NovelToon NovelToon
Bangkitnya Pelayan Terbuang

Bangkitnya Pelayan Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

"Wajah bak dewa, namun nasib bak debu."
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng hanyalah seorang pelayan rendahan tanpa bakat kultivasi. Ia dihina, disiksa, dan dibuang ke hutan kematian hanya karena ketampanannya dianggap sebagai penghinaan bagi para tuan muda sekte yang sombong.
Namun, maut justru menjadi gerbang kebangkitannya.
Di ambang kematian, sebuah pusaka terlarang yang telah lama hilang—Sutra Dewa yang Terbuang—memilihnya sebagai wadah. Kitab itu hancur, menyatu ke dalam nadinya, merekonstruksi tubuhnya menjadi sempurna, dan menanamkan ribuan tahun pengetahuan dewa langsung ke dalam benaknya.
Kini, Han Feng kembali bukan untuk melayani, melainkan untuk menagih hutang darah. Dengan otak yang mampu membedah kelemahan lawan dan tubuh yang menyimpan kekuatan surgawi, ia akan membuktikan bahwa mereka yang dulu mengabaikannya akan berlutut di bawah kakinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DI BAWAH HIDUNG MUSUH

​Ledakan itu terjadi tepat saat utusan Marga Feng hendak melangkah menuju kereta barang tempat Han Feng berada. Suara dentuman yang menggetarkan bumi itu berasal dari sisi timur gerbang kota, menciptakan kepulan asap hitam yang membubung tinggi ke langit biru. Jeritan panik para pedagang dan ringkikan kuda yang ketakutan seketika memecah ketegangan di pos pemeriksaan.

​Han Feng bergerak lebih cepat daripada kepanikan itu sendiri. Dalam satu kedipan mata, ia sudah tidak lagi berada di atas tumpukan peti. Menggunakan teknik langkah awan yang telah ia sempurnakan, tubuhnya melesat bak bayangan yang tidak tertangkap oleh mata manusia biasa. Ia tidak melarikan diri ke luar kota; ia justru menyusup ke jantung kekacauan. Di balik sebuah kereta kuda yang terbalik, ia menemukan seorang pengawal karavan yang pingsan akibat terlempar ledakan. Dengan gerakan yang sangat rapi dan efisien, Han Feng menukar jubah hitamnya dengan seragam abu-abu kusam milik pengawal itu.

​Kini, identitasnya telah terkubur. Ia bukan lagi pemuda misterius yang dicari, melainkan hanya salah satu dari sekian banyak pengawal yang sibuk menenangkan kuda-kuda yang meronta. Ia menundukkan kepala, membiarkan poni rambutnya menutupi sebagian wajahnya, dan berdiri dengan bahu yang sedikit merosot—meniru gestur tubuh seorang bawahan yang lelah.

​Utusan Marga Feng yang angkuh tadi kembali ke barisan dengan wajah geram. "Cepat periksa karavan ini! Jangan biarkan siapa pun lolos!" teriaknya sambil menahan kudanya yang terus berputar. Utusan itu berhenti tepat di depan Han Feng. Matanya yang tajam menyapu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia berhenti sejenak pada tangan Han Feng yang sedang memegang tali kekang kuda.

​Tangan itu terlalu bersih dan halus untuk seorang pengawal karavan yang biasanya kasar karena debu jalanan. Merasa tatapan utusan itu mulai menyelidik, Han Feng secara halus melepaskan sedikit getaran tenaga petir melalui ujung kakinya ke tanah. Percikan listrik kecil itu mengenai kaki kuda sang utusan, membuatnya melonjak kaget dan hampir menjatuhkan tuannya. Dalam kegaduhan kecil itu, sang utusan sibuk mengendalikan kudanya dan kehilangan minat untuk memeriksa tangan Han Feng lebih lanjut. "Sampah tidak berguna! Urus kudamu dengan benar!" maki utusan itu sebelum berlalu ke kereta lain.

​Memasuki Kota Sayap Naga terasa seperti memasuki dunia yang sama sekali berbeda bagi Han Feng. Jika wilayah pinggiran adalah genangan air yang tenang, maka kota ini adalah samudera yang bergejolak. Bangunan-bangunan di sini menjulang tinggi, dihiasi dengan ukiran naga yang seolah-olah siap terbang. Udara di dalam kota terasa sangat padat dengan energi spiritual, hasil dari formasi pelindung raksasa yang menutupi seluruh wilayah. Di setiap sudut jalan, terlihat para praktisi bela diri dengan senjata-senjata yang memancarkan cahaya redup, menandakan bahwa mereka bukan orang sembarangan.

​Karavan Paman Kun tiba di kediaman Cabang Barat Marga Feng saat matahari mulai terbenam. Han Feng menggunakan kesempatan itu untuk memisahkan diri. Tanpa suara, ia menghilang di antara gang-gang sempit yang dipenuhi uap masakan dan aroma dupa. Tujuannya adalah bagian kota yang paling tidak tersentuh oleh kemewahan—distrik bawah tempat segala informasi gelap mengalir.

​Ia melangkah masuk ke sebuah kedai minum bernama "Cawan Retak". Tempat itu kotor, bau arak murah menyengat hidung, dan dipenuhi oleh orang-orang dengan wajah yang mencurigakan. Han Feng duduk di sudut tergelap, memesan segelas cairan pahit, dan menunggu. Tak lama kemudian, seorang pria cebol dengan hidung yang terus bergerak-gerak seperti tikus mendekatinya. Inilah Si Tikus Tanah, informan paling licin di kota ini.

​"Kau mencari sesuatu, Tuan Muda yang bersih?" tanya Si Tikus Tanah dengan suara parau. Ia tahu Han Feng bukan orang biasa meski berpakaian pengawal.

​Han Feng meletakkan sepinggan perak di atas meja. "Ceritakan padaku tentang Pesta Darah dan mengapa sketsa wajahku tersebar hingga ke gerbang kota."

​Si Tikus Tanah menyambar perak itu dengan cepat. "Pesta Darah adalah cara keluarga utama menyaring darah baru. Tapi tahun ini berbeda. Ada kabar burung bahwa buronan yang mereka cari bukan sekadar membunuh putra Tetua Zhao, tapi ia membawa sebilah pedang hitam raksasa. Konon, pedang itu adalah kunci untuk membuka Makam Leluhur Feng yang telah tersegel selama tiga ratus tahun. Keluarga utama sangat haus akan harta di dalam makam itu."

​Mendengar itu, Han Feng mencengkeram cangkirnya lebih erat. Jadi, mereka bukan hanya menginginkan nyawanya, tapi juga pedang hitamnya. Ini membuat rencananya harus berubah. Ia tidak bisa masuk ke sana sebagai dirinya sendiri.

​Keluar dari kedai, Han Feng berpapasan dengan seorang pemuda yang sedang mabuk di sebuah gang sunyi. Pemuda itu mengenakan jubah sutra ringan dengan lencana naga perak dari cabang terpencil di utara. Tanpa banyak bicara, Han Feng memukul titik syaraf di tengkuk pemuda itu hingga pingsan, lalu menyeretnya ke dalam kegelapan. Beberapa menit kemudian, Han Feng keluar dari gang tersebut dengan penampilan yang baru.

​Ia kini mengenakan jubah sang jenius mabuk itu. Menggunakan teknik penyamaran napas dari sutra dewa, ia menyembunyikan mata emas-ungunya, mengubah warnanya menjadi hitam pekat yang biasa. Auranya yang tajam dan mengancam ditekan hingga ke titik terendah, membuatnya tampak seperti seorang pemuda berbakat yang hanya memiliki sedikit kemampuan, tipikal anak manja dari cabang keluarga yang jauh.

​Tiba-tiba, sebuah suara yang menggelegar seperti guntur terdengar dari menara pusat kota, bergema melalui transmisi suara tenaga dalam. "Dengarkan wahai keturunan naga! Besok pagi, seleksi Pesta Darah dimulai di alun-alun utama. Hadiah tahun ini adalah satu kursi di Dewan Utama dan kesempatan untuk berendam di Kolam Darah Naga. Siapkan diri kalian, atau pulanglah dengan kehinaan!"

​Pengumuman itu membuat seluruh kota mendadak riuh. Han Feng berdiri di tengah keramaian, menatap menara tinggi yang menjadi simbol kekuasaan Marga Feng. Kolam Darah Naga adalah tempat yang diceritakan Kakek Bo sebagai satu-satunya cara untuk menyempurnakan tubuh fisiknya agar mampu menahan kekuatan penuh dari sutra dewa tingkat tinggi. Tanpa berendam di sana, tubuhnya suatu saat akan hancur karena tekanan tenaganya sendiri.

​Han Feng menghancurkan cangkir arak yang masih ia bawa hingga menjadi abu halus di telapak tangannya. Matanya menatap dingin ke arah kediaman utama yang megah. "Kalian yang mengundangku masuk dengan menyebar sketsa wajahku, maka jangan menyesal saat aku menghancurkan rumah ini dari dalam. Kursi Dewan itu... dan darah naga itu... semuanya akan menjadi milikku."

​Malam itu, Han Feng tidur di atas atap sebuah bangunan tinggi, mengamati pergerakan patroli penjaga yang semakin ketat. Ia adalah serigala yang telah menyusup ke dalam kandang domba, dan saat matahari terbit esok hari, perburuan yang sebenarnya akan dimulai.

1
dikoiku
Luar biasa
Danzo28: Terima kasih! Bagian mana yang menurutmu paling luar biasa di bab ini? Saya penasaran dengan sudut pandang pembaca."
total 1 replies
T28J
senior kuu
lia
menarik
Danzo28: "Selamat datang! Senang sekali kamu mampir. Semoga betah mengikuti perjalanan ini sampai akhir, ya!"
total 1 replies
lia
menarik
Manusia Ikan 🫪
aku tinggalin jejak dulu ya, nanti siang balik lagi, udah subuh soalnya😹
Danzo28: Terima kasih sudah mampir! Happy reading! ✨"
total 1 replies
Iwa Kakap
sepi pembaca agak nya ..
terlalu banyak kata2 mutiara thor hingga membuat cerita ini seakan jalan ditempat.🙏
Danzo28: Siap, terima kasih masukannya! Saya memang sedang bereksperimen dengan gaya narasi tertentu, tapi masukan ini sangat membantu saya untuk tahu mana yang perlu dikurangi supaya pembaca tidak bosan."
total 1 replies
T28J
cocok buat jadi koleksi 👍
T28J: iya thor, saya mampir terus kalau ada waktu..
kamu juga mampir ketempat saya ya, beri nilai novel pertama saya, kritik dan saran boleh kok👍
total 2 replies
Optimus prime
ga ush pakai bahasa inggris thor... cerita cukup bagus....
Danzo28: "Wah, makasih ya pujiannya! Mengenai bahasa Inggris, memang ada beberapa istilah yang sengaja saya pakai untuk menjaga vibes atau suasana ceritanya (misalnya istilah teknis atau gaya bahasa karakter). Tapi saya bakal coba kurangi pelan-pelan kalau dirasa terlalu mengganggu. Terima kasih sarannya!"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!