NovelToon NovelToon
Olaf & Cyntaf

Olaf & Cyntaf

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu / Romantis
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Orang lama menang karena sejarah, tapi orang baru menang karena masa depan."

Azeant Apolo-valerio kehilangan cintanya, namun menemukan kembali harga dirinya. Kata "Putus" dari Claudia Astor seharusnya menjadi akhir, namun bagi pewaris tunggal keluarga Valerio ini, itu hanyalah sebuah awal dari pembebasan.

Apolo adalah pria yang hidup dalam presisi rumus teknik, namun ia gagal menghitung variabel ego seorang wanita yang hanya haus akan validasi.

Segalanya berubah saat sebuah notifikasi dari aplikasi kencan masuk, membawa nama Veronica Brooklyn.
Gadis itu adalah anomali; dia tidak memuja ketampanan Apolo, malah menantangnya dengan kejujuran yang Brutal.

Veronica hadir bukan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Claudia, melainkan untuk menciptakan standar baru yang tak pernah Azeant Apolo-valerio bayangkan sebelumnya.

Apolo belajar bahwa terkadang, orang yang datang paling akhir adalah satu-satunya yang layak menjadi yang pertama.

🦋
Selamat Membaca 🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#12

Sore di Manhattan baru saja berganti menjadi senja yang berkabut. Di parkiran luas kampus NYU, dua pria dengan postur tubuh yang menarik perhatian—Azeant Apolo-Valerio dan Ailen—berdiri di samping mobil sport mereka.

Apolo tampak merapikan kemejanya, sementara Ailen terus-menerus melirik ponselnya dengan gerakan gelisah yang berusaha ia sembunyikan.

"Kau yakin alat sensor frekuensi tinggi itu ada di Mall kawasan ini, Ai? Bukankah biasanya kita harus memesannya langsung dari Jerman?" tanya Apolo, suaranya datar namun penuh selidik. Sebagai seorang perfeksionis dalam proyek tekniknya, ia tidak suka membuang waktu.

"Iya, aku melihatnya di toko hobi teknologi premium di lantai empat mall itu dua hari lalu. Stoknya terbatas, Pol. Kita harus ke sana sekarang sebelum diambil orang," jawab Ailen berbohong tanpa berkedip.

Ailen sebenarnya tidak peduli pada alat sensor apa pun. Sepuluh menit yang lalu, ia hampir meledak saat melihat Instagram Story Theana.

Gadis itu mengunggah foto dua tiket bioskop untuk jam tujuh malam ini di Mall kelas atas dekat kampus, lengkap dengan caption menantang: "Movie night with my favorite bitch! No boys allowed!"

Ailen tidak tahan. Sudah satu jam ia mengatur segalanya. Dengan kekuatan uang dan pengaruhnya, ia telah menyewa orang untuk memesan dua kursi tepat di samping Theana dan sahabatnya itu. Rencananya sederhana namun gila: ia akan mencium Theana sampai gadis itu kehilangan napas di tengah kegelapan bioskop, mengulang memori ciuman pertama mereka dulu yang juga terjadi di barisan belakang teater.

"Film itu masih Satu jam lagi, aku masih punya waktu," gumam Ailen sambil menarik Apolo masuk ke mobil.

Satu jam berlalu di Mall mewah tersebut, dan kesabaran Apolo mulai habis. Mereka sudah berkeliling dari satu lantai ke lantai lain, namun toko yang dimaksud Ailen seolah-olah menghilang ditelan bumi.

"Di mana kau melihatnya, Ai? Kita sudah berputar tiga kali di lantai empat," tanya Apolo, suaranya mulai mendingin.

"Gila... aku benar-benar lupa posisinya. Mungkin di sisi lain?" Ailen menjawab asal, matanya justru terpaku pada pintu masuk bioskop.

Di sana, ia melihat siluet yang sangat ia kenal. Theana berdiri di sana bersama seorang gadis ber-dress musim gugur yang tampak anggun dari belakang.

"Bagaimana kalau kita menonton saja? Aku punya tiketnya, Pol. Lagipula toko itu pasti sudah tutup," ucap Ailen tiba-tiba sambil menunjukkan kode QR di ponselnya.

Apolo memutar matanya malas. Ia bukan orang bodoh. Ia menatap Ailen dengan pandangan tajam yang mematikan. "Kau membohongiku ternyata. Semua ini hanya sandiwara untuk mengejar mantanmu itu?"

Ailen menghela napas, menyerah. "Ayolah! Bantu aku kali ini, brother. Theana... dia sudah masuk ke dalam. Aku tidak bisa membiarkannya menonton sendirian—maksudku, bersama sahabatnya itu. Cepat, sebelum filmnya dimulai!"

Apolo mendengus, namun melihat wajah frustrasi sahabatnya, ia akhirnya mengalah. "Hanya kali ini, Ailen. Dan kau berhutang penjelasan soal alat itu padaku."

Di dalam studio bioskop yang remang, Veronica baru saja duduk dan menyesuaikan posisinya. Ia merasa sedikit lebih tenang setelah kejadian menyebalkan di perpustakaan siang tadi. Namun, ketenangannya hancur seketika saat sebuah bayangan besar menutupi pandangannya.

"Hey—" Veronica tersentak saat seseorang tiba-tiba mengambil alih kursinya dengan paksa.

Itu Ailen. Si Bucin B5.

"Kau duduk di sebelah sana," perintah Ailen tanpa basa-basi, menggeser Veronica ke kursi nomor 12 agar ia bisa duduk tepat di samping Theana.

Theana melompat di kursinya, matanya membelalak kaget. "Kau menguntit kami, brengsek?! Bagaimana kau bisa tahu kami di sini?"

"Ya, aku menguntitmu. Dan sekarang, mari kita nikmati filmnya," jawab Ailen dengan nada posesif yang membuat Theana mendadak bungkam meski wajahnya merah padam karena marah—atau mungkin malu.

Sementara itu, Veronica yang kini terdesak ke kursi sebelah, merasakan jantungnya berhenti berdetak sesaat.

Di samping kirinya adalah Ailen yang sedang berdebat bisik dengan Theana, namun di samping kanannya... sosok tinggi dengan aura dingin itu duduk dengan tenang.

"Gila... si Bangsawan ini juga kemari?" batin Veronica tak percaya.

Formasi duduk mereka kini sangat aneh: Theana di ujung, Ailen, Veronica, dan kemudian Apolo di sisi luar. Belum ada satu menit film dimulai, layar raksasa di depan mereka langsung menyuguhkan adegan ciuman panas di awal cerita.

"Theana mesum! Kenapa dia memilih film romance-adult seperti ini?" maki Veronica dalam hati sambil menatap lurus ke depan dengan kaku.

Namun, fokus Apolo tidak pada layar. Sejak ia duduk, indra penciumannya diserang secara brutal. Wangi lavender ini... ini bukan lagi sekadar familiar. Ini adalah kode genetik yang sudah terpatri di otaknya. Wangi ini adalah wangi Vea.

Apolo menoleh pelan, menatap profil samping gadis di sebelahnya. Dalam kegelapan bioskop, hanya ada pantulan cahaya film yang redup, namun siluet garis wajah itu, bentuk bibir itu...

Deg.

"Vea..." ucap Apolo pelan, hampir berupa bisikan yang sarat akan ketidakpercayaan.

Veronica tersentak. Ia menoleh kaget. "Ya?" jawabnya refleks. Di kampus, hanya sedikit orang yang memanggilnya Vea.

Tapi sedetik kemudian, otaknya berputar cepat. Suara bariton ini. Getaran ini. Siluet yang tegak ini.

"Azeant...?" ucapnya tercekat, suaranya bergetar.

Apolo tidak menunggu penjelasan lagi. Seluruh rasa gelisah selama seminggu ini, kemarahan karena diabaikan, dan gairah yang tertahan meledak begitu saja. Ia langsung condong ke depan, meraup wajah Veronica dan mencium bibirnya dengan intensitas yang mengejutkan.

Veronica membelalak. Pikirannya kosong. Azeant... si Bangsawan sombong? Si 'Apel' yang ia benci di perpustakaan siang tadi adalah Azeant-nya? Pria yang menyerahkan diri padanya dalam kegelapan adalah pria yang paling dihormati di kampus nya?

Kewarasannya benar-benar tidak sinkron. Ini di bioskop! Pasangan gila mana yang berciuman di tengah penonton? Namun, rasa rindu yang ia pendam selama seminggu berkhianat.

Bukannya mendorong dada Apolo, ia justru membalas ciuman itu dengan desahan tertahan, membiarkan lidah mereka bertaut di tengah kebisingan sound system bioskop.

Apolo melepaskan pagutannya perlahan, jempolnya menghapus sisa saliva di sudut bibir Veronica. Matanya berkilat dalam kegelapan. "Rupanya semesta ingin kita bertemu, Vea. Ternyata kau selalu berada di sekitarku?"

Kesadaran Veronica kembali pulih. Ia tiba-tiba teringat kejadian di perpustakaan. Dengan emosi yang meluap, ia langsung mencubit perut Apolo dengan keras.

"Ouch!" Apolo meringis pelan.

"Brengsek!" bisik Veronica dengan suara kecil yang sarat kemarahan. "Siang tadi kau menghindar dariku di perpustakaan seolah-olah aku ini sampah. Kau langsung pergi begitu aku duduk! Dan sekarang kau berani menciumku?"

Apolo tertegun, lalu sebuah tawa rendah keluar dari tenggorokannya. Ia menarik napas dalam, aroma lavender itu kembali memenuhi paru-parunya.

"Kau tidak mengerti... siang tadi aku mencium wangi lavendermu, dan aku langsung kehilangan konsentrasi. Aku tidak tahan berada di dekatmu, jadi aku memilih pergi untuk menjaga kewarasanku. Aku tidak tahu itu kau, Vea."

Veronica tertegun. "Benarkah?"

"Apa yang kau pikirkan? Bahwa aku membencimu?" Apolo mendekatkan wajahnya lagi, hidung mereka bersentuhan. "Kau membuatku gila selama seminggu ini."

"Lepaskan aku, Azeant... ini tempat umum," bisik Veronica, mencoba mencari kembali harga dirinya sebagai mahasiswa berprestasi yang dingin.

Namun, sebelum Apolo bisa menjawab, sebuah suara dari arah samping mereka memecah suasana.

"Ahh... mmm..."

Suara desahan pelan namun jelas terdengar dari kursi sebelah. Veronica dan Apolo serentak menoleh.

Di kegelapan kursi barisan itu, siluet Ailen dan Theana tampak menyatu. Ailen benar-benar melakukan niat gilanya—dia sedang mencium Theana dengan brutal, dan Theana, sahabat mesum Veronica itu, tampaknya tidak lagi melawan, malah memberikan respons yang sangat vokal.

Veronica memejamkan mata, menepuk dahinya sendiri. "Sahabatmu benar-benar Gila, Azeant."

"Sahabatmu juga tidak jauh berbeda, Vea," sahut Apolo sambil menarik tangan Veronica, menggenggamnya erat di atas sandaran kursi.

"Sekarang, karena mereka sedang sibuk... bagaimana kalau kita melanjutkan pembicaraan kita yang sempat tertunda?"

Di dalam studio yang gelap itu, dua rahasia besar telah terbongkar, meninggalkan aroma lavender yang kini bercampur dengan wangi kemenangan sang Bangsawan.

1
Xiao Ling Yi
Dia itu perwakilan perempuan paling nyebelin sedunia
Ros 🍂: hihi🤭
total 1 replies
ren_iren
semangatt kak nulisnya, ceritamu selalu tak tunggu 🤗
Ros 🍂: ma'aciww ya kak. author tunggu masukannya 🫶
total 1 replies
Wifasha
kok gk da,ngulang lg nih bca nya dri awal
Ros 🍂: Maaf ya kak 🫶 cerita nya sudah direvisi, Dan mulai dari awal lagi. dan dengan cerita yang berbeda 🙏🏼🥰
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Bagus lh, ngaku sendiri 🤣🤣🤣
Ros 🍂: Reader silent Silent 🤣🤣🤭
total 3 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
B.... ehhh ini aja, Ade, lebih manis, Pemain 🤣🤣🤣
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ: Logan, 2 kali kena Karma ya, De 🤣🤣🤣
total 2 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
wkwkwk menang di 'card' juga sih 🤣🤣🤣
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ: 'Black', yg keluar, auto kalah smua y, De, temen² Apolo itu 🤣🤣🤣
total 2 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Kiwww Kiwww Visual di lempar ke 'Arena' ini 🤣🤣🤣
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ: Hi hi Fav ya, De 🤣🤭🥳
total 2 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Ht², jgn sampe hangus 🤣🤣🤣
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ: Hi hi 🤣🤣🤣
total 4 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Biasaa, cwo msh kudu dgetok martil dulu baru sadar-sesadarny 🤦🤦🤦
Ros 🍂: Mari kita getok Bersama Kak 🤭🤣🤣🫣
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Awas y, jgn nyesel udh putusin Apolo
Ros 🍂: iyaa kak 🫶🥰
total 3 replies
ren_iren
selalu menyukai debaran tulisan yg kau ciptakan kak.... serasa diriku masuk ke ceritanya liat adegan2 mereka yg malu2 meowwww... 😂🤣
Ros 🍂: ma'aciww ya kak 🫶😍 semoga suka cerita nya🥰
total 1 replies
ren_iren
gasssss bacaa bacaaa....... 🤗
ren_iren: always kak 🤗
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!