NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:929
Nilai: 5
Nama Author: nurproject

Penerbangan dua belas jam menuju Kanada seharusnya menjadi awal hidup baru yang tenang bagi Aisya. Gadis sederhana yang hanya ingin mengejar mimpinya itu tidak pernah menyangka bahwa kursi economy class yang ia tempati akan membawanya masuk ke dalam pusaran hidup Cassian Noir.

​Cassian, pria dengan aura mengintimidasi dan tatapan setajam silet, duduk di sana bukan untuk berlibur. Ia sedang melarikan diri dari pengkhianatan di organisasinya. Pertemuan singkat di atas Samudra Atlantik itu bermula dari sebuah ketidaksengajaan—sebuah bantuan kecil dari Aisya yang justru membuat Cassian melihat sesuatu yang berbeda di balik niqab gadis itu: Ketulusan tanpa rasa takut.

​Namun, sebuah insiden di tengah penerbangan memaksa mereka untuk mendarat dalam situasi yang tidak terduga. Cassian yang terluka dan terpojok mengklaim Aisya sebagai "pengantinnya" demi menyelamatkan nyawa gadis itu dari musuh yang sudah menunggu di bandara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurproject, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Lembaran yang Robek

​Tiga bulan kemudian...

​Musim dingin yang mencekam telah sepenuhnya berlalu dari Toronto, digantikan oleh musim semi yang menghadirkan kehangatan baru. Kuncup-kuncup bunga mulai bermekaran di sepanjang halaman gedung kuno bergaya gotik milik Universitas Toronto.

​Namun, bagi Aisya, musim semi tidak pernah benar-benar datang. Di bawah langit cerah bulan Mei, langkah kakinya terasa sangat berat saat keluar dari gedung rektorat. Di dalam tas ranselnya, terdapat selembar surat resmi dengan stempel universitas yang menyatakan statusnya: Non-Aktif / Drop Out (DO).

​Tiga bulan terakhir adalah mimpi buruk yang nyata. Kafe kecil tempat Paman Hamdan bekerja mendadak gulung tikar karena pemilik gedung menaikkan harga sewa secara gila-gilaan. Paman Hamdan yang syok berat kembali dilarikan ke rumah sakit karena serangan asma kronisnya kambuh. Sebagai mahasiswa internasional, biaya kuliah Aisya sangat tinggi. Sesuai regulasi imigrasi Kanada, mahasiswa asing juga dibatasi jam kerjanya. Aisya yang nekat mengambil kerja paruh waktu legal di sebuah toko kelontong tetap tidak mampu mengejar ketertinggalan uang semesteran yang menumpuk. Hari ini, batas waktu toleransi itu habis.

​Aisya berjalan keluar dari gerbang kampus dengan kepala tertunduk. Ia tidak tahu harus pulang dan menjelaskan apa pada paman dan bibinya. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh, membasahi kain niqab hitam yang dipakainya.

​Karena pikirannya yang kalut, Aisya berjalan menyusuri trotoar Bloor Street tanpa arah, hingga ia harus menyeberang di salah satu persimpangan jalan komersial yang sibuk di pusat kota.

​Tepat di depan sebuah gedung galeri seni mewah, sebuah mobil hitam bertubuh kokoh yang sangat ia kenal sedang berhenti di pinggir jalan karena lampu merah. Rolls-Royce Ghost.

​Pintu belakang mobil mewah itu terbuka sedikit. Cassian Noir baru saja selesai menghadiri pertemuan dengan beberapa kurator seni internasional. Pria itu melangkah keluar dari mobil, mengenakan setelan jas abu-abu formal tanpa mantel tebalnya lagi. Di belakangnya, Kevin menyusul sambil membawa beberapa berkas dan tablet kerja.

​Sejak urusan tumpahan kopi tiga bulan lalu, mereka benar-benar putus kontak. Aisya kembali ke dunianya sebagai mahasiswa biasa, dan Cassian tetap menjadi miliarder yang sibuk di puncak menara korporatnya.

​Cassian sedang mendengarkan penjelasan Kevin ketika pandangan matanya yang tajam secara tidak sengaja menangkap sosok mungil berpakaian serba hitam di seberang trotoar. Langkah gadis itu tampak goyah, dan tangannya bergetar hebat saat meremas selembar kertas berstempel Universitas Toronto.

​Cassian menghentikan langkahnya seketika. "Kevin."

​Kevin ikut berhenti dan menoleh. "Ya, Tuan Noir?"

​Cassian tidak menjawab, namun arah tatapannya membuat Kevin ikut menoleh ke seberang jalan. Kevin tertegun melihat Aisya yang tampak sangat rapuh di tengah keramaian pejalan kaki musim semi. "Lho, itu... Nona Aisya? Kenapa dia ada di jam kuliah seperti ini? Dan dia... tampak menangis?"

​Tepat saat itu, karena saking kalutnya, Aisya tidak memperhatikan langkahnya sendiri. Kakinya tersandung undukan trotoar dan tubuh mungilnya langsung limbung, jatuh terduduk di atas aspal jalan raya. Surat Drop Out di tangannya terlepas, terbang tertiup angin musim semi dan mendarat tepat di dekat ban depan Rolls-Royce milik Cassian.

Sebelum Kevin sempat bergerak, Cassian sudah melangkah lebih dulu. Langkah kakinya yang panjang dan tegas membelah kerumunan pejalan kaki yang mulai memadati persimpangan Bloor Street. Pria itu menunduk sejenak, memungut lembaran kertas berstempel resmi Universitas Toronto yang baru saja mendarat di dekat sepatunya.

​Mata Cassian memindai tulisan di kertas itu dalam hitungan detik. Kata Tuition Fee Arrears (Tunggakan Uang Kuliah) dan Status: Terminated langsung tertangkap oleh indra penglihatannya. Rahangnya mengeras seketika.

​Sementara itu, Aisya masih terduduk di atas aspal. Lututnya terasa ngilu, namun rasa malu dan putus asa yang membuncah di dadanya jauh lebih menyakitkan. Ia berusaha mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya untuk berdiri. Saat ia mendongak untuk mencari kertasnya yang hilang, sepasang sepatu pantofel kulit hitam yang mengilat sudah berdiri tegak di hadapannya.

​Aisya terpaku. Pandangannya bergerak naik, menyusuri setelan jas abu-abu yang pas di tubuh tegap itu, hingga matanya bertemu dengan tatapan tajam yang sangat ia kenal.

​"T-Tuan Noir...?" bisik Aisya lirih. Suaranya serak, tercekat di tenggorokan.

​"Tiga bulan tidak terdengar kabarnya, dan kau mendadak memilih aspal jalanan Toronto sebagai tempat dudukmu, Aisya?" suara berat Cassian menyindir, namun suaranya terdengar dingin dan menuntut penjelasan.

​Kevin menyusul di belakang Cassian dengan wajah cemas, namun ia tetap menjaga jarak aman demi menghormati batasan Aisya. "Nona Aisya, Anda tidak apa-apa? Mari, biar saya bantu..." Kevin mengulurkan ujung payung lipat yang dipegangnya agar Aisya bisa menjadikannya pegangan untuk berdiri tanpa perlu bersentuhan langsung.

​Aisya meraih ujung payung itu dengan tangan gemetar, lalu berdiri dengan goyah. Ia segera menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan matanya yang sembap di balik kain niqabnya.

​"Kau tidak pergi ke mana pun sebelum menjelaskan ini," potong Cassian mutlak. Ia mengangkat kertas di tangannya, menunjukkan lembaran pembatalan status mahasiswa milik Aisya. "Apa arti surat ini? Di mana semua kesombonganmu yang menggebu-gebu tentang pendidikan di universitas terbaik itu, hm?"

​Aisya menatap kertas di tangan Cassian, lalu perlahan mendongak. Meskipun matanya berkaca-kaca, ada binar ketegasan dan harga diri yang kuat di sana. Ia tidak ingin Cassian melihatnya sebagai wanita lemah yang butuh dikasihani, apalagi setelah semua bantuan yang pria itu berikan tiga bulan lalu. Hubungan mereka sudah selesai, dan Aisya tidak ingin menjadi beban lagi.

​Dengan gerakan perlahan namun pasti, Aisya mengulurkan tangannya dan mengambil kembali kertas surat Drop Out itu dari selipan jari Cassian. Pria itu sempat menahan kertasnya sejenak, namun akhirnya melepaskannya saat melihat tatapan Aisya yang memohon.

​Aisya memeluk kertas itu di dadanya, lalu membungkukkan tubuhnya sedikit dengan sangat sopan.

​"Saya mohon maaf karena sudah mengganggu jalan Anda, Tuan Noir. Dan terima kasih sudah memungut kertas saya," ujar Aisya, suaranya kini terdengar jauh lebih tenang meski masih bergetar. "Urusan tumpahan kopi dan hutang dokumen saya sudah lunas tiga bulan lalu. Apa yang terjadi dengan hidup saya hari ini... adalah jalan takdir yang harus saya hadapi sendiri. Saya tidak ingin merepotkan Anda atau perusahaan Anda lagi."

​Cassian tertegun. Alisnya bertaut rapat mendengarkan penolakan halus yang begitu dingin dari gadis mungil di depannya.

​"Kevin, Pak Lukas, terima kasih atas kebaikan kalian," lanjut Aisya, mengangguk sekilas kepada Kevin sebelum akhirnya berbalik.

​Tanpa menunggu jawaban dari Cassian, Aisya melangkah cepat membelah kerumunan pejalan kaki di trotoar Bloor Street. Langkah kakinya yang kecil namun tegas membawanya pergi menjauh, menghilang di antara ramainya kota Toronto di musim semi.

​Kevin menatap punggung Aisya yang kian menjauh dengan pandangan iba, lalu melirik bosnya. "Tuan Noir... apakah kita harus membiarkannya pergi?"

​Cassian tetap berdiri mematung di tengah trotoar. Tangannya perlahan masuk ke dalam saku celana, sementara pandangannya terus terkunci pada arah perginya Aisya. Keangkuhan pria itu terusik oleh penolakan barusan, namun di balik itu, ada rasa penasaran dan ketidakrelaan yang mendadak bergejolak di dalam dadanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!