Evana dan Evita, kedua saudara kembar yang tidak pernah menyangka kalau kejadian aneh dan tak masuk akal bisa mereka alami.
Ber-transmigrasi atau berpindah jiwa yang tidak pernah mereka sangka ada dalam dunia nyata terjadi pada keduanya.
Masuk kedalam tubuh kedua istri yang tak pernah akur dan berakhir mengenaskan di akhir kisah, lalu apa yang akan keduanya lakukan? Menikmati hidup dalam dunia yang tak mereka tahu atau memilih mengikuti alur untuk mati yang kedua kalinya?
Kisah mereka semua ada di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
"Kita harus gimana, Kak?" suara Ayasha tercekik panik, matanya membulat menatap Elvara penuh kebingungan.
Elvara menutup matanya erat, merasakan beban berat menghimpit dadanya. Kalung itu... sudah hancur di tangan mereka.
Tapi kartu mereka sudah diblokir suaminya masing-masing, jalan keluar apa yang harus ia ambil.
‘Haruskah aku telepon dia? Tapi… apa dia mau datang?’ pikir Elvara bergelut dalam kebimbangan yang menusuk.
Tiba-tiba, pintu ruangan itu terbuka dengan kasar
Brak!
Kedua wanita itu tersentak, menatap ke arah suara. Seorang pria gagah dengan mata tajam yang membara berdiri di ambang pintu.
"Ulah apa lagi yang kalian perbuat?" suaranya menggelegar, menusuk ketenangan mereka. Orang itu adalah Rayandra Mahatara
Belum reda, muncul pria lain yang lebih muda, menatap dengan campuran kecewa dan marah.
"Sekali saja bisa nggak kalian diam? Kalian sepupu, sekarang juga ipar. Seharusnya saling mendukung, bukan saling menyakiti dan bikin onar terus-menerus!" ucap Ardhanaya Mahatara dengan nada tegas, menambah beban di ruangan yang sudah penuh tekanan.
Elvara dan Ayasha saling bertatapan, hati mereka berdegup kencang, terperangkap di antara rasa bersalah dan ketakutan yang melumat jiwa. Dunia mereka seakan runtuh dalam satu napas.
Namun satu kata yang terucap dari bibir Elvara mengguncang suasana menjadi hening penuh tanya.
“Kalian ini siapa? Kenapa ikut campur dalam urusan aku dan adikku?” Elvara menatap tajam ke arah mereka yang berdiri di depannya tatapan yang menusuk, tanpa ampun.
Yang berdiri di sana bukan orang asing, melainkan Rayandra, suaminya sendiri, dan Ardhanaya suami adiknya.
Namun kata-kata Elvara seakan menembus ruang dan waktu, membuat Rayandra dan yang lain terpaku, mata mereka saling bertukar pandang dengan kebingungan sekaligus curiga.
“Sudahlah, jangan berpura-pura lupa. Ayo, kita pulang,” suara Ardhanaya terdengar lelah, namun penuh ketegasan yang tak bisa diabaikan.
“Kak, mereka siapa sebenarnya? Apa kakak ingat sesuatu?” suara Ayasha bergetar lirih saat ia menggoyang lengan Elvara, mencari jawaban dari ketidaktahuannya.
Elvara menggeleng pelan, tak tahu dengan kedua pria tersebut.
Dari sudut ruangan, manajer yang tak sengaja menangkap bisikan keduanya ikut angkat bicara, menyiratkan gelombang misteri yang semakin pekat di antara mereka.
“Astaga, Nyonya! Anda benar-benar tak mengenal kedua tuan muda itu?” suara manajer itu mengiris udara dengan ketus.
membuat Elvara dan Ayasha hanya bisa saling berpandang, kemudian mengangguk tanpa kata.
“Mereka itu… suami-suami Anda, Nyonya Elvara dan Nyonya Ayasha. Bagaimana bisa Anda lupa?” ujar manajer itu, suaranya tajam dan penuh arti.
Elvara dan Ayasha terpaku, mata mereka membesar tak percaya, seolah waktu berhenti berdetak di hadapan kenyataan yang menghancurkan itu.
“Vita… maksudku Yasha, kau tadi dengar semua yang dikatakan manajer itu, kan?” bisik Elvara dengan suara nyaris tak terdengar, penuh ketakutan yang mencekam.
Ayasha hanya bisa mengangguk kaku, suaranya serak, “Aku dengar, Kak. Mereka bilang… mereka suami kita.”
Beberapa saat kemudian mereka terdiam mencerna informasi yang baru saja mereka dapatkan.
Lalu tiba-tiba suara teriakan mereka membuat orang-orang yang ada di ruangan itu terkejut.
“APA? JADI MEREKA ITU RAYANDRA DAN ARDHANAYA, YANG… YANG AKAN MEMBUNUH KITA?” teriak mereka berdua serempak, suara mereka menggema penuh kepanikan, seakan memecah kesunyian yang menyesakkan dada.
Dunia mereka runtuh seketika. Ketakutan dan bahaya yang mereka tahu kini berada di depannya. mengancam dari sosok yang seharusnya jadi pelindung, bukan pembunuh.
Rasanya seperti terjebak dalam mimpi buruk yang tak berujung, di mana keselamatan hanyalah fatamorgana.
...****************...
GREP!
Rayandra menyentuh tangan Elvara, matanya menyorot tajam seolah memberikan peringatan.
"Yasha, tolong aku!" rengek Elvara.
Ayasha akan maju. Namun, tangannya pun di cekal pula oleh seseorang dan dia adalah Ardhanaya suaminya.
"Jangan ikut campur! Kamu urus saja masalah mu sendiri!" ucap Ardhanaya dengan nada datar.
"Apa sih? Kamu ini jangan mentang-mentang tampan terus bisa seenaknya ya? Aku tidak akan tergoda," sinis Ayasha dengan nada kesal.
"Apa kamu bilang? Coba katakan lagi!" Ardhanaya menatap penuh intimidasi dan itu membuat nyali Ayasha menciut.
Keduanya menatap istri masing-masing sedangkan kedua istri malah membuang muka dan kearah lain.
Rayandra dan Ardhanaya menarik napas bersamaan, keduanya mengkode kedua asisten masing-masing.
"Bereskan masalah Nyonya!" ucapan Rayandra membuat Elvara menoleh cepat.
Wajahnya berseri dengan mata berbinar indah saat tahu masalah kali ini akan di selesaikan dengan mudah.
'Sepertinya masuk ke dunia ini tidak seburuk itu, kan?' batin Elvara.
Elvara melirik sang Adik yang juga sedang meliriknya keduanya seolah paham dengan apa yang menjadi isi pikiran masing-masing.
SRET!
Tangan Elvara di tarik pelan oleh Rayandra dan itu membuat Ayasha mencoba membantu.
"Kak," panggil Ayasha.
"Ayo pulang! Jangan kembali membuat masalah dengan kabur dari rumah lagi!" tegas Ardhanaya.
Dia menarik pelan lengan Ayasha dan wanita itu hanya bisa pasrah sebab tak ada gunanya juga membantah tuan muda Arogan ini.
...****************...
Di kediaman mewah Mahatara.
Seorang wanita lanjut usia sedang duduk dengan gelisah, wajah tuanya menunjukkan kekhawatiran yang jelas terlihat. Sedangkan tangan tuanya menggenggam tongkat dengan erat menunjukkan kecemasan.
"Apa Rayan dan Ardha menemukan keduanya?" nyonya Tua Mahira Mahatara adalah Nenek dari Rayandra dan Ardhanaya.
"Belum ada kabar, Nyonya, anda sebaiknya makan siang terlebih dahulu! Sebab mungkin mereka akan terlambat," sang pelayan pribadi. Ayunda membujuk Nenek Mahira.
"Aku akan makan saat mereka tiba di rumah," putusnya dengan nada tegas.
Ayunda hanya bisa setuju, terlalu menyayangi kedua cucu menantunya membuat ia tak bisa apa-apa padahal kelakuan keduanya tidak mencerminkan pribadi seorang nyonya Mahatara.
Sebuah mobil terdengar berhenti di halaman rumah. Mahira tentu langsung bangun dan tanpa basa-basi di bantu tongkatnya dia berjalan cepat menuju luar rumah.
"Mereka walaupun adalah seorang putri dari konglomerat ternama tapi seperti tidak mencerminkan attitude yang baik," gumam Ayunda.
Dia berjalan cepet demi menyusul Mahira yang terus saja berderap dengan tongkat sebagai bantuannya.
Sedangkan di halaman.
"Kak, rumahnya mewah sekali, kan?" bisik Ayasha pada Elvara.
"Benar, tidak salah kamu membuat cerita ini dan membuat kita menjadi kaya," kata Elvara tak kalau bahagia.
Keduanya sudah sepakat akan membuat alur sendiri dengan meminta cerai dan mereka ingin menikmati hidup nyaman dengan banyak uang.
"Apa lagi yang kalian rencakan?" tanya Rayandra.
Pria itu Rayandra Mahatara, segera menarik Elvara untuk menjauh dari Ayasha agar keduanya tidak bertengkar lagi.
"Apa sih? Kenapa kamu menarik Kakaku seperti itu?" bentak Ayasha dengan mata mendelik kesal.
"Sejak kapan memikirkan urusan Sepupumu ini? Apa otak kalian rusak?" tuduh Ardhanaya.
Sejak kembali dari Butik tadi, mereka seperti tidak mau lepas dan pada akhirnya terpaksa menjauh karena harus naik ke mobil yang berbeda.
"Memang kenapa? Dia kan walaupun sepupu juga Kakakku," jawabnya dengan meyakinkan.
Saat Ardhanaya akan kembali membalas perkataan Ayasha. Suara seorang wanita membuat atensi mereka menoleh cepat.
"Sudah kembali? Kenapa tidak masuk?" suaranya lembut dan penuh keibuan.
DEGH!
'Dia siapa lagi?' Jerit keduanya dalam hati.