Asha mengira pernikahan kontrak dengan Arlan, sang Titan industri, adalah jalan keluar dari kemiskinan. Namun, ia salah. Di balik kemewahan Kota Neovault, Asha hanyalah "piala" yang dipamerkan di antara deretan wanita simpanan Arlan. Puncaknya, Arlan membiarkan Asha disiksa oleh selingkuhannya sendiri demi menutupi skandal bisnis. Saat tubuhnya hancur dan janinnya terancam, Asha menyadari bahwa ia tidak sedang menikah, melainkan sedang dikuliti hidup-hidup oleh pria yang ia cintai. Ketika cinta berubah menjadi dendam yang dingin, apakah air mata cukup untuk membayar pengkhianatan yang berdarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa Nyawa di Neovault
Dingin adalah sensasi pertama yang merayap masuk ke dalam kesadaran Asha Valeska. Bukan dingin yang menyejukkan, melainkan hawa beku yang menusuk hingga ke sumsum tulang, membawa aroma karat, debu apak, dan sisa kelembapan tanah yang memuakkan. Ketika kelopak matanya yang terasa seberat timah mencoba untuk terbuka, rasa sakit yang luar biasa hebat langsung menghantam tempurung kepalanya. Dunia seakan berputar, miring, dan gelap gulita. Asha mencoba menggerakkan jemarinya, namun yang ia rasakan hanyalah permukaan semen kasar yang tidak rata dan tumpukan kain goni yang kasar di bawah tubuhnya yang hancur.
"Apakah aku sudah mati?" bisik Asha di dalam hatinya, namun bahkan suara batinnya sendiri pun terasa menyakitkan.
Ia mencoba menarik napas, namun setiap tarikan oksigen terasa seperti serpihan kaca yang menyayat paru-parunya. Tulang rusuknya yang remuk akibat hantaman anak tangga marmer di Neovault seakan bergeser, menciptakan rasa perih yang membuat air mata Asha mengalir tanpa bisa dibendung. Ia tidak berada di rumah sakit. Tidak ada aroma antiseptik, tidak ada bunyi mesin pemantau jantung, dan tidak ada selimut hangat yang menyelimuti tubuhnya yang nyaris mati.
"Arlan... tolong..." suara Asha keluar sebagai bisikan parau yang nyaris tidak terdengar, hilang ditelan kesunyian gudang yang mencekam.
Namun, tidak ada jawaban. Keheningan di gudang ini terasa sangat absolut, hanya sesekali diinterupsi oleh suara tetesan air yang jatuh dari atap seng yang bocor ke lantai beton. Asha memaksa kepalanya untuk menoleh, sebuah gerakan sederhana yang memicu kilatan rasa sakit luar biasa di lehernya. Di sudut ruangan, sebuah lampu bohlam kuning yang redup berayun pelan, memberikan pencahayaan minim pada tumpukan palet kayu dan mesin-mesin tua yang berkarat. Ini bukan bagian dari mansion mewah Arlan. Ini adalah gudang pembuangan di distrik Rust, tempat di mana Neovault menyembunyikan sampahnya.
"Kau sudah bangun?" sebuah suara berat dan dingin tiba-tiba memecah kesunyian dari arah kegelapan di balik pintu besi.
Asha tersentak, mencoba bangkit namun tubuhnya segera ambruk kembali ke atas semen. Seorang pria bertubuh besar dengan seragam penjaga keamanan Neovault melangkah masuk, memegang sebuah ember plastik berisi air keruh. Tanpa peringatan, ia menyiramkan air itu tepat ke wajah Asha yang penuh luka.
"Uhuk! Uhuk!" Asha tersedak, air keruh itu masuk ke hidung dan matanya yang perih.
"Jangan banyak mengeluh. Tuan Arlan berpesan agar kau tetap hidup, setidaknya sampai kau menandatangani surat itu," ujar penjaga itu dengan nada yang sangat datar, seolah ia tidak sedang berbicara dengan seorang manusia yang sedang sekarat.
Asha mengusap matanya dengan tangan yang gemetar. Ia melihat sebuah map kulit tergeletak di atas meja kecil yang berkarat tidak jauh dari tempatnya terbaring. "Surat apa? Di mana... di mana medis? Aku butuh dokter... kepalaku..." rintih Asha sambil memegangi belakang kepalanya yang terbungkus kain kusam yang sudah basah oleh darah.
Penjaga itu tertawa pendek, suara tawa yang penuh ejekan. "Dokter? Kau pikir kau masih istri berharga Tuan Arlan? Beliau sengaja membawamu ke sini tanpa bantuan medis satu pun. Katanya, kau harus merasakan setiap detik penderitaan ini agar otakmu menjadi jernih."
Asha tertegun. Kata-kata itu lebih menyakitkan daripada tulang rusuknya yang patah. "Dia sengaja... membiarkanku menderita?"
"Tentu saja. Tuan Arlan ingin kau menyadari posisi di mana kau berada. Jika kau ingin dokter, jika kau ingin tidur di tempat tidur yang empuk lagi, kau harus membatalkan tuntutan pembagian harta pernikahan itu. Begitu kau menandatangani surat pelepasan harta, mungkin beliau akan sedikit bermurah hati mengirimkan paramedis ke gudang busuk ini," jelas penjaga itu sambil menyalakan rokok, asapnya memenuhi ruangan yang sudah kekurangan oksigen tersebut.
Asha memejamkan mata erat-erat. Air mata kini mengalir deras, membasahi pipinya yang kotor oleh debu dan darah kering. Pengkhianatan ini terasa sangat sempurna. Arlan tidak hanya ingin menceraikannya, pria itu ingin menghancurkannya hingga tidak ada lagi sisa keberadaan Asha yang bisa dikenali. Arlan tahu bahwa tanpa bantuan medis, luka di kepalanya bisa berakibat fatal, namun pria itu justru menggunakan nyawanya sebagai alat negosiasi.
"Dia benar-benar iblis," gumam Asha dengan bibir yang gemetar karena kedinginan.
"Iblis atau bukan, dia adalah orang yang memegang nyawamu saat ini. Jadi, apa jawabanmu, Nyonya? Apakah kau masih ingin mempertahankan hartamu dan mati membusuk di sini, atau menyerahkan segalanya dan mendapatkan kesempatan untuk bernapas satu hari lagi?" tanya penjaga itu sambil mendekat, ujung sepatunya yang berat menekan jari tangan Asha yang memar di atas lantai.
Asha menjerit tertahan saat rasa sakit itu kembali menjalar ke seluruh tubuhnya. "Hentikan! Sakit!"
"Tanda tangani sekarang atau aku akan memastikan kau tidak bisa memegang pulpen lagi selamanya," ancam penjaga itu dengan nada yang semakin rendah dan berbahaya.
Asha menatap langit-langit gudang yang suram. Ia bisa merasakan kesadarannya kembali memudar. Setiap denyut di kepalanya terasa seperti hantaman palu godam. Ia sadar bahwa Arlan sedang bermain dengan waktu. Pria itu tidak akan membunuhnya secara langsung, ia hanya akan membiarkan waktu dan infeksi yang melakukannya jika Asha tidak menyerah. Ini adalah penyiksaan sistematis yang dilakukan oleh pria yang pernah ia layani selama setahun penuh.
"Kenapa dia sangat membenciku?" tanya Asha, suaranya nyaris hilang.
Penjaga itu menarik kakinya dan berdiri tegak. "Karena kau hanyalah alat kontrak yang sudah kedaluwarsa, Nyonya. Di Neovault, barang yang sudah tidak berguna hanya punya dua pilihan: dibuang atau dihancurkan sampai tidak berbekas."
Asha mencoba untuk bernapas lebih dalam, meskipun itu menyakitkan. Ia merasakan perutnya mual luar biasa. "Aku tidak akan... menandatanganinya sekarang. Aku ingin bertemu Arlan."
"Tuan Arlan sedang berpesta dengan Nona Elena di pusat kota. Beliau tidak punya waktu untuk melihat bangkai sepertimu. Jika kau belum menandatanganinya besok pagi, aku diperintahkan untuk membiarkanmu di sini tanpa air. Kita lihat berapa lama kau bisa bertahan dengan luka terbuka seperti itu," sahut penjaga itu sebelum berbalik pergi.
Pintu besi besar itu ditutup dengan dentuman keras yang bergema di seluruh ruangan, meninggalkan Asha dalam kegelapan yang lebih pekat dari sebelumnya. Asha terisak pelan, tubuhnya meringkuk seperti janin di atas semen yang dingin. Rasa sakit di bahunya, bekas cerutu Elena yang kini mulai bernanah, terasa seperti terbakar kembali. Ia meraba-raba dinding gudang yang kasar, mencoba mencari kekuatan untuk sekadar duduk, namun kekuatannya telah sirna.
"Aku harus bertahan... aku tidak boleh mati di sini," bisik Asha pada kegelapan.
Namun, bayangan Arlan yang sedang tertawa bersama Elena di atas penderitaannya terus menghantui pikirannya. Ia menyadari sepenuhnya bahwa di Neovault, hukum moralitas tidak berlaku. Kekuasaan Arlan mampu menutupi segala kejahatan, termasuk membiarkan istrinya sekarat di gudang terpencil. Asha merasa seolah-olah ia sedang tenggelam dalam lautan es yang luas, di mana tidak ada satu pun tangan yang terulur untuk menyelamatkannya.
Satu jam berlalu, atau mungkin berjam-jam, Asha tidak tahu pasti. Waktu seolah berhenti di gudang dingin itu. Kepalanya semakin berdenyut hebat, dan ia mulai merasakan demam yang tinggi membakar tubuhnya. Ia berhalusinasi melihat Arlan berdiri di depannya, memegang segelas wiski dan tersenyum sinis.
"Asha, menyerahlah. Kau tidak punya apa-apa lagi," suara halusinasi Arlan terngiang di telinganya.
"Tidak... tidak akan..." igau Asha di tengah demamnya.
Ia tahu bahwa membatalkan tuntutan pembagian harta berarti ia akan keluar dari pernikahan ini dengan tangan kosong, kembali ke kemiskinan yang dulu ia coba hindari, namun tetap hidup. Tapi menyerah sekarang berarti mengakui kekalahan telak di depan pria yang telah menginjak-injak harga dirinya sebagai manusia. Dilema itu terus berputar di otaknya yang cedera, sementara rasa sakit fisik terus menekannya hingga batas maksimal.
"Mengapa cinta bisa berubah menjadi racun seperti ini?" ratap Asha dengan suara yang semakin melemah.
Ia mencoba mengingat kembali awal pernikahan mereka. Kontrak itu. Kontrak yang semula ia anggap sebagai jalan keluar, ternyata adalah rantai besi yang kini mencekik lehernya. Di gudang dingin distrik Rust ini, Asha Valeska menyadari bahwa hidupnya hanyalah sebuah angka dalam lembaran saham Arlan. Jika angka itu tidak lagi menguntungkan, Arlan akan menghapusnya tanpa ragu.
Asha mencoba merangkak menuju meja kecil tempat map itu berada, namun setiap inci pergerakan membuat tulang rusuknya seolah menusuk organ dalamnya. Ia terjatuh kembali, wajahnya menghantam semen yang berdebu. Napasnya tersengal-sengal, pendek dan cepat. Ia menatap ke arah pintu besi yang tertutup rapat, berharap ada keajaiban, namun yang ia temukan hanyalah bayangan kematian yang mulai merangkak di sudut-sudut ruangan.
"Arlan, kau akan membayar semua ini..." bisik Asha dengan sisa napas terakhirnya sebelum kesadarannya kembali direnggut oleh rasa sakit yang melampaui batas ketahanan manusia.
Gudang itu kembali hening, menyisakan tubuh hancur Asha yang terbaring kaku di tengah hawa dingin Neovault yang tidak berjiwa. Sisa nyawanya seolah berada di ujung tanduk, bergantung pada sebuah tanda tangan yang bisa menyelamatkannya sekaligus menghancurkan martabatnya untuk selamanya. Di luar sana, lampu-lampu kota Neovault bersinar terang, merayakan kekayaan yang dibangun di atas darah dan air mata wanita-wanita seperti Asha. Tidak ada yang tahu, dan tidak ada yang peduli bahwa di gudang karat itu, seorang wanita sedang berjuang melawan maut demi harga diri yang nyaris padam.