NovelToon NovelToon
Delapan Tahun Lalu Dan Sebuah Janji

Delapan Tahun Lalu Dan Sebuah Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:404
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Arga Baskara hidup dalam bayang-bayang janji masa kecil yang ia genggam selama delapan tahun. Ketika Nala Anindita kembali ke kehidupannya sebagai teman sekelas, ia berharap waktu akan menyatukan kembali keduanya. Namun, Nala telah berubah—ia tak lagi mengingat masa lalu yang begitu berarti bagi Arga.


Di tengah realitas baru, Arga harus menghadapi cinta yang tak berbalas, diperparah oleh kehadiran Satria yang semakin dekat dengan Nala. Terjebak antara kenangan dan kenyataan, Arga dihadapkan pada pilihan: terus bertahan pada perasaan lama, atau belajar melepaskan.


Kisah ini menggambarkan tentang cinta yang tertinggal oleh waktu, dan perjuangan seseorang untuk menerima bahwa tidak semua janji akan kembali utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

Udara siang di kantin SMA Tunas Bangsa Sinduraya terasa begitu menyesakkan. Aroma nasi goreng yang bercampur dengan uap bakso memenuhi setiap sudut ruangan yang riuh oleh suara ratusan siswa. Arga Baskara duduk di kursi panjang paling pojok, tempat favorit yang memberinya jarak aman dari keramaian. Di hadapannya, segelas es teh manis sudah mulai berembun, membasahi permukaan meja kayu yang kusam.

Arga mengaduk minumannya dengan gerakan mekanis. Denting sendok yang beradu dengan gelas kaca itu seolah menjadi satu-satunya irama yang ia dengar di tengah kebisingan. Matanya tidak fokus pada pusaran teh di dalam gelas, melainkan pada sebuah meja di tengah kantin yang dikelilingi oleh tawa riang.

Di sana, Nala Anindita duduk bersama Rara. Gadis itu tampak sedang menyeka peluh di keningnya dengan selembar tisu. Arga memperhatikan bagaimana Nala menyelipkan anak rambut di balik telinganya. Itu adalah gerakan kecil yang masih sama seperti delapan tahun lalu, sebuah kebiasaan yang ternyata tidak terhapus oleh waktu dan jarak.

Kamu benar-benar tidak ingat apa pun, batin Arga seraya menghela napas panjang.

Sebuah tepukan keras mendarat di bahu Arga, membuatnya nyaris menjatuhkan sendok. Dimas Pratama menarik kursi di hadapan Arga dengan kasar dan langsung meletakkan semangkuk mi ayam yang mengepul.

"Sudah aku bilang, es teh itu tidak akan berubah jadi emas meski kamu pelototi sampai bel masuk berbunyi," ujar Dimas sebelum menyuap mi dengan lahap.

Arga hanya tersenyum tipis tanpa melepaskan pandangannya dari arah meja Nala. "Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja, Dim. Dia baru beberapa hari di sini."

Dimas berhenti mengunyah. Ia mengikuti arah pandang sahabatnya itu, lalu menggelengkan kepala dengan ekspresi prihatin. "Nala itu mandiri, Ga. Dia tidak butuh pengawal rahasia yang kerjanya cuma duduk di pojok kantin sambil mengaduk es teh sampai tawar. Kamu harus mulai realistis. Lihat itu, pemangsanya sudah datang."

Arga menegang. Dari arah pintu kantin, Satria Dirgantara berjalan dengan kepercayaan diri yang meluap-luap. Kaus basket yang ia kenakan tampak sedikit basah oleh keringat, mempertegas kesan maskulin yang selalu berhasil memikat perhatian banyak siswi. Satria langsung melangkah menuju meja Nala tanpa ragu sedikit pun.

Arga meremas gelasnya. Ia melihat Satria meletakkan sebotol minuman isotonik dingin di depan Nala. Gerakan itu begitu santai, seolah Satria sudah memiliki hak untuk berada di sana.

"Hai, Nala. Sepertinya kamu butuh yang lebih segar daripada sekadar air mineral," suara Satria terdengar cukup keras hingga mencapai telinga Arga.

Nala mendongak, tampak sedikit terkejut namun kemudian sebuah senyum tipis terukir di wajahnya. "Oh, hai Satria. Terima kasih, tapi sebenarnya aku tidak enak kalau merepotkan."

"Sama sekali tidak repot untuk teman baru yang spesial," balas Satria seraya menarik kursi kosong di sebelah Nala. Ia duduk di sana dengan santai, mengabaikan keberadaan Rara yang hanya bisa saling lirik dengan Nala.

Arga merasakan denyut nyeri di dadanya. Delapan tahun ia menyimpan kenangan tentang janji di bawah pohon mangga itu, menjaga setiap detailnya agar tidak pudar. Namun sekarang, ia hanya bisa menjadi penonton bisu ketika orang lain dengan begitu mudahnya masuk ke dalam ruang hidup Nala.

"Lihat, kan? Satria itu tidak pakai rumus menunggu. Dia langsung eksekusi," gumam Dimas seraya mengelap bibirnya dengan tisu. "Kamu kalau cuma diam begini, selamanya cuma akan jadi bayangan di masa lalunya yang sudah dia hapus."

Arga tidak menjawab. Ia melihat Nala tertawa kecil menanggapi ucapan Satria. Tawa itu terdengar begitu tulus, jenis tawa yang dulu sering ia dengar saat mereka masih mengejar capung di halaman belakang rumah. Sekarang, tawa itu bukan lagi miliknya.

Di meja lain yang tak jauh dari Arga, Tania Larasati memperhatikan Arga dengan tatapan sendu. Ia meletakkan sendoknya, selera makannya hilang seketika saat melihat betapa dalam Arga tenggelam dalam dunianya sendiri yang hanya berisi Nala. Tania tahu, sedekat apa pun ia duduk di depan Arga setiap hari di kelas, jarak hati mereka tetap terpaut ribuan kilometer.

"Arga, kamu mau tambahan kerupuk?" tanya Tania pelan, mencoba memecah keheningan yang menyelimuti meja Arga.

Arga menoleh sebentar, seolah baru sadar bahwa ada orang lain di dekatnya. "Tidak, Tania. Terima kasih. Aku sudah kenyang," jawabnya singkat lalu kembali membuang muka.

Dimas hanya bisa mendengus pelan melihat interaksi itu. Dia merasa kasihan pada Tania, namun dia lebih kasihan pada Arga yang terjebak dalam labirin ingatan yang tidak memiliki pintu keluar.

Nala tampak mulai terbiasa dengan kehadiran Satria. Mereka terlibat percakapan yang terlihat seru. Sesekali Satria menggerakkan tangannya, menceritakan sesuatu yang membuat Nala mengangguk-angguk antusias. Arga bisa melihat betapa kontrasnya posisi mereka sekarang. Satria adalah matahari yang terang, sedangkan dirinya hanyalah sudut gelap yang tak tersentuh cahaya.

Seharusnya aku yang ada di sana, bisik hati Arga.

Namun kenyataan memukulnya telak. Nala bahkan tidak mengenali wajahnya saat mereka pertama kali bertemu kembali di kelas. Bagi Nala, Arga Baskara hanyalah teman sekelas yang pendiam dan membosankan. Tidak lebih.

"Ayo pergi," ajak Arga tiba-tiba seraya berdiri.

"Mau ke mana? Mi ayamku belum habis," protes Dimas.

"Kelas. Di sini terlalu gerah," ujar Arga tanpa menanti jawaban sahabatnya.

Ia melangkah pergi meninggalkan kantin dengan langkah terburu-buru. Ia tidak menoleh lagi ke belakang, takut jika ia melihat lebih lama, hatinya akan hancur menjadi serpihan yang lebih kecil lagi. Di belakangnya, tawa Nala masih terdengar samar, menyatu dengan bisingnya kantin SMA Sinduraya yang seolah menertawakan kesetiaannya yang sia-sia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!