NovelToon NovelToon
Pendekar Mulut Sampah

Pendekar Mulut Sampah

Status: sedang berlangsung
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Li Zhen terbangun di ranjang jerami yang gatal, menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. Dia menyadari dirinya terlempar ke Benua Awan Surgawi, masuk ke tubuh pemuda lemah dengan nama yang sama.

Alih-alih berlatih ilmu kanuragan seperti kultivator lain, Li Zhen hanya menguap lebar sambil menatap langit-langit yang bocor. Dia memilih menggunakan lidahnya yang setajam pisau untuk bertahan hidup di dunia persilatan yang kejam ini.

Dia tidak pernah sekalipun memukul lawan, namun musuhnya sering menangis tersedu-sedu sambil memeluk lutut. Ini adalah kisah berputar-putar tentang seorang pemuda yang mengacaukan dunia kultivasi hanya dengan ocehan tanpa henti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sistem Pembicara Sampah Surgawi Aktif

Langit di Benua Awan Surgawi memancarkan warna jingga kemerahan yang sangat menyilaukan pandangan mata telanjang. Awan-awan tebal berbentuk pusaran badai menggantung sangat rendah di atas puncak-puncak gunung berbatu tajam.

Angin kencang bertiup membawa aroma karat dan bau tanah basah yang langsung menyengat rongga hidung. Daun-daun bambu bergesekan dengan kasar, menghasilkan suara melengking yang terdengar seperti jeritan roh-roh penasaran.

Di bawah salah satu lereng gunung yang terpencil, berdiri sebuah gubuk kayu reyot yang nyaris runtuh tertiup angin. Dinding-dinding kayunya sudah lapuk dimakan usia, penuh dengan lubang sebesar kepalan tangan manusia dewasa.

Li Zhen terbangun dengan napas yang tersedak hebat di tenggorokannya. Tangannya langsung mencengkeram dadanya sendiri, meremas jubah kain kasarnya karena jantungnya berdetak sangat liar.

Keringat dingin membasahi seluruh punggungnya, membuat kain jubah itu menempel tidak nyaman pada kulitnya yang pucat. Dia mengerjap-erjapkan matanya yang terasa sangat perih, berusaha memfokuskan pandangan pada langit-langit gubuk yang bocor.

Sensasi pusing yang luar biasa menghantam kepalanya, seolah-olah ada seseorang yang memukul tengkoraknya dengan palu besi raksasa. Li Zhen mengerang kesakitan dengan suara serak, memiringkan tubuhnya di atas ranjang kayu yang langsung berderit keras.

Tangannya yang gemetar meraba permukaan ranjang, merasakan tekstur kayu kasar yang penuh dengan serpihan tajam. Ini jelas bukan kasur empuk di apartemen modernnya yang selalu dia rapikan setiap pagi.

Ingatan-ingatan asing tiba-tiba membanjiri otaknya seperti air bah yang menjebol bendungan rapuh. Dia memegangi kepalanya dengan kedua tangan, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk menahan jeritan rasa sakit.

Gambaran tentang sebuah dunia di mana manusia bisa terbang di atas pedang dan membelah gunung terlintas jelas di benaknya. Di dunia ini, kekuatan bela diri dan kultivasi adalah satu-satunya hukum mutlak yang menentukan hidup matinya seseorang.

Sialnya, dia menyadari bahwa dia baru saja bertransmigrasi ke dalam tubuh seorang pemuda yang memiliki nama yang sama dengannya. Li Zhen di dunia ini dikenal sebagai sampah terbesar di seluruh wilayah Sekte Teratai Angin.

Pemilik tubuh asli ini tidak memiliki sedikit pun bakat kultivasi dan meridiannya cacat sejak lahir. Dia selalu menjadi sasaran empuk pukulan para murid luar lainnya yang ingin melampiaskan amarah mereka.

Li Zhen modern mengusap wajahnya dengan kasar, meninggalkan noda debu hitam di kedua pipinya yang tirus. Dia menatap kedua telapak tangannya yang kurus kering, tidak percaya dengan nasib buruk yang menimpanya.

"Dari miliaran orang di bumi, kenapa harus aku yang dilempar ke tempat terkutuk yang tidak memiliki internet ini?" gumamnya dengan nada penuh keputusasaan. Bahunya merosot turun, menunjukkan betapa hancur mentalnya menghadapi kenyataan yang tidak masuk akal ini.

Dia mencoba duduk perlahan, namun rasa nyeri di sekujur tubuhnya memaksanya untuk kembali berbaring. Tubuh ini dipenuhi oleh memar berwarna keunguan akibat pukulan yang diterimanya kemarin sore dari saudara sepupunya sendiri.

Rasa lapar yang sangat menyiksa mulai meremas perutnya, membuatnya merasa mual dan ingin muntah. Li Zhen menoleh ke samping, menatap sebuah kendi tanah liat retak yang tergeletak di atas lantai tanah yang kotor.

Dengan sisa tenaganya yang sangat sedikit, dia merangkak turun dari ranjang kayu yang keras tersebut. Lututnya membentur lantai tanah, menciptakan suara debuk pelan yang menggema di dalam gubuk sunyi itu.

Dia meraih kendi itu dengan tangan gemetar, lalu menenggak sisa air keruh di dalamnya dengan sangat rakus. Air itu terasa berpasir dan berbau lumut, namun dia tidak memiliki pilihan lain untuk meredakan dahaganya.

Setelah meletakkan kendi itu kembali, Li Zhen bersandar pada kaki ranjang sambil mengatur napasnya yang memburu. Matanya menatap kosong ke arah pintu gubuk yang engselnya sudah terlepas sebelah.

"Dunia kultivasi yang kejam, tubuh yang cacat, dan status sebagai samsak tinju berjalan," bisiknya dengan senyum sinis yang getir. "Ini bukan cerita petualangan pahlawan, ini adalah hukuman mati yang ditunda eksekusinya."

Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan rasa marah pada ketidakadilan takdir. Tidak ada artefak dewa, tidak ada kakek misterius di dalam cincin, dia benar-benar terdampar tanpa modal apa pun.

Tepat ketika keputusasaan mulai menelan seluruh kewarasannya, sebuah suara dentingan tajam bergema di dalam kepalanya. Suara itu terdengar sangat mekanis, persis seperti suara notifikasi dari sistem komputer canggih.

[Ting!]

Li Zhen tersentak kaget, kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan dengan panik mencari sumber suara aneh tersebut. Jantungnya kembali berdegup kencang, takut jika ada kultivator jahat yang sedang menyusup ke dalam gubuknya.

Sebuah layar transparan berwarna biru neon tiba-tiba muncul di udara, melayang tepat sepuluh sentimeter di depan wajahnya. Cahaya biru dari layar itu menerangi wajahnya yang pucat, membuat bayangannya menari-nari di dinding kayu gubuk.

Li Zhen memundurkan kepalanya secara refleks, matanya membelalak lebar melihat fenomena yang tidak bisa dijelaskan oleh logika tersebut. Dia menggosok kedua matanya dengan punggung tangan, memastikan bahwa dia tidak sedang berhalusinasi karena kelaparan.

Namun layar biru itu tetap ada di sana, menampilkan deretan teks bercahaya yang bergerak dari bawah ke atas. Suara mekanis itu kembali terdengar, kali ini bergema langsung di pusat pikirannya.

[Inisiasi selesai. Sistem Pembicara Sampah Surgawi berhasil mengikat inang: Li Zhen.]

Mulut Li Zhen terbuka sedikit, napasnya tertahan saat membaca nama sistem yang tertulis di layar tersebut. "Sistem Pembicara Sampah? Nama macam apa itu, apakah sistem ini menyuruhku bekerja sebagai pemulung?" protesnya dengan dahi berkerut tajam.

Layar biru itu berkedip sekali, lalu barisan teks baru muncul menggantikan teks yang lama.

[Menjawab Inang: Sistem ini dirancang untuk menyerap Energi Emosi Negatif dari target melalui provokasi verbal. Semakin hancur mental dan Dao Heart target akibat ucapan Anda, semakin besar Poin Sampah yang Anda dapatkan.]

Li Zhen membaca penjelasan itu dengan sangat lambat, mencoba mencerna setiap kata yang terpampang di depannya. Matanya yang tadinya memancarkan keputusasaan kini mulai menunjukkan secercah harapan yang licik.

"Jadi, pada dasarnya aku hanya perlu menghina dan memaki orang-orang di dunia kultivasi ini sampai mereka gila?" tanyanya untuk memastikan. Sebuah senyuman lebar perlahan mengembang di wajahnya, mengubah ekspresinya dari seorang korban menjadi seorang predator.

Di kehidupan masa lalunya, Li Zhen adalah seorang raja debat internet yang tangannya bisa mengetik ribuan kata cacian dalam semenit. Dia tidak pernah kalah dalam adu argumen, dan mulutnya terkenal sangat kejam dalam menguliti kelemahan lawan.

[Tepat sekali, Inang. Poin Sampah dapat ditukarkan di Toko Sistem untuk meningkatkan atribut fisik, membeli teknik kultivasi, atau menyembuhkan luka.]

Mendengar penjelasan tambahan itu, Li Zhen tertawa kecil hingga bahunya berguncang pelan. Tawanya terdengar agak menakutkan di dalam gubuk reyot itu, seolah seorang penjahat besar baru saja menemukan senjata pemusnah massal.

"Dunia kultivasi ini sangat mengagungkan Dao Heart dan ketenangan batin yang kuat," gumam Li Zhen sambil mengusap dagunya. "Jika aku bisa menghancurkan ketenangan mereka hanya dengan kata-kata, maka aku memiliki kekuatan yang lebih mematikan dari pedang mana pun."

1
Bambang Slamet
m
T28J
mantap kakak 👍 like dan hadiah💪
Kalong Super
💪💪💪💪👍👍 mantul
Aisyah Suyuti
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!