NovelToon NovelToon
Legenda Naga Pemakan Langit 2

Legenda Naga Pemakan Langit 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

(SEASON 2) Di benua baru ini, Alam Inti Emas hanyalah debu di bawah sepatu para bangsawan. Raja Fana menjadi prajurit biasa, dan monster-monster Alam Penyatuan Langit berjalan membelah gunung dan membelokkan bintang. Tidak ada sekte lemah di sini; yang ada hanyalah Kekaisaran Kuno dan Klan Dewa yang dihormati layaknya pencipta.

Membawa garis keturunan Dewa Naga Primordial yang diburu oleh surga, Chu Chen menolak untuk merunduk. Di tanah di mana naga hanya dianggap sebagai mitos yang telah punah, ia akan membangkitkan kembali era dominasi mutlak. Jika surga menghalanginya, ia akan menelan surga itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerbang Rahasia

Sisa-sisa Markas Perang Kota Perbatasan terbakar dalam diam. Di bawah kawah raksasa yang dulunya merupakan bangsal utama, sebuah lorong rahasia berlapis baja spiritual tersembunyi jauh dari jangkauan indra manusia biasa.

Chu Chen melangkah menyusuri lorong gelap tersebut. Di tangannya, Cincin Penyimpanan berlambang sembilan matahari milik Jenderal Huang Jin memancarkan pendaran cahaya keemasan, mematikan setiap susunan jebakan pembunuh yang dipasang di sepanjang dinding lorong.

Di belakangnya, Meng Fan berjalan tertatih sambil memegangi dadanya, sementara Bai melangkah tanpa suara dengan wajah yang masih diliputi kengerian sisa pertempuran tadi.

"Ini tempatnya," ucap Chu Chen, menghentikan langkahnya di ujung lorong.

Di depan mereka, terdapat sebuah ruangan melingkar yang sepenuhnya terbuat dari batu giok putih tanpa cela. Di tengah ruangan, sebuah gerbang melengkung yang terbuat dari batu bintang perak berdiri kokoh. Alur-alur formasi ruang yang sangat rumit dan padat berdenyut pelan di permukaan gerbang tersebut, memancarkan aura kuno yang membuat Meng Fan merasa seolah sedang ditatap oleh mata dewa.

"Gerbang Pemindah Ruang Militer Jalur Cepat," bisik Bai, matanya menyapu ukiran formasi tersebut. "Gerbang ini tidak digunakan untuk pasukan besar. Ini adalah jalur khusus untuk Jenderal Agung jika ia perlu menghadap Kaisar dalam keadaan darurat tingkat tinggi. Jarak dari perbatasan ini ke Ibukota Pusat adalah tiga juta mil. Gerbang biasa membutuhkan waktu setengah hari untuk menyeberanginya, tapi gerbang ini..."

"Hanya butuh sepuluh tarikan napas," potong Chu Chen santai.

Ia berjalan ke arah alas gerbang, menempelkan Cincin Jenderal itu ke dalam sebuah lekukan berbentuk matahari.

WUUUSH!

Lekukan itu menyala. Cincin Jenderal bertindak sebagai kunci mutlak, melepaskan segel yang telah tertidur. Pusaran cahaya berwarna perak murni meledak di tengah gerbang, menciptakan lorong ruang yang jauh lebih stabil dan tenang daripada gerbang perbatasan mana pun.

"Masuk," perintah Chu Chen.

Meng Fan dan Bai melangkah menembus pusaran perak itu tanpa banyak bertanya. Chu Chen menyusul di belakang mereka. Tepat saat tubuh Chu Chen sepenuhnya tertelan oleh lorong tersebut, ia melepaskan seberkas Api Teratai Merah ke arah alas gerbang, melelehkan lekukan matahari itu hingga hancur lebur.

Tidak ada yang boleh menyusul mereka dari belakang.

Tiga juta mil jauhnya, di jantung benua yang menjadi pusat peradaban fana tertinggi.

ZRAASH!

Sebuah pilar cahaya perak menyala di dalam sebuah kuil kuno yang terbengkalai di pinggiran sebuah pegunungan raksasa. Tiga sosok melangkah keluar dari dalam pilar tersebut.

"Ukh..." Meng Fan memuntahkan sedikit air liur, tubuhnya terhuyung ke depan. Meskipun ini adalah jalur cepat, melintasi ruang sejauh jutaan mil dalam sekejap memberikan tekanan yang meremukkan perut manusia fana.

Namun, rasa mual Meng Fan seketika lenyap begitu indranya menangkap udara di luar kuil tersebut.

"Ini... udara macam apa ini?!" Meng Fan terbelalak, matanya nyaris melompat keluar. Ia mencoba menarik napas, namun ia merasa seolah sedang menghirup air madu yang sangat kental.

Qi Langit dan Bumi di tempat ini tidak lagi berbentuk embun atau kabut. Di sini, Qi mengalir seperti untaian benang-benang sutra yang bisa dilihat dengan mata telanjang! Hanya dengan berdiri di tempat ini, Dantian Meng Fan yang baru terbentuk bergemuruh, dengan sendirinya menyerap energi murni hingga ia merasa nyaris menembus ke alam selanjutnya.

Chu Chen berjalan ke arah pintu kuil yang hancur, menatap ke arah luar.

Bahkan dengan ingatan Kaisar Naganya, pemandangan di depan matanya cukup untuk membuat sudut bibir Chu Chen melengkung membentuk senyuman buas yang penuh kekaguman.

Mereka berdiri di sebuah bukit yang menghadap ke bawah. Di depan mereka, terhampar Ibukota Suci Kekaisaran Matahari Suci.

Kota itu terlalu besar untuk disebut kota. Itu adalah sebuah benua kecil di dalam benua. Dinding luar kota ini terbuat dari baja emas yang menjulang hingga menembus awan. Di dalam dinding tersebut, daratan tidak mendatar, melainkan berundak-undak naik menuju pusatnya, membentuk sebuah bangunan berundak raksasa yang terdiri dari ribuan pulau terapung, istana giok, dan menara-menara naga.

Dan yang paling menentang nalar adalah langit di atas kota tersebut.

Tidak ada matahari alami yang menyinari Ibukota Suci. Sebagai gantinya, sembilan bola cahaya raksasa yang menyerupai matahari emas beredar perlahan di atas pusat kota, memancarkan kehangatan dan Qi murni tanpa henti.

"Itu... Sembilan Matahari Buatan," Bai berbisik dari belakang Chu Chen, suaranya dipenuhi rasa segan yang mendalam. "Masing-masing dari matahari itu adalah susunan pusaka kuno... dan di dalam masing-masing matahari itu, bersemayam seorang Pelindung Kekaisaran di Alam Penyatuan Langit Tahap Akhir."

Sembilan ahli Penyatuan Langit Tahap Akhir, bertindak sebagai matahari bagi sebuah kota!

Chu Chen menyipitkan matanya. Ia menyapu Niat Spiritualnya yang berpadu dengan Niat Pedang melintasi pinggiran kota di bawah bukit mereka.

Jalanan yang lebar dipenuhi oleh kereta kencana yang ditarik oleh binatang buas Tingkat 2 dan 3. Para pejalan kaki yang berlalu-lalang...

"Lapis Kedelapan dan Kesembilan Penempaan Raga hanyalah budak penyapu jalan," Chu Chen tertawa pelan. "Alam Inti Emas menjadi pelayan toko. Ahli Istana Jiwa berpatroli sebagai prajurit jalanan... Dan kulihat ada beberapa gejolak Alam Raja Fana yang sedang duduk santai di kedai teh."

Di perbatasan, Raja Fana adalah penguasa mutlak. Di Ibukota Suci, Raja Fana hanyalah kalangan menengah yang sedang menikmati secawan teh!

"Tempat ini..." Chu Chen menjilat bibirnya yang mendadak terasa kering. Dantiannya yang berisi Lautan Qi Alam Istana Jiwa Tahap Menengah berdenyut dengan kelaparan yang mengerikan. "Ini bukan lagi sebuah kota, Bai. Ini adalah lumbung daging yang paling mewah yang pernah diciptakan oleh surga."

Tepat saat keserakahan Chu Chen memuncak, langit di atas Ibukota Suci tiba-tiba berubah warna.

TENG! TENG! TENG! TENG! TENG!

Lima bunyi genta kematian yang sangat panjang dan memekakkan telinga bergema dari arah Istana Pusat Kekaisaran, menggetarkan sembilan matahari buatan di atas sana.

Seluruh kegiatan di Ibukota Suci—jutaan kultivator, kereta kencana, dan binatang buas—serta-merta terhenti. Keheningan yang diliputi kengerian massal turun menyelimuti kota raksasa itu.

Dari arah Istana Pusat, sebuah pilar cahaya darah melesat menembus awan.

"Pelita Jiwa Emas telah padam!" Sebuah suara raungan yang diperkuat oleh susunan formasi kekaisaran terdengar, membahana hingga jangkauan puluhan ribu mil. Suara itu membawa penindasan mutlak dari seseorang yang kekuatannya jauh, jauh melampaui Jenderal Huang Jin.

Alam Penyatuan Langit Puncak!

"Jenderal Agung Kota Perbatasan, Huang Jin, telah tewas terbunuh di wilayah jajahannya sendiri! Siapa yang berani memenggal lengan Kekaisaran Matahari Suci?!"

Raungan itu diikuti oleh pergerakan formasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sembilan matahari buatan di atas kota berhenti beredar. Mereka memancarkan cahaya merah yang menyilaukan, saling terhubung dengan jaring-jaring energi raksasa, membentuk sebuah kubah cahaya menyala yang seketika mengunci seluruh daratan Ibukota Suci beserta jutaan mil wilayah pinggirannya!

"Susunan Segel Matahari Mutlak..." wajah Bai menjadi sepucat kertas. Matanya menatap kubah cahaya raksasa yang kini mengunci langit di atas mereka. "Kekaisaran telah menutup seluruh jalur masuk dan keluar. Seekor lalat pun tidak akan bisa melewati segel itu tanpa dibakar menjadi abu."

Meng Fan jatuh terduduk di atas rumput spiritual, memegangi kepalanya. "Tamatlah kita. Tamat sudah. Mereka tahu Jenderal itu mati, dan sekarang kita terjebak di dalam jantung sarang mereka. Mereka akan menggeledah setiap inci kota ini untuk mencari pembunuhnya!"

Namun, berbeda dengan kepanikan kedua pengikutnya, Chu Chen justru memutar lehernya pelan hingga terdengar bunyi retakan tulang.

Ia menatap kubah segel raksasa yang menyala di langit, lalu menatap lautan ahli kultivasi di kota yang kini berada dalam keadaan siaga penuh.

Bukannya merasa terjebak, senyuman Chu Chen semakin lebar, memperlihatkan taring-taring yang menyiratkan kekejaman pemangsa sejati.

"Terjebak?" Chu Chen mendengus geli, melangkah santai menuruni bukit menuju pinggiran kota yang megah itu. "Kalian salah paham. Susunan itu tidak sedang mengunciku di dalam."

Chu Chen menoleh sedikit ke arah Bai dan Meng Fan, matanya yang sehitam malam berkilat dengan pendaran naga emas.

"Susunan itu baru saja mengunci mereka semua di sini... bersamaku."

1
black swan
...
Nur Aini
Thor, yg kaisar abadi penentang surga 2 kok blm update juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!