NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN VAMPIR TERKUAT DARI TIDUR PANJANG

KEBANGKITAN VAMPIR TERKUAT DARI TIDUR PANJANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:220
Nilai: 5
Nama Author: Arafi Arif Dwi Firmansyah

Kurza adalah vampir terkuat dimasa lalu, entah apa yang ada dipikiranya sehingga dia memutuskan untuk beristirhat/tidur di dalam sebuah goa . sebelum Putri Kerajaan Alabas tanpa sengaja membangunkan Kurza dari tidurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arafi Arif Dwi Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2. Takdirlah yang membangkitkanku

Di Desa Vergreen yang terletak di pegunungan tinggalah seorang gadis cantik yang menawan, dia berkerja sebagai pengumpul tumbuhan herbal. Khiya namanya, gadis ceria dan baik hati ini tinggal bersama neneknya. Desa Vergreen dikenal sebagai pemasok tumbuhan herbal dan dijual ke kota untuk dijadikan obat.

Di suatu pagi Khiya hendak berpamitan dengan neneknya untuk pergi ke hutan mencari tumbuhan seperti biasanya. Namun belum sempat Khiya berpamitan "BRAKK!" suara pintu di dobrak di susul suara neneknya "Khiya,, Khiya,, lari Khiya rumah kita diserang bandit" "ahhhhh,,, Khiya lari" suara kecil dari neneknya yang sudah ditusuk oleh bandit. Mendengar teriakan neneknya dan kegaduhan didepan ruang tamu Khiya belari kedepan, alangkah kagetnya Khiya melihat neneknya sudah terbaring dilantai dengan bersimbah darah. "Nenek,,, nenek,,," teriak Khiya.

Ada salah satu dari Bandit yang melihat Khiya dan mencoba untuk menangkapnya, namun Khiya berhasil menghindar dan lari keluar lewat pintu belakang, "kejar gadis itu, jangan sampai lolos dia bisa dijual dengan harga yang mahal" perintah dari salah satu bandit yang ada dirumah Khiya,

Dua orang bandit menyusul Khiya untuk menangkapnya. Khiya lari ke arah hutan, karena Khiya berfikir hutan tempat paling aman untuk menghindari kejaran Bandit. Khiya berhasil lari dalam hutan, larinya terhenti ketika dia menengok ke arah desa, "tidak,,, tidak,,, nenek,,, teman - teman,,," suara lirih yang keluar dari mulutnya melihat desanya sudah porak - poranda di serang oleh Bandit.

"Itu dia" mendengar suara itu Khiya berlari lagi masuk lebih dalam kehutan. Semakin masuk kehutan larinya semakin pelan, dengan sisa - sisa tenaganya dia terus berusaha untuk menjauh dari kejaran bandit, Khiya ingat pesan dari neneknya untuk jangan masuk kehutan kabut jika mencari tumbuhan herbal, karena disana berbahaya.

Khiya langsung menuju ke arah hutan kabut yang jaraknya sudah tidak terlalu jauh. Ketika sampai di perbatasan hutan kabut, Khiya sempat ragu untuk melanjutkan larinya, dia berhenti sejenak sembunyi di balik semak - semak. Bandit yang tadi mengejar Khiya dengan jumlah dua orang berhasil menyusul Khiya.

"Dimana gadis itu?" tanya salah satu bandit ke temanya

"tadi saya melihatnya berlari ke arah sini, pasti belum jauh masih disekitaran sini"

"ayo kita cari di sekitar sini".

Para bandit pun masih mencari Khiya yang bersembunyi di semak -semak. Salah satu dari bandit itu mendekati ke arah tempat Khiya bersembunyi.

Khiya panik dan bingung melihat bandit itu berjalan pelan ke arahnya. Dia pun ahirnya memutuskan untuk berlari lagi dan masuk ke hutan kabut. "woyyy,,, dia lari ke arah hutan kabut, " teriak salah satu bandit yang melihat Khiya. Dengan kondisi hutan yang berkabut dan sudah lela, Khiya jatuh bangun terus berusah agar lolos dari kejaran Bandit.

Napas Khiya memburu, dadanya terasa sesak saat kakinya terus dipaksa berlari menembus rimbunnya hutan kabut. Di belakangnya, teriakan kasar dan bunyi langkah kaki para bandit itu semakin dekat. Tidak ada jalan lagi, di depannya hanya ada rimbunnya semak belukar dan kabut yang tebal. Matanya menangkap sebuah celah sempit yang tertutup sulur tanaman, mulut sebuah goa.

Tanpa pikir panjang, Khiya merangkak masuk. Suasana seketika berubah. Hawa dingin yang lembap menyergap kulitnya, suara kekelawar yang kaget dengan kehadiran Khiya menambah suasan semakin mencekam. Di dalam, kegelapan hampir total, hanya ada tetesan air yang bergema di dinding batu. Ia mematung, menahan napas sekuat tenaga saat bayangan para bandit melintas di depan celah tersebut. "Cari ke arah semak - semak itu! Dia tidak mungkin masuk ke lubang tikus ini," bentak salah satu dari mereka.

Khiya jatuh terduduk ketika suara langkah kaki itu menjauh. Namun, saat ia mencoba berdiri untuk keluar, sebuah hembusan angin hangat justru datang dari arah dalam goa yang lebih gelap, membawa aroma tanah tua yang belum pernah ia hirup sebelumnya. Sepertinya, goa ini punya rahasia yang jauh lebih besar daripada para bandit di luar sana.

Khiya masih duduk sembari menunggu suara para bandit yang sibuk mencarinya hilang. "Di sini tidak ada, ayo kita coba masuk ke lubang tikus itu," teriak salah satu dari mereka. Mendengar teriakan itu, Khiya bergegas merangkak menuju lebih dalam, kelelawar yang tadinya hanya menimbulkan suara kini berhamburan terbang keluar karena menyadari kedatangan Khiya.

"Liat itu kelelawar berhamburan keluar, pasti ada orang di dalam, seru salah satu dari mereka, cari kayu dan nyalakan! Kita butuh cahaya di dalam sana". Perintah salah satu dari mereka. Setelah selesai membuat obor, para bandit itu pun mulai berjalan ke dalam goa. Sedangkan Khiya masih merangkak melawan rasa takut.

"Di perjalanan Khiya menabrak sebuah benda, "awwww, apa ini?, kata Khiya sembari mengelus kepalanya karena membentur benda tersebut, dia meraba - raba benda tersebut, mencari jalan agar dia bisa semakin menjauh dari kejaran bandit. Langkah kaki semakin terdengar mendekat, cahaya mulai menerangi tempat dimana Khiya berada.

Berkat cahaya yang di hasilkan dari kayu yang di bakar oleh bandit, Khiya mulai bisa melihat di sekelilingnya. Alangkah terkejutnya Khiya melihat apa yang ada di depanya, sebuah peti mati, reflek Khiya mundur namun punggungnya menabrak peti yang lainya. "Lihat ada jejak orang merangkak dan sedikit darah, " kata salah satu dari bandit sambil menunjuk ke arah tanah. Dengan senyum jahat para bandit melanjutkan langkanya.

Khiya tau, para bandit semakin dekat, dia duduk di samping peti yang berada di tengah, jantungnya berdetak kencang, nafasnya berat, tanganya bergetar, air mata menetes tanpa suara di mulutnya, lutut dan tangannya berdarah karena goresan tanah dan kerikil, raut wajah yang memperlihatkan ketakutan yang luar biasa.

Khiya tidak menyadari bahwa tangan dan lututnya terluka, terutama di tangan kanan yang mengeluarkan tetesan darah. Suara langkah para bandit terdengar semakin dekat, Khiya bangkit dari duduknya dan melangkah sedikit berpindah tempat dari samping ke belakang peti, gerakan Khiya ketika berdiri menyebabkan tetesan darah meluncur ke bawah dan jatuh di atas tutup peti.

Tetasan darah itu seolah memiliki nyawa sendiri, merayap ke arah ukiran yang seperti ular melingkar dan masuk ke lubang di tengah ukiran tersebut. Tiba-tiba, sebuah getaran halus muncul dari bawah telapak tangannya. Khiya kaget, dan bergumam "getaran apa tadi?" dengan wajah bingung sedikit melamun. Belum sempat Khiya duduk terdengar suara. "Ketemu kau!" seru salah satu dari bandit dengan wajah penuh keberhasilan.

Kini fokus Khiya terbagi dua, pertama para bandit yang sudah menemukanya dan kedua pergerakan tutup peti, tutup peti itu terbuka berlahan, "liat ada peti di dalam goa" seru salah satu dari bandit, "sepertinya bukan peti harta karun, tapi peti mati, orang gila mana yang menguburkan mayat di dalam goa ini" jawab bandit satunya.

Khiya masih mematung fokus memperhatikan tutup peti yang terbuka semakin lebar, dari jarak sedekat ini Khiya mulai melihat sesosok tubuh yang terbaring kaku tanpa busana dengan kulit sepucat rembulan. Para bandit belum menyadari dengan pergerakan tutup peti. "Persetan dengan peti itu; ayo cepat tangkap gadis itu dan segera keluar dari goa busuk ini! Teriak salah satu bandit.

Dua bandit itu pun berjalan bersamaan ke arah Khiya, namun tiba - tiba langkah mereka terhenti. "Dubraaagg" suara tutup peti itu jatuh, dan vampir yang ada di dalam peti itu bangun dan berdiri, "Huuuuaaahhhh, sudah waktunya saya bangun lin?" ucapan dan kata - kata pertama dari vampir yang keluar dari peti mati. "heee,,, heee,,, siapa kalian dimana Linlin?" tanya vampir itu ke pada bandit yang ada di depanya.

Belum sempat bandit bereaksi dengan pertanyaan vampir tersebut. Vampir itu tiba - tiba bereaksi dengan bau darah segar dan berbalik dengan kecepatan yang tidak masuk akal ke arah Khiya. Tatapannya terkunci pada Khiya, atau lebih tepatnya, pada darah yang ada di tangan kanannya.

Bersambung....

1
T28J
hadiir kakak 🙏
Arafi Arif Dwi Firmansyah: Terima kasih bosku.
total 1 replies
putri kurnia
lanjutannya dooong, penasaran bgt ini 😍
putri kurnia
bikin penasaran kelanjutannya
Arafi Arif Dwi Firmansyah: sabar ya. malam ini bab 4 selesai.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!