NovelToon NovelToon
Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Shofiyah 19

Cinta sejati itu mengikhlaskan, merelakan dan melepaskan. Membiarkan bahagia orang yang kita cintai. Meskipun bahagianya dengan orang lain dan bukan bersama kita. Manusia hanya bisa berencana tapi tetap Allah yang menentukan bagaimana ke depannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofiyah 19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Asya baru pulang mengajar dari madrasah. Saat ini ia berada di kamar sambil memainkan ponselnya. Saat ini ia sedang bertukar kabar dengan Rania.

'Serius alif udah nyatakan perasaannya sama kamu?'

"Iya, dia bahkan akan menemui keluargaku," ucap Asya terkekeh

'What?! Gerak cepat banget tuh anak haha. Tapi nggak heran sih soalnya dia kan udah suka kamu dari lama. Cuma kamu aja yang nggak peka'

"Kamu udah tau kok nggak ngasih tau aku," ucap Asya sinis

'Dia yang ngelarang. Katanya sih mau ngomong sendiri sama kamu di waktu yang tepat'

"Tapi aku cuma masih nggak nyangka aja kalo semua keluargaku mengenal Alif," ucap Asya terkekeh

'Maksudnya?'

"Kamu akan tau jawabannya nanti," ucap Asya

'Jangan buat penasaran deh, Sya. Udah sekarang aja kasih tau ih'

"Tanya sama sepupu kamu aja deh," ucap Asya terkekeh

'Pasti nggak bakal dikasih tau'

"Dia pernah mondok di pesantren abi," ucap Asya terkekeh

'Serius?? Dunia sempit banget sih. Ya udah sih kalian cocok tau. Sama-sama ahli agama'

"Di atas langit masih ada langit," ucap Asya

'Iya deh percaya sama ning Asya pokoknya'

"Udah dulu ya. Nanti disambung lagi. Assalamualaikum," ucap Asya

'Waalaikumsalam'

Asya tertawa pelan setelah membuat Rania kesal. Sahabatnya itu cukup menghibur.

Tok tok tok

Suara pintu kamar Asya diketuk. Asya segera membukakan pintu untuk melihat siapa yang datang. Ceklek. Terlihat abi yang tersenyum.

"Abi boleh masuk?," tanya abi

"Silakan, Abi," ucap Asya sambil tersenyum

Abi masuk ke dalam kamar putri bungsunya. Asya mengikutinya dari belakang. Mereka duduk di sofa kamar Asya.

"Apa ada hal penting yang ingin Abi sampaikan?," tanya Asya

"Abi mau minta maaf sama Adek," ucap abi sambil mengelus kepala Asya

"Minta maaf buat apa, Abi?," heran Asya

Abi menghela napasnya. Ia tersenyum menatap putri bungsunya itu.

"Abi sudah tau semuanya. Abi tau alasan kamu memutuskan kuliah di luar negeri. Padahal sebenarnya kamu sudah lolos di salah satu kampus terdekat. Maafkan abi, Nak. Abi sudah membuat keputusan yang menghancurkan hatimu," ucap abi lirih

"Abi enggak salah. Semua itu sudah takdir Allah. Asya ikhlas menerimanya. Lagi pula Asya udah move on. Asya sudah berdamai dengan keadaan. Jadi Abi jangan merasa bersalah seperti ini," ucap Asya

Asya memeluk abi dari samping. Abi mengelus kepala putrinya itu.

"Abi kan sering mengajarkan kepada abang, kakak dan aku bahwa kita sebagai manusia hanya bisa berencana tapi tetap Allah yang menentukan mau apa dan bagaimana ke depannya," ucap Asya sambil tersenyum

"Kamu nggak pulang selama 3 tahun lamanya. Sehancur itukah lukamu sehingga kamu menjauh dari keluarga begitu lamanya. Kamu bahkan jarang menelpon," ucap abi lirih

"Abi udah ih. Semua itu hanya masa lalu dan sudah berlalu. Mereka sudah bahagia loh bahkan sudah hadir bayi lucu. Abi kok masih mengungkit masa lalu. Asya sudah mengikhlaskan semuanya," ucap Asya kesal

"Baiklah, Abi tidak akan membahasnya lagi. Sekarang tugas Abi tinggal satu," ucap abi sambil mengelus kepala Asya

"Apa itu?," tanya Asya

"Mengantarkan kamu pada kebahagiaan. Alif pasti akan membahagiakan kamu. Dia tadi menelpon Abi," ucap abi

"Dia bilang apa?," tanya Asya penasaran

"Kepo kamu," sahut Raffa yang berdiri di samping pintu kamar Asya yang terbuka

"Ih abang kebiasaan suka nimbrung padahal tidak diajak," cibir Asya

"Bodo amat," ucap Raffa yang baru saja duduk di samping abi

Asya menatap sinis abangnya itu. Abi tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua anaknya yang kadang tak akur.

"Kalian ini kalo lagi kumpul suka ribut tapi kalo berjauhan suka rindu," ucap abi terkekeh

"Abang yang suka rindu sama Adek," ucap Asya tengil

"Ih enggak, mana ada," ucap Raffa mengelak

"Abi tau nggak? Abang sering nelpon tiap 2 jam sekali," ucap Asya lalu tertawa

"Terpencet," ucap Raffa mengelak lagi

"Abang kalo sering bohong nanti hidungnya panjang kayak pinokio," ucap Asya

"Awas kamu nanti ab-," ucap Raffa terpotong

"Sudah-sudah. Abi belum selesai bicara loh," ucap abi menengahi

"Maaf," ucap Raffa dan Asya barengan

"Alif bilang akan datang bersama keluarganya lusa. Alif ada permintaan sama abi yang begitu besar tapi dia nggak bisa menyampaikan lewat telepon. Lusa dia akan bicara di depan keluarga besar," jelas abi

"Kira-kira apa ya?," celetuk Raffa

"Kita akan tau jawabannya lusa," ucap abi

Raffa dan Asya kompak mengangguk. Meskipun dalam pikiran berkecamuk penasaran.

"Adek kangen kakak," ucap Asya tiba-tiba

"Kakak masih belum bisa bepergian. Kasihan anaknya juga masih kecil," ucap abi menjelaskan

"Boleh nggak kalo besok Asya mengunjungi kakak?," tawar Asya

"Abang nggak bisa nemenin Dek, maaf," ucap Raffa

"Asya tau kok kalo abang sama kak lisa sibuk ngurus pesantren. Biar adek pergi sendiri aja," ucap Asya

"Enggak boleh," ucap abi dan Raffa bersamaan

"Ih kok gitu sih," ucap Asya cemberut

"Biar abi dan umi yang nemenin kamu. Sekalian berkunjung ke rumah besan," ucap abi

"Terima kasih, Abi. Sayang Abi banyak-banyak," ucap Asya sambil memeluk abi

"Adek nggak sayang abang kah? Kok cuma abi yang dipeluk," ucap Raffa merajuk

"Sayang Abang juga. Adek sayang abi, umi, kakak dan abang," ucap Asya sambil memeluk Raffa

'Duh kangen Rara nih. Gimana ya kabar dia' batin Asya

Di sisi lain, Alif sedang video call dengan Rifky yang merupakan sahabatnya. Alif bercerita tentang Asya kepada Rifky.

'Apa? Lo mau lamar Asya?' pekik Rifky terkejut

"Iya rencananya lusa. Seandainya lo bisa temenin gue," ucap Alif

Tak ada sahutan di seberang sana. Alif mengerutkan dahinya melihat Rifky yang tengah melamun.

"Rif, are you okey?," tanya Alif

'Eh iya Lif. Kenapa?' ucap Rifky

"Lo yang kenapa? Kok bengong gitu?," tanya Alif

'En-enggak papa, cuma terkejut aja," ucap Rifky

"Tapi gue insecure deh jika harus bersanding dengan Asya," ucap Alif

'Kenapa emang?,' tanya Rifky

"Tau nggak sih? Asya itu ternyata anak dari kyai Fahmi dan adik bungsunya gus Raffa. Guru tempat gue mondok dulu," ucap Alif

'What? Jadi Asya anaknya kyai? Sumpah demi apa?' pekik Rifky

"Gue terkejut sumpah. Soalnya waktu gue mondok, nggak pernah sekalipun ketemu Asya. Palingan ketemunya ning Anisa," jelas Alif

'Pantesan aura Asya menenangkan gitu. Hawanya adem liatin dia ternyata keturunan ahli agama,' ucap Rifky

"Ya begitulah," ucap Alif sambil tersenyum

'Gue doain lancar sampai hari H ya' ucap Rifky

"Iya aamiin. Jangan lupa datang ya nanti saat pernikahan," ucap Alif

'Udah dulu ya, mau lanjutin skripsi yang nggak kelar-kelar nih' ucap Rifky

"Kayak Rania lo masih pusing mikir skripsi," ucap Alif terkekeh

'Kapasitas otak kami nggak kayak lo dan Asya' ucap Rifky

"Bisa aja lo," ucap Alif

'Ya udah gue tutup. Assalamualaikum' ucap Rifky

"Waalaikumsalam," jawab Alif

Rifky memutuskan telponnya. Ia meremas ponselnya. Hatinya benar-benar hancur saat mendengar kabar bahwa temannya akan melamar orang yang sudah diincarnya selama ini.

"Mereka emang pantas bersatu. Mereka punya ilmu agama yang setara. Sedangkan gue? Bahkan 1 juz alquran aja nggak hafal. Alif yang bisa mengimbangi Asya," ucap Rifky lirih

1
Mrs. Ren AW
mampir baca, semoga menarik ceritanya 😍
Mrs. Ren AW: siaaaappp kak author 😍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!