Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.
Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.
Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.
Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?
Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Enam Belas
Hari pernikahan itu akhirnya datang juga.
Rumah besar milik Mama Meri yang biasanya terasa dingin kini berubah penuh cahaya. Dekorasi bunga memenuhi setiap sudut, kain-kain putih menjuntai rapi, dan suara tamu undangan bercampur dengan alunan musik lembut.
“Cepat sedikit, Chika. Tamu sudah mulai banyak,” ujar Mama Meri sambil mondar-mandir dengan wajah berbinar.
Chika duduk di depan cermin. Gaun putihnya terpasang sempurna, make-up-nya halus, tapi tangannya dingin. Ia menatap pantulan dirinya lama.
“Ini beneran terjadi …,” bisiknya pelan.
Di belakangnya, Mama Meri tersenyum puas. “Tentu saja. Ini yang seharusnya dari awal.”
Chika menelan ludah. “Tapi, Ma … Mas Farhan .…”
“Farhan sudah setuju,” potong Mama Meri cepat. “Dan itu cukup.”
Di sisi lain rumah, Farhan berdiri di kamar. Jasnya sudah rapi, tapi ekspresinya kosong. Ia menatap dirinya di cermin, sama seperti Chika tadi.
Namun berbeda. Tidak ada rasa bahagia di sana. Hanya lelah.
“Aku akan nikahi Chika segera.”
Kalimat itu kembali terngiang di kepalanya. Keputusan yang ia ucapkan terasa seperti bukan miliknya sendiri. Ketukan pintu terdengar.
“Farhan, sudah siap?” suara Mama Meri dari luar.
Farhan menarik napas panjang. “Iya, Ma.”
Ia merapikan kerahnya sekali lagi, lalu keluar.
Akad berlangsung lancar.
“Saudara Farhan, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan saudari Chika .…”
“... saya terima nikahnya Chika .…”
Suara Farhan terdengar tegas. Tanpa ragu. Tanpa jeda.
Sah. Saksi telah mengatakan jika pernikahan mereka sah. Semua orang bertepuk tangan.
Mama Meri langsung mengusap air matanya. “Akhirnya .…”
Chika menunduk, menangis. Tapi tangisnya bukan hanya karena bahagia. Ada campuran rasa lega, takut, dan kemenangan.
Sementara Farhan? Ia hanya tersenyum tipis. Senyum yang sepertinya
—
Malam itu, setelah semua tamu pulang, rumah kembali sunyi. Chika duduk di kamar pengantin. Ia memainkan ujung gaunnya, tampak sangat gugup.
Pintu kamar terbuka. Farhan masuk. Mereka saling menatap. Beberapa detik terlihat canggung.
“Capek?” tanya Farhan akhirnya.
Chika mengangguk pelan. “Iya .…”
Farhan duduk di tepi ranjang. “Istirahat saja. Hari ini terasa panjang.”
Chika menatapnya. Ada harapan di matanya, tapi Farhan tidak melihatnya. Atau sengaja tidak melihat.
“Mas …,” panggil Chika pelan.
Farhan menoleh. “Hm?”
“Mas, kamu bahagia malam ini?”
Pertanyaan itu membuat Farhan diam sejenak. Lalu ia menjawab, “Kita sudah menikah sekarang.”
Bukan jawaban yang Chika inginkan. Ia menunduk. “Iya .…”
Malam pertama mereka berlalu tanpa kehangatan yang seharusnya.
—
Seminggu kemudian.
Pagi datang menjelang. Farhan bersiap ke kantor seperti biasa. Kemeja rapi, dasi terpasang, wajahnya kembali seperti hari-hari sebelumnya. Berjalan datar.
“Aku berangkat dulu,” katanya sambil mengambil tas.
Chika yang sedang di dapur langsung keluar. “Mas, sarapan dulu.”
“Nanti saja. Aku ada meeting pagi.”
Chika mendekat, mencoba tersenyum. “Jangan lupa makan, ya.”
Farhan hanya mengangguk. “Iya.”
Lalu Farhan pergi. Pintu ditutup. Dan rumah kembali sunyi. Chika berdiri beberapa detik di ruang tengah. Lalu menghela napas panjang.
“Hidupku sekarang …,” gumamnya.
Belum selesai kalimatnya, suara bel rumah berbunyi. Chika sedikit kaget. “Siapa pagi-pagi begini datang bertamu?”
Ia berjalan ke pintu dan membukanya. Seorang kurir berdiri di sana.
“Maaf, Bu. Paket untuk Pak Farhan.”
Chika mengernyit. “Dari mana?”
“Dari rumah sakit, Bu.”
Chika menerima amplop itu. “Baik.”
Pintu ditutup lagi setelah kurir pergi. Ia menatap amplop putih di tangannya. Tidak terlalu besar. Tapi cukup tebal.
Di bagian depan tertulis, Untuk: Farhan & Hana. Seketika suasana hati Chika berubah.
“Apa ini …,” gumamnya.
Tangannya mengeras sedikit. Kenapa masih ada nama itu? Kenapa masih bersanding namanya dengan Farhan?
Rasa penasaran langsung muncul. Tanpa pikir panjang, ia berjalan ke ruang tamu dan duduk.
Menatap amplop itu lagi. “Harusnya aku tunggu Mas Farhan .…”
Tapi tangannya sudah bergerak membuka sobekan kecil. Amplop terbuka. Ia menarik keluar kertas di dalamnya.
Matanya mulai membaca. Baris pertama. “Permohonan maaf dari pihak rumah sakit .…”
Alisnya berkerut. Baris berikutnya. “Telah terjadi kesalahan dalam pemberian hasil laboratorium sebelumnya.”
Chika mulai merasa tidak enak. Ia membaca lebih cepat. “Berdasarkan hasil pemeriksaan terbaru .…”
Dan di situlah matanya berhenti. Kalimat itu. Yang membuat tubuhnya langsung kaku.
“Dinyatakan bahwa Bapak Farhan mengalami kondisi infertilitas .…”
Kertas itu hampir terlepas dari tangannya. “Mandul … Mas Fathan ternyata yang bermasalah.”
Suara itu keluar pelan dari bibirnya. Ia membaca ulang. Rasanya tidak percaya.
“… kesulitan untuk memiliki keturunan .…”
Jantungnya berdetak lebih cepat. “Ini … nggak mungkin .…”
Tangannya gemetar. Farhan … mandul? Berarti selama ini .…
Pikirannya langsung berlari tertuju pada Hana. Semua tuduhan dan tekanan selama ini salah. Semua diarahkan ke Hana, padahal yang bermasalah Farhan.
“Jadi selama ini yang salah bukan Hana. Tapi Farhan."
Chika langsung berdiri. Langkahnya mundur satu langkah. “Kalau Mas Farhan tahu .…”
Ia menutup mulutnya sendiri. Bayangan itu muncul dengan jelas.
Jika Farhan membaca surat ini. Ia akan sadar atas kesalahannya. Dan … Farhan mencari Hana.
“Enggak … enggak boleh. Mas Farhan tak boleh tau tentang semua ini," gumamnya dalam hati.
Ia menggeleng cepat. Napasnya mulai tidak teratur. “Dia pasti balik ke Hana .…”
Tangannya mencengkeram kertas itu erat. “Dia pasti ninggalin aku.”
Panik mulai menguasai Chika. “Enggak … aku nggak bisa .…”
Ia menatap sekeliling rumah. Rumah besar dan nyaman. Hidup tanpa susah. Tanpa kerja keras. Semua tersedia. Semua mudah.
“Aku nggak mau kehilangan ini .…”
Air matanya jatuh. “Aku nggak mau balik ke kehidupan lama .…”
Wajah orang tuanya muncul di pikirannya. Mereka telah bangkrut. Kehidupan yang hancur. Kesulitan keuangan.
“Enggak … aku nggak mau .…”
Tatapannya berubah menjadi panik membayangkan semua itu. Ia menatap surat itu lagi. Cukup lama.
Lalu berbisik pelan. “Mas Farhan nggak boleh tahu soal ini .…”
Keputusan itu akhirnya diambil. Tanpa ragu. Ia melangkah cepat ke dapur. Tangannya masih memegang kertas itu. Ia membuka laci dan mengambil korek api.
Tangannya sempat berhenti sekejap. Masih ada sedikit keraguan.
Seolah ada suara kecil dalam dirinya yang mencoba menahannya. "Tapi ini salah ...."
Namun suara lain lebih keras. “Kalau dia tahu, kamu selesai, Chika.”
Chika menutup matanya. Lalu membuka lagi. Keputusan sudah bulat. Ia menyalakan api kecil dari korek. Mendekatkannya ke ujung kertas. Api mulai merambat.
Kertas itu mulai menghitam. Menghilang satu per satu. Chika menatap tanpa berkedip. Tidak ada penyesalan di wajahnya.
Hanya ketakutan yang berubah menjadi tekad. “Maaf Farhan …,” bisiknya pelan.
Api semakin besar. Hingga akhirnya surat itu habis terbakar dan menjadi abu.
Chika menjatuhkan sisa abu itu ke wastafel. Lalu membuka keran air. Semuanya larut. Seolah tidak pernah ada.
Ia menatap wastafel itu beberapa detik. Lalu menarik napas panjang. Mengatur ekspresinya.
Saat ia kembali berdiri tegak, wajahnya sudah berubah lagi. Tenang. Seolah tidak terjadi apa-apa.
“Mulai sekarang ini menjadi rahasiaku sendiri.”
Ia berjalan keluar dari dapur. Langkahnya terasa lebih ringan. Saat ini yang ada dalam pikirannya bagaimana caranya agar ia bisa menjadi istri Farhan selamanya.
"Farhan harus jadi milikku selamanya. Mama Meri juga tak boleh tahu jika anaknya mandul. Ia bisa saja mencari Hana dan memintanya kembali. Aku harus memimirkan cara agar bisa hamil," ucap Chika dalam hatinya.
dan dia yg bkln meratukan kan membhgiakan kmu Hana....