NovelToon NovelToon
Amore, Indigo, & Vendetta

Amore, Indigo, & Vendetta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Mata Batin
Popularitas:990
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Di jantung kota Sisilia yang kelam, Kaivan Vittorio, sang "Re Re Nero" (Raja Hitam) yang memimpin sindikat mafia paling ditakuti di Italia, hidup dalam bayang-bayang dendam masa lalu. Ia dingin, kejam, dan tidak percaya pada hal tak kasat mata. Namun, wibawanya runtuh seketika saat ia bertemu Gendis, gadis asal Indonesia yang sedang bepergian ala backpacker ke Italia.
​Gendis bukan gadis biasa; dia adalah indigo "semprul" yang hobi memarahi hantu penunggu kastil Kaivan karena berisik saat ia sedang makan mi instan. Pertemuan mereka dimulai dari salah paham maut: Gendis mengira Kaivan adalah cosplayer "om-om galak" dan menawari jasa pembersihan aura karena melihat ribuan arwah korban Kaivan sedang mengantre minta maaf. Di balik komedi situasi yang absurd, ada benang merah dendam yang ternyata menyatukan masa lalu keluarga mereka. Kaivan yang terbiasa memegang senjata, kini harus belajar memegang kemenyan dan sabar menghadapi tingkah ajaib Gendis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kaivan Mulai Melindungi Gadis Semprul

Setelah diplomasi besar di Corleone, intensitas penjagaan di sekitar Gendis sebenarnya sudah sangat tinggi. Namun, ada satu hal yang tidak bisa dicegah oleh barisan pengawal bersenjata maupun sistem alarm laser tercanggih di Italia: sifat "semprul" Gendis yang seringkali muncul tanpa aba-aba. Sifat inilah yang kini membuat Kaivan Vittorio—sang Don yang biasanya hanya perlu mengkhawatirkan harga saham dan pengiriman logistik—harus bekerja ekstra keras menjaga jantungnya agar tidak copot.

​Pagi itu, di mansion Vittorio, Kaivan sedang melakukan pertemuan rutin dengan Marco. Di tengah pembahasan serius mengenai pergerakan sisa-sisa klan klan kecil di Napoli, tiba-tiba terdengar suara dentuman keras dari arah dapur, diikuti oleh aroma menyengat yang terasa seperti... cabai yang terbakar hebat.

​"Apa itu?! Serangan gas?!" teriak Marco sambil menarik pistolnya.

​Kaivan tidak menjawab, ia langsung berlari menuju dapur dengan wajah tegang. Namun, sesampainya di sana, ia tidak menemukan pembunuh bayaran atau teroris. Ia menemukan Gendis yang sedang berdiri di tengah kepulan asap merah kecokelatan, memegang sebuah cobek besar, dan terbatuk-batuk hebat hingga matanya berair.

​"Gendis! Apa yang kau lakukan?!" seru Kaivan sambil menerobos asap, segera menarik Gendis menjauh dari kompor.

​"Uhuk! Ini... uhuk... ini saya lagi eksperimen bikin 'Sambal Setan Penolak Bala', Kak!" sahut Gendis sambil mengusap matanya dengan punggung tangan yang, sialnya, juga terkena bumbu cabai. "Aduh! Mata saya perih!"

​Kaivan mendesah frustrasi sekaligus panik. Ia segera mengangkat Gendis ke atas meja dapur, mengambil kain bersih yang dibasahi air, dan mulai membersihkan wajah gadis itu dengan sangat hati-hati.

​"Kau ini benar-benar semprul, Gendis," gumam Kaivan, meski tangannya bergerak sangat lembut. "Kau bisa membakar seluruh mansion ini hanya untuk membuat sambal. Kau tahu ini berbahaya?"

​"Bahaya gimana? Ini kan cabai lokal Sisilia dicampur sedikit 'bumbu' dari Jawa. Katanya kalau baunya menyengat begini, arwah pengintip nggak berani masuk ke dapur!" Gendis masih mencoba membela diri meski matanya merah padam.

​"Arwah pengintip mungkin tidak masuk, tapi paru-paru para pengawalku bisa meledak!" Kaivan menoleh ke arah Marco yang masih berdiri di ambang pintu dengan wajah bingung. "Marco, pasang sistem penyedot asap industri di dapur ini besok pagi. Dan pastikan semua pisau di sini diganti dengan yang ujungnya tumpul jika Nona Gendis ada di ruangan."

Kejadian di dapur hanyalah awal. Kaivan mulai menyadari bahwa Gendis tidak hanya butuh dilindungi dari musuh-musuh Mafia, tetapi juga dari rasa ingin tahunya yang kadang tidak masuk akal.

​Beberapa jam kemudian, Kaivan menemukan Gendis sedang mencoba memanjat pohon zaitun tua di halaman samping. Alasannya? Ia melihat ada seekor kucing hantu yang tersangkut di dahan paling atas dan kucing itu tampak "sedih".

​"Gendis! Turun sekarang juga!" teriak Kaivan dari balkon atas.

​"Bentar Kak, dikit lagi sampai! Kasihan ini kucingnya meong-meong terus di dimensi sana!" seru Gendis sambil berpegangan pada dahan yang terlihat sangat rapuh.

​Kaivan tidak menunggu sedetik pun. Ia melompat dari balkon lantai satu ke atas rumput—sebuah aksi yang membuat Marco hampir pingsan—dan berlari menangkap Gendis tepat saat dahan itu patah. Gendis jatuh tepat di pelukan Kaivan.

​"Kau... benar-benar... tidak bisa diam ya?" napas Kaivan memburu. Amarahnya memuncak, tapi ia tidak bisa membentak saat melihat wajah Gendis yang polos tanpa rasa bersalah.

​"Eh, makasih Kak. Tapi kucingnya sudah selamat kok, dia tadi loncat ke bahu Kakak terus menghilang," ucap Gendis santai.

​Kaivan menurunkan Gendis, lalu memegang kedua bahunya. "Dengarkan aku. Mulai detik ini, tidak ada aksi panjat pohon, tidak ada eksperimen sambal beracun, dan tidak ada interaksi dengan arwah yang posisinya berada lebih tinggi dari kepalamu tanpa izinku. Mengerti?"

​"Kak Kaivan kok jadi galak banget sih? Kayak satpam sekolah saya dulu," protes Gendis.

​"Aku bukan satpam sekolahmu, Gendis. Aku pria yang tidak akan bisa tidur jika kau lecet sedikit pun!" Kaivan menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya. "Marco! Siapkan tim pengintai khusus. Tugaskan dua orang untuk mengikuti Nona Gendis, bukan untuk menjaga dari musuh, tapi untuk menangkapnya setiap kali dia mencoba melakukan hal semprul!"

Keesokan harinya, Kaivan terpaksa membawa Gendis ke pusat kota Palermo untuk menghadiri pembukaan sebuah yayasan. Kaivan sudah menyiapkan mobil baja dan rute paling aman. Namun, saat mereka sedang berjalan melewati gang kecil yang artistik, Gendis tiba-tiba berhenti.

​"Kak, liat! Ada toko barang antik!" Gendis menunjuk sebuah toko kecil yang tampak kumuh. "Aura di dalamnya... warnanya ungu cantik banget. Kayak ada harta karun."

​"Gendis, kita sedang terburu-buru," ucap Kaivan.

​Tapi Gendis sudah melesat masuk. Kaivan terpaksa mengikutinya dengan sepuluh pengawal yang tampak sangat mencolok di gang sempit itu. Di dalam toko, Gendis langsung menuju ke sebuah cermin tua yang retak.

​"Pak, ini harganya berapa?" tanya Gendis pada pemilik toko yang tampak mencurigakan.

​Kaivan merasakan sesuatu yang tidak beres. Ia melihat pria pemilik toko itu memberi kode pada seseorang di belakang tirai. Bukan hantu, ini jebakan manusia, pikir Kaivan.

​"Gendis, keluar," perintah Kaivan pelan namun tegas.

​"Bentar Kak, cermin ini bisa—"

​Sebelum Gendis menyelesaikan kalimatnya, dua pria bersenjata muncul dari balik tirai. Namun, Kaivan jauh lebih cepat. Dengan gerakan yang terlatih, ia menarik Gendis ke belakang tubuhnya, melindunginya dengan jas antipelurunya, dan melepaskan satu tembakan ke arah langit-langit untuk menggertak.

​"Jika kau bergerak sedikit saja, toko ini akan menjadi makammu," desis Kaivan pada pemilik toko.

​Para pengawal segera melumpuhkan para penjahat itu. Ternyata mereka adalah sisa-sisa klan kelas teri yang ingin menculik siapa pun yang terlihat kaya di daerah itu.

​Gendis tampak kaget, ia bersembunyi di balik punggung Kaivan. "Eh... maaf Kak. Saya kira ungunya itu harta karun, ternyata aura orang mau ngerampok ya?"

​Kaivan tidak menjawab. Ia menggendong Gendis keluar dari toko itu, memasukkannya ke dalam mobil, dan memerintahkan sopir untuk segera kembali ke mansion. Di dalam mobil, Kaivan hanya diam dengan wajah yang sangat gelap.

Sesampainya di mansion, Gendis merasa sangat bersalah. Ia duduk di pojok sofa ruang kerja Kaivan, sementara pria itu berdiri menatap jendela, membelakanginya.

​"Kak... maaf ya. Saya emang semprul," bisik Gendis pelan.

​Kaivan berbalik. Alih-alih marah besar seperti yang Gendis bayangkan, Kaivan justru mendekat dan berlutut di depan Gendis. Ia memegang tangan Gendis yang sedikit tergores kayu cermin tadi.

​"Kenapa kau selalu melakukan hal-hal berbahaya, Gendis?" tanya Kaivan, suaranya kini terdengar lembut namun penuh kepedihan. "Dunia ini sangat kejam. Orang-orang di luar sana tidak peduli dengan aura ungu atau kucing hantumu. Mereka hanya melihatmu sebagai kelemahanku."

​"Karena saya mau hidup, Kak. Bukan cuma sekadar ada," jawab Gendis, matanya berkaca-kaca. "Kalau saya terlalu takut, saya nggak bakal ketemu Kakak. Saya nggak bakal bisa bantu Kakak."

​Kaivan terdiam. Ia menarik tangan Gendis dan mencium bekas lukanya. "Aku tidak melarangmu hidup. Aku hanya ingin kau tetap ada di sisiku sampai kita tua nanti. Kau adalah cahaya yang sangat terang, Gendis. Dan cahaya itu menarik banyak kegelapan."

​Kaivan berdiri, lalu duduk di samping Gendis dan menariknya ke dalam pelukan. "Mulai sekarang, perlindunganku bukan cuma soal senjata. Aku akan belajar mengerti dunia 'semprul'-mu. Kalau kau mau panjat pohon, aku yang akan memegang tangganya. Kalau kau mau bikin sambal, aku yang akan membelikan masker gas. Tapi berjanjilah, jangan pernah pergi sendiri lagi."

​Gendis tersenyum, menyandarkan kepalanya di dada Kaivan. "Janji, Kak. Tapi kalau ada hantu yang minta tolong lagi gimana?"

​"Bawa dia padaku. Kita bicarakan baik-baik di kantor," jawab Kaivan yang membuat Gendis tertawa kecil.

Sejak hari itu, protokol keamanan di mansion Vittorio berubah drastis. Kaivan menambahkan sebuah paviliun khusus yang penuh dengan bantalan empuk agar Gendis tidak terluka saat sedang "berkelana" di dimensi lain. Ia juga memesan tim koki untuk mengajari Gendis memasak dengan aman—meskipun sambal setannya tetap menjadi momok bagi para pengawal.

​Kaivan juga mulai membawa Gendis ke mana-mana, namun dengan cara yang lebih santai. Ia mulai memahami bahwa melindungi Gendis bukan dengan cara mengurungnya, tapi dengan cara menjadi perisai yang selalu ada di jangkauan tangannya.

​"Marco," panggil Kaivan suatu sore saat melihat Gendis sedang mengejar kupu-kupu (yang katanya adalah jelmaan roh keberuntungan).

​"Ya, Tuan?"

​"Pastikan semua sudut tajam di taman ini dilapisi karet. Dan belikan jaring kupu-kupu yang paling lembut. Aku tidak mau dia terjatuh lagi karena mengejar hal yang tidak bisa kulihat."

​Marco hanya bisa tersenyum simpul. "Tuan, Anda sekarang lebih mirip seperti seorang ayah yang protektif daripada seorang bos Mafia yang kejam."

​Kaivan menatap Gendis yang tertawa riang di bawah sinar matahari. "Mungkin. Tapi bagiku, dia adalah satu-satunya alasan kenapa takhta ini masih layak untuk dipertahankan. Biarlah dunia menganggapku lemah karena mencintai gadis semprul ini. Tapi mereka tidak tahu, demi dia, aku bisa meratakan seluruh Italia jika perlu."

​Gendis tiba-tiba menoleh dan melambaikan tangannya. "Kak Kaivan! Sini! Ada hantu kakek-kakek mau ajak main catur!"

​Kaivan menghela napas, tersenyum tipis, lalu berjalan mendekati tunangannya. "Baiklah, mari kita lihat seberapa jago kakek itu bermain catur di dunianya."

​Dan begitulah, sang Don Vittorio yang agung kini telah sepenuhnya tunduk pada tugas barunya: menjadi pelindung setia bagi seorang gadis indigo yang semprul, yang membawa warna-warni kehidupan ke dalam dunianya yang selama ini hanya mengenal hitam dan putih.

1
Julia thaleb
lanjut Thor.
aku like banget
Julia thaleb
Thor..
seribu jempol
aku like...
Farida 18: makasih beb
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!