NovelToon NovelToon
Memetik Cinta Dari Sisa Air Mata

Memetik Cinta Dari Sisa Air Mata

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cerai / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:888
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Kebahagiaan yang pernah utuh runtuh seketika oleh duri pengkhianatan. Rosella terpaksa menelan pil pahit saat suami dan sahabatnya mengkhianati kepercayaan. Derita sepenuhnya belum usai, takdir kembali mencabik hati dengan kepergian adiknya yang mengenaskan demi sebuah rahasia.

Di saat air mata belum kering, Hengki justru melepas ikatan cinta tanpa sisa rasa, meninggalkannya sendirian di tengah reruntuhan duka.

Namun, Tuhan selalu menyisakan pelangi di balik awan gelap. Di tengah reruntuhan harapan, hadir seberkas cahaya. Hariz, sosok yang tak disangka, menjadi penopang di kala rapuh. Di antara sisa air mata dan luka yang belum kering, tumbuh benih cinta yang baru. Rosella belajar bahwa hati yang patah tak berarti mati. Ia berani melangkah, memetik harapan baru dan menanam bahagia di tanah yang pernah basah oleh tangis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hadirnya Cahaya Baru

"Saat tangisan pertama itu terdengar, seolah seluruh alam semesta ikut bersorak bahagia. Segala rasa lelah, cemas, dan air mata lenyap seketika, berganti dengan kehadiran sosok mungil yang menjadi alasan terindah bagi kami untuk terus mencinta dan menjaga satu sama lain selamanya."

...****************...

Hariz bergerak seperti orang yang dikejar waktu. Ia berlari ke sana kemari mengambil tas yang telah disiapkan sejak lama, namun tangannya yang gemetar membuatnya terlihat sangat kaku. Ia mengambil baju, lalu meletakkannya lagi, mengambil selimut, lalu bingung sendiri.

"Kunci... di mana kunci mobilku? Ya Allah, kunci mobilku hilang. Ya Allah, aku taruh di mana tadi?" gumamnya panik seolah dunia sebentar lagi runtuh.

"Di sana, Mas... di samping vas bunga," jawab Rosella dengan sabar, berusaha berdiri dengan bantuan dinding.

"Ada! Ternyata di sini!"

Sesampainya di hadapan Rosella, Hariz ingin sekali terlihat gagah membantu istrinya berjalan. Namun, rasa sayang yang berlebih justru membuatnya bingung bagaimana cara memegang. Tangannya bergerak-gerak di udara seperti orang yang hendak menangkap angin, takut salah sentuh, takut menyakiti.

"Mari, Permata hatiku... berpegangan di bahu Mas. Melangkah pelan saja. Jangan terburu-buru, Duh, jangan cepat-cepat." ucapnya dengan gaya yang sangat dramatis namun tulus.

"Mas ini... aku cuma sedang mengandung, bukan sedang membawa piala kristal," canda Rosella lembut, tertawa kecil di sela rasa sakit yang datang silih berganti.

Sesampainya di garasi, Hariz membukakan pintu mobil dengan sangat dramatis. "Silakan Nyonya, hati-hati kepalanya... duh jangan sampai terbentur!"

Saat hendak masuk, baju panjang yang dikenakan Rosella tersangkut pada alas kaki. Ia sedikit oleng, dan refleks Hariz langsung menerjang menangkapnya. Posisi mereka menjadi sangat lucu; Rosella setengah duduk setengah berdiri, sementara Hariz memeluknya dari belakang dengan wajah pucat pasi seolah baru saja menyelamatkan dunia.

"Ya Allah, Ya Allah! Jangan gitu dong, Sayang! Jantung Mas mau keluar ini! Kita belum sampai Rumah Sakit lho! Kamu ini mau bikin aku kena serangan jantung ya sebelum liat anaknya lahir?" cerocos Hariz panik tapi segera membenarkan posisi Rosella dengan aman.

"Maafkan aku, sepertinya pakaianku pun ikut gugup," jawab Rosella manis.

Sepanjang perjalanan, mobil yang biasa melaju kencang itu kini berjalan selambat-lambatnya seperti seekor kura-kura. Hariz memegang setir dengan kedua tangan erat, wajahnya serius sekali, seolah sedang memimpin misi paling penting dalam sejarah hidupnya.

 

Sesampainya di rumah sakit, suasana makin tegang. Rosella sudah mulai mengalami kontraksi yang sangat menyakitkan. Hariz berdiri di samping tempat tidur, wajahnya pucat, keringatnya mengucur deras lebih banyak daripada Rosella yang akan melahirkan.

Di ruang bersalin itu, suasana berubah menjadi hening dan khidmat. Namun, ketenangan itu justru membuat Hariz semakin terlihat lucu dengan kegugupannya.

"Dokter! Istri saya! Tolong istri saya! Sakit sekali saya liatnya!" seru Hariz pada perawat dengan wajah cemas.

"Bapak tenang saja, ini memang proses alami sebelum melahirkan. Bapak temani istrinya, pegang tangannya," jawab perawat santai.

Hariz segera menggenggam tangan istrinya. Ia menggenggamnya begitu erat, penuh kekuatan, hingga Rosella pun harus bersuara.

"Mas sayang, genggamnya pelan sedikit bisa? Nanti tanganku yang patah duluan sebelum bayi kita melihat dunia," rengek Rosella sambil meringis, namun matanya memancarkan rasa sayang.

"Ah! Ampun! Maafkan Mas, Sayang!" Hariz segera mengurangi tekanannya namun tak melepaskan genggaman. "Mas panik sekali rasanya. Melihatmu menderita begini rasanya jauh lebih menyakitkan daripada apa pun. Lihat kamu kesakitan gitu, rasanya ingin Mas aja yang menggantikan posisimu."

Saat gelombang kontraksi datang, Rosella memejamkan mata, mengerahkan seluruh kekuatan batin dan fisiknya. Hariz di sampingnya tak henti mengelap keringat di dahi istrinya, membisikkan puji-pujian dan kata-kata cinta.

"Kamu adalah wanita terkuat yang pernah Mas kenal, Sayangku. Semangat Sayang... kamu wanita hebat... tarik napas... hembuskan... iya gitu... Ayo Adek bayi, ayo keluar, jangan bikin Ibu susah ya..."

Dan di tengah ketegangan itu, momen absurd pun hadir tanpa diminta. Karena terlalu ikut merasakan usaha istrinya, Hariz tanpa sadar ikut mengejan dan menahan napas! Wajahnya ikut memerah, keningnya berkerut dalam, seolah-olah dialah yang sedang menahan beban dunia.

"Ng... uhh..." erang pelan keluar dari mulutnya.

Rosella yang melihatnya dari sudut mata sampai tersenyum sendiri. "Mas... kenapa ikut menahan napas? Kan yang berjuang ini aku," godanya pelan di sela-sela napasnya yang tersengal.

"Eh! Iya juga ya!" Hariz langsung menghela napas panjang lega seolah baru saja menyelesaikan beban berat. "Maafkan Mas, Sayang. Kebawa suasana rasanya. Seandainya bisa, Mas rela menggantikan posismu saat ini juga."

"Sabar ya, Mas... Pasti bayi kita tertawa melihat antusiasme Ayahnya dari dalam sana," ucap Rosella menenangkan, memegang tangan suaminya yang gemetar itu.

Setelah perjuangan yang begitu panjang, setelah air mata dan tawa bercampur menjadi satu...

OEEE !!! OOEE!!!

Tangisan pertama itu melengking indah, memecah ruang dan waktu. Seakan seluruh alam semesta ikut bersorak menyambut kehadiran seorang manusia baru.

Beberapa saat kemudian, setelah dibersihkan dan dibungkus selimut lembut berwarna biru, bayi mungil itu diletakkan di dada Rosella.

Sentuhan kulit ke kulit itu membuat hati Rosella meleleh. Ia menatap wajah kecil di hadapannya itu dengan takjub.

Wajahnya bulat, pipinya tembem merah muda, hidungnya mancung mirip Hariz, dan rambutnya hitam lebat. Matanya yang masih tertutup rapat itu bergerak-gerak pelan seakan sedang mencari sumber kehangatan.

Hariz terpaku. Matanya tak berkedip menatap sosok mungil yang merah merona itu. Air mata kebahagiaan mengalir deras tanpa bisa ditahan lagi, membasahi pipi tampannya.

"Selamat Bapak, Ibu... Bayinya Laki-laki, sehat, dan sangat gagah!" seru suara perawat penuh sukacita.

"Mas, lihatlah... dia sempurna." bisik Rosella pelan, jari gemetarnya mengusap lembut pipi bayi itu.

Hariz langsung memeluk Rosella erat-erat, mencium kening, mata, dan bibir istrinya berkali-kali. "Terima kasih... Terima kasih telah memberikan dunia yang baru untuk kita, Sayangku. Kamu adalah malaikat untukku dan anak kita."

Saat bayi itu diletakkan di dalam gendongannya, Hariz gemetar hebat. Ia memandang wajah kecil itu dengan pandangan takjub dan penuh hormat.

Hariz duduk di samping, menatap putranya dengan tatapan tak percaya dan penuh cinta. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh jari-jari mungil bayi itu yang langsung menggenggam erat jari telunjuknya.

Jleb! Hati Hariz terasa diremas hangat.

" Halo, Pahlawan Kecil Ayah." bisik Hariz dengan suara bergetar. "Selamat datang di dunia, Nak. Selamat datang di keluarga kita." ucapnya selembut mungkin.

"Ini Ayah... Maafkan Ayah yang tadi terlihat panik dan ceroboh. Tapi kamu harus tahu, tidak ada cinta di dunia ini yang lebih besar dari cinta Ayah dan Ibu."

Ia mencium kening bayi itu dengan sangat hati-hati, seolah mencium kelopak bunga yang paling rapuh.

"Kamu adalah bukti nyata bahwa setelah badai tergelap, pelangi terindah pun hadir. Kamu adalah masa depan kami, kamu adalah kebahagiaan baru untuk kami."

Tak lama kemudian, Pak Abraham masuk ke dalam dengan wajah penuh harap. Melihat cucu pertamanya yang sudah lahir dengan selamat, lelaki tua itu tidak kuasa menahan tangis bahagia.

"Ini... ini cucu Ayah, ya?" tanya Pak Abraham pelan, mendekat perlahan.

"Iya, Yah. Ini Cucumu. Cucu laki-laki yang sehat dan ganteng seperti ayahnya," jawab Hariz bangga.

Pak Abraham menyentuh pelan kaki bayi itu, lalu mengangkat tangannya ke atas. "Terima kasih Ya Allah... Terima kasih sudah mengembalikan senyum di keluarga ini. Anak ini... anak ini harapan baru, Cahaya baru."

Rosella menatap kedua orang yang paling dicintainya itu dengan senyum teduh. Meskipun lelah, meskipun banyak hal lucu dan kacau yang terjadi, namun inilah kebahagiaan yang paling nyata, paling indah, dan paling sempurna yang pernah mereka rasakan.

Keluarga kecil mereka kini telah lengkap, terbungkus rapi oleh kasih sayang, doa, dan tawa yang akan terus menerus menghiasi.

 

1
Daisy
keren.
Rocean: terima kasih 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!