Ini bukan kisah cinta yang indah dan damai, melainkan hubungan yang dibangun di atas kekuasaan, ketakutan, dan hasrat yang membara namun membinasakan.
Disclaimer: ini cerita pendek
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lusi rohmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN YANG TIDAK DIINGINKAN
Alana dibawa berjalan cepat menyusuri lorong-lorong yang sebelumnya tidak pernah ia lewati. Jalanannya gelap, hanya diterangi cahaya lampu remang-remang yang dipasang di dinding. Sepanjang perjalanan, ia hanya diam saja, pikirannya kacau balau. Bayangan wajah Raka, perkataannya, pelukannya—semua itu terus berputar di kepalanya, bercampur dengan rasa takut yang semakin membesar. Ia takut, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk orang yang baru saja ia tinggalkan.
Sesampainya di tempat yang dituju, ternyata itu adalah ruangan kecil yang tersembunyi di bagian paling bawah gedung. Tempatnya sepi, agak lembab, tapi tertutup rapat dan aman. Begitu masuk, orang-orang yang mengantarnya langsung pergi dan menutup pintu rapat-rapat, meninggalkannya sendirian di sana.
Ia duduk di sudut ruangan, memeluk lututnya. Dari kejauhan, samar-samar terdengar suara-suara—suara teriakan, suara benturan, suara tembakan yang sesekali terdengar dan membuat tubuhnya bergetar hebat. Setiap kali suara itu terdengar, jantungnya berdegup makin kencang. Ia membayangkan apa yang sedang terjadi di atas sana, membayangkan orang-orang yang saling berhadapan, orang-orang yang ia sayangi ada di antara mereka.
><><><><
Di tempat lain, di bagian depan gedung, suasana benar-benar sudah berubah. Cahaya lampu yang tadinya terang kini berkelap-kelip, sebagian sudah padam terkena dampak pertempuran. Di antara keributan itu, Raka berdiri di tempat yang agak tinggi, menatap ke arah orang-orang yang datang menyerang. Wajahnya tenang, bahkan terasa dingin, seolah apa yang terjadi di hadapannya itu hanyalah hal yang sepele saja.
Dan di antara barisan orang yang datang itu, ada ayahnya. Gubernur William berdiri di bagian depan, wajahnya tegang dan penuh amarah. Begitu matanya bertemu dengan mata Raka, ia langsung melangkah maju.
“Raka! Akhirnya aku bisa bertemu denganmu secara langsung!” seru Gubernur William, suaranya keras dan menggema di seluruh tempat itu.
“Selama ini kau bersembunyi saja di balik bayangan, merusak ketertiban, menyakiti orang-orang yang tidak bersalah. Hari ini aku akan mengakhiri semuanya!”
Raka menatapnya dengan pandangan yang datar, lalu tertawa kecil. Suara tawanya terdengar menusuk dan membuat orang-orang di sekitarnya merinding.
“Mengakhiri? Kau pikir semudah itu, Pak Gubernur? Selama bertahun-tahun kau berusaha menjatuhkanku, tapi lihatlah... aku masih ada di sini, masih berdiri tegak, sedangkan dirimu? Kau hanya bisa bergerak diam-diam, datang dengan membawa banyak orang seolah kau itu pahlawan yang benar-benar berkuasa.”
Ia melangkah turun perlahan, langkahnya teratur dan tidak ada rasa takut sama sekali.
“Dan omong-omong... kau bilang aku menyakiti orang yang tidak bersalah? Apa kau sudah lupa dengan apa yang kau dan orang-orangmu lakukan dulu? Apa kau sudah lupa bagaimana kalian menghancurkan hidupku, membunuh keluargaku, hanya demi mengambil apa yang kami miliki? Apa itu tidak termasuk menyakiti orang yang tidak bersalah?”
Wajah Gubernur William berubah. Ada kilatan rasa bersalah yang sekilas terlihat, tapi ia cepat-cepat menutupinya kembali dengan raut wajah yang keras.
“Itu sudah masa lalu! Itu hal yang sudah selesai dan tidak bisa diubah lagi! Dan apa yang kau lakukan sekarang itu jauh lebih buruk dari apa yang terjadi dulu!” serunya lagi.
“Dan satu hal lagi... di mana putriku? Di mana Alana? Aku tahu ia ada di sini. Serahkan ia padaku, dan mungkin aku bisa mempertimbangkan untuk tidak bertindak seberat-beratnya padamu.”
Mendengar nama itu disebutkan, tatapan mata Raka berubah menjadi lebih tajam dan penuh rasa memiliki. Ia berhenti melangkah, lalu menatap lurus ke arah ayah Alana.
“Alana ada di tempat yang aman. Dan ia akan tetap di sana, bersamaku. Kau tidak akan bisa membawanya pergi,” katanya tegas.
“Kau mau ia kembali ke sisimu? Supaya kau bisa mengaturnya seperti barang milikmu sendiri? Supaya kau bisa menjadikannya alat untuk kepentingan dirimu sendiri? Kau tidak pernah memikirkan apa yang ia inginkan, apa yang ia rasakan. Yang ada di pikiranmu hanyalah dirimu sendiri, kekuasaanmu, dan apa yang bisa kau dapatkan dari orang lain.”
“Kau tidak tahu apa-apa tentang keluargaku! Aku melakukan semua ini demi kebaikan dia, demi kebaikan semua orang!” bentak Gubernur William, amarahnya sudah memuncak.
“Kebaikan?” Raka menggeleng pelan, senyum miring terukir di bibirnya.
“Kebaikan yang membuat ia merasa terpenjara seumur hidupnya? Kebaikan yang membuat ia tidak pernah bisa merasakan kebebasan, tidak pernah bisa memilih apa yang ia mau? Kau bilang aku orang yang jahat, orang yang mengatur hidupnya. Tapi coba kau lihat dirimu sendiri. Apa bedanya aku dengan dirimu? Bedanya cuma satu saja... aku melakukan semua ini karena aku mencintainya, sedangkan kau melakukan ini karena kau hanya ingin memilikinya dan mengaturnya.”
Kata-kata itu membuat Gubernur William terdiam sejenak. Ia tidak menyangka akan mendengar hal seperti itu dari mulut orang yang ia anggap sebagai musuh bebuyutannya.
“Kau... kau mencintai dia?” tanyanya, suaranya terdengar tidak percaya.
“Orang sepertimu mana mungkin kau bisa mencintai seseorang dengan tulus? Kau hanya ingin memanfaatkannya saja, bukan? Kau hanya ingin memakainya sebagai senjata untuk menghancurkanku!”
“Memang awalnya begitu,” akui Raka terus terang, membuat orang-orang di sekitarnya terkejut mendengarnya.
“Awalnya aku mengincarnya hanya karena ia milikmu, karena ia hal yang paling kau sayangi. Tapi seiring berjalannya waktu... semuanya berubah. Ia bukan lagi alat bagiku, bukan lagi sekadar sarana untuk membalas dendam. Ia menjadi alasan aku bertahan hidup, menjadi satu-satunya hal baik yang aku miliki di dunia yang sudah gelap ini. Dan aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun mengambilnya dariku. Bahkan kalau itu ayahnya sendiri sekalipun.”
Suasana menjadi hening seketika. Tidak ada yang berbicara, hanya suara napas orang-orang yang terdengar. Gubernur William menatap Raka lama, dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu di dalam tatapan orang itu—sesuatu yang bukan lagi kebencian atau keinginan untuk berperang, tapi sesuatu yang tulus dan mendalam. Sesuatu yang membuatnya sadar bahwa apa yang dikatakannya itu bukan sekadar omongan kosong belaka.
Tapi perasaan itu tidak bertahan lama. Ingatan akan semua hal yang sudah terjadi, semua orang yang terluka, semua kerusakan yang ditimbulkan, kembali memenuhi pikirannya. Ia menggenggam tangannya erat-erat, sampai buku-buku jarinya terlihat memutih.
“Tidak peduli apa alasanmu, tidak peduli apa yang kau rasakan... apa yang kau lakukan itu tetap salah. Dan aku tidak akan pernah membiarkan putriku hidup bersama orang sepertimu,” ujarnya tegas.
“Ia hidup di dunia yang teratur, yang baik. Sedangkan dirimu? Kau hidup di dunia yang kotor, yang penuh dengan kejahatan. Kau tidak pantas ada di sampingnya.”
“Lalu siapa yang pantas? Orang-orang munafik sepertimu dan orang-orang sekitarmu? Orang yang di depan terlihat suci dan baik, tapi di belakang melakukan hal-hal yang sama buruknya, bahkan lebih buruk lagi dariku?” balas Raka cepat, nada bicaranya makin meninggi.
“Kau mau ia hidup di dunia yang hanya penuh dengan kepura-puraan, yang tidak ada satu pun hal yang nyata di dalamnya? Sedangkan aku... aku tidak pernah menutupi apa pun darinya. Aku tunjukkan padanya siapa aku sebenarnya, aku ceritakan semuanya apa adanya. Ia tahu sisi baik dan burukku, dan ia tetap ada di sisiku. Itu artinya sesuatu, bukan?”
Gubernur William tidak punya jawaban untuk itu. Ia tahu apa yang dikatakan orang itu ada benarnya, tapi harga dirinya dan apa yang ia yakini selama ini tidak memungkinkannya untuk mengakuinya.
“Cukup sudah omongan ini!” katanya akhirnya.
“Serahkan ia padaku sekarang juga, atau kita akan lihat siapa yang akan menang di antara kita berdua.”
Raka mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat pada orang-orang di belakangnya. “Kalau itu yang kau mau... aku siap. Tapi ingat perkataanku sebelumnya. Aku tidak akan menyakitimu, karena ia tidak akan pernah memaafkanku kalau aku berbuat begitu. Tapi itu bukan berarti aku akan membiarkan kau mengambil apa yang menjadi milikku.”
Pertempuran pun kembali pecah. Suara-suara keras kembali terdengar, memenuhi seluruh ruangan. Kedua belah pihak saling berhadapan, masing-masing punya tujuan dan keyakinan sendiri-sendiri.
Sementara itu, di ruangan tempat Alana bersembunyi, ia masih mendengar semuanya. Suara benturan, suara teriakan, dan yang paling membuatnya terkejut... ia mendengar suara ayahnya dan suara Raka yang berbicara satu sama lain. Dinding di tempat itu tidak terlalu tebal, sehingga percakapan mereka bisa terdengar cukup jelas.
Ia mendengar semuanya—cerita masa lalu, alasan di balik segala hal yang terjadi, perasaan yang diungkapkan, semuanya. Air matanya mengalir terus-menerus tanpa henti. Kini ia tahu segalanya, tahu dari mana asal mula semua masalah ini, tahu bahwa tidak ada satu pun di antara mereka yang sepenuhnya benar atau sepenuhnya salah. Semuanya terjalin, semuanya saling berhubungan, dan ia ada tepat di pusatnya.
Ia tidak bisa diam saja lagi. Ia tidak bisa hanya duduk dan menunggu saja, sementara orang-orang yang ia sayangi bisa saja terluka atau bahkan mati karena permasalahan ini. Ia harus berbuat sesuatu. Ia harus menghentikan semuanya.
Ia bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju pintu. Pintu itu terkunci, tapi kuncinya tidak terlalu kuat. Dengan usaha yang keras, ia berhasil membukanya. Ia tahu ini berbahaya, ia tahu ia bisa saja celaka, tapi ia tidak peduli lagi. Bagaimanapun juga, ia harus ke sana. Ia harus melihat semuanya dengan matanya sendiri, dan ia harus mengakhiri ini entah dengan cara apa pun.
Ia berjalan menyusuri lorong-lorong itu lagi, hati berdebar kencang, tubuh gemetar karena takut, tapi kakinya terus melangkah. Suara-suara makin terdengar jelas seiring ia berjalan makin dekat. Akhirnya, ia sampai juga di tempat itu.
Begitu ia muncul di ambang pintu, semua orang seketika berhenti bergerak. Suasana yang tadinya riuh dan kacau seketika menjadi sunyi senyap. Semua mata tertuju padanya.
Di satu sisi ada ayahnya, wajahnya penuh kekhawatiran dan kaget. Di sisi lain ada Raka, tatapannya campuran antara lega, takut, dan juga marah—marah karena ia keluar dari tempat aman yang sudah disiapkan untuknya.
Alana berjalan masuk ke tengah-tengah di antara mereka, berdiri tepat di garis pemisah antara kedua belah pihak. Napasnya terengah-engah, wajahnya basah oleh air mata, tapi tatapannya terlihat tegas dan penuh tekad.
“Cukup!” serunya, suaranya yang terdengar lemah itu ternyata bisa terdengar jelas oleh semua orang.
“Hentikan semuanya ini sekarang juga!”
Ia menoleh ke arah ayahnya, lalu ke arah Raka bergantian.
“Aku sudah dengar semuanya. Aku sudah tahu apa yang terjadi di masa lalu, aku sudah tahu alasan di balik semua ini. Dan aku mau katakan satu hal pada kalian berdua... aku lelah. Aku lelah menjadi alasan dari semua ini. Aku lelah menjadi orang yang diperebutkan, orang yang dijadikan sasaran, orang yang dijadikan alat untuk segala hal.”
Air matanya kembali menetes, tapi kali ini ia tidak menyekanya.
“Ayah... aku sayang padamu. Aku tahu kau melakukan semua ini karena kau sayang padaku juga. Tapi kau salah. Kau pikir dengan menjagaku seketat ini, dengan mengatur segala hal dalam hidupku, itu artinya kau menyayangiku? Tidak, Yah. Itu justru membuatku merasa seperti tidak punya hidupku sendiri. Aku tidak pernah bebas, aku tidak pernah bisa memilih apa yang aku mau. Aku selalu hanya mengikuti apa yang kau katakan, apa yang kau inginkan.”
Kemudian ia menoleh ke arah Raka, dan suaranya berubah menjadi lebih lembut tapi tetap tegas.
“Dan kau... aku juga tidak bisa menyangkal apa yang aku rasakan padamu. Aku tahu kau orang yang berbeda dari apa yang orang lain lihat. Aku tahu kau punya luka, aku tahu kau juga orang yang terluka. Dan aku tahu perasaanmu padaku itu sungguh-sungguh. Tapi kau juga salah. Kau tidak bisa melakukan apa saja sesukamu, kau tidak bisa mengatur hidup orang lain hanya karena kau merasa itu yang terbaik, atau hanya karena kau mau memilikinya. Cinta itu bukan berarti memegang dan menguasai, tapi juga memberi kebebasan, menghormati apa yang orang lain inginkan.”
Ia berhenti sejenak, menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya.
“Dan sekarang... aku yang akan memilih. Aku yang akan memutuskan apa yang akan aku lakukan, dan dengan siapa aku akan hidup. Ini adalah hidupku, dan aku yang berhak menentukannya, bukan orang lain. Tidak ada satu pun dari kalian yang berhak memaksaku melakukan apa pun.”
Semua orang diam saja, menatapnya dengan berbagai perasaan. Ayahnya tampak terpukul mendengar kata-kata putrinya sendiri, sedangkan Raka menatapnya dengan pandangan yang sulit diungkapkan—ada rasa bangga, ada rasa sedih, dan juga ada rasa takut akan apa yang akan ia katakan selanjutnya.
Alana menatap keduanya bergantian, dan akhirnya ia melanjutkan dengan suara yang jelas dan tegas.
“Aku tidak mau ada lagi pertumpahan darah. Aku tidak mau ada lagi orang yang terluka atau mati. Aku mau semuanya berakhir di sini juga. Kalau memang ada kesalahan, biarlah diselesaikan dengan cara yang benar, bukan dengan cara saling melukai seperti ini. Dan aku mau kalian berdua berjanji padaku... tidak akan ada lagi permusuhan, tidak akan ada lagi kejahatan dan kekerasan. Kalau kalian benar-benar sayang padaku, kalau perasaan kalian itu benar-benar ada... penuhi permintaanku ini.”
Ia berhenti, lalu menambahkan dengan suara yang bergetar karena emosi yang memuncak.
“Karena kalau tidak... aku tidak akan tinggal dengan salah satu dari kalian. Aku akan pergi sendirian, dan kalian tidak akan pernah melihatku lagi. Itu janjiku.”
Kata-kata itu menggantung di udara, terasa begitu berat dan nyata. Tidak ada yang berbicara, tidak ada yang bergerak. Semua orang menunggu, menunggu apa yang akan diputuskan oleh dua orang yang paling berkuasa di tempat itu.