“Benciku adalah candu, dan obsesinya adalah penjara paling mematikan.”
Ceisya, seorang santriwati tengil sekaligus hacker cerdas, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Ceisyra Valenor—tokoh antagonis yang seharusnya mati tragis.
Namun takdir berubah…
Kaelthas Virelion, penguasa dunia bawah yang dingin dan kejam, justru terobsesi padanya—bahkan menikahinya secara rahasia.
Di tengah fitnah licik sang adik, Clarisse, serta ancaman Axton—rival berbahaya yang mulai kehilangan kendali karena dirinya—Ceisya terjebak dalam permainan yang mematikan.
Haruskah ia melarikan diri dari sangkar emas itu…
atau bertahan dalam perlindungan berbahaya dari pria posesif yang siap menghancurkan dunia demi dirinya?
“Kamu adalah napasku, Ceisyra. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu dariku.”
Takdir, obsesi, dan kekuasaan bertabrakan.
Mampukah Ceisya mengendalikan nasibnya sendiri… atau justru tenggelam dalam obsesi yang semakin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia dibalik Nisan yang Kosong
Pukul 07:30 Pagi – Halaman Depan Safe House Rahasia.
Udara pagi yang seharusnya segar kini terasa membeku. Suara deru mesin helikopter yang perlahan mati menyisakan kesunyian yang mencekam. Ceisya berdiri mematung di belakang tubuh kokoh Kaelthas, jemarinya mencengkeram erat pinggiran kaos hitam Kaelthas hingga buku jarinya memutih. Matanya tak berkedip menatap wanita yang berdiri sepuluh meter di depan mereka.
"Ibu...?" suara Ceisya nyaris tidak terdengar, pecah oleh rasa tidak percaya yang menghantam dadanya.
Wanita itu, Farida, melangkah maju dengan anggun.
Jubah hitamnya berkibar pelan tertiup angin. Wajahnya masih sama persis dengan foto yang selalu Ceisya simpan di bawah bantalnya, namun sorot matanya... sorot mata itu tidak memiliki kehangatan seorang ibu. Itu adalah sorot mata seorang predator yang telah lama mengintai dari kegelapan.
"Jangan mendekat!" gertak Kaelthas. Suaranya rendah dan berbahaya, seperti singa yang siap menerkam. Ia mengangkat pistol peraknya, membidik tepat di antara kedua mata wanita itu.
"Satu langkah lagi, dan aku tidak peduli siapa kau. Kau akan mati di tanah ini."
Farida berhenti, lalu terkekeh kecil—sebuah suara yang membuat bulu kuduk Ceisya berdiri. "Kaelthas Virelion... posesif seperti ayahmu, namun jauh lebih tidak terkendali. Kau memeluk putriku seolah dia adalah oksigenmu, padahal kaulah yang sedang mencekiknya dalam sangkar emasmu ini."
"Kael, tunggu..." Ceisya maju selangkah, mencoba keluar dari balik punggung Kaelthas, namun tangan besar Kaelthas langsung menahan pinggangnya dengan kasar, menariknya kembali ke dalam kangkangan tubuhnya.
"Tetap di belakangku, Ceisyra! Dia bukan ibumu. Dia adalah iblis yang mengenakan wajah ibumu!" geram Kaelthas. Napasnya memburu, matanya berkilat penuh obsesi untuk melindungi. Ia bisa merasakan tubuh Ceisya bergetar hebat, dan itu membuatnya semakin murka.
Kaelthas menunduk sedikit, membisikkan kata-kata yang hanya bisa didengar oleh Ceisya, bibirnya hampir menyentuh telinga istrinya. "Jangan percaya pada apa pun yang kau lihat sekarang. Kau hanya miliku. Kau adalah canduku, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun—bahkan hantu dari masa lalumu—mengambilmu dariku."
Pukul 08:00 Pagi – Konfrontasi di Ambang Kehancuran.
"Sepuluh tahun lalu, aku memalsukan kematianku karena ayahmu, Sebastian, terlalu lemah untuk mengurus Black Rose," Farida berbicara dengan nada santai, seolah sedang membicarakan cuaca.
"Aku butuh waktu untuk membangun pasukan yang lebih kuat. Dan sekarang, chip yang dibawa Clarisse adalah kunci terakhir untuk menguasai jalur logistik dunia. Aku datang untuk menjemputmu, Ceisyra.
Darahmu adalah kunci enkripsi terakhir dari chip itu."
Ceisya terperangah. "Darahku? Jadi selama ini... alasan ayah menikahkanku dengan Kaelthas..."
"Bukan karena hutang, Sayang," potong Farida dengan senyum dingin. "Tapi agar Kaelthas menjagamu tetap hidup sampai chip itu siap digunakan. Kaelthas hanyalah pengawal pribadimu yang paling mahal yang pernah disewa ayahmu."
Mendengar hal itu, Kaelthas tertawa gila. Ia menurunkan pistolnya sedikit, lalu tiba-tiba menarik Ceisya ke depan dan mencium bibirnya di hadapan semua orang—sebuah ciuman yang sangat dalam, kasar, dan penuh dengan klaim kepemilikan yang absolut. Ia menyesap bibir Ceisya seolah ingin menunjukkan pada Farida bahwa Ceisya bukan sekadar "kunci", tapi belahan jiwanya.
"Kau salah, Farida," ucap Kaelthas setelah melepaskan ciumannya, matanya menatap tajam ke arah ibu mertuanya itu. "Aku tidak menjaganya untuk siapa pun. Aku memilikinya karena aku menginginkannya. Dan jika kau butuh darahnya untuk chip itu, maka kau harus mengambil seluruh nyawaku terlebih dahulu."
Kaelthas memberikan isyarat pada Guntur. Dalam sekejap, puluhan penembak jitu Virelion muncul dari balik atap safe house, membidik ke arah helikopter Farida.
"Pergi dari sini sebelum aku mengubah tempat ini menjadi kuburan keduamu," desis Kaelthas.
Pukul 10:00 Pagi – Di Dalam Kamar Tersembunyi.
Setelah Farida dipaksa mundur (meski ia pergi dengan senyum kemenangan yang mencurigakan), Kaelthas langsung membawa Ceisya masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. Ia tidak membiarkan Ceisya bicara, tidak membiarkan Ceisya berpikir.
Kaelthas mendorong Ceisya ke dinding, tangannya mengunci kedua tangan Ceisya di atas kepala. Ia membenamkan wajahnya di leher Ceisya, menghirup aroma vanila yang mulai tercampur dengan aroma keringat dingin ketakutan.
"Kael... lepaskan... aku butuh penjelasan..." rintih Ceisya.
"Tidak ada penjelasan, Ceisyra! Kau milikku!"
Kaelthas membentak, suaranya parau oleh rasa takut kehilangan yang amat sangat. Ia mulai menciumi bahu Ceisya dengan liar, tangannya meraba lekuk tubuh istrinya dengan posesif yang luar biasa. "Aku tidak peduli jika darahmu adalah kunci dunia. Bagiku, kau adalah duniaku sendiri. Aku akan mengurungmu di tempat yang paling dalam jika itu perlu untuk menjauhkanmu dari mereka."
Kaelthas kembali menyesap bibir Ceisya, ciumannya kali ini terasa seperti candu yang menyakitkan. Ia menggigit bibir bawah Ceisya hingga Ceisya mengerang, lalu melumatnya kembali dengan gairah yang membara.
"Katakan kau tidak akan pergi dariku," perintah Kaelthas di sela ciumannya. "Katakan!"
"Aku tidak akan pergi, Kael... aku milikmu..." bisik Ceisya pasrah, air matanya jatuh mengenai pipi Kaelthas.
Di tengah kemesraan yang menyesakkan itu, tablet Ceisya yang terjatuh di lantai menyala sendiri. Sebuah program auto-run yang dipasang Farida mulai bekerja.
Layar itu menampilkan sebuah data DNA. Di sana terlihat bahwa Ceisyra bukan hanya memiliki darah Valenor, tapi ada sebuah nanobot yang sudah ditanam di dalam tubuhnya sejak ia bayi—sebuah bom waktu digital yang hanya bisa dinonaktifkan oleh Farida.
"Mas Sultan..." Ceisya menatap layar itu dengan wajah pucat pasi. "Jika aku tidak kembali pada ibuku dalam 24 jam... sistem di dalam tubuhku ini akan membuat jantungku berhenti secara otomatis."
Kaelthas membeku. Ia menatap layar itu, lalu menatap Ceisya. Matanya berkilat penuh kegilaan.
"Kalau begitu, aku akan merobek jantung siapa pun yang memasang benda itu di tubuhmu, Ceisyra. Bahkan jika itu berarti aku harus menghancurkan seluruh Jakarta malam ini."
Pukul 11:00 Siang – Ruang Medik Rahasia, Safe House.
Suasana di dalam ruangan itu terasa sangat steril dan dingin, namun tidak sedingin tatapan mata Kaelthas yang menatap layar monitor medis. Di atas tempat tidur, Ceisyra terbaring dengan berbagai kabel sensor menempel di kulit putihnya. Kaelthas duduk di sampingnya, tangan besarnya menggenggam jemari Ceisyra begitu erat, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, nyawa istrinya akan melayang pergi.
"23 jam lagi, Mas Sultan..." bisik Ceisyra pelan. Wajahnya pucat, namun matanya tetap menatap Kaelthas dengan binar tengil yang kini tampak sayu. "Kayaknya kali ini peretasmu benar-benar kena hack sama ibunya sendiri."
Kaelthas tidak tertawa. Ia justru mendekatkan wajahnya ke wajah Ceisyra, hidung mereka bersentuhan. Napas Kaelthas yang berat terasa panas di kulit Ceisyra. "Jangan bercanda dengan nyawamu, Ceisyra. Aku tidak suka."
Kaelthas mengusap bibir Ceisyra dengan ibu jarinya, sebuah gerakan yang sangat pelan namun penuh dengan gairah posesif. Ia kemudian membungkuk, menyesap bibir manis itu dengan dalam—sebuah ciuman yang terasa seperti sedang memberikan napas kehidupan. Ia mencumbunya dengan penuh perasaan, seolah-olah setiap sesapan adalah mantra agar jantung Ceisyra terus berdetak.
"Kau adalah canduku, bidadariku," bisik Kaelthas tepat di depan bibir Ceisyra. "Dan aku tidak akan membiarkan kematian mengambil apa yang sudah menjadi milikku. Jangankan 24 jam, sedetik pun aku tidak akan membiarkan detak jantungmu berhenti tanpa izin dariku."
kok kejam amat
menarik banget alurnya 😃
seperti biasa kutunggu cerita tamat dulu baru ku baca