NovelToon NovelToon
Kembalinya Putri Yang Terkutuk

Kembalinya Putri Yang Terkutuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Ilyar Justina dijatuhi hukuman pengasingan setelah dituduh merencanakan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, Raja Tyraven. Ia dikirim ke Dakrossa—penjara paling kejam di Kekaisaran Eldrath, tempat para penjahat paling berbahaya dibuang. Semua orang yakin gadis lemah lembut yang bahkan tak bisa bertarung itu tak akan bertahan lama di sana.

Namun, tahun-tahun berlalu, dan Ilyar kembali. Bukan sebagai sosok yang sama, melainkan seseorang dengan aura dingin dan kegilaan yang mengendap di balik senyumnya. Di hadapan saudara-saudaranya yang dipenuhi kebencian, ia hanya tersenyum tipis. “Sepertinya kalian sangat senang dengan kepulanganku.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35

Ukh!

Sebentar lagi cahaya kemerahan di kaki langit akan tampak dan menyebar, jadi sebelum itu Ilyar dan Iselda bersiap meninggalkan pedesaan untuk melanjutkan perjalanan.

"Aku tidak melihat kakak kembali apalagi terbangun. Kapan kakak kembali semalam?" Iselda bertanya ketika Ilyar merapatkan jubah berkerah bulu yang dia kenakan.

Ilyar menangkup wajah Iselda yang terasa dingin kemudian menyalurkan sedikit kehangatan dari sepasang telapak tangannya yang agak kasar. "Tidak lama setelah kamu tertidur. Sekarang mari masuk ke kereta, udara semakin dingin."

Ilyar segera memasuki kereta sedangkan Iselda termenung sejenak sambil menatap punggung kakaknya cukup lama sesaat menangkap aroma samar darah menguar dari tubuh sang kakak.

"Iselda?"

Iselda terkesiap dan buru-buru masuk ke kereta, meninggalkan pedesaan menuju benteng yang akan membawa mereka masuk ke kota kekaisaran luar sebelum akhirnya mencapai ibukota.

Sementara itu, di waktu bersamaan. Salah seorang pembunuh bayaran yang sebelumnya disewa untuk membunuh Iselda jalan tertatih-tatih di antara pepohonan pada pinggir hutan. Darah merembes dari luka besar di perut yang berusaha dia tutupi demi mencegah pendarahan lebih parah.

Padahal dia adalah salah satu anggota elit terbaik di serikat pembunuh bayaran, tapi berakhir demikian saat menghadapi seorang wanita berambut merah yang tiba-tiba membantai kelompoknya. Hanya belasan menit pada malam kemarin, dia kehilangan seluruh rekannya

"Siapa wanita itu?!" Pertanyaan tersebut terus memenuhi kepalanya.

"Aku harus bertahan dan melaporkannya pada master!" lanjutnya penuh tekad.

***

Di bawah langit biru yang memayungi ibukota kekaisaran, para pedagang serta rakyat biasa keluar masuk dari gerbang utama sementara para prajurit berkeliaran memperketat penjagaan.

Akhirnya, Setelah menempuh waktu selama empat hari, Ilyar dan Iselda sampai di Myrval.

"Berhenti sebentar untuk pemeriksaan." Penjaga gerbang memberi tanda pada sais kereta Iselda.

Sebelum akhirnya mencapai ibukota.

Sementara itu, di waktu bersamaan. Salah seorang pembunuh bayaran yang sebelumnya disewa untuk membunuh Iselda jalan tertatih-tatih di antara pepohonan pada pinggir hutan. Darah merembes dari luka besar di perut yang berusaha dia tutupi demi mencegah pendarahan lebih parah.

Padahal dia adalah salah satu anggota elit terbaik di serikat pembunuh bayaran, tapi berakhir demikian saat menghadapi seorang wanita berambut merah yang tiba-tiba membantai kelompoknya. Hanya belasan menit pada malam kemarin, dia kehilangan seluruh rekannya

"Siapa wanita itu?!" Pertanyaan tersebut terus memenuhi kepalanya.

"Aku harus bertahan dan melaporkannya pada master!" lanjutnya penuh tekad.

***

Di bawah langit biru yang memayungi ibukota kekaisaran, para pedagang serta rakyat biasa keluar masuk dari gerbang utama sementara para prajurit berkeliaran memperketat penjagaan.

Akhirnya, Setelah menempuh waktu selama empat hari, Ilyar dan Iselda sampai di Myrval.

"Berhenti sebentar untuk pemeriksaan." Penjaga gerbang memberi tanda pada sais kereta Iselda.

Dua penjaga mengetuk pintu kereta dan izin untuk membukanya. Saat itu mereka mendapati dua gadis berwajah rupawan dengan aura bangsawan kental duduk di sana.

"Kami dari Valgard." Iselda memperlihatkan dua plakat yang menunjukkan identitasnya sebagai keturunan Valgard dan orang penting dari Mensiar Tyraven.

Tanpa banyak bicara, kedua penjaga saling pandang dan membungkuk hormat pada Iselda. Jika sudah begini, tidak perlu proses masuk yang rumit meski mereka tidak tahu siapa wanita berambut merah yang ikut bersama Iselda. Ilyar tidak menyerahkan apa pun untuk menunjukkan identitasnya. Paham maksud tatapan para prajurit pada kakajnya, senyum Iselda terulas.

"Dia adalah kakak saya."

"M-maaf! Kami tidak bermaksud mencurigai Anda!" kata mereka.

Iselda memakluminya dan kemudian kereta kuda mereka segera melewati gerbang utama. Saat itu pula kemegahan ibukota kekaisaran segera tersuguhkan, memenuhi pandangan mereka dengan keramaian serta bangunan-bangunan megah di bawah langit biru cerah.

"Ibukota sangat indah." Iselda tak melepas pandang dari jendela yang menampilkan suasana perkotaan selama menuju Mensiar Pusat.

Bangunan menara berfasad putih gading berpadu kuning keemasan yang menjulang tinggi dan terlihat jelas dari sudut kota, itulah bangunan Mensiar Mryval. Di mana para penyihir terbaik berada. Mensiar pusat menjadi salah satu bangunan paling memukau dan dihormati setelah istana kerajaan serta tempat keagamaan.

"Aku sangat senang apalagi bisa kemari bersama Kakak!" Iselda melempar senyum lebar begitu tulus dan Ilyar tertegun seperkian detik sebelum membalasnya dengan senyuman tipis.

Dia teringat para pembunuh yang dibantai semalam. Salah seorang berhasil kabur saat dia fokus mengintrogasi yang lain. Siapa sangka bahwa pelakunya adalah permaisuri.

Bergerak sejauh ini hanya untuk melenyapkan Iselda? Sungguh menyedihkan, padahal bocah di hadapannya ini tidak punya kekuatan besar, dia baru mengumpulkannya. Namun, rencana Ravena tidak bisa dikatakan bodoh karena bagi Ilyar pun jika dibiarkan terlalu lama, Iselda akan menjadi ancaman besar bagi musuh. Anak itu memiliki potensi untuk menjadi penyihir besar yang diakui kekaisaran jadi membunuhnya sebelum tumbuh lebih mengerikan adalah pilihan tepat.

Para penyihir memiliki keahlian di bidang tertentu, seperti sihir perlindungan, penyerangan, serta penyembuhan. Jika mereka tidak memanfaatkan ener pada satu titik keahlian tertentu, itu akan jadi hambatan. Makanya, jarang sekali penyihir hebat memiliki dua atau tiga kemampuan. Namun, dari apa yang ditunjukkan Iselda semalam, sihir penyerangannya cukup kuat.

Bukan karena dia tidak mampu, melainkan kelemahan hatinya yang enggan menggunakan sihir untuk melukai.

"Sudah sampai, Putri."

Sais berhenti di depan gerbang utama Mensiar.

Turun untuk membuka pintu lalu Ilyar turun lebih dulu, menjulurkan tangan membantu Iselda keluar dari kereta.

"Maaf, tapi selain yang berkepentingan tidak punya izin untuk masuk."

Penjaga di gerbang utama Mensiar menghadang langkah Ilyar setelah membiarkan Iselda masuk lebih dulu. Baru hendak memberi alasan pembelaan agar kakaknya bisa masuk, Iselda langsung diam dengan ekspresi agak bersalah saat kakaknya berkata duluan.

"Selesaikan urusanmu. Aku akan pergi jalan-jalan di sekitar sini." Ilyar tersenyum kemudian pergi dari sana dan Iselda segera memasuki bangunan utama.

Ini adalah hari pertama adiknya ke Mensiar pusat, jangan sampai membuat masalah dan lebih dari itu, ada tujuan lain mengapa dia pergi ke Mryval.

Sebelum meninggalkan Dakrossa, Ilyar menemui tiga gurunya di lantai lima dan menghabiskan waktu berbincang banyak hal lalu Rubia meminta bantuannya untuk memeriksa kondisi anak muridnya.

Menyelinap di antara celah yang membawanya memasuki distrik rakyat jelata, Ilyar mendapati sisi gelap di balik kehidupan megah di pusat perkotaan. Para pengemis, gelandangan, pemabuk, pekerja prostitusi, dan sejenisnya jelas berasal dari gang sempit bebatu dinding kusam ini. Mereka berserakan di pinggir jalan setapak kumuh yang lembap dan busuk.

Aroma jelaga, bau pesing, sampah, sampai endapan air yang belum sepenuhnya kering tersebar di udara, menusuk indera pembau Ilyar. Untung saja dia sudah terbiasa dengan pemandangan serta stiuasi semacam ini di Dakrossa.

"Di antara celah gelap dua bangunan berdinding merah tua di perkampungan tersembunyi rakyat jelata di kota kekaisaran, itulah pintu masuknya"

Ilyar mengingat apa yang dikatakan Rubia dan mulai menelusuri setiap gang bercabang sampai menemukannya. Tanpa buang waktu, dia mendekati celah itu seraya melirik kanan kiri tanpa menimbulkan kecurigaan. Areanya sangat sepi sampai tidak ada seorang pun melintas di sana.

Huh

Ilyar mengembuskan napas, bersiap menjulurkan tangan ke dalam celah gelap antar dua bangunan tua, tapi seorang pria berjubah putih bertudung yang menutupi sebagian wajah mencekal pergelangan tangannya.

Sepasang mata Ilyar terbelalak. Dia segera menoleh tatkala hembusan angin mengantarkan aroma susu segar mirip kulit bayi dan kehalusan dari tangan pria yang mencekal pergelangan tangannya.

"Apa yang coba kamu lakukan?" Cekalan pria itu menguat. Sebagian wajahnya yang tidak tertutup menampakkan bibir agak merah alami. Kulitnya bersih dan terasa halus, tapi suaranya sedikit lebih berat. Tinggi tubuhnya pun lumayan sehingga Ilyar hanya mencapai ujung dagunya.

"Aku mendengar sesuatu dari celah itu, aku penasaran jadi mencoba melihat ke dalamnya," jawab Ilyar setenang mungkin.

Sosok itu perlahan mengendurkan cekalan. Kekerasan pada rahangnya pun melemah. Dia berdiri berhadapan Ilyar lalu melirik ke persimpangan gang di belakang. "Kamu seharusnya tidak berkeliaran di area ini. Beberapa hari lalu ada kasus pembunuhan di sini. Jadi silakan tinggalkan tempat ini."

Ilyar melirik ke celah, padahal tinggal mengucapkan mantra masuk dan dia akan pergi ke mana Rubia menyembunyikan keberadaan anak-anak itu. Namun, dia harus mengurungkan niat karena orang di hadapannya bukan orang biasa, terlihat jelas dari penampilannya.

"Sebenarnya aku tersesat. Bisakah kamu menemani saya mencari jalan keluar?" tanya Ilyar.

Pemuda itu diam cukup lama, memandangi Ilyar dari balik tudung kemudian mengembuskan napas pelan. "Ikuti aku," katanya.

1
Mila Sari
Thor upnya yg banyak donk,,
PengGeng EN SifHa
Diam...mengamati...berakhir EKSEKUSI😐😐😐
𝐀⃝🥀Weny
ceritanya tambah seru aja thor..
Firniawati
ayo kak up lagi yg banyak 😍
Iry: sabar yahhhh, mungkin malam
total 1 replies
PengGeng EN SifHa
intrik..ambisius & haus akan valisldasi disebuah kerajaan..memang sangat membagongkan..baik didunia nyata maupun cerita❤️❤️❤️❤️
Gesang
seruuuuu👍👍👍
Firniawati
sangat bagus ceritanya seru tidak monoton dan membosanka,,terus semangat ya kk othor 🥰
Iry: waaaahhh makasih banyak❤
total 1 replies
Firniawati
kak kapan update lagi?
Iry: aku update hari ini
total 1 replies
EL MARIA
kok sama kaya yg di fizo yaa.... yg di fizo udh tamat dari lama ini autor nya sama kah
CaH KangKung,
👣👣
𝐀⃝🥀Weny
lanjut lagi thor.. ceritamu yang ini tambah seru dan penuh tantangan😊
𝐀⃝🥀Weny: yeeey.. thanks thor❤️❤️❤️
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!