"Sepuluh tahun tanpanya adalah sunyi yang menyiksa. Tapi kepulangannya adalah badai yang tak terduga."
Dulu, Alea hanyalah gadis kecil yang menangis tersedu-sedu saat Uncle Bima—sahabat termuda ayahnya—memilih pergi ke luar negeri. Janji untuk memberi kabar ternyata menjadi kebohongan besar selama satu dekade penuh.
Kini, di usia 18 tahun, Alea bukan lagi "burung kecil" yang lemah. Namun, tepat saat ia akan memulai lembaran baru di bangku kuliah, pria yang pernah menghancurkan hatinya itu kembali muncul. Bima kembali bukan sebagai paman yang lembut, melainkan sosok pria dewasa yang posesif, penuh teka-teki, dan gemar melontarkan godaan yang membuat jantung Alea berpacu tidak keruan.
Terpaut usia 15 tahun, Bima tahu ia seharusnya menjaga jarak. Namun, melihat Alea yang kini begitu memesona, "paman" nakal ini tidak ingin lagi sekadar menjadi sahabat ayahnya.
"Sst, little bird... kau sudah cukup bersinar. Sekarang, waktunya pulang ke sangkarmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19. Segel Kepemilikan
Malam itu, dinginnya udara yang merasuk melalui pintu balkon yang terbuka seolah tak mampu mendinginkan suhu yang mendadak memanas di dalam kamar Alea.
Di bawah temaram cahaya bulan, Bima berdiri tegak, mengunci tubuh Alea di antara lengan kokohnya dan pintu kaca yang dingin. Aroma cedarwood dan tembakau mahal dari tubuh Bima menyerbu indra penciuman Alea, membuatnya pening oleh campuran rasa takut dan rindu yang sudah mencapai puncaknya.
Awalnya, ciuman itu terasa seperti permohonan maaf yang tulus. Lembut, penuh kerinduan, dan sangat hati-hati, seolah Bima sedang menyentuh porselen paling rapuh di dunia. Bibir Bima hanya menempel ringan, mengecap rasa asin dari sisa air mata Alea yang masih basah di pipinya.
Namun, saat Alea perlahan-lahan mulai membalas, melingkarkan tangannya di leher Bima dan meremas rambut di tengkuk pria itu, kendali yang dibangun Bima selama sepuluh tahun runtuh seketika. Ciuman itu berubah menjadi agresif, lapar, dan sangat menuntut.
Bima melumat bibir Alea dengan liar, lidahnya mengeksplorasi setiap inci mulut Alea seolah ia sedang meneguk mata air di tengah padang pasir yang membakar.
Alea mengerang rendah, jemarinya mencengkeram kemeja hitam Bima hingga kusut. Kakinya terasa lemas, seolah tulang-tulangnya telah mencair, saat Bima tiba-tiba menyentak tubuhnya, mengangkatnya dalam satu gerakan mantap, dan mendudukkannya di atas meja rias yang dingin di sudut kamar.
Peralatan kosmetik Alea berjatuhan ke lantai, namun tak ada satu pun dari mereka yang peduli. Tangan Bima yang besar dan kasar mulai bergerilya ke seluruh lekuk tubuh Alea yang hanya terbalut gaun tidur sutra tipis.
Ia meremas pinggang Alea dengan posesif, naik ke arah tulang rusuk, dan memberikan kecupan-kecupan panas yang membakar di sepanjang rahang hingga ke leher Alea yang jenjang.
"Kau milikku, Alea... katakan kau milikku," bisik Bima dengan nada yang sangat dalam dan parau, mengungkapkan obsesi yang selama ini ia pendam rapat-rapat di balik topeng 'Paman' yang manis.
"Aku milikmu," jawab Alea pelan, suaranya bergetar hebat. Itu bukan lagi getaran ketakutan, melainkan pengakuan jujur yang akhirnya meledak dari lubuk hatinya.
Segala kemarahan dan luka karena ditinggalkan seolah memudar, digantikan oleh keheningan yang intens dan gairah yang membuncah di antara mereka berdua.
Bima mendongak, menatap mata Alea yang tampak sayu dan penuh penyerahan. Ia menyeringai tipis, sebuah seringai kemenangan yang paling mengerikan sekaligus mempesona. Ia kembali mengangkat tubuh Alea, membawanya meninggalkan meja rias menuju tempat tidur besar di tengah ruangan, wilayah pribadi yang kini akan menjadi saksi bisu bersatunya dua jiwa yang selama ini terbelenggu oleh status dan jarak.
Di atas seprai satin yang dingin, Bima menindih tubuh Alea, mengurungnya dengan berat tubuhnya yang proporsional. Ia melepaskan kancing kemejanya satu per satu dengan mata yang tetap mengunci pandangan Alea.
Setiap inci kulit Bima yang terekspos, lengkap dengan tato yang menghiasi lengan dan dadanya, membuat Alea menahan napas.
Sentuhan Bima beralih ke paha Alea, merayap naik di bawah kain sutra gaun tidurnya. Jemarinya yang hangat memberikan sensasi setruman listrik yang membuat Alea melengkungkan punggungnya, mencari sandaran pada tubuh Bima.
Setiap kali Bima memberikan kecupan di pundak dan ceruk lehernya, Alea merasa jiwanya ditarik paksa untuk tunduk. Bima tidak hanya menyentuh fisiknya; ia sedang menandai setiap jengkal raga Alea sebagai miliknya, memastikan tidak akan ada satu sel pun di tubuh gadis itu yang lupa pada sentuhannya.
Penyatuan mereka terjadi dalam ritme yang menuntut kepatuhan mutlak. Bima tidak memberikan ruang bagi Alea untuk berpikir. Ia ingin Alea hanya merasakan sensasi panas, sesak, dan nikmat yang ia berikan.
Dalam guncangan gairah itu, Alea menyadari bahwa ia telah benar-benar masuk ke dalam sangkar emas Bima, dan anehnya, ia merasa sangat bahagia di sana. Ia merasa utuh saat Bima membisikkan kata-kata posesif di telinganya, mengklaimnya berkali-kali sebagai little bird kesayangannya.
Beberapa jam kemudian, saat napas mereka mulai berangsur normal, Alea berbaring dengan kepala bersandar di dada bidang Bima. Detak jantung Bima yang kuat terdengar seperti musik penenang baginya. Bima membelai rambut pirang Alea, sesekali mengecup keningnya dengan sisa-sisa kelembutan yang ia miliki.
"Uncle..." Alea membuka suara, suaranya serak.
"Hmm?" Bima mengusap bahu Alea yang polos.
"Aku belum mau memberi tahu Daddy tentang ini," ucap Alea lirih, menatap mata hitam Bima yang masih berkilat. "Aku takut dia kecewa. Bisakah kita... menyembunyikan ini dulu? Aku ingin kita backstreet."
Bima terdiam sejenak. Rahangnya mengeras. Sebagai pria yang terbiasa memiliki segalanya secara terbuka, ia benci harus bersembunyi. Namun, ia menyadari satu hal: memiliki rahasia gelap di belakang Baskara akan membuat Alea semakin bergantung padanya. Alea akan merasa mereka memiliki dunia rahasia yang hanya dimiliki berdua.
"Jika itu yang kau mau, little bird," bisik Bima sembari menarik selimut untuk menutupi mereka. "Selama kau patuh dan tidak mencoba lari pada bocah itu lagi, aku akan merahasiakan segalanya dari ayahmu. Kau akan menjadi rahasia tercantikku di rumah ini."
Alea tersenyum lega, ia merasa menang karena Bima menuruti kemauannya. Namun ia tidak sadar bahwa dengan hubungan rahasia ini, Bima memiliki kendali penuh untuk menuntut apa pun darinya tanpa ada yang tahu.
Bima tidak membiarkan Alea beristirahat terlalu lama. Ia kembali membalikkan posisi mereka, menindih Alea sekali lagi. "Tapi ingat, kerahasiaan ini ada harganya, Alea. Dan aku ingin menagihnya sekarang."
Alea tertawa pelan sembari melingkarkan lengannya kembali ke leher Bima, menyambut pagutan pria itu yang kembali menjadi lapar. Malam itu, mereka kembali larut dalam aktivitas panas yang seolah tak ada habisnya, mengunci rahasia terlarang mereka rapat-rapat di balik dinding kamar yang menjadi saksi bisu hilangnya kepolosan Alea di tangan sang predator.