Nyangka nggak kalau temen mu sendiri bisa jadi setan yang sesungguhnya di dunia nyata?
Ini yang dialami Badai, lelaki 23 tahun ini dijual ke mantan pacarnya sendiri sama temennya, si Sajen!
Weh kok bisa? Ini sih temen laknatullah beneran ya kan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dfe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Badai dan Sajen
Haiiiii gaeeeessss! Lama ga jumpa, gimana gimana kabar kelian gimana hmm? Baik dong ya!
Semoga kelian selalu diberi kesehatan, selalu happy, dan saya sebagai author yang baik n berbudi luhur ingin berbagi kehappyan sama kelian.
Ini karya saya ke seribu dua ratus empat belas jutak, saya harap kelian nggak bosen dan terus dukung saya dengan cara ketik DUKUNG (SPASI) eeeeh.. bukan-bukan, dukung saya dengan like, komen, kaporitin, yang punya poin berjutak-jutak boleh nyawer bunga bangkai buat saya hihihi.
Dah ah ngeciprisnya.. Yok gass masuk ke imajinasi saya, criiiiiiiiiing✨✨✨
****************
Suara gerinda yang bergesekan dengan logam menciptakan simfoni bising yang bagi sebagian orang adalah polusi suara, namun bagi Badai, itu adalah musik latar paling jujur yang pernah ada. Di dalam bengkel berukuran sepuluh kali dua belas meter miliknya, udara dipenuhi aroma maskulin yang khas yaitu campuran bensin, oli bekas, dan sedikit bau logam terbakar. Ya namanya juga bengkel kan, udah sewajarnya kalau nyium bau macam tuh.
Badai, pemuda berusia dua puluh tiga tahun menggunakan kaos hitam yang lengannya sengaja digulung hingga pangkal bahu, sedang berlutut di samping motor sport 600cc. Dahinya berkerut, pandangannya terpatri sepenuhnya pada blok mesin yang terbuka. Beberapa helai rambut hitamnya bahkan jatuh menutupi mata, namun dia tak peduli. Tangannya fokus dengan noda hitam oli yang menyelinap di bawah kuku-kukunya, bergerak dengan presisi yang luar biasa. Masa bodoh dengan rambut yang berantakan, dia tidak begitu memperdulikan.
"Mas Dai," sebuah suara lembut memecah konsentrasinya.
Badai mendongak. Pemuda itu mengelap tangannya pada selembar kain majun yang sudah tak jelas lagi warna aslinya sebelum dia jamah setiap hari seperti ini. Di hadapannya berdiri seorang wanita muda dengan senyum lenjeh, pelanggan tetap yang sepertinya lebih sering datang untuk cari perhatian dari pemilik bengkel daripada benar-benar memperbaiki motor matic-nya.
"Eh, iya mbak." Badai berdiri tanpa menyalami.
"Maaaaas Dai.. Bisa cek motorku? Kayak nggak enak pas dinaikin, tarikannya kurang aaaah gitu lho mas." Suaranya lembut-lembut manja lebih menjurus ke kemayu pol.
"Hmm, mau ganti oli lagi mbak?" tanya Badai. Suaranya rendah, bariton yang menenangkan, tipikal pria yang jarang bicara tapi selalu mendengarkan.
"Terserah mas Dai mau diapain, aku sih manut aja mas. Orang tak naikin suaranya agak kasar, gimana ya mas berasa cenat-cenut gitu, kayak hati aku kalau nggak liat mas Dai sehari aja," goda wanita itu sambil mengedipkan mata.
Badai hanya memberikan senyum tipis, jenis senyum yang tidak sampai ke telinga namun cukup untuk membuat wajah tampannya terlihat seribu kali lebih menarik. Badai tidak merasa risih dengan manusia modelan mbak mbak itu, dia sudah terbiasa dengan godaan-godaan kecil kayak gitu sejak dia membuka bengkel ini dua tahun lalu.
"Mesinnya baik-baik saja, Mbak. Mungkin cuma perlu sedikit penyetelan di karburator. Tunggu sebentar ya," jawabnya sopan, mengabaikan gombalan tersebut dengan keanggunan yang alami. Sifatnya yang humble dan tidak besar kepala inilah yang membuat bengkelnya selalu ramai, meski letaknya tidak di jalan protokol.
"Lama juga nggak apa-apa mas, aku sabar dan setia nungguin mas Dai di sini kok." ucap si mbak sambil mengigit bibir domblenya.
Badai tak menjawab. Sambil mengerjakan motor si mbak lenjeh, pikiran Badai melayang. Di usianya yang masih muda, dia sudah menjadi bos bagi dirinya sendiri. Badai adalah lulusan Teknik Mesin di universitas terkenal di kotanya, dia memilih jalan ini daripada bekerja di kantor ber-AC. Dia menyukai keringat, dia menyukai tantangan, dan dia menyukai fakta bahwa di sini dirinya bisa memegang kendali penuh atas apa yang dia kuasai.
Badai menghela napas panjang, mengusir rasa lelah yang tiba-tiba muncul. Dia kembali mengencangkan baut terakhir.
"Selesai, Mbak," ucapnya.
"Aah.. Kok cepet sih mas, padahal aku masih betah lama-lama di sini. Kira-kira kalau besok aku ke sini lagi boleh mas?" tanya si mbak dengan raut wajah berharap.
'Mending bakar aja motor mu sekalian, mbak!'
"Kalau motornya masih bermasalah bawa ke sini aja, mbak." memang lain di mulut lain di hati pemuda satu ini.
Setelah pelanggan itu pergi dengan wajah merona, Badai berniat duduk sejenak. Namun, ketenangan itu hanya bertahan lima detik. Dari kejauhan, terdengar suara knalpot motor bebek yang bunyinya lebih mirip kaleng kerupuk dipukul palu. Suara yang sangat dia kenal, suara yang menandakan kedatangan sebuah kekacauan.
Brak!
Motor itu berhenti tepat di depan pintu bengkel, hampir saja menabrak tumpukan ban bekas di sana. Seorang pemuda seumuran Badai turun dengan gaya sok keren, meski rambutnya berantakan karena helm yang tidak terpasang benar.
"DAI! GUE DIZALIMI LAGI, DAI!" teriak pemuda itu sambil berlari masuk.
Badai memijat pangkal hidungnya. "Sajen... kalau lo mau drama, minimal mesin motor lo benerin dulu. Suaranya bikin telinga gue mau copot."
Sajen, sahabat Badai yang paling setia sekaligus paling tidak berguna dalam urusan teknis, langsung menjatuhkan diri di kursi plastik merah yang tadi diduduki Badai. Wajahnya ditekuk, namun matanya tetap melirik layar ponsel yang menampilkan karakter game online-nya.
Nama aslinya Jenaka, tapi saking ngenes hidupnya dia sering dipanggil Sajen oleh orang di sekitarnya. Entah beneran kurang sajen atau emang senggak berguna itu dia sampai dapet nama panggilan yang nggak umum seperti itu.
"Gue dipecat lagi, Dai. Kali ini gara-gara gue telat masuk shift pagi. Padahal gue telat cuma tiga jam lho, masa telat beberapa jam aja langsung dikeluarkan dari kerjaan. Nggak masuk akal banget!"
"Lo yang nggak masuk akal dongo! Ya kali telat nyampe tiga jam, lo ngapain aja semalem nyampe kagak bisa bangun pagi??"
"Ya gue maraton nonton drachin lah! Gue pecah rekor semalem bisa tembus sebelas judul drachin gue babat dalam satu malam. Terus subuhnya gue bisa ngepush rank, hebat kan gue Dai? Yang kebangetan itu bos nya, ya masa dia nggak bisa ngertiin kesenangan orang lain? Beneran kampret!"
Badai hanya bisa geleng-geleng kepala. Sajen adalah anomali. Pemuda itu bisa tidak tidur semalaman demi mengejar level game atau menonton serial drama, namun selalu gagal bangun pagi untuk mencari nafkah.
"Ini udah kali kelima dalam dua bulan, Jen. Lo mau makan apa kalau dipecat terus?" Badai seperti udah pasrah punya teman tung tung sahur kayak Sajen.
"Tenang, Dai. Selama ada lo, gue nggak bakal kelaparan. Lagian, ada kabar yang lebih penting daripada nasib kerjaan gue yang tragis ini," Sajen mengubah posisinya menjadi lebih serius, meski tangannya masih sibuk memencet layar ponsel. "Tadi gue denger dari anak-anak tongkrongan balap sirkuit lama..."
Badai berhenti mengelap tangannya. Kata 'balap' selalu punya cara untuk menarik perhatiannya. Balapan adalah satu-satunya tempat di mana Badai merasa benar-benar bebas dari beban tanggung jawab sebagai pria dewasa.
"Apa?" tanya Badai pendek.
"Si Lalinan, cewek yang getol banget pengen bangun rumah tangga sama lo... dia mau ngerayain ulang tahun di klub Paradise. Dan lo tau siapa yang dia undang khusus lewat jalur VIP?" Sajen menatap Badai dengan tatapan penuh arti.
"Rumah tangga? Rumah duka yang ada kalau gue sama dia! Lagian gue nggak peduli. Terserah dia mau ngapain." malas sekali rasanya.
"Oh nggak bisa, lo harus peduli. Karena lo satu-satunya manusia di muka bumi yang diundang jalur VIP sama si semok itu! Gile bener, lo kudu dateng ya Dai.. Ajak gue sekalian."
"Bangke!"
Dengan berat hati Sajen menaruh ponselnya di paha, "Kalau lo nggak dateng, dia bakal ke sini jemput lo sambil bawa baliho yang dipasang di depan bengkel lo dengan tulisan segede harapan orang tua 'Dai calon suami dedek Lalin', lo mau di jadiin ondel-ondel sama si Lalinan?"
"Picek matane!"
Sajen ngakak brutal. "Ya makanya lo kudu dateng, wajib pokoknya."
"Dia nggak ngomong apa-apa sama gue, Jen. VIP apa'an, ultah dia ngapa gue yang repot. Kalau lo mau ya lo aja yang dateng ke sana. Kerjaan gue banyak, gue nggak ada waktu ngurusin begituan."
Tak berapa lama, notifikasi pesan masuk ke ponsel Badai. Badai mengambil ponsel di saku celana depannya.
Si rese : Dai, besok malem dateng ke Paradise ya.. Aku ultah dan kamu tamu spesialnya akuuuuuh. Aku nggak akan mulai pesta tanpa kamu.
"Idup gue gini amat dah.." keluh Badai yang diiringi cekikikan dari si Sajen.
"Naaah jodoh kalian itu, baru diomongin langsung muncul dengan sendirinya! Udah sikat aja sikat!"
"Otak lo yang gue sikat!"
Sajen tertawa seperti siluman biawak menemukan mangsanya.
tapi nanti, stlh kamu tau siapa dia sbnrnya, pasti kamu bakal gencar agar mreka cepet² meresmikan hubungannya kan?! 😏
bisa diandelin buat jadi pasangan😚