang akan mereka ambil. Cahaya matahari yang telah sepenuhnya terbit menyinari empat sosok yang berdiri berjajar dengan tegap, masing-masing memegang pedang di tangan mereka.
Meng Wu berdiri di depan dengan sikap tenang namun penuh wibawa, di sampingnya Mo Fan dan Shi Hao dengan ekspresi serius, sementara Long Chen berdiri tidak jauh dari mereka, tatapannya tajam dan penuh tekad. Tidak ada lagi keraguan yang tersisa, hanya kesiapan untuk menghadapi apa yang ada di depan.
Mereka semua siap berangkat.
Di belakang mereka, sedikit menjauh dari tepi, Ling Er berdiri sambil memegang kursi roda Mei Ling, matanya mengikuti punggung keempat orang itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Mei Ling duduk tenang, tangannya terlipat di pangkuannya, namun sorot matanya lembut dan penuh harapan.
Ling Er tersenyum lebar, wajahnya penuh semangat meskipun ada sedikit rasa berat yang ia sembunyikan. “Semoga berhasil!” serunya lantang, lalu matanya langsung tertuju pada Long Chen. “Dan jangan bikin malu Divisi Pedang Petir! Jangan kalah di awal, junior Long Chen!” tambahnya dengan nada setengah bercanda, namun tetap terasa seperti dorongan yang tulus.
Long Chen langsung tersenyum mendengar itu, ekspresinya sedikit rileks. “Dasar Senior Ling Er…” balasnya ringan.
Ia kemudian menoleh ke arah Mei Ling, dan tatapannya langsung berubah, menjadi lebih lembut dan penuh arti. “Aku akan berusaha sekuat tenaga,” ucapnya pelan namun tegas. “Doakan aku ya, Senior.”
Mei Ling mengangguk perlahan, senyum hangat menghiasi wajahnya. “Tentu saja, junior,” jawabnya lembut.
Meng Wu melangkah sedikit ke depan, tatapannya menyapu ke arah Ling Er dan Mei Ling dengan ekspresi yang tetap tenang namun penuh perhatian. “Jika terjadi sesuatu pada kalian berdua, segera hubungi aku,” ucapnya tegas, nada suaranya tidak tinggi, namun cukup jelas untuk menunjukkan keseriusannya. “Aku akan kembali secepatnya jika ada apa-apa.”
Ling Er langsung mengangguk cepat tanpa ragu, mencoba terlihat yakin meskipun jelas ia akan merindukan mereka. “Tentu, Guru!” jawabnya dengan semangat.
Di sampingnya, Mei Ling hanya tersenyum lembut, namun di balik senyum itu tersimpan kepedulian yang dalam. “Jaga diri kalian di sana,” ucapnya pelan, matanya menatap satu per satu sosok di hadapannya.
Meng Wu mengangkat pedangnya dengan satu gerakan halus, bilah itu melayang di udara dan berhenti tepat di bawah kakinya, sementara Mo Fan dan Shi Hao melakukan hal yang sama, berdiri dengan seimbang di atas pedang masing-masing seolah itu adalah hal yang sudah biasa mereka lakukan sejak lama. Angin di tepi tebing berhembus lebih kuat, membuat jubah mereka berkibar pelan, menambah kesan siap berangkat yang semakin terasa nyata.
Long Chen sempat ragu sejenak saat melihat pemandangan itu, matanya menatap pedang yang melayang, jelas ia belum sepenuhnya terbiasa dengan cara seperti ini. Ia menarik napas kecil, mencoba menenangkan dirinya.
Shi Hao melirik ke arahnya dan tersenyum santai. “Naik saja bersamaku, junior,” katanya ringan, seolah itu bukan hal besar.
Long Chen mengangguk pelan. “Maaf merepotkanmu, Senior…” ucapnya.
Shi Hao hanya terkekeh kecil. “Tenang saja,” balasnya. “Yang penting jaga keseimbanganmu, junior.”
Dengan hati-hati, Long Chen melangkah naik ke atas pedang Shi Hao, tubuhnya sedikit tegang di awal, namun ia berusaha menyesuaikan diri, menjaga pijakan dan keseimbangannya seperti yang diingatkannya.
Di depan, Meng Wu menatap ke arah cakrawala, lalu berkata dengan suara tenang namun tegas, “Kalau begitu… kita berangkat sekarang.”
WHOOSH! Tiga pedang melesat ke udara dengan kecepatan tinggi, meninggalkan jejak tipis di langit pagi yang cerah, membelah awan yang masih menggantung rendah dan membawa empat sosok itu semakin jauh dari Hutan Bambu Ungu.
Di bawah, Ling Er dan Mei Ling berdiri di tepi tebing, tangan mereka terangkat melambaikan perpisahan, tatapan mereka mengikuti hingga titik kecil di langit itu perlahan menjauh. Angin terus berhembus, mengibaskan pakaian mereka, namun keduanya tetap berdiri di sana, tidak bergeser sedikit pun.
Di atas, Long Chen sempat menoleh ke belakang, matanya menangkap pemandangan yang perlahan menjauh, rumah kecil di tengah hutan, tebing tempat mereka berdiri, dan dua sosok yang terus melambaikan tangan.
Ia tersenyum, senyum yang tenang namun penuh arti, seolah menandai akhir dari sebuah perjalanan panjang. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar meninggalkan tempat itu—tempat yang telah menjadi rumahnya selama delapan tahun. Kini, ia melangkah menuju dunia yang lebih luas, menuju tempat di mana segalanya akan diuji, tempat di mana jalan para jenius akan saling bertemu: Turnamen Tujuh Divisi. Dan di bawah langit yang luas itu, perjalanan baru pun akhirnya dimulai.
End Chapter 30
New Arc : Seven Divisi Tournament Arc
(Arc Turnamen Tujuh Divisi Telah Dimulai)