NovelToon NovelToon
Kriteria Gila, Cinta Nyata

Kriteria Gila, Cinta Nyata

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Duda
Popularitas:277
Nilai: 5
Nama Author: wilight

Rania ditinggal kabur pacarnya, Rangga. keluarganya malak sibuk nyariin jodoh agar Rania bisa melupakan masalalunya.
Muak, Rania ngeluarin kriteria gila duda keren umur 30-an, dan yang paling penting ukuran 18 cm.

Keluarga syok, tapi berhenti ganggu.

Beberapa waktu kemudian, seorang pria bernama Alfino duduk di teras rumahnya. Tinggi, kekar, wangi. Duda 33 tahun tepat sesuai pesanan.

Rania mulai lupa Rangga. Tapi masa lalu kembali. Rangga muncul

Dilema pun terjadi Antara durian 18 cm dan cinta pertama dan Rania harus milih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilight, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ide baru

Creak...

Pintu kamar terbuka. Rania melangkah keluar dengan gaya kayak zombie di film budget murah. Kepala menunduk, bahu merosot, kakinya nyeret-nyeret kayak lagi nahan beban dosa masa lalu.

Begitu sampai di ruang tamu…

Diam.

Pak Slamet, pria berusia lima puluhan dengan perut buncit kayak bonsai, langsung berhenti nyruput teh, matanya membulat.

“Masya Allah…” bisik Pak Slamet. “Ini Rania?”

Ibu manggut-manggut malu. “Iya, Pak ini dia.”

“Kok kurus banget? Kok pucat? Kok matanya kayak panda yang habis nangis seminggu?”

Rania nyengir kuda. “Selamat pagi, Pak Slamet. Keripik pisangnya mana?”

Pak Slamet tidak menjawab. Dia malah nengok ke arah bapak yang duduk di sampingnya.

“Yudi, anakmu ini kenapa? Jangan-jangan sakit kok gak bawa ke dokter.”

Ayah menghela napas. “Gak sakit, Pak cuma galau ditinggal pacar.”

“Oalah…” Pak Slamet manggut-manggut paham.

“Galau..... Saya pernah. Tapi dulu saya galau cuma seminggu, imi udah berapa lama?”

“6 bulan” potong Naufal dari sudut ruangan. Adik bungsu itu lagi asyik main HP sambil nopang kentang goreng di paha.

Pak Slamet nyaris jatuh dari kursi.

“6 bulan?"

Rania cuma nyengir lagi. Dia duduk di kursi plastik, ambil keripik pisang dari meja, dan mulai mengunyah dengan ekspresi kosong.

Pak Slamet mengamati. Matanya menyusuri tubuh Rania dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kaos oblong lusuh. Celana pendek kolor gambar hello kitty yang sudah pudar. Kaki kering kayak lidi.

“Rania, Nak,” suara Pak Slamet melembut.

“Om sayang sama kamu. Tapi jangan rusak diri sendiri karena laki-laki. Laki-laki tuh kayak angin, Ada yang datang, ada yang pergi. Tapi kalau kamu kurusan begini, yang rugi kamu sendiri.”

Rania diam....mulutnya masih sibuk mengunyah keripik.

“Om tahu, patah hati itu sakit,” lanjut Pak Slamet.

“Dulu om juga pernah sampai gak makan tiga hari. Tapi lihat sekarang, perut om buncit bahagia makan terus.”

Ibu ikut nimbrung. “Iya, Rani Ibu khawatir kamu gak keluar kamar. Gak makan, gak mandi, Apa kamu gak malu sama diri sendiri?”

Rania menelan keripik. Dia pandangi ibunya dengan datar. “Bu, aku lagi berduka"

Naufal ngakak di pojokan. “Ih Mbak, filosofi banget.”

“DIEM LO!” Rania dan Ibu kompak.

---

Sepuluh menit kemudian, keripik pisang habis setengah toples.

Pak Slamet sudah selesai ngobrol soal batu akik, soal harga emas naik, soal sepupunya yang nikah lagi dengan perempuan 20 tahun lebih muda. Tapi matanya tetap sesekali melirik ke arah Rania yang duduk lunglai kayak karung goni.

“Yudi, Sulis,” Pak Slamet nyruput teh lagi.

“Saya mau ngomong serius.”

“Silakan, Pak,” ayah maju sedikit.

“Rania ini butuh hiburan. Butuh sesuatu yang bikin dia lupa sama mantannya. Jangan dibiarin di kamar terus. Ntar dia jadi kuper krisis jati diri.”

Ibu mengangguk-angguk.

“Iya, Pak. Tapi Rania susah banget diajak. Pernah saya kenalin temannya tetangga, dia diem seharian.”

“Itu mah namanya benalu, bukan kenalan,” Naufal nyela.

“NAUFAL!” Ibu melempar sendok ke arahnya. Naufal menghindar lincah.

Pak Slamet mengangkat tangan. “Tenang saya punya ide.”

Semua diam suasana berubah kayak di ruang rapat pemegang saham.

“Rania butuh laki-laki,” kata Pak Slamet.

“Ya jelas,” ibu menghela napas.

“Itu yang lagi kita cari.”

“Bukan sembarang laki-laki. Laki-laki yang... gimana ya... beda. Yang bikin dia matanya berbinar lagi.”

Rania yang dari tadi diem, sekarang ikut melongo. “Om, saya gak butuh laki-laki sekarang.”

“Kamu butuh, cuma gak sadar,” Pak Slamet balas santai.

“Dulu om setelah putus dari pacar pertama, langsung om cari pengganti. Dalam tempo dua minggu nikah.”

“Trus cerai?” tanya Naufal.

“Hush! Itu gak penting.” Balas Pak Slamet

Ibu menyela, “Jadi Om Slamet punya rekomendasi?”

Pak Slamet mengusap kumisnya. Matanya menerawang kayak sedang berkonsultasi dengan jin di pundak.

“Ada, tapi jangan buru-buru. Kita buat strategi dulu.”

“Strategi kayak gimana?” tanya ayah penasaran.

“Kita cari beberapa kandidat lalu kita pilih yang paling cocok kayak audisi.”

Rania nyaris tersedak. “Jadi saya ini juri?”

“Kurang lebih,” Pak Slamet tersenyum.

“Setiap kandidat akan kita kenalkan secara alami. Bukan blind date yang kaku. Kita atur ketemuan di acara keluarga, di warung, di kafe. Santai.”

Ibu mulai antusias. “Wah ide bagus, Pak! Aku setuju! Sekalian kita coba dulu siapa yang cocok.”

Ayah mengangguk-angguk. “Bisa juga. Daripada Rania diem di kamar mulu. Setidaknya dia keluar rumah.”

Naufal ikut nimbrung. “Saya juga mau ikut milihin!”

“Kamu gak usah ikut-ikut,” ibu menyentil kening Naufal.

“Biar yang dewasa.”

“Saya kan dewasa, Bu. Dewasa hati.”

“Dewasa hati udah, dewasa otak belum.”

---

Sementara itu, Rania cuma bisa geleng-geleng kepala.

Dia lihat orang-orang terkasihnya bapak, ibu, om, adik sudah mulai serius berdiskusi soal masa depannya. Seperti dia adalah proyek pembangunan yang butuh investor.

“Maaf, om, bapak, ibu,” Rania angkat tangan.

“Aku belum setuju.”

“Kamu gak perlu setuju,” kata ayah diplomatis.

“Coba dulu aja. Siapa tau ada yang cocok.”

“Tapi...“

“Tapi apa?” potong ibu.

“Kamu mau di kamar terus sampai kapan? Sampai rambutmu panjang kayak rapunzel? Sampai kuku kakimu melilit di gagang pintu?”

Rania terdiam, argumen ibunya absurd, tapi sulit dibantah.

Rania berdiri, dia ambil keripik pisang satu lagi, lalu berjalan kembali ke kamar. Sebelum masuk, dia berbalik.

“Tapi om... saya gak janji akan suka sama pilihan om.”

“Itu urusan nanti,” balas Pak Slamet.

“Yang penting kita mulai dulu.”

Pintu kamar tertutup.

---

Di ruang tamu, rapat kecil berlanjut.

“Oke,” Pak Slamet mulai menghitung jari.

“Kita butuh tiga kandidat dulu. Siapa saja yang mau dikenalin kepada Rania”

Ibu langsung mengangkat tangan. “Aku udah punya satu. Budi, akuntan, umur 27, soleh, ganteng, berkumis tipis kayak imam muda.”

“Kumis tipis? Mana kelihatan?” ledek Naufal.

“Diem lo!”

Ayah ikut ngusul. “Aku punya anak buah namanya Andre. Sales mobil, lumayan tampan, tegas, berwibawa.”

“Sales mobil tuh banyak gaya, Pa,” Naufal nyeletuk lagi.

“Ntar diajak ngomong soal kuota, bukan soal cinta.”

“NAUFAL, DIEM!”

Pak Slamet tersenyum puas. “Dua kandidat. Cari satu lagi. Bisa dari lingkungan RT atau dari temannya teman.”

“Atau dari tetangga belakang,” usul ibu.

“Atau dari pasar,” tambah ayah.

Naufal angkat tangan. “Gue usul. Kenalin aja tukang bakso langganan gue. Namanya Bang Ryan, lembut tutur katanya. Pernah ngasih gue bakso ekstra gratis.”

Ibu, ayah, dan Pak Slamet kompak memelototi Naufal.

“...Bercanda. Bercanda.”

Sore itu, Rania tidak tahu apa-apa.

Dia hanya mendengar samar-samar suara tawa dan diskusi yang sesekali meledak-ledak dari ruang tamu. Dia cuma mengira keluarganya lagi ngobrol soal batu akik.

Dia tidak tahu, bahwa hidupnya akan segera berubah. Bukan oleh Rangga yang pergi, tapi oleh sekelompok keluarga yang terlalu peduli, serta oleh kriteria gila yang belum dia lontarkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!