Elora Kirana bukan lagi nama yang dipuja seperti dulu. Sekali waktu dia adalah bintang yang bersinar terang, tapi satu skandal cukup untuk menjatuhkannya tanpa ampun. Dalam semalam, dunia yang dulu memujanya berubah jadi lautan hujatan. Kariernya hampir runtuh, kontrak diputus, dan kepercayaan publik hilang begitu saja. Saat semua orang menjauh, satu orang justru datang dengan cara yang paling tidak ia duga. Arshaka Bhumisvara. Seorang CEO muda yang dikenal dingin, tak tersentuh, dan selalu terlihat terlalu sempurna untuk dunia yang penuh drama seperti milik Elora. Tidak ada yang mengira dia akan ikut campur dalam skandal seorang artis. Tapi Arshaka datang bukan untuk simpati. Dia menawarkan sebuah kesepakatan. “Jadilah pacarku di depan publik.” Sebuah hubungan palsu untuk menutupi skandal, meredam media, dan menyelamatkan nama baik mereka berdua. Syarat yang terdengar sederhana, tapi jelas bukan tanpa risiko. Awalnya, Elora hanya menjalani semuanya seperti akting. Senyum di depan kamera, genggaman tangan yang dibuat seolah nyata, dan tatapan hangat yang sebenarnya kosong makna. Tapi Arshaka… terlalu meyakinkan untuk sekadar berpura-pura. Dan Elora mulai sadar, batas antara sandiwara dan kenyataan perlahan menghilang. Di balik sikap dinginnya, Arshaka menyimpan cara memandang Elora yang membuatnya ragu. Terlalu dalam. Terlalu nyata untuk dianggap pura-pura. Masalahnya sekarang bukan lagi soal skandal yang ingin mereka tutupi… Tapi perasaan yang diam-diam tumbuh di antara dua orang yang sama-sama tidak siap untuk jatuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 - Terbangun Dalam Keadaan Rapuh
Kesadaran itu tidak datang dengan cepat tidak juga dengan jelas karena ketika Elora mulai membuka matanya yang pertama ia rasakan bukan kelegaan melainkan rasa berat yang menekan seluruh tubuhnya seolah ia baru saja ditarik keluar dari sesuatu yang dalam dan gelap tanpa benar benar diberi waktu untuk memahami apa yang baru saja terjadi
Cahaya di atasnya terasa terlalu terang membuat matanya langsung menyipit refleks napasnya sedikit tertahan sebelum akhirnya ia mencoba menyesuaikan diri dengan keadaan di sekitarnya yang perlahan mulai terlihat lebih jelas meskipun masih terasa asing untuk beberapa detik pertama
Langit langit putih
Aroma antiseptik
Dan suara alat medis yang berdetak pelan
Rumah sakit
Kesadaran itu datang perlahan
Namun tidak membawa ketenangan
Justru sebaliknya
Semua ingatan kembali dalam satu waktu tanpa jeda tanpa penyaringan suara suara di ruang jumpa pers kilatan kamera pertanyaan yang datang tanpa henti dan tatapan yang seolah ingin menghancurkan semuanya bercampur menjadi satu hingga membuat napasnya kembali terasa tidak stabil
Ia langsung mencoba bangun
Namun tubuhnya tidak merespons dengan cepat pergelangan kakinya masih terasa nyeri sementara kepalanya sedikit berputar membuatnya kembali terjatuh ke posisi semula
“Jangan bergerak”
Suara itu datang rendah
Dekat
Dan langsung membuatnya berhenti
Arshaka
Ia duduk di samping tempat tidur tidak terlalu jauh namun cukup dekat untuk memastikan bahwa Elora tidak benar benar sendiri sejak awal ia sudah ada di sana dan dari cara ia menatap tidak sulit untuk menyadari bahwa ia tidak pergi ke mana mana
Elora menoleh perlahan ke arahnya matanya masih sedikit kabur namun cukup untuk melihat ekspresi yang tidak berubah tenang dingin dan terlalu terkontrol untuk seseorang yang baru saja melihat seseorang pingsan di depan banyak orang
Namun justru itu yang membuatnya terasa stabil
“Aku…”
Suaranya keluar pelan hampir tidak terdengar
Arshaka sedikit mendekat
“Kamu pingsan”
Jawabannya langsung
Tanpa dilembutkan
Elora memejamkan matanya sejenak seolah mencoba menerima kenyataan itu meskipun bagian dari dirinya masih ingin menyangkal
“Aku malu…”
Kalimat itu keluar lebih cepat dari yang ia sadari
Dan langsung membuat suasana berubah
Arshaka tidak langsung menjawab
Tatapannya tetap pada Elora
Lebih lama dari sebelumnya
“Kamu tidak perlu”
Akhirnya ia berkata
Nada suaranya tetap rendah
Namun ada sesuatu yang lebih dalam di dalamnya
Elora menggeleng pelan matanya kembali terbuka namun kali ini terlihat lebih rapuh
“Semua orang lihat aku…”
Napasnya mulai tidak stabil
“Mereka lihat semuanya…”
Kalimat itu terhenti di tengah
Karena ia tidak sanggup melanjutkan
Arshaka langsung berdiri sedikit lebih dekat tangannya terangkat lalu berhenti sejenak sebelum akhirnya menyentuh pipi Elora dengan pelan memaksanya untuk tidak menunduk
“Lihat aku”
Nada suaranya tegas
Tidak memberi ruang untuk menghindar
Elora ragu
Namun akhirnya tetap menatap
“Fokus ke aku”
Lanjut Arshaka
Tatapannya tidak berubah
Untuk beberapa detik tidak ada suara
Hanya napas Elora yang perlahan mulai mengikuti ritme yang lebih stabil
“Yang mereka lihat tidak mengubah apa pun”
Kalimat itu keluar pelan
Namun jelas
Elora menatapnya
“Aku tetap jadi bahan omongan…”
Arshaka tidak membantah
Namun jawabannya berbeda
“Biarkan”
Satu kata
Elora terdiam
“Aku yang urus sisanya”
Lanjutnya
Nada suaranya lebih rendah
Lebih dalam
Dan kali ini terasa seperti sesuatu yang tidak bisa ditawar
Elora tidak langsung menjawab namun matanya perlahan melembut bukan karena masalahnya selesai tapi karena di tengah semua kekacauan itu ada satu hal yang tetap sama
Arshaka tidak pergi
“Aku takut…”
Kalimat itu keluar lagi
Lebih jujur
Lebih lemah
Arshaka menatapnya
Lama
“Kamu tidak sendiri”
Jawabannya sama seperti sebelumnya
Namun kali ini terasa lebih berat
Elora menelan pelan
Tangannya bergerak sedikit
Mencari
Dan tanpa ragu Arshaka langsung menangkapnya menggenggam tangannya dengan kuat bukan sekadar sentuhan tapi sesuatu yang lebih seperti memastikan bahwa ia benar benar ada di sana
“Aku nggak mau sendiri”
Arshaka tidak melepas genggamannya
“Kamu tidak akan”
Dan di titik itu
tanpa disadari oleh Elora
sesuatu mulai berubah
Bukan hanya rasa aman
Tapi ketergantungan
Hari itu berjalan lambat lebih lambat dari biasanya karena setiap detik terasa lebih berat dari yang seharusnya Elora tidak banyak bicara lebih banyak diam dan setiap kali Arshaka sedikit menjauh bahkan hanya beberapa langkah matanya langsung mengikuti seolah memastikan bahwa ia tidak benar benar pergi
Dan Arshaka melihat itu
Mengerti
Namun tidak menghentikannya
Sebaliknya
ia membiarkannya
Malam datang membawa keheningan yang berbeda dari sebelumnya karena di balik semua ketenangan itu ada sesuatu yang sedang bergerak lebih cepat dari yang terlihat
Arshaka berdiri di dekat jendela kamar rumah sakit ponselnya di tangan layar menampilkan informasi yang baru saja ia terima
Lokasi
Nama
Koneksi
Semua mulai mengarah ke satu titik yang sama
Alven Arkana
Tatapannya tidak berubah
Namun ada sesuatu yang lebih gelap di dalamnya sekarang sesuatu yang tidak lagi menahan sesuatu yang sudah siap untuk dilepaskan
Ia menoleh ke arah Elora yang sudah kembali tertidur dengan wajah yang masih terlihat lelah dan rapuh
Untuk beberapa detik ia hanya diam
Menatap
“Aku sudah bilang”
Gumamnya pelan
“Aku tidak akan biarin siapa pun sentuh kamu”
Kalimat itu tidak lagi terdengar seperti janji
Tapi ancaman
Dan kali ini
ditujukan pada satu orang
Alven
————
Jangan lupa like subscribe dan komentar guys!!