“Mari bercerai, Mas!”
Rania menatap lurus ke mata suaminya tanpa gentar, meski hatinya terasa hancur perlahan.
Harsa membeku. Kata cerai tak pernah ada dalam hidupnya. Baginya, Rania adalah miliknya selamanya, takdir yang tak bisa diubah siapa pun.
“Apa katamu?!”
Rania menggigit bibir, menahan sesak di dada sebelum akhirnya berkata pelan namun tegas, “Aku ingin bercerai. Aku sudah lelah menjadi istrimu!”
Selama tiga tahun pernikahan mereka, semuanya baik-baik saja. Harsa mencintainya dengan cara yang hangat. Sampai kematian sang adik mengubah segalanya.
Sejak saat itu, Harsa seolah perlahan menjauh darinya. Semua waktunya habis untuk menjaga janda adiknya dan keponakan kecil mereka. Sedangkan Rania, hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri.
Tak ada yang tahu, di balik senyum tenangnya, Rania sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan.
Akankah Harsa setuju dengan perceraian itu? Ataukah Rania memilih pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 4
Rumah sakit itu ramai seperti biasa. Orang-orang berlalu lalang di lorong putih dengan wajah lelah dan penuh harapan. Beberapa duduk menunggu sambil menggenggam hasil pemeriksaan, beberapa lagi menangis pelan di bahu keluarganya.
Sementara Rania, duduk sendirian di sudut ruang tunggu.
Tangannya menggenggam map hasil pemeriksaan begitu erat sampai jemarinya memutih. Wajahnya tampak pucat di balik riasan tipis yang dipaksakan. Sesekali ia batuk kecil sambil menahan nyeri di dadanya.
Tak ada suami yang menemani, tak ada tangan yang menggenggamnya dan tak ada yang tahu kalau perempuan itu sedang berjuang mempertahankan hidupnya.
“Nyonya Rania, silahkan masuk.”
Nama Rania akhirnya dipanggil perawat. Ia bangkit perlahan lalu melangkah masuk ke ruang dokter dengan senyum kecil yang dipaksakan.
Jonathan sudah menunggunya di sana. Pria itu mengenakan jas dokter putih dengan ekspresi serius yang langsung membuat perasaan Rania tidak enak.
“Duduklah,” ucap Jonathan pelan.
Rania menurut.
Ruangan itu hening beberapa saat. Jonathan terlihat sibuk membaca hasil pemeriksaan terbaru di tangannya. Semakin lama wajah dokter itu semakin sulit dibaca. Dan itu membuat dada Rania mulai sesak.
“Jonathan…” panggilnya pelan. “Jangan bikin aku takut.”
Pria itu mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya menatap sahabatnya.
“Kondisimu memburuk.” Kalimat sederhana itu langsung membuat dunia Rania terasa runtuh lagi.
Meski sebenarnya ia sudah menduganya. Akhir-akhir ini tubuhnya memang semakin lemah. Ia lebih sering mimisan, cepat lelah, dan sakit kepalanya semakin parah.
Tapi mendengarnya langsung dari dokter tetap terasa berbeda.
“Leukimianya sudah masuk stadium lanjut, Rania.” suara Jonathan terdengar berat. “Sel kanker kamu menyebar lebih cepat dari perkiraan.”
Rania diam. Matanya perlahan turun menatap kedua tangannya sendiri. Anehnya, ia tidak menangis. Mungkin karena terlalu lelah. Atau mungkin karena sebagian dirinya sudah tahu kalau waktu yang ia miliki memang tidak banyak.
“Kalau aku mulai pengobatan rutin?” tanyanya lirih.
Jonathan terdiam sesaat sebelum menjawab hati-hati.
“Kita tetap usahakan yang terbaik.” jawaban itu terlalu diplomatis untuk tidak dimengerti.
Rania tersenyum kecil. Senyum yang menyakitkan. “Berapa lama lagi?”
“Rania…”
“Berapa lama aku punya waktu Jo?”
Jonathan memejamkan mata sebentar sebelum akhirnya menjawab pelan, “Mungkin, beberapa bulan.”
Hening.
Rania merasa tenggorokannya tercekat.
Beberapa bulan, hanya beberapa bulan? Padahal usianya bahkan belum tiga puluh tahun. Ia masih punya banyak mimpi. Masih ingin hidup lebih lama dan masih ingin dicintai suaminya lagi seperti dulu.
Air mata akhirnya jatuh juga. Rania cepat menghapusnya sambil tertawa kecil.
“Aku bahkan belum sempat jadi ibu…”
Kalimat itu membuat Jonathan langsung menatap sahabatnya dengan nyeri.
Selama ini Rania memang sangat ingin punya anak. Namun karena kesibukan Harsa dan kondisi tubuhnya yang mulai menurun sejak setahun terakhir, keinginan itu terus tertunda. Dan sekarang, tubuhnya bahkan mungkin tidak punya waktu lagi.
“Harusnya kamu bilang sama Harsa,” ucap Jonathan tegas.
Rania langsung menggeleng cepat. “Jangan.”
“Rania.”
“Aku nggak mau dia tahu.”
Jonathan terlihat frustrasi. “Kamu serius mau jalanin semua ini sendirian?”
Rania tersenyum kecil. “Aku udah biasa sendirian.”
Kalimat itu terdengar seperti bercanda. Padahal justru paling menyakitkan.
Jonathan mengusap wajahnya kasar. “Dia suami kamu, Rania.”
“Aku tahu.”
“Dan dia berhak tahu kondisi istrinya.”
Rania menunduk pelan. Tentu saja Harsa berhak tahu. Tapi untuk apa? Supaya lelaki itu merasa terbebani? Supaya Harsa terpaksa tinggal di sisinya karena rasa kasihan?
Rania tidak mau seperti itu. Ia terlalu mencintai suaminya untuk membuat lelaki itu terjebak dalam rasa bersalah.
“Nanti dia khawatir,” bisiknya lirih.
Jonathan sampai kehilangan kata-kata mendengarnya. “Kamu sakit parah begini masih mikirin perasaan suami kamu? Gila, ini benar-benar gila!”
Rania tertawa kecil meski air matanya terus jatuh. “Kalau dia tahu, pikirannya pasti makin stress.”
Jonathan menatap sahabatnya tidak percaya. Kadang ia benar-benar kesal pada Rania. Perempuan itu terlalu lembut. Terlalu mencintai sampai rela menghancurkan dirinya sendiri.
“Memangnya kenapa kalau Harsa tahu?” suara Jonathan mulai meninggi. “Dia nggak bakal marah, Ran!”
Rania hanya diam. Karena justru itu yang paling ia takutkan. Bukan marah. Melainkan perubahan tatapan Harsa nanti.
Tatapan kasihan, tatapan iba. Ia tidak ingin dicintai karena penyakitnya. Rania ingin dicintai sebagai dirinya sendiri.
Dan sekarang saja Harsa sudah mulai menjauh. Bagaimana kalau lelaki itu tahu istrinya sedang sekarat? Mungkin Harsa akan tinggal di sisinya. Tapi karena kewajiban, bukan cinta.
“Aku nggak mau dia terbebani. Dia udah terlalu sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk,” katanya pelan.
Padahal, Rania tahu Jonathan sedang disibukkan dengan keponakan dan istri mendiang adiknya, Wulan.
Jonathan mengembuskan napas frustrasi. “Kamu keras kepala banget. Ini yang nggak aku suka dari kamu!”
Rania tersenyum kecil sambil menghapus air matanya. “Aku cuma capek,” balasanya singkat.
Jonathan menatap perempuan di depannya lama sekali. Sahabatnya itu terlihat sangat rapuh hari ini. Tubuhnya semakin kurus, wajahnya pucat.
Namun yang paling menyedihkan adalah matanya. Mata yang selalu terlihat menyimpan kesepian.
Tok! Tok!
Pintu ruangan diketuk pelan. Seorang perawat masuk sambil membawa map pasien lain.
“Dok, pasien di IGD butuh dokter Jonathan sekarang.”
Jonathan berdecak pelan lalu berdiri. “Oke, saya ke sana.”
Perawat itu mengangguk lalu keluar kembali. Jonathan menatap Rania sekali lagi sebelum akhirnya berjalan mendekat.
“Pikirin omongan aku, ya. Jangan pendam semua sendirian kalau kamu nggak mau kondisimu semakin memburuk.”
Jonathan menghela napas panjang sebelum akhirnya memeluk sahabatnya hangat. Dan pelukan sederhana itu justru hampir membuat Rania kembali menangis.
Karena belakangan ini, ia bahkan lupa kapan terakhir kali dipeluk suaminya sendiri.
“Jangan sendirian terus. Kalau butuh apa-apa dan Harsa sibuk, kamu bisa menghubungiku,” bisik Jonathan pelan.
Rania memejamkan mata sesaat.
“Andai semudah itu, Jo,” batinnya.
Jonathan akhirnya melepaskan pelukan itu lalu pergi keluar ruangan.
Pintu tertutup pelan. Dan Rania kembali sendirian. Perempuan itu menunduk sambil menggenggam hasil pemeriksaannya erat-erat.
Matanya kembali kabur oleh air mata. Beberapa bulan. Hidupnya tinggal beberapa bulan.
“Yang paling menyakitkan bukanlah kematian yang mendekat perlahan, melainkan kenyataan bahwa orang yang paling aku cintai bahkan nggak sadar, kalau dia mulai kehilangan istrinya sedikit demi sedikit,” ucap Rania lirih.
Harsa kalo Masih mau sama Rania sok aku dukung selama mau berubah yak! anggap aja perjuanganmu itu ganti 1 tahun kebelakang💪
selama no making love, dungu sedikit it's okay 👌😄
sebentar sebentar saja kamu menikmati fasilitas kemewahan itu
iya iya siap siap sebelum didepak
dari rumah mewah ituu