NovelToon NovelToon
TUMBAL PESUGIHAN LANANG SEWU

TUMBAL PESUGIHAN LANANG SEWU

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Iblis / Tumbal / Misteri
Popularitas:400
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Dihimpit hutang dan keputusasaan, Agus, seorang pria penuh ambisi yang gagal, meyakinkan istrinya, Endang, untuk melakukan pesugihan Lanang Sewu, meskipun ritualnya menuntut pengorbanan keintiman yang sakral. Untuk mempertahankan kehormatan istrinya, Agus merencanakan penipuan tingkat tinggi: menyewa Sari, seorang wanita yang memiliki kemiripan fisik dengan Endang, dan menyamarkannya secara spiritual menggunakan sihir. Penipuan ini berhasil. Mereka hidup dalam kemewahan sementara waktu, menikmati hadiah dari Raden Titi Kusumo, entitas pesugihan yang karismatik tapi terluka secara emosional. Namun, kecerdasan spiritual Titi Kusumo perlahan mencium kepalsuan itu. Ketika penyamaran terbongkar, semua kekayaan lenyap, dan Titi Kusumo memulai pembalasan keji, menargetkan tidak hanya nyawa Agus dan Endang, tetapi juga orang-orang tak bersalah di sekitar mereka, memaksa pasangan itu menghadapi kebenaran pahit bahwa penebusan sejati tidak dapat dibeli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tumpukan Surat Berwarna Merah

Tumpukan surat-surat itu, dicetak dengan tinta merah menyala di atas kertas putih kusam, tampak seperti sekumpulan kartu remi yang mematikan. Mereka teronggok di tengah meja dapur, diapit oleh cangkir kopi basi yang dingin dan asbak penuh puntung rokok murahan. Agus menatap tumpukan itu, bukan dengan rasa takut, melainkan dengan semacam kemarahan yang sudah ia kenal akrab. Kemarahan terhadap dunia, terhadap bank, dan yang paling parah, terhadap nasibnya yang menolak untuk bertekuk lutut pada ambisinya yang tak terbatas.

Udara di apartemen petak kecil itu terasa tebal dan pengap, bahkan sebelum matahari benar-benar naik. Pukul tujuh pagi, tetapi sudah ada beban beton yang menindih dada.

Endang berdiri di ambang pintu dapur, siluetnya yang ramping dan lelah dibingkai oleh cahaya lampu neon yang berkedip-kedip. Ia tidak perlu berbicara. Keheningan mereka sejak subuh, sejak Agus kembali dari 'rapat penting' yang sebenarnya adalah sesi pengemasan barang-barang pribadi di kantornya yang lama, sudah menjadi tuduhan yang lebih keras daripada teriakan.

“Kau sudah melihatnya,” kata Agus, suaranya serak. Ia tidak bertanya, ia menyatakan fakta.

“Yang mana? Surat pemecatan ketiga dalam setahun ini, atau yang baru?” Endang melangkah maju, tangannya menggenggam selembar kertas tebal yang berbeda dari tumpukan merah di meja. Kertas itu berwarna putih gading, formal, dan berbau mesin fotokopi. “Ini tiba kemarin sore. Notifikasi penyitaan aset pertama kita.”

Agus seketika merasa darahnya surut. Bukan karena takut kehilangan tempat tinggal, tetapi karena rasa malu yang menusuk. Ia bisa mengatasi kegagalan profesional, tetapi kehilangan tempat tinggal, benteng terakhir ilusi stabilitas mereka, adalah kekalahan yang nyata.

“Mereka tidak bisa melakukan itu,” bantah Agus, buru-buru menyalakan sebatang rokok baru. Asap tebal mengepul, seolah-olah ia mencoba membentengi dirinya dari realitas dengan kabut putih.

“Oh, mereka bisa, Gus. Karena kamu tidak membayar angsuran selama empat bulan penuh. Kamu bilang, kamu sudah mengatasinya—”

“Aku sudah bilang, bosku brengsek! Dia sengaja menahan bonusku. Ini konspirasi, Endang! Mereka tidak ingin orang sepertiku naik. Mereka takut pada potensi yang aku miliki!” Agus berdiri, tangannya menggebrak meja. Cangkir kopi itu bergoyang, hampir tumpah.

Endang menatapnya. Matanya yang biasanya hangat kini dipenuhi oleh keterkejutan dan kekecewaan yang tak tersembuhkan. Ia lelah mendengar narasi heroik Agus tentang konspirasi dan potensi yang selalu gagal terwujud.

“Potensi apa, Gus? Potensi untuk menghancurkan hidup kita? Kita tidak punya apa-apa lagi. Uang tabungan ludes untuk menutupi lubangmu yang terakhir. Aku tidak menyalahkanmu karena dipecat, aku menyalahkanmu karena berbohong! Kamu bilang kamu akan mencari pekerjaan baru, tetapi apa yang kamu lakukan? Kamu menghabiskan hari di kafe mahal, berharap keajaiban datang dari ide startup bodohmu!”

“Aku sedang membangun jaringan!” teriak Agus, menjatuhkan rokoknya ke lantai dan menginjaknya. “Kau tidak mengerti dunia bisnis. Aku hampir mendapatkan pendanaan! Tinggal selangkah lagi!”

Endang tertawa, tawa hampa yang menusuk. “Satu langkah? Sejak kapan, Gus? Sejak kita menikah? Kita hidup dalam fantasi yang kamu ciptakan, dan aku capek berpura-pura. Aku capek makan mi instan sambil melihatmu merencanakan kekayaan miliaran!”

Penyitaan. Kata itu berputar-putar di benak Agus. Itu bukan hanya kehilangan properti; itu adalah cap kegagalan yang tidak bisa ia hilangkan. Ia harus mendapatkan kembali kendali, setidaknya atas Endang.

“Apa maumu?” desis Agus, mendekat, memaksa Endang untuk mundur selangkah. “Kau mau aku berlutut dan menangis? Mau aku mengakui bahwa aku pecundang? Itu yang kau inginkan? Agar kau merasa lebih superior dengan moralitasmu yang suci itu?”

Air mata Endang akhirnya tumpah, tetapi air mata itu adalah air mata kemarahan, bukan kesedihan. “Aku ingin suami yang jujur! Aku ingin tempat tinggal yang stabil! Aku tidak ingin kekayaan mendadak, aku hanya ingin tidak hidup dalam ketakutan setiap kali ada telepon berdering atau surat datang!”

Agus merasakan panas di pipinya. Kata-kata Endang adalah cambuk yang memalukan. Ia tidak akan pernah mengakui kegagalan, tidak di depan Endang, tidak di depan siapa pun. Kegagalan adalah penyakit yang ia tolak untuk diidap.

“Aku akan mencari jalan,” ujar Agus, suaranya kini melunak, tetapi mengandung ancaman laten. Ia memandang ke luar jendela, ke langit-langit kota yang kelabu. “Aku tidak akan membiarkanmu dan aku kembali ke jurang itu. Aku janji.”

Endang menggelengkan kepala, air mata membasahi wajahnya. Ia meraih ponsel Agus yang tergeletak di meja dan melemparkannya kembali padanya. “Jangan janji. Lakukan. Tapi jangan lagi dengan cara yang menghancurkan kita.”

Agus menangkap ponsel itu. Layarnya retak akibat benturan sebelumnya, mencerminkan keadaan hidup mereka yang kini penuh retakan. Ia menatap Endang, lalu ke tumpukan surat merah yang menari-nari di retinanya. Ia sudah mencoba jalan yang benar—kerja keras, inovasi, etika bisnis. Semua gagal.

Ia menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya dengan keputusan yang terasa berat. Keputusan yang melanggar setiap sumpah dan prinsip yang pernah mereka pegang.

Endang melihat perubahan ekspresi itu, dari frustrasi menjadi tekad yang menakutkan. “Gus, jangan melakukan hal bodoh. Kita bisa mulai lagi dari nol, aku akan mencari pekerjaan paruh waktu, kita—”

“Nol?” Agus memotongnya, matanya berkilat liar. “Aku tidak akan kembali ke nol! Aku sudah dipecundangi oleh sistem ini terlalu lama. Mereka ingin aku merangkak, Endang? Tidak akan!”

Ia memutar tubuhnya, melempar ponsel yang retak itu sekuat tenaga ke dinding. Benturan keras itu memecah keheningan apartemen, meretakkan plester dan mungkin juga sisa-sisa kewarasan Agus.

Ia berbalik menghadap Endang, sosoknya kini tampak besar dan mengancam di ruangan kecil itu. Nafasnya terengah-engah, wajahnya merah padam.

“Aku akan mencari jalan keluar,” ucapnya, suaranya menggema dengan janji yang kelam dan berbahaya, “meskipun itu jalan iblis!”

Endang terperanjat saat ponsel Agus menghantam dinding, suara retakannya memekakkan telinga. Ia tidak bergerak, hanya berdiri di sana, di ambang pintu dapur, menyaksikan suaminya yang kini dikuasai oleh kegilaan yang mengerikan.

"Meskipun itu jalan iblis!"

Teriakan itu tidak hanya menghantam dinding, tetapi juga menghancurkan sisa benteng moral yang masih Endang pertahankan. Ia menyaksikan Agus, suami yang ia cintai, kini berdiri di persimpangan jalan, bukan memilih jalan yang benar, melainkan bertekad memilih jalan yang paling gelap.

Setelah keheningan yang panjang dan menusuk, yang hanya diisi oleh suara napas terengah-engah Agus, Endang perlahan melangkah maju. Lantai terasa dingin di bawah telapak kakinya yang telanjang. Ia mengabaikan pecahan plester dan serpihan cat, fokus pada ponsel yang kini teronggok di bawah lemari es, layarnya benar-benar hancur, tetapi entah bagaimana, ponsel itu masih menyala.

Ia memungutnya. Rasa takut membalut hatinya. Bukan takut pada kemiskinan, tetapi takut pada seberapa jauh Agus siap melangkah, seberapa jauh ia siap mengorbankan diri mereka!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!