Mungkin ada typo di dalamnya,mohon bantu dikoreksi ya Kakak-kaka.🙏😊
Menjalani sebuah pernikahan kontrak??
Jane Alexander sama sekali tidak cemas.Apa itu suami dingin? Keluarga dan Ipar iblis?
Dengan satu kali lambaian tangan,semua menyingkir.
Jane Alexander yang tengah memenangkan pertengkaran, : " Persetan dengan keluarga mu...beri aku uang."
Semua orang, : "...."
Cerita ini menggambarkan cinta dan benci antara Jane Alexander dan Carlos Benjamin.Bagaimana keseruannya...?
Ikuti terus ya.
Like,vote,dan comment.
😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosma mossely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4.Memenuhi kontrak pernikahan.
Stevi dan Mery benar-benar ketakutan akan amarah Steve.Di rumah ini,kecuali Tuan Tua Alexander,tidak ada yang bisa menekan sifat amarah Steve.Bahkan jika itu adalah Bone sendiri.
"Mulut mu yang kurang ajar itu benar-benar harus dirobek menjadi dua bagian." Steve mengucapkan setiap kata dari mulutnya dengan pelan dan tajam.Seolah-olah dengan begini,Jane akan takut.
Namun, sekali lagi, Jane adalah seorang pengganggu di desa.Jadi, intimidasi ini sama sekali tidak berarti apa-apa baginya.
"Maaf,tetapi,sebelum kau benar-benar bisa merobek mulut ku,aku mungkin lebih dulu merobek mulut mu,bagaimana???"
"Kurang ajar !!!"
"CUKUP !."
Bone berteriak dengan kuat.Wajahnya langsung memerah karena marah.Matanya menatap tajam kearah Jane.
Jane membalas dengan tidak kalah tajamnya.
"Pemberontak. Sikap seperti apa ini? Aku adalah ayah mu." Pada akhirnya apa yang ditakutkan oleh Joon akhirnya terjadi.
Bone akhirnya mengamuk dan mencaci maki Jane dengan kata-kata yang penuh dengan tekanan moral.Akan tetapi,sungguh malang bagi Bone.Jane adalah gambaran langsung dirinya.Semakin Bone bersemangat menekan Jane,semakin kuat pemberontakan yang Jane tunjukan.
"Kau hanya menyumbangkan sebuah sperma kerahim Ibu ku.Kau bahkan tidak memilki andil untuk membesarkan ku selama ini.Jangan mengucapkan kata-kata yang lucu." Jawab Jane dengan tenang.
Astaga.
Bone menunjuk wajah Jane lama hingga jemarinya bergetar hebat.
"Kau,kau...arghhh." Bone mengerang kesakitan.Kedua tangannya refleks menekan dada kirinya.
Tubuhnya yang tinggi besar mulai merosot kelantai.
Suasana seketika berubah menjadi panik.
"Ayah."
"Ayah."
"Tuan Besar,sepertinya Tuan Besar terkena serangan jantung.Jangan berkerumun disekelilingnya."
Semua orang menjadi panik,dan bahkan ada yang sigap secara langsung menghubungi panggilan gawat darurat.
Bone merasa dadanya terasa amat sakit,namun hal yang lebih menyakitkan tersaji didepan matanya.
Putri yang di buang olehnya dua puluh tahun lalu,dengan tenang menikmati kesakitan yang dirasakan olehnya.Putrinya itu tengah mengunyah makanan yang tersaji dipiringnya tanpa gangguan.Sesekali,putrinya akan menatap dirinya ini.Seolah-olah memastikan jika tontonan yang menarik ini masih terus berlanjut.
Tidak ada rasa cemas atau simpati sama sekali diwajahnya yang cantik.
Hati Bone seketika mendingin.
Tidak lama kemudian,matanya berputar kebelakang dan pingsan.
....
Karena Jane telah mencapai tujuannya untuk membuat kekacauan,dia akhirnya memutuskan untuk tidur dengan nyenyak.
Tidak tahu berapa lama dia tertidur,tiba-tiba pintu gudang terbuka dengan kuat.
Brak.
Jane bahkan belum sempat merespon apapun,sebelum sebuah tamparan keras mendarat diwajahnya.
Plak.
Tidak cukup itu saja,rambutnya yang panjang ditarik dengan kuat,hingga wajahnya mendongak.
Jane merasa wajahnya mati rasa dan kebas,sementara kulit kepalanya seakan dicabut paksa.
Jane akhirnya melihat wajah pelaku yang berhasil membuatnya kesakitan.
Steve Alexander,kakak laki-lakinya itu tampak sangat marah kepadanya.Terbukti dari betapa kejam dirinya memperlakukan Jane baru saja.
"Jika bukan karena Ayah,kau tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di rumah ini.Berani-beraninya kau bersikap lancang?" Suara Steve sangat dingin.
Jane bahkan curiga jika kakak laki-lakinya ini memiliki kecendrungan kepribadian ganda.
Rasa sakit dikepalanya semakin menjadi,Jane mencoba melepas cengkeraman Steve pada rambutnya,namun Steve sama sekali tidak mengendur.
"Lepaskan tangan mu dari rambut ku,atau aku akan membuat mu menyesal." Ancam Jane dengan tidak kalah kasarnya.
Namun yang menjawabnya adalah tamparan keras lainnya.
Plak.
Kali ini,Jane bahkan merasakan pandangannya sedikit kabur,dan juga rasa asin didalam mulutnya.
"Persetan dengan mu,sialan.Jika kau masih ingin hidup,maka jangan melalukan hal-hal yang tidak boleh kau lakukan."
Peringatan Steve sama sekali bukan sekedar ancaman belaka.Jane yakin, jika dia masih memprovokasi mereka semua,maka yang akan menanggung akibatnya adalah dirinya sendiri.
Tetapi,meskipun mengetahui hal tersebut,lalu kenapa?
Apakah Jane takut? Tentu saja jawabannya adalah tidak.
Jane sama sekali tidak takut,dia bahkan semakin merasa terhibur akan kekacauan ini.Bukankah tujuan mereka memaksanya kembali untuk ini?
"Karena kau sama sekali tidak berniat untuk melepas rambut ku,maka jangan salahkan aku..."
Duak.
Arghhh.
Steve berteriak keras,lalu mundur sembari menutupi hidungnya yang mungkin mengalami patah tulang.Darah segar tampak membasahi kedua tangannya yang tengah menutup hidungnya.
Jane memijat keningnya yang kesakitan.
"Siapa yang memberi mu hak untuk mengangkat tangan kepada ku?" Tanya Jane dengan nada dingin.Dia berdiri dari posisinya ,lalu melangkah mendekati Steve yang tengah menunduk kesakitan.
Tanpa babibu, Jane menendang bokong Steve dengan keras,sehingga Steve tersungkur kelantai yang dingin.
Rasanya pasti sangat sakit sekali.
Namun Jane belum cukup membalas dendam,dia menarik rambut Steve dengan kuat,lalu mengangkat wajah Steve sehingga Jane bisa melihatnya dengan jelas.
"Lepaskan tangan mu,aku jamin kau akan menyesali hari ini." Meskipun sudah jatuh dalam keadaan yang menyedihkan,namun kesombongan dan amarah Steve sama sekali tidak berkurang.
Kebenciannya terhadap Jane sedikitpun tidak surut.
"Persetan dengan anak manja seperti mu.Bukankah kau baru saja bertingkah sok hebat? Maka rasakan balasan ku."
Usai berkata begitu,Jane tanpa ragu mulai melambaikan telapak tangannya ke wajah tampan Steve yang sudah menghitam karena amarah.
Plak.
Plak.
Jane sama sekali tidak berhenti sampai telapak tangannya sakit.
Ketika wajah Steve telah membengkak,barulah Jane melepaskannya.
"Sial,tunggu saja kau."
Steve memilih pergi dari kamar Jane.
Didalam hati,dia berjanji akan membalas semua rasa sakit yang dia derita hari ini kepada Jane.
Jane yang ditinggalkan sendirian,hanya menatap kepergian Steve dengan acuh tak acuh.
Dia lebih peduli akan telapak tangannya yang panas dan sakit akibat memukuli wajah Steve.
Huh,
"Aku tidak menyangka,jika dia akan memiliki wajah setebal ini.Tangan ku sungguh sakit." Jane memijat-mijat telapak tangannya hingga rasa sakitnya mulai reda.
Karena rasa kantuknya juga hilang,Jane memilih melakukan peregangan didalam gudang itu,alih-alih kembali melanjutkan tidurnya.
....
Di ruang kerja Bone Alexander.
Bone yang dikira tengah pingsan karena serangan jantung,kini tengah duduk dengan wajah yang muram.
Didepannya berdiri Steve yang keadaannya sangat memalukan.
"Tampak adik mu sangat galak,kan?" Tanya Bone dengan dingin.
Tidak ada niat untuk bercanda diwajahnya yang masih terawat dengan baik.
Steve sama sekali tidak menjawab sindiran sang ayah.Dia lebih memilih untuk membersihkan darah diwajah dan hidungnya.
"Karena dia sangat sulit untuk didekati,maka kita tidak perlu mendekatinya lagi.Besok,sampaikan undangan ku kepada keluarga Benjamin.Katakan kepada mereka bahwa sudah saatnya untuk membicarakan mengenai perjanjian pernikahan itu."
Suara Bone sangat dingin bahkan terlalu dingin untuk pria yang menyukai keharmonisan sepertinya.
Akan tetapi,Steve yang sangat mengenal sang ayah,tahu bahwa sang ayah memang seperti ini.