NovelToon NovelToon
Jatuh Cintanya Seorang Pendosa

Jatuh Cintanya Seorang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta Terlarang
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Di balik dinding suci sebuah pondok pesantren, tersembunyi seorang buronan. Reyshaka El Zhafran atau Shaka—tak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di tempat yang paling ia hindari. Demi lolos dari kejaran polisi, pengedar narkoba itu nekat bersembunyi di pesantren milik Ustadz Haidar, seorang ulama yang dikenal bijak dan disegani.

Awalnya, Shaka hanya ingin selamat. Namun hari demi hari, ketenangan, nasihat, dan ketulusan Ustadz Haidar perlahan meruntuhkan tembok keras di hatinya. Untuk pertama kalinya, Shaka mulai mengenal arti penyesalan dan harapan untuk berubah. Semua menjadi semakin rumit saat ia bertemu Hanindya Daisha Ayu—putri sang ustadz yang berhati lembut dan shalihah. Tanpa disadari, perasaan itu tumbuh diam-diam, menyiksa shaka dalam keheningan.

Tapi bagaimana mungkin seorang mantan pengedar narkoba seperti dirinya pantas mencintai perempuan sebersih Hanindya?
Terlebih, Hanindya telah dijodohkan dengan Ustadz Ilyas—lelaki yang jauh lebih layak dibanding dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog

Langit malam hari itu tidak benar-benar terasa sunyi. Di antara gelap yang menggantung berat, suara tembakan tiba-tiba memecah udara dengan keras, tajam, dan menggema seperti peringatan yang tak bisa diabaikan.

“Dor! Dor!”

Suara tembakan itu memantul di dinding-dinding gang sempit, menggetarkan jendela rumah warga yang sudah lebih dulu menutup diri dalam ketakutan. Lampu-lampu redup di beberapa rumah padam satu per satu, seakan ikut bersembunyi dari kekacauan yang sedang terjadi. Di kejauhan, sirine polisi meraung tanpa henti. Malam itu, bukan lagi sekadar pengejaran. Ini perburuan.

Suara langkah kaki yang tengah berlari terdengar tergesa-gesa, menghantam aspal dengan ritme kacau. Napas yang memburu, dada yang terasa seperti akan pecah, dan keringat yang mengalir tanpa ampun di wajah yang dipenuhi kepanikan.

“Cepat! Mereka sudah dekat!” teriak seseorang dengan suara serak.

Reyshaka El Zhafran atau akrab disapa Shaka tidak menjawab. Ia terlalu sibuk berlari, terlalu sibuk memastikan dirinya tidak tertangkap. Di belakangnya, bayangan lampu senter mulai menyapu jalanan gelap.

“Berhenti! Polisi!”

Teriakan itu terdengar jelas. Terlalu jelas hingga membuat jantung Shaka berdegup lebih kencang. Sial. Ini tidak berjalan sesuai rencana. Mereka sudah terlalu sering lolos. Terlalu sering menganggap remeh risiko. Terlalu percaya bahwa setiap malam selalu berpihak pada mereka. Tapi tidak malam ini.

Malam ini terasa berbeda. Lebih dingin, lebih membahayakan dan lebih mengancam.

“Dor!”

Satu tembakan lagi terdengar. Kali ini lebih dekat. Shaka refleks menunduk sambil terus berlari, napasnya semakin tak beraturan. Ia bahkan bisa merasakan udara panas seolah melewati dekat tubuhnya.

“Ke sini!” suara lain terdengar.

Itu Ozy. Salah satu rekannya. Tanpa berpikir panjang, Shaka mengikuti arah suara itu. Mereka berbelok ke gang yang lebih sempit, nyaris tanpa penerangan dan hanya ditemani cahaya bulan yang samar. Langkah mereka semakin tidak beraturan. Sepatu menghantam genangan air dan membuat airnya terciprat ke mana-mana. Bau lembap dan sampah menyeruak di udara.

“Gila... ini udah gak aman!” ujar Ozy yang tampak terengah-engah sementara suaranya terdengar bergetar. Shaka masih diam, tapi matanya terlihat liar saat mencari jalan keluar. Jalan kabur. Apa pun untuk membuatnya lolos dari kejaran polisi. “Kalau begini terus kita bisa tertangkap! Lebih baik kita pisah aja! Pisah!” ujar Ozy tiba-tiba dan membuat Shaka menoleh sekilas.

“Apa?” gumam Shaka tak percaya.

Belum sempat ia mencerna, Ozy tiba-tiba berhenti mendadak. Gerakannya cepat dan bahkan terlalu cepat. Dengan tangan gemetar, Ozy menarik tas selempang yang sejak tadi dibawanya—tas kecil, tapi berat dengan isi yang mereka tahu sama-sama berbahaya.

Tanpa aba-aba, Ozy menyodorkannya ke arah Shaka.

“Ini lo bawa!”

Shaka tertegun.

“Apa? Lo gila ya?” ujar Shaka dengan suaranya yang rendah tapi penuh tekanan.

“Gue gak bisa! Gue bakal ketangkep kalau bawa ini!” ujar Ozy dengan nada memaksa dan hampir mendorong tas itu ke dada Shaka.

“Terus gue gimana?!” Shaka menahan tas itu, matanya membelalak tak percaya.

Suara sirine semakin dekat. Langkah kaki polisi terdengar makin jelas. Waktu mereka habis. Ozy menelan ludah, wajahnya terlihat pucat, matanya dipenuhi ketakutan yang tidak lagi bisa ia sembunyikan.

“Shak… gue gak mau masuk penjara.”

Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Ozy dengan nada datar, egois dan menyakitkan.

Sebelum Shaka sempat bereaksi, Ozy sudah melepas pegangan tas itu sepenuhnya, menyerahkannya begitu saja lalu mundur satu langkah.

“Maafin gue Shak...”

Hanya satu kalimat itu lalu ia berbalik dan berlari.

“ZY!”

Teriakan Shaka menggema, tapi sia-sia.

Rekannya itu sudah menghilang di tikungan gelap, meninggalkannya sendirian dengan tas di tangannya. Dengan semua risiko, dengan semua kesalahan, dengan semua dosa. Shaka berdiri beberapa detik dan membeku. Ia tak percaya. Benar-benar tak percaya. Tangannya mengepal pada tali tas itu. Rahangnya mengeras. Napasnya tersengal, tapi bukan hanya karena lelah melainkan karena campuran emosi yang meledak dalam dirinya setelah dikhianati, ditinggalkan dan dikorbankan oleh rekannya sendiri.

“Brengsek…” gumam Shaka dengan lirih, suaranya hampir tak terdengar.

“Di sana! Jangan sampai lolos!”

Suara polisi kembali membuyarkan pikirannya dan membuat Shaka tersentak. Instingnya kembali bekerja. Ia tidak punya waktu untuk marah. Tidak punya waktu untuk memproses semua yang terjadi. Yang ada hanya satu pilihan yaitu melarikan diri. Kakinya kembali bergerak, lebih cepat dari sebelumnya. Tas itu kini terasa seperti beban yang menggantung di bahunya, berat, menekan, seolah ingin menariknya jatuh. Napasnya semakin kacau.

Dada terasa perih. Tenggorokan kering. Tapi Shaka tidak berhenti. Tidak boleh berhenti.

Kalau tertangkap... selesai. Semua selesai.

Hidupnya. Kebebasannya. Masa depannya.

Semuanya.

Ia berbelok tanpa arah yang jelas. Gang demi gang dilaluinya, jalan demi jalan disusuri tanpa tujuan pasti. Yang penting menjauh, yang penting hilang, yang penting selamat.

“Dor!”

Suara tembakan terdengar lagi. Lebih dekat dan nyata. Shaka hampir tersandung, tapi ia menahan tubuhnya dan terus berlari meski kakinya mulai terasa berat.

“Kita kepung dari depan!”

"Sial, Mereka mulai mengepung."

Shaka menoleh cepat ke belakang. Cahaya senter menyilaukan matanya. Ia bisa melihat bayangan beberapa polisi yang semakin mendekat. Rasa panik mulai mengambil alih dirinya. Ia tidak tahu lagi harus ke mana. Jalan di depannya bercabang, gelap, sunyi, asing. Dan di tengah kepanikan itu, Mata Shaka menangkap sesuatu.

Sebuah gerbang besar yang terlihat tua dengan besinya yang sedikit berkarat tampak

terbuka setengah. Shaka memperlambat langkahnya sejenak, napasnya terputus-putus.

Matanya menyipit, mencoba memastikan apa yang ia lihat. Di balik gerbang itu terlihat gelap tapi tidak sepenuhnya. Ada cahaya redup dari dalam. Dan di atas gerbang itu, tulisan yang samar terlihat di bawah cahaya bulan: Pondok Pesantren.

Shaka menelan ludah. Otaknya berputar cepat. Pesantren? Serius? Tempat yang bersih. Tempat yang suci. Dan tempat yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia yang selama ini ia jalani.

“Di sana! Cepat!”

Suara polisi kembali terdengar dekat, sangat dekat. Tidak ada waktu lagi baginya untuk mencari tempat sembunyi. Shaka mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Tanpa berpikir panjang, tanpa mempertimbangkan apa pun—

Ia berlari ke arah gerbang itu dan masuk. Udara di dalam terasa berbeda. Lebih tenang,

lebih dingin dan lebih asing. Shaka melambatkan langkah kakinya sementara napasnya masih terdengar kacau. Ia menoleh ke belakang sekali lagi untuk memastikan tidak ada seseorang yang melihatnya masuk.

Ia menutup gerbang itu sedikit, cukup untuk menyamarkan keberadaannya. Lalu kembali bergerak pelan dan hati-hati. Lingkungan di sekitarnya tampak luas, dengan beberapa bangunan sederhana yang berdiri rapi. Lampu-lampu kecil menyala redup, menciptakan bayangan panjang di tanah.

Tidak ada suara, tidak ada orang, Semuanya terlihat sepi. Shaka menelan ludahnya lagi.

Ini terasa aneh. Terlalu tenang dibandingkan kekacauan di luar sana.

1
Yuni Avita
mending terlambat daripada nggak usaha sama sama sekali 👍
Yuni Avita
kl begini, aku jadi naksir sama Shaka thor🤣🤣🤣
Yuni Avita
ciee yang terpesona sama dirinya sendiri /Chuckle/
Suhadi Mulyo
ini baru yang dinamakan kacang yang nggak lupa sama kulitnya 👍
Yuni Avita: mending terlambat daripada nggak usah sama sekali 👍
total 1 replies
Suhadi Mulyo
terus maju ke depan Shaka, jangan menoleh ke masa lalu mu yang tidak bermanfaat.
Suhadi Mulyo
buat apa berubah jika kita masih mengenang masa lalu.
Khumaira Nur Rahma
Shaka jadi idola baru di pesantren setelah ustadz Ilyas 🤭
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Dalam hidup ini, kita sering dihadapkan oleh berbagai rintangan saat berusaha melakukan kebaikan.
Kadang, niat baik kita disalahpahami, usaha kita diremehkan, atau bahkan dihalangi oleh mereka yang tidak peduli dan membenci.
Namun, satu hal yang perlu kita garis bawahi adalah bahwa kebaikan tidak akan pernah sia-sia.
Berbuat baik, terutama untuk kemaslahatan orang banyak, adalah bentuk perjuangan yang membutuhkan keteguhan hati.
Tidak semua orang akan langsung memahami atau menghargai apa yang kita lakukan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti.
Setiap langkah kecil yang kita ambil untuk membantu sesama, sekecil apa pun, memiliki dampak yang besar di mata mereka yang menerimanya.

Mungkin terkadang kita merasa lelah, merasa perjuangan kita tidak berarti, tetapi ingatlah bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten.
Dunia ini membutuhkan lebih banyak orang yang tidak menyerah dalam menebarkan kebaikan.
Jadi, jangan pernah lelah berjuang. Teruslah menjadi cahaya di tengah gelap, tetaplah menjadi penggerak perubahan, dan yakini bahwa setiap kebaikan yang kita tanam akan berbuah pada waktunya...👍🤭
Putri_a_s
pake acara sumpah sumpahan lagi/Drowsy/
Yuni Avita
ozy ibarat musuh dalam selimut.
Yuni Avita
moga aja kamu cepat sadar dengan apa yang kamu lakukan, Ozy.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Biar ganteng Shaka 😁
Anyue: aslinya memang ganteng 🫣
total 1 replies
Suhadi Mulyo
jangan bawa nama tuhan dengan mulut kotormu itu Ozy, nggak usah sok suci lho/Panic/
Suhadi Mulyo
tega banget kamu ozy/Smug/
Suhadi Mulyo
punya salah apa Shaka sama kamu Ozy? sampai kamu tega banget fitnah dia /Scowl/
Khumaira Nur Rahma
jahat banget kamu ozy, udah lempar batu sembunyi tangan, sekarang malah fitnah Shaka /Panic/
Suhadi Mulyo
bagus banget, ada cuplikan ayat Al-Qur'an nya juga, jadi tambah ilmu.
Suhadi Mulyo
ustadz Ilyas beruntung bisa dicintai oleh perempuan seperti Hanin😍
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
bagus Shaka harus move on dong.
Anyue: kasihan Ozi nya harus melawan bosnya
total 1 replies
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Selagi mau berubah, Allah selalu dekatkan dgn org yg baik bukan. Good morning aku sempetin baca sebelum kerja💙
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!