Aura membuka mata melihat dirinya sudah ada di ruangan putih dengan peralatan medis. Awalnya Aura hanya binggung, hingga dia merasa kalau dia bermimpi panjang." Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganku,:guman Aura melihat sekitarnya. Tampak orang tua yang dia rindukan sudah ada didepan matanya. Apa yang terjadi dengan Aura sebenarnya, ingin tahu kisahnya silakan datang membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Peninggalan di Utara Makam
Angin sore bertiup lembut, membawa aroma tanah kering dan harum bunga tebu dari ladang dan pohon masih berdiri di utara desa. Matahari sudah condong ke barat, mewarnai langit dengan spektrum jingga kemerahan. Aura melangkah santai, ditemani oleh kakaknya, Mbak Yeni dan keponakannya Deni yang lincah berjalan didepan mereka berdua dengan wajah semangat dan senang. Mereka berjalan menuju batas utara desa, tempat yang biasanya sepi, namun kini dikabarkan ramai.
“Ayo, Tante Aura, disana ramai banyak orang kayak di pasar!” seru Deni, melompat-lompat riang, mata kecilnya bersinar penuh antusiasme.
Mbak Yeni, menghela napas, setengah lelah mengejar anaknya. “Deni jangan lari-lari nanti jatuh. Aura apa kamu baik saja?,”kata Mbak Yeni menasehati ananya dan berahli melihat ke arah adiknya yang baru saja bangun dari koma panjang dengan wajah khawatir,kalau terjadi apa-apa lagi.
Aura tersenyum tipis. Ia sudah lama tidak merasakan suasana berjalan-jalan seperti ini. Dalam beberapa bulan terakhir, setelah kejadian aneh yang ia alami seolah ia ‘kembali’ dari tempat asing hidupnya terasa hambar dan penuh tanda tanya yang tak terucapkan.
“Tidak apa, Mbak. Sesekali melihat keramaian desa juga bagus,” ujar Aura, tatapannya menerawang. “Lagipula, area utara makam memang sudah lama kosong sejak proyek pembangunan kompleks perumahan itu gagal.”
Area utara desa itu memang angker di mata penduduk, tidak karena hantu, melainkan karena sejarah kegagalan proyek yang berulang. Dulunya, kawasan itu sempat dijadikan lahan ambisius untuk kompleks wisata, namun berhenti di tengah jalan karena insiden longsor kecil yang membahayakan pekerja dan, yang terpenting, karena dana yang tidak mencukupi. Tanah itu kemudian diubah menjadi ladang tebu, mencoba menenangkan bisikan-bisikan tanah yang seolah menolak untuk dijamah.
Saat mereka semakin mendekat, suara bising mesin diesel dan kerumunan orang terdengar jelas. Debu tipis melayang di udara. Rasa penasaran mengalahkan rasa enggan Aura.
Ternyata, kawasan itu sudah dipagari garis kuning polisi, dan beberapa pekerja dengan helm proyek terlihat sibuk.
“Wah, benar-benar ramai!” Deni berseru, menarik tangan ibunya Yeni.
Yeni mengerutkan dahi, khawatir. “Ada apa ini? Bukan pasar malam, kan?”
Aura mendekati salah satu batas pagar, lalu ia melihat tetangga lamanya, Pak Maman, yang ikut bekerja sebagai penjaga keamanan dadakan. Aura memberanikan diri mendekat.
“Pak Maman, permisi. Ada apa sebenarnya di sini?” tanya Aura dengan sopan.
Pak Maman menoleh, wajahnya yang lelah langsung berseri melihat Aura. “Eh, Aura! Wah, penemuan besar, Aura! Peninggalan Raja!” katanya, suaranya bersemangat dan bangga.
“Peninggalan raja?” ulang Aura, alisnya terangkat, tidak terlalu tertarik.
“Iya, Aura. Awalnya, salah satu petani, Pak Jono, menggali untuk membuat sumur di ladang tetebu itu. Tiba-tiba cangkulnya membentur benda keras. Bukan batu biasa, Aura, tapi balok batu aneh yang ukurannya besar sekali.”
Pak Maman bercerita dengan detail. Setelah memanggil orang untuk diperiksa, mereka memutuskan menggali lebih dalam. Setelah dua hari pengerukan, mereka menemukan sesuatu yang jauh lebih besar dan mencengangkan.
“Ternyata, di bawah sana, ada puing-puing batu yang tersusun rapi, membentuk sebuah ruangan! Ruangan kuno, Aura! Tim dari pusat sudah datang. Kata mereka, ini situs kerajaan tua!” Pak Maman hampir berteriak saking gembiranya.
Yeni menarik lengan Aura, berbisik skeptis. “Ah, paling juga hanya candi kecil, Aura. Kita pulang saja, anak-anak sudah lapar.”
Aura merasakan dorongan aneh, sebuah ketertarikan samar yang ia sendiri tidak mengerti. Sejak "kembalinya" ia, cerita tentang masa lalu atau penemuan kuno sering membuatnya gelisah. Ia mengabaikan Mbak Yeni.
“Pak Maman, apakah boleh saya lihat ke dalam? Sedikit saja,” pinta Aura.
Pak Maman ragu, tapi karena mengenal keluarga Aura, ia mengizinkan. “Baiklah, tapi jangan jauh-jauh, Aura. Ikuti tangga ini.”
Aura meninggalkan Yeni dan keponakannya sebentar, berjalan melewati tenda-tenda peneliti dan tim penggalian. Ia menuruni tangga kayu darurat yang curam dan licin, diiringi aroma tanah basah bercampur kapur tua.
Di bawah tanah, udara terasa lebih lembap dan dingin. Ruangan itu diterangi oleh lampu-lampu sorot portabel, yang memancarkan cahaya kekuningan, menciptakan bayangan panjang dan aneh. Dinding ruangan itu atau yang tersisa darinya terbuat dari balok-balok batu andesit yang hitam dan kokoh.
Di tengah ruangan, tim arkeolog sedang membersihkan sebuah altar batu. Namun, yang menarik perhatian Aura adalah dinding-dinding di sekitarnya.
Seketika pandangan Aura jatuh pada lukisan dinding. Lukisan itu masih utuh di beberapa bagian, meski pudar. Garis-garisnya sederhana, namun memiliki makna yang kuat.
Lukisan itu menggambarkan sosok-sosok berpakaian kuno sedang melakukan ritual, dengan latar belakang langit yang dihiasi dua bulan berdekatan, dan di bawahnya, sebuah simbol yang familiar lingkaran dengan tiga garis silang di tengahnya.
Saat mata Aura menatap lukisan itu, kakinya terasa membeku. Pikirannya mendadak kosong, dan wajahnya langsung pucat pasi, seolah seluruh darahnya ditarik menjauh.
Dunia di sekitar Aura terasa meredup, suara bising pekerja berubah menjadi dengungan jauh.
Kenapa lukisan ini ada di sini? Batin Aura menjerit, kepanikan yang luar biasa.
Ia menyentuh dinding, jarinya bergetar. Tekstur kasar batu itu nyata, namun apa yang dilihatnya terasa seperti fatamorgana dari dimensi lain.
Informasi ini persis seperti yang ia lihat dalam mimpinya!
Bukan, bukan hanya mimpi. Itu adalah realitas lain yang ia yakini telah ia tinggalkan! Beberapa bulan lalu, ia 'kembali' ke desa ini, ke tubuhnya, setelah mengalami kehidupan di tempat yang asing, tempat yang memiliki kehidupan berbeda tapi sangat aneh, tempat yang memiliki pencarian pekerjaan dengan mengumpulkan sisa harta kerajaan lama untuk hidup.
Hatinya bergejolak hebat, rasa syok bertemu dengan ketidakpercayaan yang menakutkan.
“Bukan aku sudah kembali ke tempat asalku? Tapi kenapa ada lukisan ini? Sebenarnya apa yang terjadi di sini?”
Napas Aura tercekat. Ia bersandar ke dinding, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Apakah semua yang ia alami di 'tempat lain' itu nyata? Apakah ada jejak dimensi itu yang tertinggal di dunia ini? Atau... apakah dirinya yang 'kembali' belum sepenuhnya utuh?
Seorang peneliti muda, melihat Aura terlihat sangat pucat dan terengah-engah, menghampirinya dengan raut khawatir.
“Mbak, Anda baik-baik saja? Mau saya antar naik?” tanyanya, ramah.
Aura menggeleng cepat. Tidak! Aku harus tahu.
Ia memaksa dirinya berdiri tegak, memaksakan senyum yang pasti terlihat seperti topeng. Rasa penasaran yang tadi samar kini berubah menjadi kebutuhan mendesak untuk mencari jawaban.
“Bapak… saya boleh meminta izin untuk melihat temuan ini lebih dekat lagi? Saya... saya sedikit tertarik dengan teknik lukisannya,” pinta Aura, suaranya masih sedikit bergetar. Ia tahu alasannya terdengar konyol, tapi ia tidak punya alasan lain.
Peneliti itu terdiam sejenak, melihat betapa desperatenya Aura. “Maaf, Mbak. Area ini steril, tidak semua orang boleh masuk. Tapi… kalau Anda mau, saya bisa jelaskan sedikit tentang lukisan ini. Tim kami menduga ini adalah penggambaran peristiwa kosmik yang sangat penting bagi Raja terdahulu...”
Aura menatap lukisan itu sekali lagi, ke arah simbol tiga garis silang. Matanya tidak lagi pucat, tapi kini dipenuhi oleh tekad yang membara. Tekad untuk mencari tahu mengapa realitas di luar dimensi telah meninggalkan jejak, tepat di utara makam desanya sendiri. Ia tahu, mulai saat ini, hidupnya tidak akan pernah lagi sama.
“Tolong, bisakah Anda tunjukkan lukisan itu dari dekat?” ulang Aura, nadanya kini memohon namun penuh otoritas yang mengejutkan. “Saya merasa ada yang harus saya ingat di tempat ini.”