"Jika besok pria tua itu datang lagi untuk menagih jawabanmu, katakan padanya kau lebih memilih membusuk di sel ini," suaranya rendah, nyaris seperti desisan yang berbahaya.
Aku tersentak, mencoba mencerna kalimatnya. "Apa? Kau... kau menyuruhku tetap di penjara ini?"
"Ya," sahutnya pendek. "Aku tidak ingin menikah. Terlebih lagi, aku tidak ingin menikah denganmu. Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi jika melangkah masuk ke mansion utama sebagai istri seorang Grisham. Di sana, kau tidak akan hanya melihat darah, tapi kau akan mandi di dalamnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Kamar itu seolah menjadi saksi bisu atas pertarungan gairah dan penderitaan yang meluap-luap. Di bawah tubuhku, Darrel merancau, suaranya parau menyebutkan namaku berkali-kali seiring dengan gerakan pinggulku yang mulai melambat karena rasa lelah yang luar biasa. Namun, pengaruh obat itu ternyata belum juga surut.
Tiba-tiba, Darrel mencengkeram pinggangku dengan kuat dan membalikkan tubuhku dalam satu gerakan sentakan yang cepat. Aku terkesiap, punggungku menghantam kasur empuk sementara ia segera memposisikan dirinya di atasku. Ia menarik kedua kakiku ke atas, menyampirkannya di bahunya yang kokoh, membuat tubuhku terbuka sepenuhnya tanpa perlindungan.
"Darrel... pelan-pelan..." rintihku, namun suaraku hilang saat ia menghujamkan miliknya kembali dengan kekuatan yang jauh lebih brutal dari sebelumnya.
"Ssshhh... diamlah, Lily!" desisnya dengan mata yang berkilat liar. Setiap tusukannya terasa hingga ke hulu hati, membuatku mengerang antara rasa sakit yang menyayat dan kenikmatan yang mematikan.
Darrel seolah sedang melampiaskan seluruh dendam dan frustrasinya terhadap takdir ini kepadaku. Gerakannya tidak lagi memiliki kelembutan; ia bergerak seperti badai yang ingin menghancurkan apa pun di depannya. Di sela-sela napasnya yang memburu, ia membisikkan kata-kata yang menyayat hatiku.
"Kenapa... kenapa harus kau?" geramnya, suaranya bergetar hebat. "Andai saja kau tidak pernah masuk ke dalam radar ayahku... andai kau tetap di toko bunga itu... kau bisa hidup bahagia di sana, Lily! Kau tidak seharusnya berada di neraka ini bersamaku!"
"Aku... aku juga tidak menginginkan ini!" teriakku di tengah desahan yang tak tertahan.
"Tapi sekarang kau di sini! Kau milikku!" ia mempercepat ritmenya, mengabaikan air mata yang mulai mengalir di sudut mataku.
Dua jam telah berlalu dalam kegilaan itu. Tubuhku sudah mencapai puncak kesekian kalinya hingga aku merasa sangat lemas dan kosong, namun Darrel seolah memiliki energi yang tak habis-habis. Ia belum juga mencapai pelepasannya. Peluh membasahi seluruh tubuh kami, menciptakan aroma yang memabukkan di udara yang panas itu.
"Balik," perintahnya dengan suara yang nyaris seperti perintah mutlak.
Ia membalikkan tubuhku lagi, memposisikanku dalam gaya doggy style. Aku bertumpu pada kedua tanganku yang gemetar, menatap kanvas lukisanku yang terbengkalai di sudut ruangan. Darrel menarik pinggulku mendekat dan kembali menusukku dari belakang. Posisi ini membuat setiap gerakannya terasa jauh lebih dalam dan menyesakkan.
"Ahhh! Darrel, hentikan... aku sudah tidak kuat!" jeritku saat ia mulai menggerakkan tubuhnya dengan ritme yang sangat cepat dan bertenaga.
"Sedikit lagi, Lily... ikutlah denganku!" ia mencengkeram erat pinggangku, kuku-kukunya hampir menembus kulitku.
Setiap tumbukan itu membuatku merasa seolah duniaku sedang hancur berkeping-keping. Pikiranku mengabur, hanya menyisakan sensasi panas yang meledak-ledak di dalam perutku. Darrel merancau hebat, suaranya pecah menjadi erangan panjang yang memilukan.
"Lily! Sekarang!"
Aku menjerit kencang saat kurasakan getaran hebat dari dalam tubuhnya. Cairan hangat yang sangat banyak menyembur masuk ke dalam intiku, memenuhi segalanya di sana. Pada saat yang sama, aku merasakan ledakan kenikmatan terakhir yang membuat tubuhku ambruk ke atas kasur, tak lagi memiliki tenaga bahkan untuk sekadar bernapas secara normal.
Kami berdua terengah-engah dalam kesunyian malam yang mendadak kembali. Darrel menjatuhkan tubuhnya di sampingku, napasnya masih memburu namun matanya perlahan mulai kembali jernih—obat itu akhirnya kehilangan cengkeramannya. Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong, sementara aku meringkuk, merasakan sisa-sisa pergulatan yang menyakitkan namun juga terasa sangat intim di saat yang bersamaan.
"Selesai," bisiknya parau, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepadaku. "Satu malam telah terlewati."
*
Keheningan yang pekat menyelimuti kamar setelah badai itu berlalu. Aku masih terengah-engah, merasakan seleruh persendianku lemas dan intiku berdenyut nyeri. Namun, ketenangan itu hancur saat Darrel tiba-tiba berteriak dengan suara parau namun tetap berwibawa.
"Marta! Masuk!"
Jantungku mencuat ke tenggorokan. Aku segera menarik pinggiran selimut untuk menutupi tubuhku yang polos, namun mataku menangkap sesuatu yang membuatku membeku karena malu. Pintu kamar itu ternyata tidak tertutup rapat. Ada celah kecil yang menunjukkan bahwa sejak awal pintu itu tidak terkunci.
Artinya... mereka semua mendengar?
Pikiran bahwa para penjaga di lorong dan para pelayan di luar sana mendengar setiap rintihan dan jeritanku membuat wajahku memanas hebat. Darrel, sebaliknya, tampak sangat tenang. Ia menarik selimut sutra itu lebih tinggi, lalu dengan gerakan posesif yang mengejutkan, ia menarik pundakku agar aku bersandar di lengan kekarnya, memaksaku tidur di sampingnya seolah kami adalah pasangan yang baru saja selesai bercinta dengan normal.
Pintu terbuka lebar. Marta masuk dengan kepala menunduk sangat dalam, diikuti seorang pelayan lain yang membawa nampan perak. Mereka tidak berani menatap ke arah ranjang yang berantakan itu.
"Ini yang Anda minta, Tuan Muda," ucap Marta pelan, suaranya bergetar.
Di atas nampan itu, terdapat segelas air dan sebutir pil putih kecil. Aku menatap benda itu dengan dahi berkerut. Obat? Untuk lukaku?
"Minumlah," perintah Darrel padaku sambil mengambil pil itu.
"Obat apa ini?" tanyaku ragu, menatap matanya yang kembali dingin dan tajam.
Darrel tidak menjawab langsung. Ia menatap Marta sejenak, lalu kembali padaku. "Obat penghambat kehamilan. Kau tidak boleh hamil malam ini."
Duniaku serasa berhenti berputar. Aku tersentak, mencoba duduk meski tubuhku sakit semua. "Apa? Tapi kontrak itu... Erlan bilang—"
"Aku tidak peduli apa yang dikatakan Erlan!" potong Darrel dengan nada rendah yang berbahaya. "Kau pikir aku akan membiarkan anakku lahir di tengah kegilaan klan ini? Menjadi bidak catur ayahku seperti aku?"
"Tapi Darrel, nyawa Nenek Zela taruhannya! Jika aku tidak hamil dalam tiga puluh hari, Erlan akan—"
"Minum, Lily," desisnya, menyodorkan pil itu tepat ke depan bibirku. "Aku sudah bilang aku akan mengurus Nenekmu. Tapi aku tidak akan membiarkanmu mengandung anak dari hubungan yang dipaksakan oleh obat-obatan sialan itu."
Marta masih berdiri di sana, menjadi saksi bisu pengkhianatan Darrel terhadap rencana ayahnya sendiri. Aku menatap pil itu dengan bimbang. Jika aku meminumnya, aku menyelamatkan diriku dari menjadi mesin pencetak pewaris mafia, tapi aku mempertaruhkan nyawa satu-satunya keluargaku. Namun, tatapan Darrel seolah menjanjikan perlindungan yang lebih nyata daripada sekadar kertas kontrak milik Erlan.
"Minum, atau aku akan memaksamu seperti tadi," ancamnya, meski kali ini suaranya terdengar lebih lelah daripada marah.
Dengan tangan gemetar, aku mengambil pil itu dan menelannya. Darrel memberikan gelas air padaku, lalu memberi isyarat agar Marta keluar. Begitu pintu tertutup rapat—kali ini benar-benar terkunci—Darrel merebahkan kepalanya kembali di bantal.
"Tidurlah," ucapnya pendek, memunggungi aku. "Besok akan menjadi hari yang lebih panjang dari ini."
Aku berbaring di sampingnya, menatap punggung tegap pria yang baru saja merenggut kesucianku sekaligus menghancurkan harapan Erlan dalam satu tegukan air. Aku tidak tahu apakah aku harus membencinya atau merasa lega karena dia tidak ingin menjeratku lebih dalam ke dalam silsilah berdarah Grisham. Satu hal yang pasti, permainan ini menjadi jauh lebih rumit dari yang kubayangkan.
***
Bersambung...
makin seruu dan bikin penasaran🥰
double up dong biar makin puas 😂
apakah Lily juga anak dari klan mafia juga? jadi penasaran 🤨🤨🤨
Lily ikuti kata Darren, cukup kamu tersiksa 30 hari + 9 bulan. setelahnya kamu bisa bebas ( mungkin 🤔)
seru banget ceritanya