"Orang lama menang karena sejarah, tapi orang baru menang karena masa depan."
Azeant Apolo-valerio kehilangan cintanya, namun menemukan kembali harga dirinya. Kata "Putus" dari Claudia Astor seharusnya menjadi akhir, namun bagi pewaris tunggal keluarga Valerio ini, itu hanyalah sebuah awal dari pembebasan.
Apolo adalah pria yang hidup dalam presisi rumus teknik, namun ia gagal menghitung variabel ego seorang wanita yang hanya haus akan validasi.
Segalanya berubah saat sebuah notifikasi dari aplikasi kencan masuk, membawa nama Veronica Brooklyn.
Gadis itu adalah anomali; dia tidak memuja ketampanan Apolo, malah menantangnya dengan kejujuran yang Brutal.
Veronica hadir bukan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Claudia, melainkan untuk menciptakan standar baru yang tak pernah Azeant Apolo-valerio bayangkan sebelumnya.
Apolo belajar bahwa terkadang, orang yang datang paling akhir adalah satu-satunya yang layak menjadi yang pertama.
🦋
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#2
Malam di asrama Universitas New York (NYU) tidak pernah benar-benar sunyi. Di kamar kecil bernomor 304, cahaya temaram dari lampu meja belajar menyinari tumpukan buku manajemen keuangan dan sebuah laptop tua yang kipasnya berderu pelan.
Di sana, duduk seorang gadis dengan rambut cokelat gelap yang dibiarkan terurai berantakan. Namanya Veronica Brooklyn.
Veronica menatap layar ponselnya dengan senyum miring yang menyimpan sejuta teka-teki. Jari-jarinya yang lentik baru saja mengetik kata "Ok" sebagai penutup percakapan singkat dengan pria bernama Azeant di aplikasi SoulBound.
"Azeant," gumamnya pelan, mengeja nama itu di ujung lidahnya. "Nama yang terlalu bagus untuk pria yang kaku."
Veronica adalah definisi dari kontradiksi. Di kampus, dia dikenal sebagai mahasiswi tahun kedua Fakultas Manajemen yang brilian.
Dia cantik dengan tipe kecantikan yang tajam—tulang pipi yang tinggi, mata berwarna hazel yang seolah bisa menembus pikiran orang, dan aura kepercayaan diri yang membuat pria-pria di kantin seringkali salah tingkah saat dia lewat. Namun, di balik itu semua, Veronica adalah seorang penyendiri.
Tumbuh besar di panti asuhan di pinggiran New York telah menempa hatinya menjadi sekeras granit. Baginya, cinta hanyalah kata kiasan untuk kekecewaan yang tertunda.
Dia melihat bagaimana teman-temannya di panti menangis karena merindukan orang tua yang membuang mereka—sebuah hasil dari "hubungan" yang katanya didasari cinta.
"Cinta itu omong kosong," batin Veronica. Bagi gadis berusia 20 tahun ini, hubungan emosional adalah rantai yang hanya akan menyeretnya ke dasar laut yang gelap. Dia membenci komitmen. Dia benci ditanya "Sedang di mana?" atau "Sudah makan?" Dia benci keterikatan yang menuntut waktu dan perasaannya.
Namun, sebagai manusia, dia tidak bisa membohongi insting alaminya. Itulah sebabnya dia mengunduh SoulBound. Bukan untuk mencari pangeran berkuda putih, bukan untuk kencan romantis di bawah lampu Central Park, melainkan untuk memenuhi rasa penasaran dan kebutuhan fisik tanpa harus menyerahkan secuil pun hatinya.
"Pria ini... Azeant," pikirnya sambil menatap profil siluet pria yang membelakangi kamera itu. "Dia terlihat kokoh, tapi kata-katanya sangat sopan. Terlalu sopan untuk aplikasi seperti ini."
Veronica tertawa kecil saat teringat tawaran pria itu untuk menjadi kekasih atau sekadar minum kopi.
Kopi? Ide itu terdengar sangat membosankan di telinganya. Baginya, berbicara berjam-jam sambil menyeruput kafein hanya akan membuka celah bagi rasa emosional yang ia benci. Dia lebih suka kegelapan, di mana identitas tidak penting, dan di mana dia bisa tetap menjadi asing bagi pria yang menyentuhnya.
Di sisi lain kota, di dalam kamarnya yang megah, Azeant Apolo-Valerio sedang mengalami krisis eksistensi.
Dia mondar-mandir di atas karpet Persia-nya, menatap apartemen pribadinya yang berada di distrik Tribeca melalui pencarian di Google Maps—seolah dia lupa bagaimana bentuk propertinya sendiri.
Dia adalah mahasiswa tahun ketiga Teknik Elektro. Jenius, kaya, dan memiliki masa depan yang sudah terjamin. Tapi malam ini, dia merasa seperti remaja bodoh yang baru saja melakukan kesalahan fatal.
"Apa yang aku pikirkan?" Apolo bertanya pada bayangannya di cermin. "Membawa gadis asing ke apartemenku? Bagaimana kalau dia penjahat? Bagaimana kalau dia merekamku untuk memeras keluarga Valerio?"
Pikiran logisnya berteriak untuk membatalkan pertemuan itu. Namun, di sudut hatinya yang lain, ada luka yang ditinggalkan Claudia sore tadi. Kata "membosankan" itu terus berdenging seperti nyamuk di telinganya.
Apolo kembali meraih ponselnya. Dia melihat profil "V". Hanya seekor kucing hitam. Misterius, tajam, dan tidak tertebak. Sangat berbeda dengan Claudia yang profil media sosialnya penuh dengan foto-foto selfie dengan filter bunga dan pakaian bermerek.
Dia mengetik sebuah pesan lagi.
Azeant: "Kenapa kau begitu membenci sebuah hubungan? Apa ada seseorang yang menyakitimu?"
Di asrama, Veronica membaca pesan itu dan mendengus kasar. "Pria ini benar-benar tipe pelindung. Benar-benar klise."
V: "Bukan urusanmu, Azeant. Fokus saja pada kesepakatan kita. Gelap, tanpa wajah, tanpa nama asli. Hanya rasa."
Apolo menarik napas panjang. Tantangan itu terasa semakin nyata. Dia mengirimkan titik lokasi apartemennya di Tribeca.
Azeant: "Sabtu malam, jam sembilan. Kode akses lobi adalah 1205. Aku akan mematikan semua lampu. Pintu tidak akan terkunci."
V: "Ok. Sampai jumpa di kegelapan, Azeant."
Hari-hari berikutnya di kampus terasa sangat panjang bagi keduanya. Mereka berada di lingkungan yang sama, berjalan di trotoar yang sama, namun mereka adalah dua garis sejajar yang tidak pernah bersinggungan—setidaknya tidak secara sadar.
Apolo seringkali terlihat di kafe fakultas teknik, berkutat dengan tablet dan sketsa rangkaian listriknya. Teman-temannya, Sander dan Elian, masih sering menggodanya tentang "pencapaian" di aplikasi kencan tersebut.
"Bagaimana, Pol? Sudah dapat kencan?" tanya Sander sambil menyeruput sodanya di kantin pusat kampus.
Apolo hanya bergumam tidak jelas. Dia tidak berani menceritakan soal "V".
Sander pasti akan menganggapnya gila, atau lebih buruk lagi, Sander akan membocorkan hal ini kepada teman-teman yang lain, yang nantinya akan sampai ke telinga Daddy Alvaro.
"Aku sedang sibuk, San. Simulasi robotikaku gagal terus semalam," dalih Apolo.
Sore itu, Apolo berjalan menuju perpustakaan pusat untuk mencari referensi tambahan. Saat itulah, dia berpapasan dengan seorang gadis di pintu masuk. Gadis itu membawa beberapa buku tebal tentang manajemen strategi. Dia mengenakan jaket kulit hitam dan celana jins ketat. Rambutnya diikat kuda, menonjolkan leher jenjang dan garis rahang yang tegas.
Gadis itu adalah Veronica.
Mata mereka sempat bertemu selama satu detik. Apolo terpaku melihat intensitas tatapan hazel gadis itu. Ada aura yang sangat kuat, sangat bebas, dan sangat "New York" pada diri gadis itu. Namun, detik berikutnya, gadis itu memalingkan muka dan berjalan melewatinya tanpa ekspresi, meninggalkan aroma parfum maskulin yang samar namun menggoda—bukan aroma bunga yang biasa dipakai mahasiswi NYU.
Apolo menoleh ke belakang, menatap punggung gadis itu sejenak sebelum menggelengkan kepala.
Sementara itu, Veronica terus berjalan masuk ke perpustakaan. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat saat melihat pria tadi.
Siapa dia? pikirnya. Pria itu tampak sangat berkelas, sangat bersih, dan memiliki mata yang memancarkan kejujuran yang langka. Namun, Veronica segera menepis pikiran itu. Dia tidak butuh pria nyata di kampus. Dia hanya butuh Azeant dalam kegelapan.
Sabtu malam tiba. New York diguyur hujan gerimis, membuat lampu-lampu kota terlihat pudar dan berkabut. Apolo sudah berada di apartemennya di Tribeca sejak sore. Dia sudah menyiapkan segalanya sesuai permintaan "V".
Apartemen minimalis dengan pemandangan langsung ke arah sungai Hudson itu kini sunyi.
Semua tirai ditutup rapat. Apolo mematikan semua lampu, menyisakan kegelapan yang pekat, hanya disinari sedikit cahaya dari lampu jalan yang menembus celah gorden.
Dia duduk di sofa kulit, tangannya gemetar. Dia merasa seperti sedang menunggu eksekusi, atau mungkin, sebuah kelahiran kembali.
Pukul 21:00 tepat.
Ponselnya bergetar.
V: "Aku di lobi."
Azeant: "Naiklah. Lantai 12, unit B."
Sepuluh menit kemudian, suara sensor pintu apartemen berbunyi beep. Pintu terbuka perlahan, membiarkan sedikit cahaya dari lorong masuk sebelum pintu itu tertutup kembali dengan suara klik yang mengunci.
Apolo tidak bisa melihat wajahnya. Dia hanya bisa mendengar deru napas halus dan suara langkah kaki yang mendekat. Aroma air hujan bercampur dengan parfum maskulin yang familiar tercium di udara.
"Kau di sini?" suara wanita itu terdengar rendah, serak, dan sangat percaya diri.
"Aku di sini," jawab Apolo dari kegelapan.
Veronica melangkah mendekati sumber suara. Dia tidak bisa melihat apa-apa, tapi dia bisa merasakan kehadiran pria itu—sebuah kehadiran yang hangat dan stabil.
Kepercayaannya yang tinggi biasanya tidak pernah goyah, tapi saat ini, di dalam apartemen asing yang gelap ini, dia merasakan sedikit desiran adrenalin yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
"Ingat kesepakatan kita, Azeant," bisik Veronica saat ia merasakan tangan Apolo menyentuh lengannya dalam kegelapan. "Jangan coba-coba menyalakan lampu. Jangan coba mencari tahu siapa aku."
"Aku ingat," jawab Apolo, suaranya terdengar lebih dalam daripada di telepon.
Malam itu, di tengah kegelapan total, dua jiwa yang terluka dan skeptis terhadap cinta itu bertemu. Mereka tidak saling mengenal nama asli, tidak saling melihat wajah, namun dalam sentuhan yang hati-hati itu, mereka merasakan sesuatu yang jauh lebih jujur daripada semua kencan romantis yang pernah mereka jalani.
Bagi Veronica, ini adalah cara untuk merasakan tanpa mencintai. Bagi Apolo, ini adalah cara untuk membuktikan bahwa dia tidak membosankan.
Kegelapan mungkin bisa menyembunyikan wajah mereka malam ini, tapi New York terlalu sempit untuk menyembunyikan sebuah rahasia selamanya.
Di balik jendela yang tertutup rapat, kota itu terus berdenyut, sementara dua manusia di dalamnya sedang memulai sebuah hubungan paling rumit yang pernah ada: hubungan tanpa hubungan.