NovelToon NovelToon
Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / One Night Stand / Trauma masa lalu
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Malam itu di hotel, Vandini melihat sosok suaminya bersama wanita lain.

Apa yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan?

Apa lagi kalau bukan kenyataan bahwa pria yang ia cintai selama bertahun-tahun sama sekali tidak merasa bersalah. Satura bahkan berani bilang itu hal biasa dan mencoba menutupi semua luka itu dengan uang.

"Ambil transferannya. Itu bukti kalau aku masih bertanggung jawab," begitu katanya santai.

Seakan cinta, kepercayaan, dan janji setia yang dulu dia ucapkan bisa dibeli dengan lembaran rupiah.

Kini, Vandini harus menanggung segalanya sendirian. Menghadapi tatapan iba dan bisikan jahat tetangga yang menggunjingnya habis-habisan, menahan air mata demi anak-anaknya, serta berjuang memulihkan harga diri yang terinjak-injak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Foto Kita

Vandini menyandarkan ponsel di antara telinga dan bahunya. Tangannya sibuk membereskan mainan dan melipat pakaian di kamar Cia.

"Rumit banget sih, Lia," keluh Vandini, suaranya terdengar lelah dan kesal. "Aku lihat dia sama anak-anak, dia itu ayah yang sempurna. Sabar, perhatian, dan bisa diandalkan. Tapi pas aku ingat apa yang dia lakuin sama aku... rasanya kayak aku kenal dua orang yang berbeda."

Vandini pindah ke kamar Connan dan menyimpan mainan dinosaurus anaknya ke rak. Pikirannya melayang mengingat momen-momen kebersamaan mereka dulu, mulai dari makan malam sampai mendongeng sebelum tidur.

"Aku ngerti kok, Van," jawab Dahlia dengan tenang. "Orang itu kompleks. Dia bisa jadi ayah yang baik, tapi di saat yang sama juga bisa bikin kesalahan fatal yang ngeselin. Memang nggak pernah gampang membedakannya."

Vandini menghela napas panjang. Ia mengambil kaus kaki yang tergeletak, meremasnya, lalu melemparnya ke keranjang kotor.

"Aku tahu teorinya begitu. Tapi kenyataannya? Rasanya aku terus terbelah. Gimana caranya aku bisa terima dia sebagai lelaki yang dulu aku percaya, ayah dari anak-anakku... tapi sekaligus juga orang yang udah hancurin hati aku?"

Tangannya merapikan selimut Connan dengan tatapan kosong.

"Aku bahkan bingung sekarang dia orang yang mana. Setiap kali lihat dia, ingatan lama langsung muncul, dia ketawa bareng anak-anak, bantuin PR, gendong Cia waktu bayi... terus rasa sakitnya muncul lagi sekuat itu."

Suara Dahlia terdengar lebih lembut di telepon.

"Vandini, mungkin emang nggak apa-apa kalau perasaan itu campur aduk gitu. Kamu nggak harus buru-buru mutusin sekarang mau percaya atau maafin dia. Dia itu memang kedua hal itu sekaligus. Nggak ada yang salah kok kalau kamu ngerasain hal yang bertolak belakang."

Keteguhan di hati Vandini sedikit mengendor saat ia meletakkan buku cerita di atas bantal Connan.

"Aku pengennya nggak serumit ini. Aku pengen bisa pisahin mana yang baik dan buruk dari dia... tapi aku nggak bisa. Malah aku merasa bersalah, kayak ngkhianatin diri sendiri karena masih biarin dia deket, walaupun itu demi anak-anak."

Tawa kecil Dahlia terdengar dari seberang.

"Kamu nggak mengkhianati siapa-siapa, Van. Kamu cuma berusaha bertahan sekuat tenaga. Kamu berhak kok sayang sama sisi baiknya, walaupun kamu masih sakit hati. Nggak usah buru-buru, pelan-pelan aja."

Vandini mengambil foto berisi potret keempat mereka yang ada di rak. Matanya terpaku pada wajah-wajah yang tersenyum bahagia di sana, mengingat masa-masa indah yang dulu begitu mudah mereka rasakan.

"Makasih ya, Lia. Nggak tahu deh aku harus gimana kalau nggak ada kamu yang selalu ingetin kalau belum punya jawaban itu nggak apa-apa."

"Ya karena itu aku ada buat kamu," jawab Dahlia. "Inget ya, Van, kamu berhak ngerasain semua perasaan itu."

Setelah menutup telepon, Vandini memandangi sekeliling kamar anak-anak. Semua detail kehidupan keluarga mereka masih utuh. Ia sadar tak perlu menyelesaikan semua masalah ini hari ini juga. Untuk pertama kalinya, Vandini membiarkan dirinya merasakan segalanya apa adanya, lalu melepaskannya pelan-pelan.

...***...

Di sesi terapi berikutnya.

Terapis itu mencondongkan tubuh ke depan dengan sikap tenang namun tegas.

"Satura," ucapnya lembut. "Kamu sudah banyak cerita soal usaha kamu buat nafkahin keluarga dan jamin masa depan mereka. Tapi aku mau tahu, menurut kamu sendiri, apa sih yang sebenarnya Vandini dan anak-anak butuhin dari kamu?"

Satura membuka mulut mau menjawab, tapi langsung terdiam. Ia sadar, ia tak punya jawaban untuk pertanyaan itu.

Pikirannya langsung melayang ke semua makan malam yang dilewatkan, malam-malam panjang di kantor, sampai akhir pekan yang habis buat lembur.

Selama ini ia selalu meyakinkan diri kalau semua itu demi mereka. Ia pikir, absen di rumah itu wajar asalkan bisa kasih hidup yang layak. Tapi saat itu juga, ia teringat cara Vandini memandangnya belakangan ini. Jauh dan penuh hati-hati. Perasaan menyesal langsung menghantam dadanya.

Ia juga teringat saat-saat ia pulang malam bukan karena kerja, tapi buat ketemu wanita lain. Hubungan badan yang cuma sebatas itu saja tanpa ada perasaan, yang cuma dia kenal lewat aplikasi. Rasa jijik dan benci pada diri sendiri kembali muncul.

"Kayaknya... aku pikir kalau aku bisa kasih mereka jaminan uang, itu udah cukup," akunya pelan. "Aku kira itu bisa nutupin ketidakhadiranku selama ini."

Terapis itu mengangguk perlahan mendengar penuturannya.

"Gampang sih mikirnya kalau uang itu sama dengan perhatian. Orang sering mikir, nafkahin materi itu hal paling berharga. Tapi coba kamu pikir lagi, menurut kamu Vandini bakal bilang apa hal paling berharga yang bisa kamu kasih?"

Satura menelan ludah susah payah. Jawabannya sudah jelas terbayang di kepalanya.

Ia bisa mendengar suara Vandini dan membayangkan wajah kecewa istrinya setiap kali ia membatalkan janji atau melewatkan momen penting keluarga.

"Dia pasti bakal bilang... waktu. Kehadiran. Aku cuma perlu... ada di sana buat mereka."

Hening sejenak saat kenyataan itu akhirnya sampai di kepalanya. Satura sadar betapa salahnya prioritasnya selama ini. Ia cuma sibuk kasih 'barang', padahal mereka butuh 'dirinya'.

"Aku terlalu fokus mikirin promosi, mikirin kenaikan gaji. Aku kira kalau kasih lebih banyak uang, segalanya bakal lebih baik. Ternyata itu nggak cukup, ya?"

Suara terapis terdengar tenang menanggapinya.

"Sepertinya kamu mulai sadar kalau jadi suami dan ayah itu bukan cuma soal materi. Uang emang penting, tapi bukan itu hal paling berharga yang bisa kamu kasih ke mereka."

Satura mengangguk perlahan. Perasaan lega bercampur perih menyelimuti hatinya.

Ia teringat semua momen yang sudah terlewat dan tak mungkin bisa diulang lagi.

Ia memang masih bisa menafkahi mereka, tapi sekarang ia paham nilai dirinya ada pada hal yang tidak bisa dibeli dengan uang. Waktu, kasih sayang, dan kehadiran yang cuma bisa ia berikan.

Yang ia inginkan sekarang hanyalah memeluk Vandini, menjadi sosok yang bisa diandalkan seperti yang seharusnya. Tapi rasanya berat sekali menatap mata istrinya. Vandini seringkali malah menghindar, tatapannya dingin dan penuh luka yang Satura tahu pasti ulahnya sendiri.

Ia benar-benar membenci dirinya sendiri karena hal itu. Cintanya pada Vandini yang sempat terkubur ternyata masih ada di sana, kuat dan menyakitkan. Satura sadar, dialah penyebab semua masalah ini. Dan ia rela melakukan apa saja buat memperbaikinya, walau harus menghadapi sisi buruk dirinya yang selama ini ia sembunyikan.

1
Uthie
bertahan wanita hebat 👍👍😡
Uthie
bangkit lah wanita-wanita hebat yg tersakiti oleh pasangan gak tau diri kalian 👍😡😡
Uthie
mungkin kondisi di jaman sekarang yaa... yg sewajarkan apa yg terlihat saja, namun main di belakang ☹️
Uthie
sakit banget itu pasti... sesak 😢
Uthie
Mampir 👍👍👍👍
Yuni Ngsih
Authoooot ceritramu bgs bangeeeet ,tp bikin ku sediiiih kasian yg punya ceritra Vandini disakiti sm susmi yg dzolim ....smg suaminya cepat cepat karmanya kasihan Vandini smg setelah badai akan muncul pelangi buat Vandini ....semangat .....lanjut Thor
Fifi: yampun, ada yg baca rupanya, makasi kak🙏
total 1 replies
Anonim
wanjay
Anonim
betul itu ...BUNUH DIA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!