Aku adalah Raka. Seorang Pebisnis yang telah mapan sebelum usia kepala tiga. Aku mempunyai kekasih seorang janda beranak satu, hubunganku di tentang oleh mama dengan alasan perbedaan pandangan adat dan statusnya.
Aku dijodohkan dengan seorang wanita yang sama sekali tidak aku kenal. Akankah mama berhasil menjdohkanku atau mama akan luluh dengan pilihanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Bulan Madu
Aku masih tak percaya malam ini ada seorang perempuan yang akan menemani malam panjangku. Aku menatap Laras yang sedang membersihkan sisa make-up-nya di depan kaca rias. Ada perasaan yang membuncah; untuk pertama kalinya aku berduaan saja di kamar dengan perempuan asing, dalam keadaan sadar.
Sebagai suami yang baru saja sah, aku justru merasa kikuk. Ada jarak tak kasatmata di antara kami—bukan karena enggan, tapi karena sama-sama belum tahu harus melangkah sejauh apa. Aku memilih diam, membiarkan malam berjalan perlahan.
Laras berjalan menghampiriku setelah selesai. Ia tersenyum agak terpaksa. Ia juga seperti aku, merasa salah tingkah dan gerak.
"Maaf bang, Laras belum siap."
Laras meremas tangannya, pandangan tertunduk. Aku meliriknya sejenak.
"Iya abang paham kok. Kita belum saling mengenal dan masih sangat asing satu sama lain."
Aku menarik napas singkat. Memandang langit-langit kamar.
Untuk beberapa menit kami sama-sama saling membisu.
"Ab.." Aku dan Laras menoleh berbarengan. Sama-sama tertawa kecil.
"Abang duluan," Balasnya.
Aku mengusap pundaknya, mengalihkan kekakuan. Lidahku terasa sangat berat. Namun suasana itu berubah ketika ponselku tiba-tiba berdering. Panggilan dari Ningsih, membuat aku cukup terkejut.
Ku tatap Laras, ia hanya melihatku polos. Mungkin ia tak tahu siapa sebenarnya wanita yang sedang menelponku. Tidak ingin merusak malam pertamaku, aku mematikan panggilan itu. Membuat Laras mengernyitkan dahinya.
"Kenapa nggak diangkat, bang?"
"Mana tahu ada yang penting," Ucapnya lagi.
"Udah malam, nggak ada yang harus di bahas malam-malam begini."
Aku pura-pura santai. Dengan mimik wajah sangat meyakinkan.
Aku yakin Ningsih sengaja mengganggu malam pertamaku. Ia akan mencari berbagai cara untuk ini.
Tak lama kemudian sebuah pesan WhatsApp masuk.
Raka? Kenapa ditolak panggilanku? Terganggu malam pertamamu?
Kamu benar-benar pengecut, Raka. Harusnya aku yang disana, Raka.
Oh iya titip salam untuk wanita beruntungmu. Ia berhasil menggantikan posisi aku di hatimu. Rasanya sudah nggak sabaran lagi, aku ingin mengucapkan selamat kepadanya.
Lagi-lagi emosiku campur aduk.
Di kamar ini kami seperti dua patung yang sedang dipajang. Saling menatap tanpa tahu apa yang harus kami lakukan.
Aku berdiri, memandang Laras yang masih membeku di pinggir ranjang.
"Laras tidur dulu, ya. Abang mau cari udara segar ke luar sebentar."
Ia hanya mengangguk, melirikku lalu menarik bedcover di dekatnya.
Aku berjalan meninggalkan kamar menuju balkon di sebelah kamar Laras. Duduk di sebuah kursi yang ada di sana, pikiranku berjalan kemana-mana.
Entah apa yang akan Laras pikirkan malam ini. Harusnya aku menyentuhnya, tapi aku belum punya keberanian. Lagian juga kami menikah karena perjodohan aku tidak mau Laras menyerahkan dirinya dengan keterpaksaan.
Sesekali angin malam meniupku. Terasa sangat dingin menusuk ke tulang. Sementara di lantai bawah masih terdengar suara cengkerama keluarga besar Laras dan pemuda-pemuda kampungnya.
"Abang?"
Aku membalikkan badan ketika sosok Laras muncul di belakangku. Jantung berdetak lebih cepat.
"Bikin kaget abang aja," ucapku. Laras duduk di kursi sebelahku. Ia tertawa kecil. Menutup bibirnya dengan tangannya.
"Kenapa kaget? Kirain Laras hantu ya?"
Ia berseloroh kecil. Aku menjiwil hidung mancungnya.
Ia menangkap tanganku. Dadaku berguncang hebat. Ada getaran hangat yang datang entah dari mana. Cinta? Rasanya ini terlalu cepat, atau kagum? Entahlah. Aku tak bisa menggambarkan apa yang sedang berkecamuk dipikiranku sendiri.
"Kenapa abang disini?"
Laras menyibak rambut panjangnya. Kami sama-sama menatap langit malam.
"Apakah abang tidak nyaman?" Ia menatapku. Sorot matanya seolah mencari jawaban.
"Tidak Laras, justru abang yang takut kamu tak nyaman."
Aku balik menggempal tinju dan memutarnya. Banyak pertanyaan di kepalaku yang ingin ku tanyakan pada Laras.
"Apakah Laras menyesal menikah dengan abang?" Akhirnya pertanyaan itu meluncur dengan ringan.
Laras terkekeh, membalik badan melihat ke arahku. Ia tersenyum cukup manis.
"Awalnya Laras memang menolak bang, tapi setelah mama berkeras Laras terima," Ia menarik nafas panjang. Mencuri pandang pada sisi balkon.
"Tapi setelah tahu jodoh itu abang, rasanya nggak nyesal-nyesal amat," Ia tertawa. Giginya tampak berbaris rapi.
Aku menelan ludah. Kedua sudut bibirku tertarik begitu saja mendengar sanjungannya.
"Apakah abang terpaksa menikahi Laras?"
Mantan pramugari cantik itu menghampiriku.
Pertanyaannya membuat aku tersentak.
Aku menolehnya sejenak, membuang napas perlahan.
"Laras tahu kok bang, ini tidak mudah."
Aku merasakan tangannya menyentuh lembut bahuku. Membuat jakunku naik turun panik, aku merasa benar-benar jadi pengecut.
"Kita bisa memulai pelan-pelan bang, Laras tidak memaksa. Laras akan memberi abang waktu untuk bisa menerima Laras sepenuhnya."
Aku membalikkan badan menatap istri sah di hadapanku.
Tidak ada rasa penyesalan sedikitpun di wajah cantiknya.
"Maafkan abang Laras,"
Entah kekuatan darimana aku berhasil memeluk pinggang rampingnya. Seketika darahku berdebar cukup keras. Antara mataku dan matanya hanya berjarak beberapa sentimeter saja.
"Abang janji akan menjaga Laras,"
Jemari lentiknya menunjuk pelan dadaku yang sedang bergetar hebat.
"Laras percaya Abang adalah lelaki terbaik pilihan mama,"
Ia tersenyum simpul, membalas pelukanku.
Namun keintiman itu tak berjalan lama. Pelukan itu harus aku lepas ketika ponselku berdering cukup lama dan tak berhenti.
Aku menelan ludah kasar. Nama Ningsih kembali meraung-raung bersama getaran ponsel.
"Siapa bang?" Laras berjalan mendekat membuat aku semakin gugup.
"Hanya rekan kerja saja." Balas ku seadanya.
"Rekan kerja, nelpon malam-malam. Apa dia nggak tau kalau ini malam pertama kamu?"
Laras menatapku penuh selidik, mengernyitkan dahinya.
Ku paksakan senyum ini semaksimal mungkin agar ia tak bertanya lebih jauh.
"Nggak semua rekan kerja tahu kalau abang cuti menikah. Mereka sebagian hanya tahu abang cuti pulang kampung."
Laras mengangguk. Berlalu meninggalkan aku sendirian menuju ke arah ranjang.
Tak lama ponselku kembali berbunyi oleh sebuah pesan WhatsApp.
Tanganku bergetar, sebuah foto kiriman Ningsih membuat aku hampir serangan jantung.
Aku telat bulan ini Raka.
Gambar sebuah tespek dengan dua garis merah ia kirimkan kepadaku.
Ia benar-benar mencari berbagai cara untuk mengacaukan malam pertamaku.
Ku pandangi sekali lagi Laras, ia tampak sudah tertidur. Tak menunggu lagi aku menelpon Ningsih bukan untuk bernostalgia tapi meminta kejelasan padanya.
"Apa maksudnya, Ningsih?"
Itulah kalimat pertama yang terucap ketika Ningsih mengangkat panggilan, bahkan sebelum ia sempat mengeluarkan kalimat manjanya seperti biasa.
Ia terkekeh, seperti mengejek.
"Hallo sayang, aku sangat rindu dengar suaramu."
Balasnya dengan lembut.
"Ningsih, aku sedang tidak berbasa-basi!" Bentak ku sedikit keras. Lalu mendongak ke arah Laras. Takut jika bentakanku membangunkannya.
"Beginikah kamu memperlakukan aku, Raka? Habis manis sepah kau buang?"
Ningsih tertawa getir. Ada amarah yang sedang ia mainkan.
"Kita tidak pernah berhubungan selayaknya suami istri, kenapa kamu bisa hamil karena aku Ningsih?"
"Kamu menuduhku selingkuh, Raka? Apakah kamu ingat ketika kita pernah tidur sekamar?"
Balasnya tak kalah ketus.
Aku coba mengingat apa yang di ucapkan Ningsih. Ya, aku ingat pernah tidur bersamanya tapi antara kami tidak terjadi apa-apa.
Kesabaranku benar-benar tak lagi pada tempatnya. Buk!! Tulang tanganku mendarat di dinding balkon, panas, sakit tapi tak sepanas hatiku yang dipermainkan Ningsih. Darahku benar-benar mendidih.