Dori terpaksa hidup bersama arwah sastrawan bernama Matcha yang terperangkap di dalam laptop bekas miliknya.
Awalnya mereka sering berselisih paham karena gaya penulisan Dori dianggap buruk, namun ikatan batin perlahan terbentuk hingga Matcha bisa muncul dalam wujud fisik. Kehidupan mereka yang manis berubah mencekam saat muncul saingan dan organisasi gelap yang mengincar kekuatan mereka.
Rahasia besar akhirnya terkuak saat ingatan Matcha kembali. Ia menuduh Dori sebagai orang yang membunuhnya di kehidupan lampau.
Akankah cinta mereka mampu bertahan menghadapi kenyataan pahit itu, atau mereka harus berpisah selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curang Itu Dilarang
...***...
"Gampang banget sih padahal! Kamu masa ngerjain tugas ini nggak bisa?!"
Dori menunjuk layar monitor penuh percaya diri, matanya berkilat penuh harap.
Ia baru saja dapat tugas makalah berat dari dosen, dan ide jeniusnya pun muncul, manfaatin tenaga kerja gratis alias hantu di laptop.
Matcha menatap layar itu dengan wajah datar, lalu perlahan mengalihkan pandangan ke wajah Dori. Tatapannya dingin, sangat dingin.
"Kau menganggapku apa? Mesin penyelesaian masalah? Atau budak yang siap disuruh-suruh?"
"Bukan begitu ... kan kamu pinter! Kamu kan orang pintar dari zaman dulu! Pasti gampang lah buat kamu!" Dori mencoba memuji dengan nada manis, senyumnya dipasang selebar mungkin.
Ia berharap hantu ini luluh dan langsung kerjakan semuanya dalam hitungan detik.
Matcha mendengus keras, lalu melayang mundur beberapa langkah di udara. Ia menyilangkan tangan di dada, tampak sangat tersinggung.
"Di masaku, mencontek atau meminta orang lain mengerjakan tugas adalah aib terbesar. Pelakunya bisa diusir dari sekolah, bahkan dilarang menapakkan kaki di istana!"
"Nah itu dulu! Sekarang namanya kerja sama tim!" Dori membela diri mati-matian. "Lagian kamu kan di sini cuma melayang-layang, nggak ngapa-ngapain juga!"
"Aku mengawasi kualitas tulisanmu! Itu pekerjaan mulia!" sergah Matcha tak terima. "Dan aku tidak akan pernah merendahkan diri untuk membantu seseorang yang ingin mengambil jalan pintas!"
Dori mendengus kesal, lalu menjatuhkan pantatnya ke kursi dengan keras.
Brak!
"Dasar kuno! Kaku! Nggak asik! Hidup susah ... gini nih kalau punya editor kolot!" gerutunya keras-keras, sengaja supaya didengar.
Matcha tidak marah, justru dia tersenyum miring. Senyuman yang terlihat sangat menyebalkan bagi Dori.
"Marah saja. Tapi ingat, kemampuan tidak bisa dibeli atau dipinjam. Kalau kau tidak mengerjakannya sendiri, kau tidak akan pernah paham."
"Terus aku gimana dong? Deadline-nya besok pagi! Aku pasti dapat nilai E!" Dori mulai panik, wajahnya cemas.
Bayangan dosen killer dan IPK turun langsung terbayang di matanya.
"Belajar. Baca. Pikirkan pakai otakmu," jawab Matcha santai. "Aku di sini sebagai editor, bukan sebagai pembantu."
Dori menatapnya tajam. Rencana gagal total. Tapi kalau dipikir-pikir ... kalau dia nggak bisa minta dikerjain, mungkin bisa minta diajarin kan?
"Oke! Oke! Aku ngerjain sendiri!" Dori mengangkat tangan menyerah. "Tapi kamu harus jelasin materinya ya! Point per point! Jangan ngambek!"
Matcha mengangguk singkat, wajahnya langsung berubah jadi serius dan profesional. "Boleh. Asal kau perhatikan baik-baik. Jangan sampai ada satu kata pun yang lewat begitu saja."
Dan begitulah, sesi belajar dadakan dimulai. Matcha ternyata guru yang sangat ... menyiksa.
"Kalimat ini salah struktur! Ulangi!"
"Kau menyalin langsung dari internet? Itu namanya plagiarisme! Hapus sekarang!"
"Jangan melamun! Matanya lihat ke sini!"
Dori rasanya ingin menangis. Belajar sama guru privat mahal belum tentu seketat ini.
Matcha menjelaskan dengan bahasa yang baku, tinggi, dan sangat detail. Terkadang Dori sampai bingung karena kosakatanya terlalu berat.
"Pak Matcha ... bahasanya bisa yang santai dikit nggak? Otakku nggak secerdas kamu," rengek Dori.
"Kesederhanaan itu indah, tapi kebodohan itu memalukan. Fokus!"
Meskipun galak dan ketat, anehnya... penjelasan Matcha sangat jelas dan mudah dimengerti kalau sudah masuk ke kepala.
Perbedaan yang sangat mencolok. Dori yang pasrah dan lelah, versus Matcha yang penuh semangat dan energi tak terbatas.
Satu menguap terus-menerus, satu lagi bersinar penuh wibawa.
Beberapa jam berlalu. Akhirnya tugas itu selesai juga. Hasilnya rapi, bahasanya indah, dan pastinya dapat nilai tinggi.
Dori merebahkan tubuhnya ke kursi, napasnya lega.
"Huah ... selesai juga. Makasih ya ... walaupun cara kamu galak banget," gumamnya pelan, sedikit malu mengakui kebaikan hantu itu.
Matcha hanya mendengus, tapi sudut bibirnya terangkat sedikit. "Hmph. Tahu diri. Sekarang istirahat. Jangan pikirkan cara curang lagi lain kali."
Ia berbalik mau menghilang ke dalam layar sebentar, tapi tiba-tiba berhenti.
Matanya menatap sesuatu di pojok meja.
Di sana, terlihat pantulan dirinya ... tapi bukan pakai jubah kuno. Tiba-tiba ia memakai kemeja flanel dan celana jeans modern!
Matcha melotot kaget, menatap tangannya sendiri.
"APA INI?! Kenapa pakaianku berubah?!"
Dori yang melihatnya langsung tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha! Ganteng juga ternyata kalau pakai baju zaman sekarang! Cocok lho!"
"Berhenti tertawa! Kembalikan seperti semula! Ini memalukan!" Matcha panik, berusaha mengibaskan pakaiannya yang tembus pandang itu.
"Kotak ajaib ini bisa memanggil orang dari jauh? Tanpa perlu utusan? Tanpa perlu merpati?!"
Matcha menatap layar ponsel Dori dengan mata terbelalak, penuh ketidakpercayaan.
Ia melayang sangat dekat, hidungnya hampir menempel pada kaca layar, jari transparannya bergerak-gerak ingin menyentuh gambar yang bergerak-gerak di sana.
Dori yang sedang mengisi daya baterai, hanya mendengus malas. "Iya lah, ini namanya HP. Zaman sekarang anak kecil juga tahu."
"Dunia sudah berubah secepat ini kah?" batin Matcha masih syok.
Ia baru saja menyadari bahwa penampilan fisiknya yang tadi sempat berubah jadi pakaian modern bukanlah mimpi. Efek adaptasi lingkungan benar-benar terjadi. Dan sekarang, ia harus memahami cara kerja benda-benda aneh ini agar tidak terus-terusan dianggap bodoh oleh muridnya.
"Jangan sentuh-sentuh! Nanti salah pencet malah nelpon orang!" Dori buru-buru menarik HP-nya menjauh.
Matcha tersentak lalu segera memasang wajah dingin dan sok tahu, menyembunyikan rasa bingungnya.
"Hmph. Aku hanya mengamati mekanismenya. Benda ini rumit tapi tidak seindah gulungan sutra kuno."
"Yaelah, sok keras mulutnya. Padahal tadi matanya kepo banget," ledek Dori tak kenal ampun.
Ia berdiri, lalu berjalan menuju meja makan kecil di sudut kamar. Di sana ada gelas berisi air putih dan sebungkus camilan.
"Oke Tuan Editor, hari ini pelajaran pertama, Cara Transfer Uang dan Pakai E-Wallet."
"Uang? Elektronik? Bagaimana benda mati bisa bernilai sama dengan emas dan perak?" Matcha langsung protes, alisnya berkerut dalam.
Baginya, kekayaan itu harus berwujud barang nyata, tanah, atau logam mulia. Konsep angka di layar sama sekali tidak masuk akal.
"Ini sistemnya percaya sama percaya. Kalau angkanya ada, berarti uangnya ada," jelas Dori se-simpel mungkin.
"Tidak masuk akal! Penipuan ini pasti!" Matcha menggeleng kuat-kuat. "Bagaimana jika angkanya hilang karena listrik mati? Maka harta musnah begitu saja?!"
"Ya ampun, paranoid banget sih! Teknologi itu aman kok!"
Perdebatan pun terjadi lagi. Satu sisi ada Dori yang mencoba menjelaskan logika modern, sisi lain ada Matcha yang memegang teguh prinsip dunia fisik.
"Lihat ini. Ini namanya WiFi," Dori menunjuk ikon sinyal. "Lewat ini kita bisa jelajah seluruh dunia tanpa keluar kamar."
Matcha menatap kosong. "Angin? Angin bisa membawa informasi?"
"Bukan angin biasa! Ini gelombang! Ah sudahlah, pokoknya kalau nggak ada ini, hidup kita mati!"
Matcha tampak berpikir keras. Otak jeniusnya sepertinya sedang bekerja ekstra keras mencerna konsep-konsep asing ini.
Tiba-tiba ia menunjuk sebuah ikon aplikasi belanja online. "Itu apa? Pasar di dalam kotak?"
"Iya! Mau beli apa tinggal klik, besok sampai di depan pintu!"
Mata Matcha berbinar-binar. Untuk pertama kalinya, wajah dinginnya menunjukkan antusias.
"Wah ... hebat juga dunia ini. Jadi ... aku bisa memesan tinta berkualitas tinggi dan kertas terbaik tanpa perlu keluar?"
"Bisa banget! Tinggal klik bayar, beres!"
Matcha langsung bersemangat. "Bagus! Cepat belikan! Aku butuh kuas baru! Dan kertas HVS yang tebal! Jangan yang murahan!"
"Duit di mana? Saldo aku kosong!" Dori mengangkat bahu.
Senyum Matcha langsung pudar. Wajahnya kembali masam seperti awal bertemu.
"Kau bilang dunia ini canggih! Kenapa kau masih miskin?!" serangnya menyindir pedas.
"KAN AKU MASIH BELAJAR! KAMU AJA YANG SERING BIKIN STRES!"
Suasana kembali memanas. Tapi bedanya, kali ini mereka berdebat bukan soal tulisan, tapi soal gaya hidup.
Tiba-tiba, HP Dori bergetar keras. Ada panggilan masuk dari nama "Mama".
Dori langsung panik. "Waduh! Ibuku! Jangan berisik ya!"
Ia buru-buru mengangkat telepon dengan nada suara paling manis. "Halo Ma? Iya nih Dori lagi rajin belajar..."
Matcha yang melihat itu, diam-diam mendekat. Ia penasaran mendengar suara itu dari jauh itu.
Namun, karena terlalu penasaran dan tidak sengaja ... tangannya yang transparan menyentuh layar HP.
Zupp!
Tiba-tiba suara Dori di telepon keluar dari mulut Matcha! Dan suara ibunya Dori juga keluar dari mulut Matcha. Seolah-olah hantu itu jadi speaker hidup.
"ASTAGA! KENAPA SUARAKU PINDAH KE KAMU?!" Dori panik setengah mati menutup mulut Matcha (tapi tembus).
"Ini sihir apa lagi?! Aku jadi radio berjalan?!" Matcha juga ikutan panik, matanya melotot lebar.