NovelToon NovelToon
Bangkitnya Pelayan Terbuang

Bangkitnya Pelayan Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

"Wajah bak dewa, namun nasib bak debu."
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng hanyalah seorang pelayan rendahan tanpa bakat kultivasi. Ia dihina, disiksa, dan dibuang ke hutan kematian hanya karena ketampanannya dianggap sebagai penghinaan bagi para tuan muda sekte yang sombong.
Namun, maut justru menjadi gerbang kebangkitannya.
Di ambang kematian, sebuah pusaka terlarang yang telah lama hilang—Sutra Dewa yang Terbuang—memilihnya sebagai wadah. Kitab itu hancur, menyatu ke dalam nadinya, merekonstruksi tubuhnya menjadi sempurna, dan menanamkan ribuan tahun pengetahuan dewa langsung ke dalam benaknya.
Kini, Han Feng kembali bukan untuk melayani, melainkan untuk menagih hutang darah. Dengan otak yang mampu membedah kelemahan lawan dan tubuh yang menyimpan kekuatan surgawi, ia akan membuktikan bahwa mereka yang dulu mengabaikannya akan berlutut di bawah kakinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

API DI PUNCAK PERBATASAN

​Angin di Tebing Perbatasan tidak pernah berhenti menderu. Di sini, di titik tertinggi yang memisahkan wilayah pinggiran yang tenang dengan keganasan Dataran Tengah, udara terasa begitu tajam. Han Feng berdiri di tepi ceruk batu yang menjorok keluar, menatap pemandangan di bawahnya. Di satu sisi, ia melihat tanah kelahirannya yang kini tampak kecil dan jauh. Di sisi lain, sebuah cakrawala baru yang dipenuhi dengan cahaya mistis, gunung-gunung melayang, dan aliran energi spiritual yang begitu padat hingga terlihat seperti kabut warna-warni.

​Ia memutuskan untuk tidak langsung turun. Tubuhnya membutuhkan jeda, bukan karena kelelahan fisik, melainkan untuk menyelaraskan diri dengan kepadatan Qi yang jauh berbeda di Dataran Tengah. Han Feng memilih sebuah ceruk tebing yang terlindung dari angin langsung, sebuah tempat yang cukup santai untuk menghabiskan malam.

​Meski tingkat kultivasinya sudah memungkinkan dirinya untuk tidak mengonsumsi makanan fana selama berbulan-bulan, Han Feng tetap mempertahankan sisi manusianya. Baginya, menikmati makanan adalah cara untuk menjaga kewarasan di tengah dunia kultivasi yang dingin dan kejam. Ia baru saja berburu seekor babi hutan bertaring perak yang ia temukan di lereng bawah. Hewan itu bukan babi biasa; ia memiliki sedikit energi spiritual yang membuat dagingnya sangat gurih dan kaya akan nutrisi.

​Han Feng menyalakan api unggun kecil. Tanpa bantuan batu api, ia hanya menjentikkan jarinya, melepaskan setetes esensi petir yang langsung membakar kayu-kayu kering yang ia kumpulkan. Suara gemeretak kayu bakar mulai memenuhi ceruk itu. Aroma lemak daging yang terbakar perlahan menyeruak, menenangkan saraf-sarafnya yang selama berminggu-minggu terus menegang.

​Sambil memutar dahan kayu tempat daging babi itu ditusuk, Han Feng termenung. Ia teringat kembali masa-masanya sebagai pelayan di Sekte Pedang Langit. Saat itu, makan daging adalah sebuah kemewahan yang hanya bisa ia mimpikan. Kini, ia duduk di puncak dunia, memegang pedang yang ditakuti, dan membawa rahasia sebuah klan besar. Ada kepuasan tersendiri dalam kesederhanaan ini—sebuah momen santai yang ia nikmati sepenuhnya sebelum badai yang sebenarnya datang menghantam.

​Saat Han Feng menyobek sepotong daging panggang yang panas dan gurih, tiba-tiba sebuah sensasi aneh menjalar dari perut bawahnya. Itu bukan rasa sakit, melainkan sebuah denyutan yang sangat kuat. Darah di dalam nadinya mulai mengeluarkan suara mendidih yang hanya bisa didengar oleh telinganya sendiri. Tato naga di lengan kirinya mulai berpijar emas redup, menembus kain jubah hitamnya.

​“Qi di Dataran Tengah ini... benar-benar pemicu yang luar biasa,” gumam Han Feng. Ia bisa merasakan energi spiritual di sekitarnya tersedot masuk ke dalam pori-pori kulitnya tanpa ia minta. Ini adalah tanda-tanda terobosan. Namun, gejolak ini berbeda dari biasanya. Ini adalah reaksi dari Darah Naga miliknya yang menyambut energi murni dari tanah leluhurnya.

​Han Feng segera meletakkan sisa makanannya. Ia duduk bersila di depan api unggun, menutup mata, dan membiarkan kesadarannya masuk ke dalam lautan spiritualnya. Di sana, ia melihat perbedaan yang mencolok antara apa yang ia pelajari sebelumnya dengan apa yang ia miliki sekarang.

​Di pusat pikirannya, Gulungan Sutra Dewa Naga Tanpa Batas melayang dengan agung. Huruf-huruf kuno di dalamnya bergerak-gerak seperti naga kecil yang hidup. Han Feng teringat pada kitab kuno yang ia temukan di awal perjalanannya. Kitab itu telah membantunya membangun fondasi, membersihkan nadinya yang buntu, dan memberinya kekuatan untuk membalas dendam. Namun, saat membandingkannya dengan Sutra Dewa Naga ini, Han Feng menyadari bahwa kitab lamanya hanyalah sebuah pengantar—sebuah kulit luar yang mempersiapkan dirinya untuk menerima warisan sejati Marga Feng.

​Dalam meditasinya, Han Feng melihat visi baru. Ia melihat bayangan seorang pria agung berdiri di atas awan, memegang pedang yang mirip dengan miliknya. Pria itu tidak menyerang dengan tenaga kasar; setiap gerakannya selaras dengan detak jantung alam semesta. “Naga tidak menekan dengan otot, naga menekan dengan keberadaan,” sebuah suara purba bergema di kepalanya.

​Han Feng membedah setiap bait dalam gulungan sutra tersebut. Ia menyadari bahwa kekuatannya selama ini terlalu fokus pada ledakan petir yang merusak. Sutra Dewa Naga mengajarkan sesuatu yang lebih dalam: bagaimana mengintegrasikan petir itu ke dalam setiap sel tubuhnya, menjadikannya bagian dari napas dan aliran darahnya. Ia mulai menyelaraskan ritme napasnya dengan energi petir yang bergejolak, memaksa setiap tetes Qi untuk tunduk pada kehendaknya.

​Udara di sekitar tebing mulai berputar, membentuk pusaran kecil yang berpusat pada tubuh Han Feng. Suhu di ceruk itu meningkat drastis, membuat tetesan air di dinding batu menguap seketika. Tubuh Han Feng mulai mengeluarkan cairan hitam kental—kotoran sisa dan racun spiritual yang masih tersisa di tulangnya. Cairan itu langsung terbakar habis oleh suhu panas tubuhnya sebelum sempat menyentuh tanah.

​Tanpa ledakan besar atau cahaya yang menyilaukan, Han Feng hanya mengembuskan napas panjang yang membawa percikan listrik ungu. Ia membuka matanya. Pupil matanya kini tidak lagi hanya ungu gelap; ada lingkaran emas tipis yang melingkarinya, memberikan kesan otoritas yang tak terjoyahkan. Ia telah berhasil menerobos ke Pondasi Dasar Tahap Puncak (Level 9). Kekuatan fisiknya kini setara dengan monster peringkat tinggi, dan cadangan Qi-nya meluas sepuluh kali lipat.

​Ia berdiri, merasakan tubuhnya seringan kapas namun sepadat gunung. Api unggunnya hampir padam, menyisakan bara merah yang hangat. Han Feng mengambil sepotong daging terakhir yang tersisa, memakannya dengan santai sambil menikmati kemenangan kecil ini.

​Tiba-tiba, sebuah getaran terasa dari Cincin Ruang di jarinya. Pedang Raksasa Hitam di dalamnya mengeluarkan suara berdenging rendah, seolah-olah ia bisa merasakan bahwa tuannya telah berevolusi. Pedang itu seolah menuntut untuk dikeluarkan dan dipuaskan dengan pertempuran.

​Han Feng melangkah ke tepi tebing, menatap ke kejauhan di bawah sana. Di kaki tebing, sebuah karavan besar dengan ratusan pengawal bersenjata lengkap terlihat bergerak lambat menyusuri jalan setapak menuju kota terdekat di Dataran Tengah. Di tengah karavan itu, sebuah panji besar berkibar tertiup angin. Simbol di panji itu membuat mata Han Feng menyipit tajam: sebuah lambang naga perak yang melilit pedang—simbol cabang samping dari Marga Feng.

​“Begitu cepat?” Han Feng tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan antisipasi. “Terobosan ini memang tepat waktu. Sepertinya saudaraku di Dataran Tengah sudah tidak sabar untuk menyambut kepulanganku.”

​Ia menghapus sisa lemak di bibirnya, memadamkan bara api dengan satu injakan kaki, dan menatap langit malam yang luas. Perjalanannya di wilayah pinggiran telah berakhir. Di depannya, Dataran Tengah menunggu untuk dikoyak, dan Marga Feng akan segera menyadari bahwa naga yang mereka buang telah kembali dengan taring yang jauh lebih tajam dari yang pernah mereka bayangkan.

​Langkah kaki Han Feng mulai menuruni tebing, menghilang ke dalam kegelapan menuju cahaya-cahaya kota yang menanti di kejauhan. Babak baru telah dimulai.

1
T28J
senior kuu
lia
menarik
Danzo28: "Selamat datang! Senang sekali kamu mampir. Semoga betah mengikuti perjalanan ini sampai akhir, ya!"
total 1 replies
lia
menarik
Manusia Ikan 🫪
aku tinggalin jejak dulu ya, nanti siang balik lagi, udah subuh soalnya😹
Danzo28: Terima kasih sudah mampir! Happy reading! ✨"
total 1 replies
Iwa Kakap
sepi pembaca agak nya ..
terlalu banyak kata2 mutiara thor hingga membuat cerita ini seakan jalan ditempat.🙏
Danzo28: Siap, terima kasih masukannya! Saya memang sedang bereksperimen dengan gaya narasi tertentu, tapi masukan ini sangat membantu saya untuk tahu mana yang perlu dikurangi supaya pembaca tidak bosan."
total 1 replies
T28J
cocok buat jadi koleksi 👍
T28J: iya thor, saya mampir terus kalau ada waktu..
kamu juga mampir ketempat saya ya, beri nilai novel pertama saya, kritik dan saran boleh kok👍
total 2 replies
Optimus prime
ga ush pakai bahasa inggris thor... cerita cukup bagus....
Danzo28: "Wah, makasih ya pujiannya! Mengenai bahasa Inggris, memang ada beberapa istilah yang sengaja saya pakai untuk menjaga vibes atau suasana ceritanya (misalnya istilah teknis atau gaya bahasa karakter). Tapi saya bakal coba kurangi pelan-pelan kalau dirasa terlalu mengganggu. Terima kasih sarannya!"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!