"Hanya karena aku miskin, kau membuangku seperti sampah?"
Andra, seorang kurir yang bekerja keras 14 jam sehari, baru saja diusir dari kontrakannya dan diputuskan oleh kekasihnya demi pria bermobil mewah. Namun, di saat titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Saldo Tak Terbatas Diaktifkan!]
[Level 1: Menghasilkan Rp 1.000 setiap detik secara otomatis.]
[Saldo saat ini: Rp 1.000... Rp 2.000...]
Dalam satu menit, ia mendapatkan Rp 60.000. Dalam satu jam, jutaan rupiah masuk ke rekeningnya tanpa melakukan apa pun. Dunia yang dulu menghinanya kini harus bersiap. Siapa pun yang pernah memandangnya rendah akan bersujud di bawah kakinya.
Bagi Andra, satu-satunya masalah sekarang bukan lagi cara mencari uang, tapi bagaimana cara menghabiskannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Mata Dunia Mulai Melirik
Andra berdiri di balkon penthouse Menara Kencana, menatap fajar yang mulai menyingsing di ufuk timur Jakarta. Semburat warna oranye di langit seolah menjadi latar belakang yang megah bagi penguasa baru kota ini. Di belakangnya, layar hologram sistem terus memberikan laporan yang membuat jantung orang biasa akan berhenti berdetak jika melihat deretan angka nol yang tak berujung.
[Status Level 5: Aktif] [Pendapatan: Rp 500.000 / Detik] [Saldo Berjalan: Rp 12.500.000.000... Rp 12.500.500.000...]
Hanya dalam satu malam sejak penghancuran keluarga Erwin, kekayaan Andra sudah bertambah hingga ratusan miliar rupiah secara otomatis. Angka-angka itu bukan lagi sekadar uang bagi Andra; itu adalah energi murni, pengaruh politik, dan kekuasaan absolut yang bisa menggerakkan dunia. Namun, ia menyadari sepenuhnya bahwa dengan kekuatan sebesar ini, ia tidak bisa lagi bersembunyi di balik bayang-bayang sebagai "miliarder lokal". Radar dunia mulai menangkap sinyal keberadaannya.
"Tuan," suara berat 'Sang Jagal' memecah keheningan pagi yang dingin itu. Ia melangkah masuk dengan tablet militer di tangannya, wajahnya tampak lebih serius dari biasanya. "Ada pergerakan aneh di pasar modal pagi ini. Seseorang dari luar negeri mencoba melakukan short-selling besar-besaran terhadap beberapa perusahaan yang baru saja Anda akuisisi kemarin. Sepertinya, para hiu finansial di Singapura dan Hong Kong mulai mencium bau uang baru di Jakarta."
Andra memutar kursi kulitnya perlahan, wajahnya tampak tenang namun matanya berkilat tajam seperti pedang yang baru diasah. "Siapa mereka? Sebutkan nama yang berani menantangku di kandangku sendiri."
"Konsorsium Blackwood, Tuan. Mereka adalah organisasi bayangan yang biasa memangsa miliarder baru yang mereka anggap 'tidak berpengalaman'. Mereka pikir Anda hanyalah pemuda beruntung yang sedang bermain-mandi dengan uang panas dan tidak punya sistem pertahanan finansial yang kuat," jawab Sang Jagal dengan nada geram.
Andra tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung rasa kasihan bagi lawannya. Ia membuka laptop tipis berbahan serat karbon di mejanya. Layar hologram sistem segera menyala, menampilkan grafik pergerakan saham dunia yang bergerak sangat cepat, merah dan hijau yang saling bertarung dalam hitungan milidetik.
"Mereka ingin bermain perang uang denganku?" gumam Andra pelan. "Sangat bodoh. Mereka membawa pisau ke dalam perang nuklir. Sistem, aktifkan fungsi 'Manipulasi Pasar Skala Global'. Aku ingin kamu menyerap semua saham yang mereka jual secara paksa, lalu dorong harganya naik hingga titik tertinggi yang tidak masuk akal sampai mereka terjepit dan tidak punya pilihan selain bangkrut massal."
[Ding! Perintah Diterima!] [Mengalokasikan Dana: Rp 10 Triliun untuk Serangan Balik Instan!] [Memulai Perang Finansial dalam 3... 2... 1...]
Hanya dalam hitungan menit, dunia finansial diguncang hebat. Di bursa efek Jakarta hingga Singapura, para pialang saham berteriak histeris di depan layar mereka. Sebuah kekuatan misterius dari Indonesia baru saja menelan semua serangan Blackwood dan justru membalikkan keadaan dalam sekejap. Kerugian Konsorsium Blackwood mencapai angka triliunan hanya dalam waktu satu jam, menghapus kejayaan mereka yang sudah dibangun selama puluhan tahun.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi masuk ke ponsel pribadi Andra. Bukan pesan WhatsApp atau SMS biasa, melainkan sebuah undangan digital dengan enkripsi tingkat tinggi yang hanya dimiliki oleh 0,01% orang terkaya di planet ini.
"Selamat, Tuan Andra. Anda baru saja menghancurkan salah satu tangan kanan kami dengan cara yang sangat kasar namun efektif. Selamat datang di 'The Sovereign Club'. Pesawat pribadi Anda akan menjemput Anda besok malam untuk pertemuan eksklusif di Pegunungan Alpen, Swiss."
Andra menutup laptopnya dengan suara klik yang tegas. Ia tahu, ini adalah akhir dari masa "pemanasan". Musuh-musuh kecil seperti Erwin, Pak Salim, atau Bu Ida hanyalah debu di bawah kakinya. Sekarang, ia akan berhadapan dengan entitas yang bisa mengubah hukum suatu negara atau menjatuhkan ekonomi sebuah wilayah hanya dengan satu tanda tangan di atas meja makan malam.
"Siapkan pesawatnya dan tim pengamanan tingkat tertinggi," perintah Andra pada Sang Jagal. "Kita tidak hanya akan menghadiri pertemuan itu untuk mendengarkan mereka bicara. Kita akan pergi ke sana untuk membeli seluruh klub itu jika mereka berani merendahkanku."
Di telinganya, sistem berdenting dengan suara yang lebih dalam, lebih megah, dan lebih berat dari sebelumnya, menandakan tantangan baru yang lebih besar.
[Ding! Ambisi Inang Terdeteksi!] [Misi Global Diaktifkan: Taklukkan The Sovereign Club!] [Hadiah: Akses ke Teknologi Satelit Militer Pribadi dan Level Pendapatan Tak Terbatas!]
Andra menatap matahari yang kini sudah meninggi, menerangi seluruh Jakarta. Kemarin ia adalah seorang kurir yang dihina dan diludahi, hari ini ia adalah ancaman bagi tatanan ekonomi dunia. Dan besok? Besok ia akan menjadi pemilik dari tatanan itu sendiri.