NovelToon NovelToon
ISTRI GENDUT MILIK DUKE

ISTRI GENDUT MILIK DUKE

Status: tamat
Genre:Fantasi Wanita / Balas Dendam / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:992.2k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Semua orang tahu Lady Liora Montclair adalah aib bangsawan.

Tubuhnya gendut, reputasinya buruk, dan ia dipaksa menikahi Duke Alaric Ravens, jenderal perang paling dingin di kekaisaran, setelah adiknya menolak perjodohan itu.

Di hari pernikahan, sang Duke pergi meninggalkan resepsi. Malam pertama tak pernah terjadi.

Sejak saat itu, istana penuh bisik-bisik.

"Duke itu jijik pada istrinya karena dia gendut dan jahat."

Namun tak seorang pun tahu, wanita gendut yang mereka hina menyimpan luka, rahasia, dan martabat yang perlahan akan membuat dunia menyesal telah meremehkannya.

Dan ketika Duke Alaric akhirnya tahu kebenarannya, mereka yang dulu tertawa, hanya bisa berlutut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17. PUTRA MAHKOTA

Alaric bergerak lebih cepat dari pada siapa pun yang menyadarinya.

Begitu lengan Putra Mahkota masih melingkar di sekitar bahu Liora, tangan Alaric sudah mencengkeram pergelangan sang penerus kerajaan itu dan menariknya menjauh dengan tegas, tidak kasar, tapi cukup kuat untuk membuat pesan itu jelas.

Liora terkejut sesaat, refleks melangkah mundur, dan tanpa sadar tubuhnya langsung terlindungi di balik dada Alaric.

Postur Duke Ravens berubah sepenuhnya.

Bahunya melebar, rahangnya mengeras, dan tatapannya, dingin, tajam, penuh dominasi, terkunci pada Putra Mahkota.

Ruangan yang tadinya hangat mendadak membeku.

"Cukup," ujar Alaric rendah. "Jaga jarakmu dari istriku, Caelum."

Caelum berkedip, lalu tertawa kecil, jelas terkejut tapi tidak tersinggung.

"Paman," kata sang Putra Mahkota santai, "kenapa kau menatapku seolah aku ingin menelan Liora hidup-hidup?"

Alaric tidak ikut tertawa. Ia menatap tajam Putra Mahkota yang juga adalah keponakannya sendiri.

"Dia istriku," jawab Alaric singkat. "Dan seorang Duchess. Kau tidak sepatutnya memeluknya sembarangan seperti itu."

Nada suara Alaric datar, tapi penuh tekanan.

Liora bisa merasakan ketegangan itu dari dekat, cara dada Alaric naik turun lebih berat dari biasanya, cara telapak tangannya secara refleks sedikit mengarah ke punggungnya, seolah memastikan ia benar-benar aman.

Caelum mengangkat kedua tangan, tanda menyerah. Tidak ingin memprovokasi pamannya yang jelas dalam sikap waspada saat ini.

"Paman, aku tidak akan mengambil Liora darimu," mata Caleum sesantai mungkin.

Alaric menatapnya tajam.

"Jangan panggil namanya langsung seperti itu," tegas Alaric.

Permaisuri berbisik pada Kaisar, "Dia cemburu. Ini langka sekali."

Kaisar menjawab, "Benar. Ini pertama kalinya aku melihat Alaric seprotektif itu pada orang lain."

"Sepertinya menikahkan Alaric dengan Liora memang pilihan yang benar," bisik Permaisuri yang jelas terlihat senang.

Kaisar mengangguk puas.

Putra Mahkota terdiam sesaat, lalu menggaruk kepalanya yang jelas tidak gatal.

"Baiklah, baiklah ... Duchess Liora," kata Caelum canggung. "Paman, aku dan ... eh, Duchess Liora sudah seperti saudara. Kami tumbuh bersama sejak kecil. Jadi jangan takut aku akan menculik istrimu."

Alaric masih menatap Caelum tajam.

"Lagi pula, aku sudah punya perempuan yang kusukai," Caelum mengaku malu-malu.

Ucapan itu seperti petir kecil di ruangan.

Permaisuri langsung berdiri tegak, kipasnya berhenti bergerak.

"Putra Mahkota. Apa yang baru saja kau katakan?" konfirmasi Permaisuri.

Caelum tersipu, telinganya memerah jelas. "Aku ... menyukai seorang perempuan. Tenang saja kalian juga tahu siapa dia. Dia gadis yang sangat lembut," kata Caelum pelan, lalu mengangguk cepat.

Kaisar tertawa kecil, geli melihat reaksi putranya. Mengingatkannya pada dirinya saat bertemu dengan Seraphina, sang Permaisuri dulu.

"Tenanglah, Alaric," ujar Kaisar sambil tersenyum. "Keponakanmu tidak akan mengambil istrimu. Jadi berhenti seperti ingin menelan keponakanmu sendiri."

Namun Alaric belum sepenuhnya tenang. Ia menoleh ke Kaisar dan berkata, "Bukankah tadi Yang Mulia mengatakan Liora pernah menjadi kandidat Putri Mahkota? Artinya pernah ada niat untuk menikahkannya dengan Caelum."

Permaisuri mendengus pelan.

"Awalnya iya," jawabnya jujur. 'Tapi mereka lebih seperti kakak dan adik, selalu bertengkar setiap saat. Dan status kandidat itu juga sudah dicabut sejak Liora remaja. Tidak ada rencana pernikahan setelah itu."

Alaric kembali menatap Caelum; lama, tajam, menilai.

Caelum menghela napas dramatis. "Paman, berhenti menatapku seperti aku musuh negara. Aku tidak akan mengambil istrimu," katanya.

"Duke, tenang, santai, oke," pinta Liora seraya mengelus lengan Alaric.

Alaric melihat Liora lalu menghela napas. Akhirnya, Alaric mengendurkan bahunya. Tarikan napas panjang keluar dari dadanya.

"Baik," kata Alaric "Untuk saat ini."

Liora nyaris tertawa kecil melihat betapa canggung dan manusiawinya Duke Ravens saat ini.

Caelum lalu menatap Liora lebih saksama.

Dan kalimat berikutnya keluar begitu saja dari mulutnya.

"Aku sudah lama tidak melihatmu, tapi ... kenapa kau bertambah gemuk?" ujar Caelum.

Ruangan kembali sunyi.

Permaisuri langsung melirik tajam.

"Putra Mahkota," tegur Permaisuri dingin. "Itu tidak pantas diucapkan."

Caelum panik. "Bukan, bukan maksudku begitu! Aku hanya terkejut melihat perubahan Duchess Liora. Dulu kau jauh lebih ... kau tahu maksudku."

Liora paham, karena bagaimana pun Caelum cukup mengenal Liora sejak kecil.

Caelum mengibaskan tangan, mencari kata yang aman, tapi gagal. Takut membuat salah paham.

Permaisuri memotong, suaranya menusuk. "Seseorang yang membuat Liora seperti ini."

Caelum langsung menegang. "Maksudnya?" Ada yang membuat Liora seperti ini? Siapa?" ulangnya untuk mengonfirmasi.

"Countess," jawab Permaisuri tanpa ragu. "Dan alasannya kau pasti tahu kenapa."

Wajah Caelum langsung mengeras. Tentu saja ia tahu.

Kebencian Countess terhadap Liora bukan rahasia di istana. Bahkan tentang ada kabar lalau kematian ibu Liora adalah karena Countess meracuninya, tapi sampai sekarang belum ada bukti untuk itu.

Liora angkat bicara sebelum suasana makin panas.

"Tenang saja," kata Liora tenang. "Aku tidak berniat diam setelah ini. Mereka sudah terlalu jauh."

Caelum menatapnya dengan kagum, dan sedikit kemarahan yang tertahan.

"Bagus. Kau punya dukunganku. Apa pun yang terjadi," kata Caelum puas karena Liora tidak diam saja setelah apa yang gadis itu dapatkan.

Lalu Caelum menoleh ke Alaric. "Tapi, Paman ..."

Alaric mengangkat alis. "Ada apa?"

"Lady Lydia sudah kembali ke ibu kota," beritahu Caelum dengan wajah serius.

Nama itu jatuh seperti pisau dingin.

Wajah Alaric mengeras seketika. Rahangnya mengatup, urat di pelipisnya berdenyut.

Liora langsung menyadari perubahan itu.

"Siapa Lydia?" tanya Liora pelan, penasaran.

Caelum menjawab tanpa beban. "Perempuan yang terobsesi dengan Paman Alaric."

Alaric mengerang kesal. "Perempuan menyusahkan."

Permaisuri mengangguk setuju. "Dia dominan di kalangan sosialita. Cantik, sombong, dan terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia terobsesi pada Alaric karena Alaric satu-satunya pria yang menolaknya mentah-mentah. Dia tidak mau berhenti sebelum mendapatkan Alaric karena jika tidak, harga dirinya akan terluka."

Liora mendecak pelan. "Tipe yang menyebalkan."

Alaric menatap Liora, serius. "Tidak perlu dipikirkan. Aku bersumpah aku sungguh tidak tertarik pada perempuan seperti itu."

Liora tersenyum kecil, seolah takut Liora salah paham. "Aku tahu."

Dan entah mengapa, jawaban sederhana itu membuat dada Alaric terasa ... lebih ringan.

Percakapan mereka berlanjut lama,.tentang politik, pergerakan Count, dan rencana ke depan, hingga akhirnya mereka berpamitan.

Saat kereta kuda bergerak meninggalkan istana, senja menyelimuti ibu kota dengan warna keemasan.

Liora duduk diam, menatap keluar jendela.

Alaric memerhatikannya.."Kau baik-baik saja?" tanyanya.

Liora mengangguk pelan. "Ya. Hanya ... lelah."

Alaric terdiam sejenak, lalu berkata lirih, "Aku tidak tahu masa lalumu sekompleks itu."

Liora tersenyum tipis.

Alaric menoleh, menatapnya sungguh-sungguh. "Kau istriku, Liora. Bebanmu adalah tanggung jawabku. Jadi kumohon jangan rahasiakan apa pun dariku. Izinkan aku juga melindungimu."

Kata-kata itu jatuh berat, tapi hangat. Namun Liora mengangguk setuju.

Liora menutup mata sejenak, membiarkan suara roda kereta menjadi pengantar pikirannya.

Ia tahu.

Kini ia tidak sendirian lagi.

1
Aisyah Suyuti
good
Yunita Sophi
tenang Liora nanti malam aq ketuk pintu nya kenceng biar adu banteng nya batal 🤭🤣🤣🤣
Yunita Sophi
Cauntess knp iri,cemburu atau salah memilihkan jodoh untuk Liora...😂
Yunita Sophi
wow akhir nya rindu nya Alaric terhadap istri cantik nya tersampai kan..
SunShine Kinanti
huuhuuhuu 😍😍😍😍😍😍🤣🤣🤣🤣
SunShine Kinanti
iyaa... kan ada Nyonya Duchess sang partner kerja Tuan Duke
SunShine Kinanti
ciyeeee... gimana entar, pipi lilola nggak gembul lagiii... makin cinta pastinya.. 😍😍😍
SunShine Kinanti
MaasyaaAllaahh.. kerrreeeenn bangeett sejak awaall.... akuu deg deg ann paraah... ini mh sihir mudah mudahan, aslinya Alaric gak kenapa napa
🌹🪴eiv🪴🌹
dia sepupu kok 🤣
tenang
🌹🪴eiv🪴🌹
ah......lilola ku tahu
🌹🪴eiv🪴🌹
kok aku yang terhura 🤧😭
🌹🪴eiv🪴🌹
sampai sesuatu yg besar terjadi
Wita Nadia
semangat bagus
Archiemorarty: Terima kasih udah baca ceritanya kak 🥰
total 1 replies
Ulla Hullasoh
wowwww💪
Calisa
wkwkwk.. putra mahkota langsung panik 🤣
emma mahriana
🤣🤣🤣🤣
emma mahriana
malah aku yg terkejut inimah😄
SunShine Kinanti
Permaisuri adalah mata rantai pusat nya.. Ketua lapor ke Istana itu, ternyata pada Permaisuri, ya...
Archiemorarty: Betull 🤭
total 1 replies
SunShine Kinanti
hhaaahhh?? dan Duke Alaric, adalah adik Kaisar??? wow.. terlalu banyak kejutan 😍😍
SunShine Kinanti
loh loh loohh.. ternyaataaa 😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!