NovelToon NovelToon
Menjemput Takdir Yang Sempat Terpisah

Menjemput Takdir Yang Sempat Terpisah

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Selamat, Ibu Alana. Bayinya laki-laki, sehat, dan tampan sekali," ucap sang dokter tersenyum hangat.

​Alana mencium kening putranya dengan air mata yang terus mengalir. "Hai, sayang... Ini Ibu. Mulai hari ini, cuma ada kita berdua. Ibu berjanji akan menjagamu dengan seluruh hidup Ibu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PELUKAN PERTAMA SANG AYAH

Pranggg!

​Suara pecahan kaca yang nyaring dari arah ruang makan memotong kalimat Samudera yang baru saja hendak keluar. Detik berikutnya, suara batuk yang tertahan dan cekatan disusul oleh rengekan panik yang samar terdengar dari dalam rumah.

​Naluri Alana sebagai ibu langsung bekerja. Wajahnya memucat pasi. Tanpa memedulikan Samudera lagi, ia berbalik dan berlari kencang menerobos pintu kaca, disusul oleh Samudera yang langsung ikut berlari di belakangnya dengan langkah lebar.

​Saat mereka sampai di ruang makan, pemandangan mengerikan tersaji di depan mata. Gelas susu Arka sudah pecah berkeping-keping di lantai. Arkana berdiri di dekat kursinya, kedua tangan mungilnya mencengkeram lehernya sendiri. Wajah bocah empat tahun itu memerah keunguan, matanya terbelalak panik, dan ia kesulitan menghirup udara.

​Arka tersedak bakso kecil dari capcay sarapannya. Saluran pernapasannya tersumbat total.

​"Arka! Ya Tuhan, Jagoan Ibu!" jerit Alana histeris. Ia langsung berlutut di depan Arka, mencoba menepuk-nepuk punggung anaknya dengan panik, namun tangannya bergetar terlalu hebat karena rasa takut yang luar biasa. Air mata Alana tumpah ruah. "Keluar, Sayang... keluarin baksonya!"

​Melihat Alana yang mulai kehilangan kendali karena panik, Samudera langsung mengambil alih situasi. Sebagai pria yang terlatih menghadapi situasi darurat, ia tahu panik hanya akan memperburuk keadaan. Waktu mereka tidak banyak—hanya hitungan detik sebelum Arka kekurangan oksigen.

​"Alana, minggir! Biar aku!" seru Samudera tegas namun tenang.

​Samudera langsung berlutut di belakang tubuh kecil Arka. Ia memosisikan tubuh bocah itu sedikit membungkuk ke depan. Dengan sigap, Samudera melingkarkan kedua lengannya di bawah ketiak Arka, mempertemukan kedua tangannya di bagian perut Arka—tepat di atas pusar dan di bawah tulang rusuk.

​Samudera melakukan Heimlich Maneuver untuk anak-anak. Dengan satu gerakan yang mantap, kuat, dan terukur, ia menekan perut Arka ke arah dalam dan ke atas secara bersamaan.

​"Uhuk!" Arka masih kesulitan.

​"Ayo, Jagoan, sekali lagi!" bisik Samudera, mengabaikan detak jantungnya sendiri yang juga berpacu gila-gilaan karena takut kehilangan anaknya yang baru saja ia temukan.

​Samudera memberikan dorongan kedua pada perut Arka dengan sentakan yang lebih tegas.

​Huekk... Uhuk! Uhuk!

​Sebuah bakso seukuran kelereng meluncur keluar dari mulut Arka dan jatuh ke lantai. Seketika itu juga, suara tangisan nyaring Arka pecah. Bocah itu langsung menghirup udara rakus, dadanya naik turun dengan cepat sembari menangis histeris karena ketakutan.

​"Hwaaa... Ibuuu...!" tangis Arka pecah.

​Melihat sumbatan itu keluar, tubuh Samudera mendadak lemas, seolah seluruh energinya terkuras habis dalam waktu tiga puluh detik tadi. Namun, ia segera mendekap tubuh kecil Arka yang masih menangis ke dalam pelukan dadanya yang lapang, mencoba menenangkan sang putra.

​Alana langsung merosot terduduk di lantai, menutupi wajahnya dengan kedua tangan sembari menangis sesenggukan. Ia terisak hebat, antara rasa syok yang teramat sangat melihat anaknya hampir kehilangan nyawa, dan rasa lega yang luar biasa karena laki-laki yang tadi ia usir justru baru saja menjadi penyelamat hidup putranya.

Tangisan Arkana masih terdengar nyaring, namun tubuh kecilnya yang gemetar perlahan mulai menemukan rasa aman di dalam dekapan hangat Samudera. Tangan-tangan mungilnya yang tadi mencengkeram leher kini beralih meremas kuat kemeja putih Samudera, seolah tidak mau dilepaskan.

​Arka menyembunyikan wajahnya yang masih basah oleh air mata di ceruk leher Samudera. Secara insting, anak itu bisa merasakan detak jantung Samudera yang kuat dan konstan—detak jantung yang sebenarnya juga berdegup sangat kencang karena rasa syok, namun entah bagaimana memberikan ketenangan yang luar biasa bagi Arka.

​"Sstt... sudah, Jagoan. Aman. Om di sini, Arka sudah aman," bisik Samudera dengan suara yang bergetar rendah.

​Tangan besar Samudera yang biasanya menandatangani kontrak bisnis bernilai miliaran rupiah, kini bergerak dengan begitu cermat dan lembut mengusap punggung kecil Arka, menyalurkan seluruh rasa hangat dan perlindungan yang ia miliki. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Samudera merasakan sebuah tanggung jawab yang begitu nyata dan sakral. Bocah ini adalah darah dagingnya, hidupnya.

​Sementara itu, Alana yang masih terduduk lemas di lantai hanya bisa menatap pemandangan di depannya dengan perasaan campur aduk. Air matanya masih menetes, namun tangisnya sudah mereda.

​Ada rasa perih yang aneh di sudut hatinya saat melihat betapa eratnya Arka memeluk Samudera. Selama empat tahun, dialah satu-satunya tempat Arka mencari perlindungan saat takut atau sakit. Namun hari ini, di saat kritis yang hampir merenggut nyawanya, Arka justru menemukan kenyamanan itu pada sosok pria asing yang baru ditemuinya kemarin—pria yang tidak lain adalah ayah kandungnya sendiri. Ikatan darah ternyata tidak bisa berbohong.

​Samudera perlahan mengangkat kepalanya, menatap Alana yang tampak begitu rapuh di lantai. Tidak ada lagi tatapan menuntut atau kilat amarah di mata Samudera. Yang tersisa hanyalah rasa lega yang luar biasa karena anak mereka selamat.

1
Lubna Aulia
Ceritanya bagus. Menarik alurnya
Lubna Aulia
Alur ceritanya bagus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!