NovelToon NovelToon
Garis Takdir Baru

Garis Takdir Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: USR

Nata Prawira mati dalam kehancuran mental dan kemiskinan, meninggalkan kedua adiknya dalam penderitaan. Namun, takdir membawanya kembali ke tahun 2014, tepat di masa SMA-nya.
​Berbekal memori masa depan dan kepribadiannya yang dingin serta kalkulatif, Nata bertekad menulis ulang nasib. Dari gang sempit yang kumuh, ia mulai merancang strategi investasi di dunia BitCore dan industri teknologi yang baru tumbuh. Bukan sekadar mencari kekayaan, Nata adalah seorang arsitek yang sedang membangun kekaisaran bisnis untuk melindungi Kirana yang lembut dan Arya yang penuh semangat. Di dunia yang kejam, ia akan membuktikan bahwa kecerdasan strategis adalah senjata paling mematikan untuk menjungkirbalikkan kasta sosial.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: GERBANG CAKRAWALA

Senin pagi di Jakarta adalah simfoni dari kebisingan mesin dan ambisi manusia. Nata berdiri di depan cermin kecil di kamar mandinya, merapikan kerah kemeja putih yang baru saja dibelikan Kirana kemarin sore. Meskipun hanya kemeja sederhana dari pasar, di tubuh Nata, pakaian itu seolah berubah menjadi baju zirah.

​"Kak, sarapan dulu," panggil Kirana.

​Di meja makan, suasananya jauh berbeda. Kirana telah menyiapkan nasi goreng dengan telur mata sapi yang sempurna. Arya sedang asyik meminum susu cokelatnya. Tidak ada lagi raut ketakutan soal penagih hutang atau intimidasi Paman Danu. Sejak kehadiran polisi dan pengacara Ibu Sari Sabtu malam lalu, lingkungan gang mereka menjadi jauh lebih tenang. Paman Danu tampaknya sedang sibuk mengurus urusan hukumnya sendiri dan tidak berani menampakkan batang hidungnya.

​"Kirana, hari ini aku mungkin pulang agak malam. Setelah sekolah, aku ada janji di daerah Kuningan," ucap Nata sambil menyuap nasi gorengnya.

​Kirana menatap kakaknya dengan bangga sekaligus haru. "Iya, Kak. Jangan lupa makan siang. Dan... hati-hati. Aku dan Arya akan menunggumu di rumah."

​Nata tersenyum, lalu mengusap kepala Arya sebelum berpamitan. Baginya, senyum kedua adiknya adalah bahan bakar yang jauh lebih kuat daripada keuntungan BitCore sekalipun.

​Gedung Nusa-Capital berdiri kokoh di jantung distrik bisnis. Masuk ke dalamnya terasa seperti melangkah masuk ke masa depan. Lantai marmer yang mengilap, pendingin ruangan yang sejuk, dan orang-orang berpakaian mahal yang berlalu-lalang dengan langkah terburu-buru.

​Nata mendekati meja resepsionis dan mengeluarkan kartu nama emas yang diberikan Hendra Wijaya.

​"Saya ada janji dengan Pak Hendra. Nama saya Nata Prawira," ucapnya tenang.

​Resepsionis itu, yang awalnya memandang Nata dengan sebelah mata karena seragam SMA yang ia kenakan, langsung berubah sikap setelah melihat kartu emas tersebut. Kartu itu bukan sekadar tanda pengenal; itu adalah tiket prioritas tertinggi di gedung ini.

​"Mari, Dek Nata. Pak Hendra sudah menunggu di lantai paling atas."

​Di dalam lift kaca yang bergerak cepat, Nata melihat pemandangan kota Jakarta yang mulai mengecil di bawah kakinya. Ia teringat masa lalunya—garis waktu di mana ia hanya menjadi salah satu dari ribuan orang di bawah sana yang berjuang demi sesuap nasi. Kali ini, ia tidak akan membiarkan dirinya jatuh lagi.

​Pintu lift terbuka, memperlihatkan kantor penthouse yang sangat luas dengan pemandangan 360 derajat ke arah cakrawala kota. Hendra Wijaya sedang berdiri membelakangi pintu, menatap keluar jendela kaca besar.

​"Kamu datang tepat waktu, Nata. Saya suka orang yang menghargai waktu," ucap Hendra tanpa berbalik.

​Nata berjalan masuk dan duduk di kursi kulit di depan meja besar Hendra. "Waktu adalah satu-satunya aset yang tidak bisa kita beli kembali, Pak Hendra. Membuangnya adalah dosa terbesar dalam bisnis."

​Hendra berbalik, tersenyum lebar, lalu duduk di hadapan Nata. Di atas mejanya, terdapat sebuah tablet yang menampilkan profil singkat Nata yang disusun oleh tim risetnya, termasuk transkrip nilai sekolah dan catatan aktivitasnya di pasar.

​"Tim saya sudah menelusuri sedikit tentangmu. Seorang yatim piatu yang menghidupi dua adiknya, juara kelas, dan punya ketajaman logika yang mengerikan. Tapi yang membuat saya tertarik adalah prediksimu soal BitCore dan startup transportasi," Hendra mencondongkan tubuhnya. "Katakan padaku, kenapa seorang anak SMA ingin berinvestasi di perusahaan yang bahkan belum punya kantor permanen seperti Nusa-Trans?"

​Nata menatap langsung ke mata Hendra. "Karena Nusa-Trans bukan sekadar perusahaan ojek, Pak Hendra. Mereka adalah perusahaan data dan logistik yang menyamar. Di negara dengan kemacetan seperti Indonesia, siapa pun yang menguasai mobilitas di jalan sempit akan menguasai ekonomi mikro. Dan saya ingin berada di dalam kapal itu sebelum ia berubah menjadi kapal induk."

​Hendra terdiam sejenak, memproses kata-kata Nata. "Kamu bicara seolah kamu sudah melihat hasilnya sepuluh tahun dari sekarang."

​"Saya hanya perencana yang baik, Pak Hendra. Saya melihat pola. Dan pola itu mengatakan bahwa ekonomi digital akan meledak dalam tiga tahun ke depan. Saya punya modal sepuluh juta rupiah—mungkin kecil bagi Anda, tapi bagi saya, itu adalah taruhan hidup saya. Saya ingin membeli saham tahap awal di Nusa-Trans lewat konsorsium Anda."

​Hendra tertawa kecil. "Sepuluh juta? Itu bahkan tidak cukup untuk membayar biaya pengacara kami. Tapi... cara bicaramu, logikamu... itu bernilai jauh lebih banyak. Bagaimana jika saya beri penawaran lain?"

​Hendra mengeluarkan sebuah map cokelat. "Saya akan mengizinkanmu masuk ke putaran pendanaan awal Nusa-Trans dengan sepuluh jutamu itu, tapi dengan satu syarat: Kamu harus menjadi konsultan junior lepas untuk tim riset teknologi saya. Kamu cukup datang dua kali seminggu setelah sekolah, dan beri saya analisis 'liar'mu tentang tren masa depan."

​Nata tahu ini adalah peluang emas. Hendra tidak butuh uangnya; Hendra ingin mengikat kecerdasannya. Ini adalah bentuk investasi manusia.

​"Saya terima syarat itu, Pak Hendra. Dengan satu tambahan," balas Nata.

​"Apa itu?"

​"Saya butuh jaminan keamanan untuk keluarga saya. Saya tahu Paman saya sedang diawasi polisi, tapi saya ingin mereka benar-benar aman dari gangguan fisik pihak luar. Saya butuh akses ke tempat tinggal yang lebih layak di dekat sekolah saya."

​Hendra mengangguk santai. "Nusa-Capital punya beberapa apartemen korporat di sekitar sini. Salah satunya kosong dan cukup luas untuk kalian bertiga. Kamu bisa menempatinya sebagai bagian dari kompensasi konsultasimu. Keamanannya 24 jam. Bagaimana?"

​Nata menjabat tangan Hendra. "Kesepakatan tercapai."

​Sore harinya, Nata pulang dengan perasaan yang meluap. Ia langsung mengumpulkan Kirana dan Arya di ruang tamu mereka yang sempit.

​"Kita akan pindah," ucap Nata singkat.

​Kirana terkejut. "Pindah? Ke mana, Kak? Bukannya kita baru saja bayar kontrakan?"

​"Kita pindah ke tempat yang lebih aman. Sebuah apartemen di pusat kota. Aku sudah mendapatkan pekerjaan tetap sebagai konsultan di sebuah perusahaan besar. Mereka memberikan fasilitas tempat tinggal untuk kita," Nata menjelaskan dengan nada yang menenangkan.

​Mata Kirana berkaca-kaca. Ia tahu kakaknya telah berjuang sangat keras belakangan ini. Meskipun ia belum sepenuhnya paham bagaimana kakaknya bisa melompat dari seorang siswa biasa menjadi konsultan perusahaan besar, ia mempercayai Nata sepenuhnya.

​"Arya, nanti di tempat baru, kamu akan punya kamar sendiri," tambah Nata.

​"Hore! Aku mau kamar yang ada gambar lautnya!" seru Arya kegirangan.

​Proses pindahan dilakukan malam itu juga dengan bantuan tim logistik dari Nusa-Capital. Nata ingin semuanya dilakukan dengan cepat agar Paman Danu tidak bisa melacak keberadaan mereka. Saat mereka meninggalkan gang sempit itu untuk terakhir kalinya, Nata melihat ke belakang. Gang itu adalah saksi bisu kemiskinan dan penderitaan mereka. Sekarang, ia menutup bab itu selamanya.

​Apartemen baru mereka berada di lantai 15 sebuah menara mewah. Saat Kirana masuk, ia terpana melihat dapur yang bersih, mesin cuci otomatis, dan sofa yang sangat empuk. Arya langsung berlari ke jendela besar, menatap lampu-lampu kota Jakarta yang berkilauan di bawah mereka.

​"Ini... ini sungguhan, Kak?" bisik Kirana, seolah takut jika ia bernapas terlalu keras, mimpi ini akan hilang.

​"Ini sungguhan, Kirana. Dan ini baru permulaan," jawab Nata.

​Nata pergi ke balkon apartemen, membiarkan angin malam menerpa wajahnya. Ia mengeluarkan ponselnya. Harga BitCore kini stabil di angka 515 dolar. Namun, kepuasannya malam ini bukan berasal dari grafik digital itu. Kepuasannya berasal dari melihat adiknya bisa tidur di atas kasur yang layak tanpa takut atap bocor saat hujan turun.

​Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk.

​"Kamu pikir kamu sudah menang, Nata? Aku tahu kamu berlindung di bawah ketiak Hendra Wijaya. Tapi tanah di desa itu tetap milik keluarga Prawira, dan aku tidak akan membiarkan anak ingusan sepertimu menguasainya."

​Nata menatap pesan dari Paman Danu itu dengan ekspresi datar. Ia tidak membalas. Ia justru menekan tombol blokir.

​Paman, kamu masih bermain di papan catur yang lama, batin Nata.

​Di garis waktu aslinya, Paman Danu adalah raksasa yang tak terkalahkan bagi Nata yang lemah. Tapi sekarang, dengan dukungan dari Nusa-Capital, perlindungan hukum dari Ibu Sari, dan aset digital yang terus bertumbuh, Danu hanyalah semut yang mencoba menghentikan laju kereta cepat.

​Nata kembali masuk ke dalam, melihat Kirana yang sedang merapikan baju-baju mereka ke dalam lemari kayu yang harum. Ia mengambil buku catatannya dan menulis satu target baru untuk bulan depan: Pembebasan Tanah Desa kakek secara Mandiri.

​Ia tidak akan menunggu pemerintah mengumumkan proyek jalan tol. Ia akan menggunakan dana BitCore-nya untuk membeli lahan di sekitar tanah ayahnya secara diam-diam lewat pihak ketiga. Dengan begitu, saat proyek tol diumumkan, ia bukan hanya memiliki satu petak tanah, tapi seluruh area strategis di sekitar pintu keluar tol tersebut.

​"Perencana yang baik tidak menunggu peluang datang," gumam Nata sambil menutup buku catatannya. "Dia menciptakan situasi di mana peluang tidak punya pilihan selain datang kepadanya."

​Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Nata tidur dengan nyenyak. Ia tahu, esok hari ia akan kembali ke sekolah sebagai siswa kelas tiga, namun di balik seragam putih-abu-abunya, ia adalah seorang penggerak roda ekonomi yang mulai merangkak naik menuju puncak kekuasaan. Garis takdir baru ini sudah mengeras sekuat baja, dan ia tidak akan membiarkan siapa pun meretakkannya.

Bersambung.....

1
YoMi
Lanjutkan Thor, aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!