NovelToon NovelToon
System Pohon Ajaib Warisan Kakek

System Pohon Ajaib Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Lelah dengan kehidupan keras sebagai budak korporat di kota besar dan duka setelah kehilangan kedua orang tuanya, Lin Ye memutuskan untuk pulang ke Desa Qingshui, tempat kakeknya dulu tinggal.

Di sana, ia menemukan ladang dan rumah kakeknya yang sudah terbengkalai, kecuali sebatang pohon raksasa misterius di belakang rumah yang anehnya tetap subur dan hijau.

Saat tangan Lin Ye yang terluka menyentuh pohon tersebut, Sistem Warisan Alam yang terkunci sejak kematian kakeknya mendadak aktif, mengenali garis keturunannya sebagai pewaris sah.

Kini, dengan bantuan sistem yang memudahkan pekerjaan bertani dan kehadiran roh-roh alam fantasi, Lin Ye memulai kehidupan barunya yang santai namun penuh keajaiban untuk membangun kembali kejayaan ladang kakeknya, melawan intrik tetangga yang rakus, dan perlahan menjadi kaya raya di tengah kedamaian pedesaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Suara tawa Bos Liu terhenti seketika. Mulutnya sedikit terbuka. Rokok yang dijepit di jarinya hampir jatuh. Dia buru-buru berdiri dari kursi rotannya dan mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap isi keranjang itu dengan mata terbelalak.

"Ini... ini kubis?" gumam Bos Liu. Dia mengulurkan tangannya yang gemuk dan menyentuh permukaan daun kubis yang berada di tumpukan paling atas. Sensasi dingin dan tekstur daun yang sangat kencang langsung terasa di telapak tangannya.

"Benar. Ini adalah kubis yang saya panen pagi ini," jawab Lin Ye santai sambil melipat kedua tangannya di dada.

Bos Liu menelan ludah. Dia adalah pebisnis yang licik. Insting dagangnya langsung menyadari bahwa kubis di depannya ini memiliki kualitas yang jauh melebihi sayuran organik kelas A mana pun yang pernah dia pasok ke hotel bintang lima. Namun, sebagai tengkulak, aturannya adalah jangan pernah menunjukkan ketertarikan yang berlebihan agar bisa menekan harga serendah mungkin.

Bos Liu berdehem, mencoba menutupi kekagumannya. Wajahnya kembali dibuat datar.

"Hmph. Warnanya memang bagus. Tapi bentuknya terlalu besar dan tidak wajar. Koki restoran tidak suka sayuran yang ukurannya di luar standar karena sulit untuk dipotong dan ditimbang per porsi. Apalagi kamu orang baru, aku tidak tahu apakah kamu menggunakan pupuk kimia berbahaya untuk membuatnya sebesar ini," kata Bos Liu beralasan.

"Lalu?" pancing Lin Ye.

"Karena aku sedang berbaik hati, aku akan menampung barang cacat ukuran ini. Dua puluh yuan per buah. Total seratus yuan untuk lima kubis ini. Ambil uangnya dan pergilah," Bos Liu melemparkan selembar uang seratus yuan ke atas meja kayunya.

Para petani di sekitar yang sedari tadi menonton mulai berbisik-bisik. Dua puluh yuan untuk satu kubis berukuran raksasa adalah harga yang sangat murah, tapi mengingat Bos Liu yang berkuasa, tidak ada yang berani memprotes.

Lin Ye menatap uang seratus yuan itu, lalu mendongak menatap mata Bos Liu. Lin Ye tiba-tiba tertawa pelan. Tawa yang penuh dengan nuansa intimidasi ala ruang rapat korporat.

"Dua puluh yuan? Bos Liu, apakah penglihatan Anda sudah mulai rabun termakan usia?" kata Lin Ye tajam.

"Apa maksudmu, anak muda? Jaga bicaramu," Bos Liu mulai terpancing emosinya.

"Saya adalah mantan manajer pemasaran di perusahaan pusat kota. Saya tahu persis bagaimana membaca strategi negosiasi murahan," Lin Ye melangkah maju, menopangkan kedua tangannya di atas meja Bos Liu. "Anda bilang ukurannya terlalu besar dan disebut cacat? Salah. Ini adalah keunikan yang bisa Anda jual dengan embel-embel "Spesies Super Langka" ke restoran mewah. Anda bilang takut pada pupuk kimia?"

Lin Ye berbalik, mengambil satu kubis, dan tanpa ragu mematahkan satu lembar daun luarnya dengan tangannya.

Kres.

Suara patahan daun itu terdengar sangat renyah. Begitu daun itu patah, aroma manis dan segar yang luar biasa kuat langsung menyebar di udara. Beberapa petani di dekat mereka tanpa sadar menarik napas panjang, menikmati aroma yang tiba-tiba membuat pikiran mereka terasa jernih.

"Cium aromanya, Bos Liu. Sayuran yang menggunakan pupuk kimia akan mengeluarkan bau tanah yang menyengat dan sedikit amis. Sedangkan kubis saya memiliki aroma alami yang lebih wangi dari buah-buahan segar pada umumnya. Jika Anda tidak mau menghargai barang premium ini dengan harga sepantasnya, tidak masalah."

Lin Ye memasukkan kembali daun yang patah itu ke keranjang dan mulai menutupnya dengan daun pisang.

"Saya yakin Manajer Pembelian di Hotel Grand Yushan yang jaraknya hanya dua blok dari sini akan sangat senang menerima pasokan eksklusif ini dari saya secara langsung. Saya dengar mereka sedang mencari menu baru untuk tamu VIP musim ini," ancam Lin Ye sambil bersiap mengangkat keranjangnya.

Mendengar nama Hotel Grand Yushan disebut, wajah Bos Liu sedikit pucat. Hotel itu adalah klien terbesarnya. Jika anak muda ini benar-benar pergi ke sana dan pihak hotel tahu Bos Liu melewatkan kualitas barang sehebat ini, kontrak pasokannya bisa diputus bulan depan.

"Tunggu, tunggu sebentar. Jangan terburu-buru, Saudara muda. Kita ini sesama pebisnis, segala hal bisa dibicarakan sambil minum teh," Bos Liu buru-buru keluar dari balik mejanya dan menahan lengan Lin Ye. Nada suaranya berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sangat ramah dan menjilat.

"Saya tidak punya waktu untuk minum teh. Waktu saya sangat berharga. Berikan penawaran harga yang rasional, atau saya benar-benar pergi sekarang," kata Lin Ye tegas, sama sekali tidak memberikan ruang untuk basa-basi.

Bos Liu mengusap keringat dingin di dahinya. "Baiklah, baiklah. Aku akui kualitas barangmu luar biasa. Bagaimana kalau seratus yuan per buah?"

"Tiga ratus yuan per buah," balas Lin Ye tanpa berkedip.

"Tiga ratus? Itu perampokan namanya. Koki hotel belum tentu mau membayar semahal itu. Dua ratus yuan. Itu harga paling mentok yang bisa aku berikan. Kau bawa lima buah, aku beri seribu yuan tunai sekarang juga. Itu harga yang sangat fantastis untuk sayuran, Saudara muda."

Lin Ye terdiam sejenak, berpura-pura mempertimbangkan tawaran itu. Di dalam hatinya, dia sedang melompat kegirangan. Seribu yuan. Itu adalah jumlah yang setara dengan gaji satu minggu para pekerja kantoran tingkat menengah di kota, dan dia mendapatkannya hanya dari satu malam menanam benih.

"Dua ratus yuan per buah. Sepakat. Tapi saya punya syarat tambahan," kata Lin Ye.

"Syarat apa lagi?" tanya Bos Liu dengan raut wajah sedikit lega.

"Ini adalah panen percobaan saya. Dalam beberapa hari ke depan, saya akan membawa lebih banyak sayuran jenis lain dengan kualitas yang sama atau bahkan lebih baik. Anda harus berjanji untuk menyerap semua hasil panen saya dengan harga premium tanpa banyak alasan. Jika Anda setuju, saya hanya akan menyuplai barang saya ke lapak Anda," Lin Ye memberikan penawaran eksklusif.

Mata Bos Liu langsung berbinar serakah. Jika dia bisa memonopoli sayuran kualitas dewa ini, keuntungan lapaknya akan berlipat ganda.

"Sepakat. Itu kesepakatan yang luar biasa. Namaku Liu Jin. Mulai hari ini, lapakku akan selalu terbuka untuk panen yang kamu bawa. Saudara muda..."

"Namaku Lin Ye," jawab Lin Ye singkat.

"Bagus, Saudara Lin. Ini seribu yuan milikmu, silakan dihitung." Bos Liu membuka tas kecil di pinggangnya, menghitung sepuluh lembar uang kertas seratus yuan yang masih mulus, dan menyerahkannya kepada Lin Ye.

Sring.

Tepat saat tangan Lin Ye menyentuh lembaran uang tunai tersebut, suara mekanis yang familiar bergema di dalam kepalanya. Layar hijau transparan muncul sekilas di sudut pandangannya.

"Pencapaian Terbuka: Transaksi Komersial Pertama."

"Mendeteksi aliran dana dari hasil panen Sistem. Mengonversi nilai kebahagiaan dan kepuasan pelanggan ke dalam Koin Alam."

"Anda mendapatkan tambahan 50 Koin Alam."

Lin Ye tersenyum puas. Dia melipat uang seribu yuan itu dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya dengan hati-hati. Ini adalah kemenangan pertamanya di dunia nyata, dan juga keuntungan besar di dalam sistem.

"Terima kasih atas kerja samanya, Bos Liu. Simpan keranjang bambu itu sebagai bonus. Saya akan datang lagi beberapa hari ke depan membawa barang yang lebih mengejutkan," kata Lin Ye.

"Aku akan menunggu kedatanganmu, Saudara Lin. Hati-hati di jalan," Bos Liu melambaikan tangannya dengan senyum lebar, sudah membayangkan keuntungan besar yang akan dia dapatkan hari ini dari hotel.

Lin Ye berjalan keluar dari pasar dengan langkah yang sangat ringan. Beban di punggungnya sudah hilang, berganti dengan dompet yang mulai terisi. Langkah selanjutnya adalah membeli beberapa kebutuhan pokok untuk bertahan hidup di rumah kakeknya yang reyot, dan mungkin membeli beberapa benih biasa dari toko pertanian lokal untuk diuji coba menggunakan sistem.

"Dengan seribu yuan di saku dan 60 Koin Alam di sistem, mari kita lihat apa saja yang bisa aku beli di Toko Sistem Level 1," batin Lin Ye sambil berjalan menuju halte bus kota, tidak sabar untuk kembali ke ladangnya.

1
Heri Susanto8246
😄😄 jadi ingat novel nelayan yang tidak pernah mendapatkan ikan saat memancing.
Gege
bukannya ada ruang penyimpanan sistem ya tor.. simpan saja sampe menggunung didalamnya...
Junior Ian
Bgus
Manusia Biasa
keren thor mekanik Sistem nya🤣 benar benar kaya game rpg
Manusia Biasa
jir kirain dapat ikan grade s atau gede🗿
Yui: harus out of the box kak/Smile/
total 1 replies
Amrye Jhon
next
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Amrye Jhon
semangat
Amrye Jhon
lanjut
Amrye Jhon
next
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Amrye Jhon
semangat
Amrye Jhon
lanjut
Amrye Jhon
next
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Manusia Biasa
jir ada fitu memancing juga asik🤣
Manusia Biasa
wkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!