NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Kau Bawa

Rahasia Yang Kau Bawa

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Bad Boy / Cintamanis
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HARI LEO LAHIR

BAB 12 — HARI LEO LAHIR

Malam itu, salju turun bak hujan es yang tak henti, disertai angin kencang yang menderu ganas. Angin itu menghantam kaca jendela dengan suara yang menyeramkan, seolah alam pun ikut merasakan ketegangan yang melanda rumah itu.

Di dalam kamar, Keisha terbangun mendadak dengan napas memburu. Tangannya langsung mencengkeram perutnya yang membesar.

“Nghhh...”

Rasa nyeri tajam menjalar dari pinggang hingga ke perut bagian bawah, membuat tubuhnya melipat kesakitan. Ia menarik napas panjang berkali-kali, berusaha menenangkan diri. Mungkin ini kontraksi palsu, batinnya meyakinkan diri. Dokter memang pernah bilang hal seperti ini sering terjadi menjelang persalinan.

Namun, hanya berselang beberapa menit, rasa sakit itu datang kembali. Lebih kuat, lebih jelas, dan jauh lebih menyiksa. Keringat dingin mulai membasahi dahinya meski udara di kamar sangat dingin.

“Bi... Bibi Rina...” panggilnya lemah.

Suara itu cukup membangunkan Bibi Rina yang langsung berlari menghampiri dengan wajah cemas.

“Kenapa, Sayang? Sakit ya?”

Keisha hanya bisa mengangguk dengan wajah pucat dan bibir bergetar. “Perutku... sakit sekali, Bi...”

Belum sempat Bibi Rina berkata apa-apa, tiba-tiba cairan hangat mengalir deras membasahi seprai. Mata mereka sama-sama membelalak.

“Ketuban pecah! Waktunya sudah tiba!” seru Bibi Rina sigap.

Dua puluh menit kemudian, sebuah mobil melaju kencang menembus badai salju menuju rumah sakit. Keisha duduk memegangi perutnya erat, napasnya tersengal menahan gelombang rasa sakit yang datang silih berganti.

“Tarik napas pelan-pelan, Sha... Hembuskan...” arah Bibi Rina sambil tetap fokus menyetir.

“Aku takut, Bi...” bisik Keisha dengan mata berkaca-kaca.

“Semua ibu pasti takut di kali pertama. Itu wajar. Tapi sebentar lagi kamu akan bertemu Leo, Sayang. Bertahanlah.”

Sebutan nama itu memberikan kekuatan magis baginya. Leo. Anaknya. Alasan ia bisa bertahan sejauh ini melewati segala rasa malu dan takut.

Di ruang bersalin, waktu terasa berjalan sangat lambat. Cahaya lampu yang menyilaukan, suara bip-bip alat medis, dan langkah kaki perawat yang lalu lalang. Rasa sakit itu terus datang layaknya ombak besar yang siap menghancurkan karang.

Keisha mencengkeram sisi ranjang sekuat tenaga, tangisannya lepas tak tertahan.

“Aku tidak kuat lagi...” rintihnya putus asa.

“Kamu kuat, Keisha! Kamu wanita kuat!” seru dokter. “Ayo, sekali lagi! Tarik napas... DORONG!”

“Aaaaaaah!!!”

Seluruh tenaga ia kerahkan. Air mata dan keringat bercampur menjadi satu. Di tengah siksaan itu, bayangan wajah orang tuanya dan... Arsen, sekilas melintas. Andai mereka ada di sini. Namun kenyataannya, hanya Bibi Rina yang setia mendampingi.

“Sedikit lagi! Kepalanya sudah kelihatan! Ayo!”

Keisha mengerahkan sisa tenaganya, berteriak sekuat hati...

Lalu...

Waaaaaa... Waaaaaa...!!!

Tangisan nyaring memenuhi ruangan. Seketika, semua rasa sakit itu lenyap, digantikan oleh kelegaan yang luar biasa.

Dokter tersenyum lebar sambil mengangkat bayi kecil itu. “Selamat ya, Bu. Bayi laki-laki, sehat dan kuat!”

Air mata kebahagiaan jatuh membasahi pipi Keisha.

Beberapa menit kemudian, bayi mungil itu diletakkan di atas dadanya. Masih tampak kemerahan, hangat, dan sesekali menangis kecil. Keisha menatap wajah itu dengan hati yang bergetar. Jari-jemari mungil, bulu mata lentik, hidung mancung...

Saat bayi itu membuka matanya sedikit saja, dunia Keisha seakan berhenti berputar.

“Halo...” bisiknya serak.

Seperti mengerti, bayi itu menjadi tenang, mendengar detak jantung yang sudah dikenalnya selama sembilan bulan. Keisha tertawa sambil menangis.

“Leo... anak Mama...”

Bibi Rina yang melihat pun ikut terharu. “Dia tampan sekali, Sha... persis seperti...” Kalimatnya terhenti, namun kemiripannya dengan sang ayah begitu jelas.

Keisha mengusap lembut kepala anaknya. “Terima kasih sudah datang ke dunia, Sayang. Terima kasih sudah memilih Mama.”

Segala ketakutan, penyesalan, dan rasa malu yang dulu ia pendam, mendadak terasa begitu kecil dibandingkan kehangatan makhluk mungil dalam pelukannya. Untuk pertama kalinya sejak kabur dari Indonesia, Keisha tidak lagi merasa hidupnya hancur. Ia sadar, hidupnya yang sesungguhnya... baru saja dimulai.

 

Di belahan dunia lain, Jakarta masih terang benderang.

Arsen sedang memimpin rapat besar di ruang konferensi yang megah. Suaranya dingin, tajam, dan penuh wibawa. Namun entah kenapa, hari itu pikirannya sulit sekali diajak bekerja sama. Beberapa kali ia berhenti bicara di tengah kalimat, menatap kosong pada berkas di hadapannya.

“Tuan Arsen?” panggil salah satu direktur dengan hati-hati.

Arsen mengerjap, seakan baru sadar dari lamunan. “Lanjutkan sendiri. Aku ada urusan,” ucapnya singkat lalu berjalan keluar meninggalkan ruangan.

Ia berjalan menuju balkon tertinggi gedung itu, menatap langit Jakarta yang mendung. Sejak pagi, ada perasaan aneh yang mengganjal di dada. Rasa gelisah yang tak jelas asalnya. Seolah ada sesuatu yang sangat penting telah berubah, tapi ia tak tahu apa dan di mana.

Ia mengusap kasar rahangnya, menghela napas panjang. “Sial...” gerutunya pelan.

Tanpa ia sadari sedikit pun, di waktu yang sama, di belahan bumi yang lain... Putranya baru saja menangis untuk pertama kalinya dan melihat dunia.

 

Malam itu, di kamar rumah sakit yang tenang.

Keisha tertidur pulas dengan senyum damai, memeluk Leo yang tidur nyenyak di sampingnya. Sebelum matanya benar-benar terpejam, ia berbisik sangat pelan,

“Kita cuma punya satu sama lain sekarang, Nak. Cuma berdua.” Ia mencium kening anaknya penuh kasih sayang. “Tapi itu sudah lebih dari cukup buat kita.”

1
Erna Wati
ayolah keisha masak kamu LBH percaya sama org lain dari pada suami mu buka mata kamu keisa KLO Kevin itu org jahat
wiwi: iyaa nih kak, padahal kan kita harus lebih percaya suami😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!