Dihimpit hutang dan keputusasaan, Agus, seorang pria penuh ambisi yang gagal, meyakinkan istrinya, Endang, untuk melakukan pesugihan Lanang Sewu, meskipun ritualnya menuntut pengorbanan keintiman yang sakral. Untuk mempertahankan kehormatan istrinya, Agus merencanakan penipuan tingkat tinggi: menyewa Sari, seorang wanita yang memiliki kemiripan fisik dengan Endang, dan menyamarkannya secara spiritual menggunakan sihir. Penipuan ini berhasil. Mereka hidup dalam kemewahan sementara waktu, menikmati hadiah dari Raden Titi Kusumo, entitas pesugihan yang karismatik tapi terluka secara emosional. Namun, kecerdasan spiritual Titi Kusumo perlahan mencium kepalsuan itu. Ketika penyamaran terbongkar, semua kekayaan lenyap, dan Titi Kusumo memulai pembalasan keji, menargetkan tidak hanya nyawa Agus dan Endang, tetapi juga orang-orang tak bersalah di sekitar mereka, memaksa pasangan itu menghadapi kebenaran pahit bahwa penebusan sejati tidak dapat dibeli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Uji Coba Penampilan
Jeritan Endang dari balik kamar penyimpanan segera terhenti, seolah dicekik. Sementara itu, rasa panas di dada Agus, di area yang seharusnya menjadi letak hati nurani, lenyap secepat ia datang. Agus tersentak, terengah-engah. Ia menatap Sari, yang kini berbaring di ranjang.
Raden Titi Kusumo, yang baru saja menekan perut Sari, juga tampak terkejut sesaat, matanya yang biru pucat berkedip. Ia menarik tangannya, meskipun tetap berdiri di sisi ranjang.
“Apa itu, Endang?” tanya Titi Kusumo, suaranya tajam, penuh tuntutan. “Kau menjerit.”
Sari, yang jiwanya baru saja menerima guncangan energi dari sentuhan Titi Kusumo, harus berjuang untuk mempertahankan aura Endang. Ia bangkit, duduk di ranjang, memeluk lututnya.
“Maafkan aku, Raden,” jawab Sari, suaranya Endang, tetapi ada nada gemetar di sana. “Aku… aku hanya sedikit gugup. Ini pertama kalinya aku merasakan koneksi spiritual yang sekuat ini.”
Titi Kusumo menatapnya lekat-lekat, mencoba membaca kebohongan di matanya. Agus, yang menyaksikan ketegangan itu, tahu ini adalah momen krusial. Jika Titi Kusumo curiga sedikit saja, sihir Mbah Jari akan terkoyak.
Agus melangkah maju, keluar dari bayangan, memaksakan senyum di wajahnya.
“Raden Titi Kusumo, dia memang gugup,” kata Agus, mencoba terdengar meremehkan. “Dia sudah lama hidup di bawah tekanan kemiskinan, dan sekarang, semua ini terasa seperti mimpi. Beri dia waktu, Raden.”
Titi Kusumo memutar kepalanya, menatap Agus dengan pandangan dingin. “Aku tidak bertanya padamu, Manusia. Aku bertanya pada istriku. Aku mencium ketulusan, tetapi aku juga mencium kebohongan yang sangat dalam. Aku perlu tahu mana yang asli.”
Agus tahu ia harus segera mengintervensi. Ia tidak bisa membiarkan Titi Kusumo terus menekan Sari, atau Sari pasti akan pecah.
“Sayang, sini,” Agus berjalan ke ranjang dan meraih tangan Sari. Ia menarik Sari turun dari ranjang, memaksanya berdiri menghadap dirinya. “Raden, izinkan aku menenangkan istriku sebentar. Kami baru saja melalui perjalanan yang berat.”
Titi Kusumo hanya mengangguk pelan, tetapi matanya tidak pernah meninggalkan Sari. Ia menyilangkan tangannya di dada, zirah kunonya berdecit pelan.
Agus menatap Sari, yang kini berdiri di depannya. Wajahnya Endang, auranya Endang, tetapi tatapan matanya kosong. Ini adalah kesempatan Agus untuk menguji apakah Pelet Punggung Mbah Jari benar-benar bekerja.
“Endang,” bisik Agus, nadanya ditekan. “Kau tahu apa yang kita lakukan di sini?”
Sari mengangguk, sorot mata Endang di wajahnya tampak sedikit terluka. “Tentu, Gus. Kita melakukannya demi kita. Demi masa depan kita, demi kekayaan yang selalu kau impikan.”
“BAgus. Kau ingat janji kita saat kita menikah?” tanya Agus, menaikkan taruhan. Ini adalah kenangan yang hanya dimiliki Endang yang asli.
Sari memejamkan mata sejenak, seolah mencari data di dalam jiwanya yang dipinjam.
“Aku ingat,” jawab Sari, suaranya kini melunak, meniru intonasi Endang ketika mereka bicara empat mata. “Kita berjanji akan saling mendukung, meskipun harus makan nasi dan garam selama sisa hidup kita. Kita berjanji tidak akan pernah berbohong tentang perasaan kita.”
Agus merasa merinding. Jawaban itu benar, sangat akurat, dan diucapkan dengan emosi Endang. Siapa pun yang mendengar pasti akan percaya bahwa ini adalah Endang yang asli.
“Hebat,” bisik Agus, tetapi ada rasa jijik yang mulai merayap di tengkuknya. “Kau benar-benar Endang.”
Ia lalu beralih ke kenangan yang lebih berbahaya, kenangan yang penuh rasa sakit.
“Kau ingat saat aku dipecat dari perusahaan konstruksi tahun lalu, dan kita bertengkar hebat?” tanya Agus, menatap mata Sari. “Kau bilang aku selalu menyalahkan orang lain atas kegagalanku. Kau bilang aku pengecut.”
Sari, dalam wujud Endang, tidak gentar. Ia bahkan mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Agus, gerakan yang sangat khas Endang.
“Aku mengatakannya karena aku marah, Gus,” kata Sari. “Tapi aku tidak pernah sungguh-sungguh berpikir kau pengecut. Aku tahu kau berjuang, dan aku selalu mencintaimu, terlepas dari seberapa miskin kita. Aku hanya takut kau kehilangan dirimu sendiri.”
Agus menarik napas tajam. Respons itu sempurna. Terlalu sempurna. Itu bukan hanya replika verbal, itu adalah replika emosional. Pelet Punggung Mbah Jari telah menyerap aura cinta Endang yang tulus pada Agus, dan memaksanya keluar melalui Sari.
Agus merasakan euforia sekaligus teror. Mereka akan berhasil.
“Lalu kenapa kau melakukan ini?” tuntut Agus, suaranya tercekat. “Kenapa kau setuju melakukan ritual ini? Kenapa kau mau menjadi tumbal, Endang?”
Sari menatapnya, dan untuk pertama kalinya, Agus melihat retakan. Meskipun wajahnya adalah Endang, dan auranya hangat, ada kelelahan yang tak terlukiskan di balik mata itu. Itu adalah Sari yang asli, yang jiwanya berteriak karena dijual.
“Aku melakukannya,” jawab Sari, tetapi ia berhenti. Ia harus mencari kata-kata Endang. “Aku melakukannya karena… karena aku tidak tahan melihatmu menderita lagi. Aku ingin melihatmu kembali tersenyum. Aku ingin kau tahu bahwa aku bersedia melakukan apa saja demi kebahagiaanmu, meskipun harus mengorbankan diriku sendiri.”
Sumpah palsu yang didasarkan pada pengorbanan Sari yang tulus—sebuah pengorbanan demi keluarganya sendiri, yang kini disalahgunakan untuk menipu entitas gaib.
Agus menatapnya, dan ia melihat kebenaran yang menakutkan. Sari terlihat dan bersuara seperti Endang, tetapi aura yang dipancarkannya kini terasa lebih tulus daripada Endang yang asli—karena aura itu adalah campuran antara cinta Endang dan pengorbanan Sari yang putus asa.
Perbedaan kecil itu, rasa sakit yang terlalu dalam dan pengorbanan yang terlalu murni, membuat Agus merinding.
“Kau harusnya tidak sehebat ini,” bisik Agus, lebih kepada dirinya sendiri.
“Aku akan melakukan apa pun yang kau mau, Gus,” balas Sari. “Aku sudah di sini. Aku sudah menjadi Endang untukmu. Aku sudah menjual jiwaku. Sekarang, biarkan aku menyelesaikan tugasku.”
Agus merasakan ketakutan yang dingin. Ia takut pada Titi Kusumo, tetapi ia lebih takut pada Sari. Entitas ini adalah bom waktu yang sempurna.
“Cukup, Manusia,” suara dingin Titi Kusumo memecah keheningan.
Titi Kusumo melangkah maju, tangannya menjulur dan menarik Sari dengan lembut dari pelukan Agus.
“Aku sudah melihat apa yang perlu kulihat,” kata Titi Kusumo. “Ketulusan ini, pengorbanan ini… ini adalah keindahan yang telah lama kurindukan.”
Titi Kusumo memeluk Sari, erat. Sari membeku, tubuhnya kaku.
“Kau adalah milikku malam ini, Endang,” bisik Titi Kusumo, menatap Agus dari balik bahu Sari. “Dan kau, Manusia. Berdiri di sudut. Jangan bergerak. Jangan berani-berani mengganggu koneksi spiritual ini.”
Agus kembali mundur, berdiri di sudut gelap.
Titi Kusumo melepaskan pelukan itu dan menatap Sari dengan mata yang kini tampak lebih lembut, meskipun tetap kuno.
“Aku tidak ingin kau gugup,” katanya, suaranya merdu seperti melodi yang mematikan. “Aku hanya mencari koneksi. Kau pasti tahu, aku menderita kutukan. Aku tidak bisa mencintai, tetapi aku sangat haus akan rasa dicintai.”
Sari hanya menatapnya, tidak menjawab.
Titi Kusumo menjulurkan tangannya dan menyentuh punggung Sari, tepat di tiga titik di mana Mbah Jari menanamkan Pelet Punggung.
Sari tersentak, tetapi ia menahan jeritan itu.
“Aku bisa merasakan jiwamu bergetar,” bisik Titi Kusumo, senyumnya kembali. “Aku bisa merasakan pengorbanan yang kau lakukan untuk suamimu. Dan pengorbanan itu, Endang, adalah sumber kebahagiaan dan kekuatanku.”
Titi Kusumo melepaskan sentuhannya. Ia berjalan ke pintu dan menguncinya dari dalam, bukan dengan kunci fisik, tetapi dengan energi gaib.
“Jangan khawatir, Sayang,” kata Titi Kusumo, kembali ke ranjang. “Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya akan mengambil apa yang kuberikan padamu: cinta. Dan sebagai gantinya, aku akan memberimu semua yang dibutuhkan suamimu.”
Titi Kusumo duduk di tepi ranjang, dan ia mulai merapal mantra dalam bahasa Jawa kuno yang sangat pelan. Udara di dalam kamar itu menjadi semakin dingin, dan bau melati semakin kuat.
Agus, di sudut, merasa lumpuh. Ia menyaksikan Raden Titi Kusumo mengulurkan tangannya, dan kali ini, tangannya tidak menyentuh Sari secara fisik, melainkan menyentuh aura spiritualnya, menariknya perlahan—
Tiba-tiba, Titi Kusumo berhenti merapal mantra. Ia memejamkan mata, dan ekspresi bingung melintas di wajahnya yang tampan.
“Tunggu,” bisik Titi Kusumo. “Ini aneh. Pengorbananmu terasa sangat tulus, Endang. Tapi... ada aroma lain.”
Ia membuka matanya dan menatap Sari dengan tatapan yang sangat tajam, menembus.
“Aku mencium aroma darah dan ketakutan yang sangat mendalam,” katanya, suaranya kini kembali dingin. “Darah yang bukan milikmu. Darah yang tulus dari seorang ibu yang putus asa. Siapa kau sebenarnya, Endang?”
Sari tersentak hebat, dan di matanya, Endang menghilang, digantikan oleh keputusasaan Sari yang kosong.
“Aku…” Sari mencoba berbicara, tetapi kata-kata itu tercekat di tenggorokannya.
Agus tahu. Titi Kusumo telah menembus topeng itu.
Raden Titi Kusumo bangkit dari ranjang, zirah peraknya bersinar dengan kilauan yang mengancam. Ia berjalan mendekati Sari, dan tangannya terangkat, siap untuk merobek ilusi itu.
“Kau bukan Endang-ku,” desis Titi Kusumo. “Kau adalah kebohongan yang diselimuti oleh pengorbanan palsu. Dan aku benci kebohongan.”
Tiba-tiba, dari balik tembok, terdengar guncangan keras, seolah-olah ada yang mencoba mendobrak pintu kamar penyimpanan.
“Agus! Jawab aku!” teriak Endang yang asli dari balik pintu penyimpanan, suaranya dipenuhi amarah. “Apa yang kau lakukan padanya! Aku akan membunuhmu, Agus!”
Titi Kusumo membeku, kepalanya menoleh ke arah suara Endang yang asli. Wajahnya yang tampan kini berubah menjadi ekspresi kemarahan yang membeku.
“Dua aroma Endang?” Titi Kusumo berbalik, menatap Agus yang gemetar di sudut. “Kau menipuku? Kau memberiku tumbal palsu?”
Titi Kusumo tidak menunggu jawaban. Ia mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah Sari. Energi biru pucat mengalir dari ujung jarinya, dan Sari menjerit, jeritan yang benar-benar Sari, bukan Endang, saat sihir Mbah Jari mulai terkoyak—
“Tidak!” teriak Agus, berlari dari sudut, tetapi ia terlambat.
Titi Kusumo mengalihkan pandangannya, menatap Agus dengan mata yang kini berkilat merah darah.
“Kau telah menghinaku, Manusia Rendahan,” kata Titi Kusumo, suaranya bergetar karena murka. “Kau tidak hanya menipuku dengan cinta, kau menipuku dengan tumbal. Aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Dan aku akan mengambil lebih banyak lagi. Kau akan membayar harga untuk penghinaan ini, Agus…, dengan darah!”