Anindya Maheswari, menikah dengan Raditya Wicaksono tanpa restu dari orang tua Radit karena Anindya hanya seorang yatim piatu dan besar di panti asuhan.
Cinta tulus dari Radit membuat Anindya bertahan, berjuang bersama, banting tulang, memeras otak dan keringat. Memulai segalanya dari nol hingga akhirnya sukses.
Namun, siapa sangka setelah sukses Radit malah berkhianat? Menjalin hubungan dengan gadis yang lebih muda, memiliki seorang anak, dan bahkan selingkuhan itu sedang hamil lagi.
Membawa amarahnya yang membara, Anindya bertekad mengembalikan Radit dan keluarga nya ke keadaan semula.
“Kamu lupa satu hal. Jika aku bisa membuatmu sukses, aku juga bisa membuatnu hancur!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
01
.
Tok tok tok!
Ketukan pelan terdengar di pintu ruangan, ketika Anindya Maheswari duduk tegak di kursi kerjanya yang mewah. Matanya meneliti setiap baris angka dan kalimat dalam berkas-berkas penting yang menumpuk di meja.
“Masuk,” serunya tanpa mengalihkan pandangan dari berkas di tangannya.
Rosita, asistennya melangkah masuk dengan membawa sebuah amplop coklat tebal. “Maaf, Bu Anin. Ada paket untuk Anda, tapi tidak ada nama pengirimnya,” lapor Rosita sambil mengulurkan amplop tersebut.
Anindya mengernyitkan dahi, namun tangannya tetap terulur menerima benda itu. Jemarinya yang anggun membuka perekat amplop itu dengan tenang. Namun, ketenangan itu runtuh dalam sekejap mata.
Isi amplop itu membuat napasnya tercekat di tenggorokan. Beberapa lembar foto berwarna jatuh berserakan di atas meja kerjanya.
Foto Raditya, Suaminya, bersama seorang wanita yang sedang memegang perutnya yang besar. Hamil.
Jantung Anindya berdetak jauh lebih kencang dari biasanya, seakan hendak meledak. Tangannya gemetar hebat saat ia membalik foto-foto berikutnya satu per satu.
Di foto itu, Raditya terlihat begitu hangat dan perhatian. Senyumnya lebar, matanya berbinar penuh kasih sayang. Sesuatu yang selama ini ia pikir hanya untuknya.
Ting!
Belum sempat ia berpikir lebih jauh, suara notifikasi ponselnya memecah keheningan. Anin membukanya dan terdapat sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
“Jika kau ingin melihat lebih jelas, datanglah ke Rumah Sakit Graha Medika sekarang.”
Anindya terdiam membeku selama beberapa detik. Dunia seakan berhenti berputar. Wajahnya pucat pasi, namun matanya perlahan berubah menjadi tajam.
“Apa jadwalku setelah ini?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel.
“Tidak ada, Bu. Sisa hari ini kosong,” jawab asistennya pelan.
“Baik. Siapkan mobil. Aku akan pergi sekarang.”
*
Beberapa saat kemudian, mobil sedan hitam yang dikendarai oleh Anin berhenti tepat di halaman Rumah Sakit Graha Medika. Anindya melangkah dengan hati yang terasa sangat berat. Dalam hatinya masih berharap, itu hanya pesan dari orang iseng.
Matanya menyapu setiap sudut lobi rumah sakit yang megah itu, hingga akhirnya, pandangannya tertuju pada satu titik.
Raditya. Suaminya. Pria yang telah ia dampingi, dan cintai selama lima belas tahun, sedang berjalan pelan sambil menggandeng tangan seorang wanita yang perutnya sudah sangat besar. Di sisi lain, seorang anak laki-laki kecil berusia sekitar lima tahun memegang tangan pria itu dengan manja, sesekali menengadah meminta perhatian.
Hati Anindya hancur. Seolah-olah semua perjuangan, air mata, dan semua janji yang pernah mereka ucapkan tidak pernah ada.
*
Lima Belas Tahun Yang Lalu...
Anindya masih ingat jelas hari itu. Hari ketika mereka memutuskan untuk menikah. Mereka tidak punya apa-apa saat itu. Tidak ada harta apalagi rumah mewah. Yang ada hanya sebuah kamar kontrakan sempit dan keyakinan bahwa cinta bisa mengatasi segalanya.
“Sayang, terima kasih sudah mau menemani aku berjuang,” ucap Raditya kala itu, suaranya terdengar lelah sambil memijat pundak Anindya yang terasa pegal setelah seharian bekerja. “Kamu pasti capek sekali.”
Anindya tersenyum kecil, menggeleng pelan. “Kenapa berterima kasih? Kita sama-sama berjuang.”
“Ini salahku. Aku yang belum bisa membahagiakanmu,” lanjut Raditya dengan suara parau.
“Jangan bicara seperti itu,” sahut Anindya sambil memegang pipi suaminya. “Kita memang tidak lahir dari keluarga kaya. Tapi aku percaya suatu hari nanti kita bisa jadi orang sukses.”
Raditya menatapnya lama. “Kamu benar-benar wanita yang baik sekali,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Namun, kalimat yang terlontar kemudian tanpa Anin sadari akan menjadi awal dari sebuah lubang besar dalam pernikahan mereka.
“Usaha kita masih belum berhasil. Hidup kita masih serba sulit. Daripada nanti anak kita ikut menderita, bagaimana kalau kita tunda dulu? Kita fokus membangun masa depan dulu.”
Anindya terdiam. Ada rasa perih yang menusuk hatinya saat itu. Namun, karena rasa cinta dan kepercayaannya yang buta, ia pun mengangguk.
“Baiklah kalau itu memang keputusan terbaik untuk kita.”
Kembali ke saat ini
Setelah lima belas tahun, semua kerja keras itu terbayar lunas. Perusahaan mereka kini berdiri megah, nama mereka harum di mana-mana, harta berlimpah ruah. Kesuksesan yang dulu hanya angan-angan, kini menjadi nyata.
Namun ternyata, kesuksesan itu juga yang merenggut segalanya.
Anindya menatap pemandangan menyakitkan di depannya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Mengapa... setelah semua perjuangan kita…” suaranya bergetar lirih, hampir tak terdengar. “Yang kudapatkan bukan kebahagiaan. Melainkan pengkhianatan?"
Anindya mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kuku-kukunya menancap ke dalam telapak tangan.
*
Anindya berjalan gontai keluar dari rumah sakit. Air matanya masih mengalir dan sesekali ia seka dengan punggung tangan. Masuk ke dalam mobilnya dan mengambil nafas untuk menenangkan diri. Setelah merasa keadaannya lebih baik, Anindya mulai menjalankan mobilnya, tapi ia tidak kembali ke perusahaan, tidak juga pulang ke rumah megah yang selama ini ia tempati bersama Raditya. Ia mengarahkan mobilnya menuju rumah sahabat baiknya, Zaskia.
“Anin?!” Zaskia yang sedang duduk di sebuah sofa panjang terkejut melihat wajah sahabatnya yang pucat dan kacau. “Kamu kenapa?! Ada apa?!” tanya Zaskia sambil menarik tubuh sahabatnya ke dalam pelukan.
Air mata kembali jatuh membasahi pipi Anindya saat ia menyerahkan tumpukan foto yang sudah sedikit kusut karena genggamannya.
Zaskia mengambilnya, dan seketika itu juga, wajahnya berubah merah padam menahan amarah.
“Raditya!” geramnya tertahan. “Dasar brengsek!”
Anindya hanya diam, bahunya semakin terguncang oleh isak tangis.
“Kurang ajar!” desis Zaskia, matanya memancarkan api kemarahan. Ia menatap Anindya, lalu menarik napas panjang seolah baru mengingat sesuatu yang besar. “Ada sesuatu yang harus kamu tahu, Anin. Sesuatu yang selama ini aku sembunyikan karena takut kamu sakit hati.”
Anindya mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. “Apa…?”
“Lima tahun lalu... ” Zaskia mulai bicara pelan. “Aku pernah melihat Radit bersama seorang cewek. Dia yang ada di foto itu.”
Anindya syok. Tubuhnya terasa membeku. Ia sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar.
“Aku sempat mengancam Radit akan memberitahukan ini padamu. Tapi kemudian dia bersumpah akan putus hubungan dengan cewek itu. Dan aku pikir Radit benar-benar berubah, karena aku lihat hubungan kalian juga baik-baik saja.”
Anindya semakin tergugu. Air matanya mengalir semakin deras.
“Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau ternyata mereka masih bersama bahkan punya dua anak.” Zaskia meraih tubuh sahabatnya dan memeluknya erat. Wanita itu bahkan ikut menangis karena merasa ikut bersalah telah menyembunyikan hal buruk itu.
“Pantas saja,” bisik Anin pelan, seolah tersadar akan sesuatu. "Sudah lama Ayah dan Ibu mertua tidak pernah lagi menuntut cucu. Ternyata, mereka sudah punya cucu.”
Zaskia menggenggam tangan sahabatnya erat-erat. “Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang? Kalau kalian bercerai sekarang, bukankah itu justru menguntungkan mereka? Wanita selingkuhan itu yang nanti akan menikmati semua hasil keringatmu, semua harta yang kamu bangun dari nol!”
Ruangan itu menjadi hening. Hanya terdengar suara napas Anindya yang mulai teratur. Perlahan namun pasti, ekspresi wajah wanita itu berubah total. Air matanya berhenti mengalir. Digantikan oleh sebuah senyum tipis sedingin es.
Ia menggenggam balik tangan Zaskia, kali ini dengan genggaman yang kuat dan mantap. “Aku tidak akan membiarkan itu terjadi,” ucapnya. Suaranya terdengar tenang. Terlalu tenang hingga membuat bulu kuduk Zaskia merinding.
“Apa yang akan kamu lakukan? Jangan bertindak nekad!”
Anindya melepas pelukan Zaskia lalu berdiri tegak. Aura seorang CEO yang tangguh dan kejam mulai terpancar kembali dari dirinya, jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Zaskia menelan ludah melihat perubahan drastis pada sahabatnya.
“Mereka lupa satu hal. Jika aku bisa membuat Radit sukses, aku juga bisa membuatnya hancur!”
apa lgi yg lbih mnyedihkn slain nsibnya s pcundang....udh pd tngkat dewa bkln dpt tender,taunya zonk...😛😛😛....
smntra anin,dia udh bngkit plus dpt dkungn dr bnyak orng yg pduli sm dia....ga sbr nunggu s pcundang hncur.....