"Singkirkan tatapan menantangmu itu, Mahasiswa Baru. Kau terlalu sombong hanya karena dari Harvard," desis Amieyara Walker, matanya menghujam sedingin es di koridor sepi.
Maximilian Valerio hanya menyunggingkan seringai tipis yang sarat akan provokasi. "Dan kau? Merasa bisa mengaturku karena memegang gelar Asisten profesor, Nyonya Janda Satu Malam?"
"Jaga mulutmu, Valerio! Jangan menguji batas kesabaranku jika kau tidak ingin hancur di kampus ini!"
"Oh, silakan coba, Yara. Aku tidak takut dengan ancaman kosong dari wanita yang bahkan tidak bisa mempertahankan suaminya sendiri."
Dua jiwa angkuh yang sama-sama terluka, terjebak dalam lingkaran makian dan harga diri yang tinggi.
Tidak ada ruang untuk romansa lembut di antara mereka; yang ada hanyalah benturan ego, dendam, dan obrolan penuh permusuhan yang justru mengikat mereka dalam ketertarikan yang berbahaya dan mematikan.
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27
Malam yang dinantikan oleh seluruh civitas akademika Universitas Los Angeles akhirnya tiba. Aula agung yang megah di pusat kompleks universitas diselimuti oleh kemewahan yang luar biasa gila untuk merayakan hari jadi kampus yang ke-50.
Ratusan lampu gantung kristal memancarkan pendar cahaya keemasan, karpet merah membentang luas di sepanjang jalan masuk, dan alunan musik simfoni klasik bergema anggun, menyambut kedatangan para mahasiswa dari kalangan konglomerat, pejabat, hingga para pesohor kota.
Namun, beberapa kilometer dari pusat keramaian itu, di dalam unit apartemen menengah milik Amieyara Walker, suasana justru terasa sangat sunyi dan dipenuhi oleh riak ketidaksabaran yang menggelitik.
Maximilian Valerio duduk bersandar di atas sofa ruang tengah dengan satu kaki disilangkan.
Pemuda itu sudah tampil luar biasa tampan dan berwibawa dalam balutan setelan tuksedo hitam formal rancangan desainer ternama Italia, melapis kemeja putih bersih yang kancing atasnya sengaja dia biarkan terbuka satu, memamerkan sedikit garis tatonya yang eksotis. Jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Max menoleh ke arah jam dinding, lalu mengembuskan napas pendek sembari mengumpat pelan. "Sialan... wanita ini benar-benar berniat membuatku mati karena penasaran," gumam Max, suara bariton rendahnya terdengar gusar sekaligus gemas.
Max sudah datang sejak jam empat sore tadi. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup seorang Maximilian—pria yang biasanya selalu membuat para wanita mengantre dan menunggu—dia harus merasakan apa itu arti merana karena menunggu seorang wanita dandan.
Yara sudah berada di dalam kamar mandi selama hampir satu jam penuh untuk membersihkan diri, dan sekarang sudah berganti menghabiskan waktu satu jam lagi di depan meja riasnya untuk memoles wajah.
Selama tiga hari terakhir ini, dinamika hubungan di antara mereka berdua mengalami perkembangan yang teramat sangat aneh namun intens.
Max telah resmi mengklaim Yara sebagai kekasihnya, sebuah status mutlak yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun di kampus.
Dan meskipun Yara selalu mencaci makinya dengan sebutan 'brengsek' atau 'bocah birahi', tingkah laku asisten dosen itu justru berbanding terbalik.
Yara selalu menurut dan pasrah saja setiap kali Max memperlakukannya dengan penuh kasih sayang—seperti menggandeng jemari lentiknya saat berjalan, mencuri kecupan-kecupan dalam di pipinya, atau bahkan memeluk tubuh rampingnya dengan posesif dari belakang saat Yara sedang memasak di dapur.
Bahkan, selama tiga malam berturut-turut, Max memilih untuk menginap di apartemen menengah ini.
Mereka tidur di atas satu ranjang yang sama, saling berpelukan erat di bawah selimut tebal, tanpa melakukan kontak fisik yang melampaui batas suci yang telah Yara tetapkan. Max menjaga komitmennya laksana seorang kesatria.
Namun, ada satu hal yang mengganjal di dalam lubang hati Max. Setiap tengah malam, tepat di jam dua pagi, tubuh Yara pasti akan mendadak gemetar hebat di dalam pelukannya.
Wanita itu selalu terbangun dengan napas memburu dan keringat dingin yang membasahi keningnya, menjadi korban dari sebuah mimpi buruk yang teramat sangat mengerikan.
Max belum tahu, entah apa atau siapa yang selalu menghantui alam bawah sadar wanitanya itu. Selain mimpi buruk itu, Yara juga terlihat sangat sering berdiri di atas balkon apartemen saat larut malam, menghubungi seorang pengacara senior di luar sirkel keluarganya, berbicara dengan nada suara yang teramat serius mengenai berkas-berkas kasus hukum.
Maximilian, meskipun rasa penasarannya sudah berada di titik nadir, memilih untuk menahan diri. Dia tidak ingin memaksa Yara untuk berbicara.
Dia ingin Yara sendiri yang datang dan menceritakan seluruh beban hidup serta luka masa lalunya saat wanita itu sudah merasa benar-benar nyaman dan aman di dalam dekapannya.
KLEK.
Suara engsel pintu kamar utama yang terbuka seketika memutus rentetan lamunan Max.
Pemuda itu menoleh dengan cepat, dan pada detik itu juga, pasokan oksigen di dalam paru-paru Maximilian Valerio seolah tersedot habis tak berbekas. Jantungnya mendadak berhenti berdetak selama beberapa saat.
Amieyara Walker melangkah keluar dari dalam kamar.
Wanita berusia dua puluh empat tahun itu tampil dengan keindahan yang teramat sangat mematikan. Dia mengenakan gaun malam berpotongan off-shoulder berwarna biru dongker yang dipadukan dengan aksen sutra satin tipis yang melekat pas di tubuhnya, memperlihatkan struktur tulang selangkangnya yang putih bersih dan seksi tanpa cela—gaun yang dipilihkan oleh Emmeline tiga hari lalu.
Rambut hitam panjangnya ditata sanggul modern yang rapi, menyisakan beberapa helai yang menjuntai indah di sisi wajahnya. Kacamata tipisnya dilepas, digantikan oleh riasan mata yang tajam namun anggun, serta bibir ranum yang dipoles lipstik merah marun yang begitu menggoda.
"Cantik..." Hanya satu kata itu yang berhasil lolos dari belahan bibir Max, suaranya terdengar serak oleh gairah kelelakian yang seketika membumbung tinggi. Max berdiri dari sofa, melangkah mendekati Yara lurus-lurus tanpa mengalihkan pandangan matanya sedikit pun.
Yara yang melihat tatapan lapar Max mendadak menjadi salah tingkah. Dia merapikan ujung gaunnya dengan canggung.
"Jangan menatapku seperti itu, Max. Aku tahu ini sedikit berlebihan untuk ukuran seorang asisten dosen."
Max tidak memedulikan ucapan itu. Dia merapatkan tubuhnya, tangannya bergerak naik membelai pinggang ramping Yara dengan posesif.
"Baby... kenapa gaun malam ini terlihat sangat rumit untuk dilepaskan, hm? Bagaimana kalau kita batalkan saja pergi ke pesta gila kampus itu, dan kita kembali ke dalam kamar saja sekarang?" bisik Max dengan nada mesumnya yang khas, matanya menatap intens ke arah bibir ranum Yara.
Yara memukul dada Max dengan tas genggamannya, meskipun sebuah senyuman tertahan muncul di sudut bibirnya. "Aku sudah menghabiskan waktu dua jam untuk berdandan, Max! Jangan berani-berani merusak tatanan rambut dan riasan wajahku dengan pikiran kotormu itu."
Max menaikkan sebelah alisnya dengan binar mata yang berkilat jenaka. "Oh, jadi kalau kau sedang tidak berdandan... berarti aku boleh membawamu kembali ke atas ranjang kita, begitu?"
Yara mendengus pelan, mencubit pinggang Max dengan gemas. "Kau memang bocah mesum birahi yang tidak akan pernah bisa sembuh!"
Max tertawa renyah, sebuah tawa lepas yang begitu hangat. Dia menggenggam tangan Yara yang mencubitnya, membawa telapak tangan lembut itu ke atas bibirnya untuk dikecup singkat.
"Dengar ya, Baby... kalau aku tidak bertingkah mesum dan bergairah padamu, bagaimana mungkin kau akan hamil di masa depan nanti, hm? Anak-anak kita yang lucu tidak akan pernah ada di dunia ini kalau ayahnya tidak memiliki pikiran mesum terhadap ibunya, Baby."
Tawa Yara pecah seketika, sebuah tawa yang begitu indah yang menggema di ruang apartemen. "Hahaha... kau benar-benar sudah gila, Maximilian! Ayo berangkat sebelum aku berubah pikiran dan menguncimu di luar pintu!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suasana di aula utama perayaan ulang tahun kampus sudah berada di puncak kemeriahan saat Max dan Yara melangkah masuk bersama.
Semua pasang mata seketika tertuju pada pasangan baru itu, memancing bisik-bisik kekaguman sekaligus kecemburuan yang pekat dari setiap sudut ruangan.
Namun, ada satu pemandangan aneh yang mendadak merusak seluruh skenario dan praduga para mahasiswa.
Begitu Yara menginjakkan kakinya di area VIP, Emmeline Valerio yang malam itu tampil laksana ratu dengan gaun merah darahnya, langsung berlari kecil dan menempel ketat di samping Yara, memeluk lengan sang asisten dosen dengan sangat manja laksana seorang adik kandung.
Di sudut ruangan dekat pilar dekorasi, Bella Moon dan Cinmocha Walker berdiri berdampingan dengan wajah yang seketika berubah pucat pasi dan distorsi oleh rasa syok yang luar biasa.
"Sejak... sejak kapan Emmeline Valerio menjadi begitu akrab dengan pelacur itu?!" desis Bella dengan suara yang bergetar hebat karena amarah dan kebingungan.
Caca menggigit bibir bawahnya hingga berdarah, matanya menatap tajam ke arah interaksi manis di antara Emme dan Yara.
Siasat gelapnya untuk menukar target obat perangsang dosis tinggi ke gelas Emmeline harus segera dilaksanakan sebelum semuanya terlambat.
Pelayan yang disuapnya berhasil menyajikan minuman yang telah dicampur racun gila itu tepat ke meja VIP.
Dan kali ini, takdir buruk berpihak pada sang ratu Valerio.
Emmeline, yang merasa haus setelah menyapa beberapa tamu, tanpa curiga sedikit pun meraih gelas cocktail beraksen lemon di hadapannya dan meminumnya hingga setengah.
Hanya butuh beberapa menit bagi obat perangsang dosis tinggi buatan pasar gelap itu untuk bereaksi dan menginvasi sistem sarafnya.
Deg.
Jantung Emmeline mendadak berdegup dengan ritme yang abnormal. Gelombang panas yang asing, pekat, dan teramat sangat menyiksa seketika menjalar dari perut bagian bawah hingga ke seluruh permukaan kulitnya.
Napasnya mendadak memburu, dan penglihatannya mulai sedikit kabur. Sebagai calon dokter, Emmeline langsung bisa menebak sesuatu yang mengerikan sedang terjadi pada tubuhnya.
Seseorang telah meracuninya dengan zat stimulan seksual dosis tinggi.
Cengkeraman tangan Emme pada lengan Yara mendadak mengerat dengan sangat kuat, tubuhnya sedikit gemetar. Menggunakan sisa-sisa kekuatan ego dan keangkuhannya sebagai seorang Valerio, Emmeline menolak untuk mempermalukan dirinya atau terlihat lemah di depan ratusan pasang mata pesta gila ini.
Emme melepaskan lengan Yara, lalu menatap kembaran laki-lakinya, Maximilian, yang sedang mengobrol bersama Carter dan Demon tak jauh dari sana. Emme melangkah mendekat dengan sisa-sisa kesadarannya yang kian menipis.
"Aku... aku akan segera pulang, Max," ucap Emmeline, suaranya terdengar serak dan tertahan, menahan gejolak hebat yang membakar jiwanya. "Pesta ini benar-benar buruk. Aku muak di sini."
Max seketika mengernyitkan alisnya tajam. Sebagai saudara kembar, dia bisa merasakan ada sesuatu yang teramat sangat tidak beres dari nada suara dan gurat pucat di wajah adiknya. Rasa khawatir langsung menyergap rongga dada Max.
"Kau sakit, Emme? Wajahmu merah sekali," ucap Max serius, melangkah maju untuk memegang dahi adiknya. "Aku akan mengantarkanmu sekarang hingga ke mobilmu di parkiran depan."
Namun, sifat angkuh dan keras kepala seorang Emmeline Valerio justru menolak bantuan itu. Dia tidak ingin Max atau siapa pun melihat kondisinya yang mulai kehilangan kendali diri akibat obat jahanam tersebut.
"Tidak perlu, Max! Aku bisa menyelesaikan urusanku sendiri! Tetaplah di sini bersama wanitamu!" sentak Emme ketus, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan cepat membelah kerumunan pesta, menuju pintu keluar bagian belakang aula yang lebih sepi.
Langkah kaki Emmeline membawanya menjauh dari kebisingan aula, menuju area paviliun yang sunyi di bagian belakang taman kampus, tempat di mana angin malam berhembus kencang.
Namun, udara dingin tidak mampu meredakan api gairah yang sudah membakar kesadarannya hingga ke titik nadir. Tubuh Emme lemas, dia tersungkur di atas bangku batu paviliun dengan napas yang terengah-engah gila.
Di saat yang bersamaan, seorang remaja laki-laki berseragam SMA—yang tampaknya merupakan adik dari salah satu mahasiswa yang ikut menyusup ke area pesta—sedang berdiri merokok sendirian di paviliun tersebut.
Sementara itu, di sudut balkon aula lantai dua yang menghadap langsung ke arah taman belakang, Cinmocha Walker berdiri sembari memegang segelas anggur merah.
Sepasang matanya menyaksikan dengan jelas bagaimana siluet Emmeline menghilang di kegelapan paviliun bersama anak SMA tersebut.
Sebuah senyuman kemenangan yang teramat sangat puas dan kejam terukir lebar di bibir Caca. Dia mengangkat gelas anggurnya ke udara, memberikan penghormatan semu pada kehancuran sang musuh.
"Selamat berpesta liar malam ini, Emmeline Valerio," ucap Caca lirih dengan nada suara yang sarat akan racun kemenangan. "Mari kita lihat, bagaimana tangisan kesombongan dinasti Valerio besok pagi saat rekaman menjijikkanmu tersebar luas di seluruh koridor kampus."